- Saat ini, secara resmi diakui ada 9 subspesies macan tutul yang secara genetik berbeda, termasuk dari subspesies yang ada di India, Indochina, Afrika, hingga Indonesia
- Sebagai predator puncak, macan tutul jawa saat ini semakin menurun populasinya, padahal ia penting untuk mengendalikan populasi mangsa dan menjaga kesehatan ekosistem.
- Meski dahulu dihormati sebagai bagian dari harmoni alam, kini macan tutul kerap dianggap ancaman. Kearifan lokal yang mendukung pelestarian alam semakin terkikis.
- Para ilmuwan dan masyarakat kini berpacu dengan waktu menyelamatkan dan mengembalikan harmoni ekologis untuk spesies langka ini.
Di balik lebatnya hutan dan sunyinya puncak-puncak gunung di Jawa, terdapat sosok spesies karismatik penjaga keseimbangan alam dialah macan tutul jawa (Panthera pardus melas), satu-satunya predator puncak yang tersisa di pulau terpadat di Indonesia ini.
Namun, keberadaannya kian hari kian tersembunyi, terdesak oleh laju pembangunan, deforestasi, dan pengabaian kolektif kita terhadap pentingnya pelestarian.
Dalam wawancara ekslusif melalui episode program Bincang Alam pada 22 Mei 2025 bertajuk ‘Sang Predator Puncak: Menerawang Nasib Macan Tutul Jawa’, Mongabay Indonesia mengundang Prof. Dr. Ir. Hendra Gunawan M.Si selaku Peneliti Utama Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Prof Hendra Gunawan merupakan satu-satunya ilmuwan Indonesia yang menyandang gelar kehormatan profesor riset konservasi macan tutul jawa.
Perbincangan ini adalah untuk menelusuri jejak langkah spesies kucing besar ini—bukan hanya sebagai satwa liar, tapi juga sebagai guru kehidupan, penjaga ekosistem, dan bagian dari kearifan lokal yang kini mulai memudar.
Melalui pengalaman dan pengetahuannya, pembaca Mongabay Indonesia di ajak menerawang masa depan spesies ini: Akankah ia bertahan sebagai simbol harapan di tengah krisis ekologi, atau justru menyusul harimau jawa yang telah lama punah?
Berikut adalah rangkuman diskusi, yang tata bahasanya telah disesuaikan untuk penulisan artikel ini.
Mongabay: Bisa dijelaskan bagaimana morfologi dan kondisi macan tutul jawa saat ini?
Hendra Gunawan: Saat ini, macan tutul jawa merupakan satu-satunya kucing besar sekaligus predator puncak di ekosistem Pulau Jawa sejak harimau jawa punah. Secara morfologi, macan tutul jawa sulit dibedakan dari subspesies lain.
Pemisahan subspesies panthera pardus – spesies yang sama di seluruh dunia – hanya bisa dipastikan lewat analisis DNA. Saat ini, secara resmi diakui ada 9 subspesies, termasuk macan tutul jawa yang secara genetik berbeda dari subspesies di India, Indochina, maupun Afrika.
Konservasi macan tutul jawa harus mendapat perhatian serius, apalagi statusnya saat ini “endangered“, yang berarti keberadaannya sangat terancam. Gangguan kecil saja bisa membawa spesies ini menuju kepunahan.
Mongabay: Seperti apa tren populasi macan tutul jawa?
Hendra Gunawan: Kajian saya menunjukkan populasi macan tutul jawa terus menurun, baik dari segi jumlah, sebaran, maupun keterhubungan habitatnya.
Banyak daerah yang dulunya dihuni kini sudah tidak lagi, dan kini mereka semakin terisolasi di puncak-puncak gunung karena terdesak pemukiman. Populasinya menyusut, habitatnya terpecah, dan sulit ditemukan di sekitar perkampungan.
Semua ini berkaitan erat dengan deforestasi—hilangnya tutupan hutan menyebabkan habitat macan tutul ikut menghilang. Sebagai subspesies endemik, macan tutul jawa hanya ditemukan di Pulau Jawa dan pulau kecil sekitarnya seperti Nusa Kambangan.
Beberapa pulau lain yang dulu menjadi habitatnya, seperti Pulau Sempu dan Kangean, kini kemungkinan besar sudah tidak ada lagi.

Mongabay: Apa yang membuat macan tutul jawa saat ini masih dapat bertahan meski habitatnya makin terancam?
Hendra Gunawan: Macan tutul jawa memiliki sifat-sifat unik yang membedakannya dari kucing besar lain, seperti harimau.
Pertama, ia adalah predator generalis—bisa memakan berbagai jenis mangsa, dari tikus, burung, kelelawar, hingga rusa dan babi. Ini membuatnya lebih fleksibel dibanding harimau yang hanya memangsa hewan besar (di atas 30 kg).
