- Kasus ular piton memangsa seorang warga di Buton Selatan, Sulawesi Tenggara, Sabtu (5/7/2025) dan puluhan ular piton muncul di tepi Danau Buyan, Bali, Minggu (6/7/2025), menarik perhatian masyarakat luas. Apa penyebabnya?
- Konflik antara manusia dengan piton telah terjadi dalam satu dekade terakhir. Ini dikarenakan adanya tekanan besar terhadap habitat alami ular tersebut. Faktor utama adalah fragmentasi habitat.
- Akibat populasi mangsa alami piton, seperti babi hutan (Sus scrofa), rusa (Cervidae), kijang (Muntiacus), dan anoa, berkurang maka piton pindah ke kebun dan permukiman masyarakat untuk mencari mangsa alternatif seperti ayam, kambing, hingga kasus ekstrem: manusia.
- Quraisy Zakky dan kolega dalam kajiannya yang dipublikasikan dalam jurnal Tabrobanica baru-baru ini, mencatat terjadi 1.872 kasus konflik manusia dengan ular di seluruh Indonesia, periode 2015-2023.
Kasus ular piton memangsa seorang warga di Buton Selatan, Sulawesi Tenggara, Sabtu (5/7/2025) dan puluhan ular piton muncul di tepi Danau Buyan, Bali, Minggu (6/7/2025), menarik perhatian masyarakat luas. Apa yang sebenarnya terjadi?
Abdul Haris Mustari, ahli ekologi satwa liar yang juga dosen di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University, menjelaskan konflik antara manusia dengan piton telah terjadi dalam satu dekade terakhir. Ini dikarenakan adanya tekanan besar terhadap habitat alami ular tersebut.
“Faktor utama adalah fragmentasi habitat,” jelasnya, Rabu (9/7/2025).
Fragmentasi yang dimaksud merujuk pada maraknya pembukaan hutan untuk kebun sawit, karet, permukiman, hingga proyek infrastruktur, yang menyebabkan piton kehilangan ruang hidup alami.
“Dulu, hutan merupakan tempatnya piton berlindung dan berburu. Sekarang, banyak kawasan hutan berubah.”
Kondisi ini, membuat vegetasi alami rentan hilang dan kontak langsung antara manusia dengan satwa liar, termasuk ular, meningkat.
“Yang terjadi sebenarnya bukan satwa yang masuk kampung, tapi kampung yang masuk hutan.”

Akibatnya, populasi mangsa alami piton, seperti babi hutan (Sus scrofa), rusa (Cervidae), kijang (Muntiacus), dan anoa, berkurang. Hal ini menjadikan piton pindah ke kebun dan permukiman masyarakat untuk mencari mangsa alternatif seperti ayam, kambing, hingga kasus ekstrem: manusia.
“Secara karakteristik, piton adalah predator oportunis yang hanya memangsa hewan hidup. Ia menyergap dari balik semak, melilit, mematahkan tulang mangsa, lalu menelan utuh.”
Dengan karakter adaptif piton yang bisa hidup di hutan primer, skunder, hingga selokan kota, Haris menilai, solusi jangka pendek harus dilakukan melalui zonasi risiko dan edukasi warga.
“Hal lebih penting adalah menjaga habitatnya seperti hutan riparian.”
Untuk itu, harus ada sistem peta konflik manusia-satwa liar, khususnya di pinggiran hutan. Ada zona merah sebagai langkah mitigasi. Ini bisa berbasis data GPS dari kejadian-kejadian sebelumnya.”
“Edukasi juga penting. Banyak kasus terjadi karena masyarakat tidak tahu cara mengenali piton atau langkah evakuasi saat berhadapan dengan ular.”
Dikutip dari Garda Animalia, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Bali, Sumarsono menjelaskan pihak BKSDA Bali tidak pernah melakukan pelepasan ular di kawasan Danau Buyan maupun Tamblingan.
“Khusus habitat yang banyak terdapat ular piton berada di wilayah Telaga Aya yang terletak di antara Danau Buyan dan Danau Tamblingan. Meningkatnya populasi ular piton juga disebabkan predator utamanya, yakni elang dan biawak, populasinya berkurang di alam,” jelasnya, Minggu (6/7/2025).
Terkait laporan warga mengenai temuan puluhan piton, Sumarsono menjelaskan, tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari di wilayah TWA Danau Buyan Danau Tamblingan menjadi salah satu pemicu ular-ular tersebut keluar sarang.

Konflik manusia dengan ular
Quraisy Zakky dan kolega dalam kajiannya yang dipublikasikan dalam jurnal Tabrobanica baru-baru ini, mencatat bahwa terjadi 1.872 kasus konflik manusia dengan ular di seluruh Indonesia, periode 2015-2023.
“Konflik ini mencakup berbagai interaksi, baik ular yang masuk ke permukiman, gigitan, pembunuhan ular oleh warga, hingga kasus makan manusia,” ujar Zakky, dihubungi Jum’at (11/7/2025)
Konflik manusia-ular itu dikelompokkan empat jenis, yaitu ular masuk ke permukiman manusia (1.264 kasus), ular dibunuh manusia (374 kasus), gigitan ular terhadap manusia (227 kasus), dan manusia dimangsa ular (7 kasus).
Data ini, sebagian besar dihimpun dari media sosial, serta laporan daring berbagai komunitas herpetologi dan berita lokal. Menurut Zakky, angka tersebut kemungkinan jauh di bawah kasus sebenarnya di lapangan.
“Banyak peristiwa yang tidak tercatat, karena tidak dilaporkan di media sosial maupun terjangkau pemberitaan online.”

Dalam kajian yang metode pengumpulan datanya gunakan SEO itu, tercatat Pulau Jawa sebagai pusat utama konflik. Jawa Barat mencatat jumlah tertinggi (537 kasus), diikuti Jawa Tengah (292 kasus), Jawa Timur (275 kasus), dan DIY Yogyakarta (166 kasus).
“Padatnya populasi manusia, masifnya urbanisasi, serta menyempitnya habitat alami ular jadi kombinasi penyebab utama.”
Studi ini juga mengungkap bahwa 109 spesies ular dari 56 marga dan 12 famili tercatat terlibat konflik, namun hanya beberapa spesies yang mendominasi.
Sanca kembang (Malayopython reticulatus) merupakan spesies dengan konflik tertinggi dengan 165 kasus, termasuk 7 kasus manusia dimangsa ular.
Sementara itu, ular sendok jawa (Naja sputatrix) mencatat 44 kematian akibat gigitan. Dua ular berbisa lainnya, Calloselasma rhodostoma dan Trimeresurus insularis mencatat gigitan tertinggi, masing-masing dengan 37 kasus.
“Konflik-konflik ini bukan hanya fenomena ekologis, tapi juga sosial. Banyak warga langsung membunuh ular karena ketakutan dan miskonsepsi.”
Zakky menekankan, penting bagi warga dan pemerintah mengambil langkah mitigasi berbasis data dan edukasi publik. Pemerintah dapat mengembangkan sistem pelaporan konflik ular yang lebih terstruktur, milsanya melalui aplikasi resmi atau kanal digital yang mudah diakses warga.
“Membangun data spesifik berdasarkan wilayah dan spesies, sehingga pemetaan zona risiko bisa dilakukan secara akurat juga penting,” jelas Magister Biosains Hewan IPB University ini.
*****