Kedua, macan tutul memiliki daya adaptasi tinggi. Ia bisa hidup di berbagai habitat ekstrem—dari salju di Rusia, gurun di Iran, hingga puncak gunung dan hutan mangrove di Indonesia.
Ketiga, sistem perkawinannya bersifat promiscuous—jantan dan betina tidak terikat pasangan tetap, sehingga peluang berkembang biaknya tinggi. Berbeda dengan spesies yang monogami seumur hidup, yang lebih rentan terhadap kepunahan jika kehilangan pasangan.
Kombinasi sifat generalis, adaptif, dan sistem reproduksi yang fleksibel inilah yang turut membantu kelestarian macan tutul jawa hingga sekarang.
Mongabay: Apakah konservasi ex-situ bisa menjadi opsi?
Hendra Gunawan: Macan tutul seperti kucing lain, memang mudah berkembang biak dengan jumlah anak hingga empat ekor per kelahiran, sehingga ketika populasinya bertambah tapi habitatnya menyusut, konflik mereka dengan manusia dapat meningkat karena mereka mencari makanan dari ternak.
Upaya konservasi ex-situ, seperti di kebun binatang, sangat memungkinkan dan penting untuk mendukung konservasi in-situ di alam liar. Misalnya, macan tutul yang ada di kebun binatang bisa dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya, terutama untuk memperbaiki keragaman genetik populasi yang terisolasi di alam.
Selain itu, ada rencana untuk memanfaatkan pejantan macan tutul hasil sitaan konflik yang tidak bisa dilepasliarkan, dengan cara mengambil spermanya untuk program kawin silang di penangkaran.
Namun, semua ini harus melalui prosedur dan protokol yang ketat sesuai IUCN, termasuk protokol pelepasliaran dan breeding loan, sehingga pengelolaan populasi macan tutul tidak bisa dilakukan sembarangan.

Mongabay: Banyak yang belum paham. Apakah ada perbedaan antara macan tutul dan macan kumbang?
Hendra Gunawan: Macan kumbang dan macan tutul jawa sebenarnya sama, hanya berbeda warna akibat fenomena melanisme—pigmen gelap yang menutupi pola tutulnya. Jika diperhatikan dari dekat, macan kumbang juga memiliki tutul.
Menariknya, melanisme ini disebut hanya terjadi pada macan tutul jawa dan tidak ditemukan di subspesies lain seperti di India, Afrika, Indochina, atau Iran. Ini menjadi topik penelitian menarik, kemungkinan berkaitan dengan adaptasi terhadap hutan tropis yang lebat di Indonesia.
Warna gelap mungkin membantunya tersamar di habitat yang lebih gelap, berbeda dengan tutul khas yang berfungsi sebagai kamuflase di savana seperti di Afrika.
Mongabay: Dari sisi ekosistem apa yang diberikan dari keberadaan macan tutul jawa?
Hendra Gunawan: Macan tutul jawa sebenarnya memiliki peran penting yang sering kali tidak disadari masyarakat, karena biasanya dilihat sebagai ancaman.
Sebagai predator puncak, macan tutul menjaga keseimbangan ekosistem dengan mengontrol populasi satwa mangsa seperti monyet dan babi hutan, sehingga tidak terjadi ledakan populasi.
Selain itu, ia juga menjaga kesehatan ekosistem dengan memangsa satwa yang sakit agar tidak menyebarkan penyakit ke satwa lain maupun manusia, seperti cacar monyet, juga turut mengendalikan hama pertanian.
Dari sisi ekonomi, ia juga berpotensi menjadi daya tarik ekowisata melalui kegiatan ‘berburu foto’ yang melibatkan masyarakat lokal sebagai pemandu.
Mongabay: Terkait ekowisata, bagaimana ini dapat berjalan, seiring dengan karakter macan tutul jawa sebagai predator?
Hendra Gunawan: Sifat kriptik atau tersembunyi dari macan tutul justru bisa menjadi daya tarik ekowisata, karena menghadirkan tantangan dan sensasi tersendiri bagi wisatawan yang ingin “berburu” foto satwa ini di alam liar.
Aktivitas seperti menunggu di lokasi tertentu dengan kamera tele dan pengetahuan tentang kebiasaan macan tutul menjadi nilai jual utama wisata ini. Ekowisata seperti jenis ini tidak hanya menawarkan hiburan, tapi juga edukasi dan peluang ekonomi. Foto eksklusif yang diambil bisa bernilai tinggi.
Dengan protokol ketat yang dirancang – termasuk aturan berpakaian, jumlah pendamping, dan waktu kunjungan – konservasi dapat menjadi kegiatan yang menghasilkan uang dan tetap ramah lingkungan.
Ini membuktikan bahwa melestarikan alam tidak harus selalu menjadi beban biaya, melainkan bisa menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan.

Mongabay: Apakah ada sisi kearifan lokal yang masih berlaku di masyarakat yang hidup berdampingan dengan habitat macan tutul jawa?
Hendra Gunawan: Ada perubahan tata nilai, yang bergeser, yang dulunya macan tutul dihormati dan dianggap bagian dari kehidupan, kini justru sering dipandang sebagai ancaman.
Dahulu, masyarakat seperti di Gunung Kidul menunjukkan penghormatan tinggi terhadap macan tutul dan harimau dengan menyediakan air saat musim kemarau atau menunjukkan arah pulang ketika satwa tersebut tersesat ke permukiman. Ini mencerminkan nilai koeksistensi.
Kearifan lokal semacam ini, kini semakin terkikis oleh perkembangan pengetahuan, teknologi, dan pemahaman keagamaan yang keliru – hingga menganggapnya musyrik.
Padahal, nilai-nilai tersebut lebih tepat dipahami sebagai bentuk ekosentrisme, yaitu pandangan bahwa semua makhluk hidup maupun benda mati memiliki nilai dan layak dihargai. Ketika masyarakat kehilangan nilai ini, konsekuensinya tampak nyata seperti pencemaran sungai dan rusaknya ekosistem.
Oleh karena itu, penggalian kembali kearifan lokal menjadi penting, sebagaimana dilakukan melalui berbagai riset termasuk oleh BRIN, karena kearifan ini terbukti mendukung konservasi secara berkelanjutan dan harmonis.
Mongabay: Lalu bagaimana merancang koeksistensi, -ruang hidup bersama, antara macan tutul dengan manusia agar konflik dapat dihindari?
Hendra Gunawan: Salah satunya dengan menggunakan keseimbangan populasi yang berdasar pada peta kesesuaian habitat (habitat suitability map), suatu hal yang telah umum digunakan di negara lain, seperti Amerika.
Di Indonesia, khususnya untuk macan tutul jawa, peta ini masih sangat terbatas—bahkan baru dibuat untuk wilayah Jawa Tengah.
Dari peta tersebut, kita bisa mengetahui mana habitat yang harus dilindungi, direstorasi, atau dikelola secara khusus untuk mengurangi potensi konflik. Peta ini menggabungkan aspek kesesuaian habitat dengan tingkat kerawanan terhadap konflik, sehingga bisa memprediksi titik-titik rawan sebelum konflik terjadi.
Beberapa parameternya, seperti luas habitat (karena macan tutul membutuhkan sekitar 600–1.000 hektar per individu), jenis tutupan vegetasi (yang paling disukai adalah hutan alam dataran rendah), serta tekanan kependudukan.
Hutan jati sebagai contoh bukan habitat favorit macan tutul, tapi mereka terpaksa tinggal di sana karena pilihan lain sudah hilang.
Untuk konflik manusia-satwa, pendekatannya harus kasus per kasus, tidak bisa diselesaikan dengan satu rumus yang sama. Seperti macan tutul jantan remaja yang memakan ternak bisa jadi karena dia kalah bertarung dan kehilangan teritorinya, maka solusinya adalah translokasi ke hutan lain yang masih kosong.
Sedangkan kalau betina yang memakan ternak karena sedang mengasuh anak, solusinya bisa dengan menyediakan pakan liar seperti rusa atau babi. Jadi, memahami penyebab konflik secara spesifik sangat penting untuk menentukan solusi yang tepat.

Mongabay: Dari sisi pandang konservasi apa yang perlu dilakukan untuk melestarikan macan tutul jawa?
Hendra Gunawan: Tantangan utama konservasi macan tutul jawa meliputi penyusutan habitat akibat pembangunan infrastruktur dan aktivitas manusia, fragmentasi habitat yang memisahkan populasi serta menimbulkan ‘efek tepi’ yang membuat macan tutul menghindari area dekat jalan, dan isolasi populasi di puncak-puncak gunung yang meningkatkan risiko in breeding.
Untuk mengatasi ini, diperlukan pemetaan genetik dan kemungkinan translokasi untuk menjaga keragaman genetik. Selain itu, penting juga mengembangkan koeksistensi antara macan tutul dan masyarakat agar hidup berdampingan tanpa konflik, serta meningkatkan edukasi dan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, tentang pentingnya pelestarian macan tutul jawa.
Dalam SRAK (Strategi dan Rencana Aksi Konservasi) macan tutul jawa yang dibuat sejak 2016, dokumen ini berfungsi sebagai panduan konservasi yang harus dievaluasi dan direvisi setiap lima tahun. Dengan masa berlaku yang akan berakhir pada 2026, revisi dan evaluasi capaian sangat diperlukan.
Perhatian nasional dan global terhadap macan tutul jawa pun perlu digalang, yang mana ini baru muncul belakangan ini yang selama ini fokus konservasi lebih banyak ke Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Kita perlu mengkampanyekan pelestarian macan tutul jawa dan melibatkan semua pihak.
*****