- Temuan baru dalam dunia herpetologi berhasil mengungkap spesies endemik bernama kadal buta dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.
- Meski bernama kadal, tubuhnya menyerupai cacing dengan mata tereduksi hingga nyaris buta, dan hilangnya tungkai pada betina adalah bukti adaptasi ekstrem terhadap lingkungan gelap dan sempit.
- Nama ilmiah kadal buta Pulau Buton ini adalah Dibamus oetamai. Kadal buta termasuk reptil fosorial, yakni hidup di dalam tanah, memiliki tubuh seperti cacing, mata terdegenerasi, dan tidak memiliki kaki pada betina. Sementara jantan, memiliki kaki vestigial berbentuk flap
- Endemisitas dan keterbatasan sebaran yang hanya di Pulau Buton, membuat kadal buta ini berpotensi rentan terhadap ancaman deforestasi dan perubahan habitat.
Temuan baru yang unik dalam dunia herpetologi di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, berhasil diungkap para peneliti. Satwa tersebut adalah spesies kadal buta bernama Dibamus oetamai. Sepintas, wujudnya seperti cacing tanah dibandingkan gambaran kadal umumnya.
Identifikasi ini dilakukan tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Khusus, meninjau kembali taksonomi Dibamus novaeguineae di Indonesia. Para peneliti memeriksa semua spesimen museum yang dikumpulkan dari wilayah Wallacea dan daratan Papua Barat, yang disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB). Termasuk, mengevaluasi bukti morfologi dan biogeografi.
Awal Riyanto, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, mengungkapkan bahwa kadal buta termasuk reptil fosorial, yakni hidup di dalam tanah, memiliki tubuh seperti cacing, mata terdegenerasi, dan tidak memiliki kaki pada betina. Sementara jantan, memiliki kaki vestigial berbentuk flap.
“Genus ini tersebar dari Asia Tenggara hingga Papua Nugini, tetapi kurang dipelajari, karena tersembunyi,” ungkap Awal Riyanto, dalam rilis yang dikeluarkan BRIN, awal Mei 2025.
Menurut para peneliti, selama ini Dibamus novaeguineae dianggap sebagai spesies yang tersebar luas di Indonesia, termasuk Papua, Maluku, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Namun, penelitian morfologi dan biogeografi terbaru mengungkap bahwa populasi di Pulau Buton memiliki ciri khas yang membedakannya dengan spesies lain, dalam genus ini.
Spesies baru ini dideskripsikan berdasarkan perbedaan morfologi yang signifikan, termasuk ukuran panjang tubuh dari moncong ke vent (SVL) maksimum 145,7 mm. Sisik kepala tidak memiliki sutur rostral medial dan lateral, frontal lebih besar dari asal. Serta, memiliki pola warna dua atau tiga pita berwarna terang pada tubuh. Sedangkan habitatnya adalah endemik hutan hujan muson Pulau Buton di bawah 400 m dpl.

Perbedaan signifikan
Nama lokal dari spesies endemik ini adalah kadal buta buton. Sementara nama ilmiahnya Dibamus oetamai dan telah dipublikasikan dalam jurnal Taprobanica pada 25 April 2025.
Dalam jurnal tersebut, para peneliti melalui analisis morfologi menemukan perbedaan signifikan Dibamus oetamai dibandingkan kerabatnya. Pola sisik di kepala dan nuansa warna tubuh khas menjadi pembeda. Lebih dari sekadar perbedaan fisik, penemuan ini mengindikasikan jalur evolusi unik yang ditempuh kadal buta di Pulau Buton.
Sebagai reptil fosorial sejati, Dibamus oetamai sepenuhnya beradaptasi dengan kehidupan bawah tanah. Tubuhnya yang menyerupai cacing, mata yang tereduksi hingga nyaris buta, dan hilangnya tungkai pada betina adalah bukti adaptasi ekstrem terhadap lingkungan gelap dan sempit.
Penelitian ini juga menyoroti bagaimana isolasi Pulau Buton dari daratan Sulawesi yang lebih besar telah memungkinkan Dibamus oetamai untuk mengembangkan karakteristiknya sendiri. Terpisah dari kerabatnya di wilayah lain.
“Kami membandingkan populasi Dibamus novaeguineae sensu stricto di Papua dan populasi Dibamus novaeguineae sensu lato di Kepulauan Sunda Kecil dan menunjukkan bahwa populasi Dibamus cf. novaeguineae di Pulau Buton mewakili fenotipe endemik berbeda. Berdasarkan perbedaan morfologi dan sisik, di sini kami mendeskripsikan populasi terisolasi ini di Buton, sebuah pulau di lepas pantai Sulawesi Tenggara, sebagai spesies baru,” ungkap para peneliti.
Penemuan Dibamus oetamai makin mempertegas peran penting pulau-pulau kecil di wilayah Wallacea sebagai pusat evolusi spesies-spesies endemik yang unik. Seperti diketahui, garis Wallacea adalah sebuah batas biogeografi imajiner yang memisahkan fauna Asia dan Australasia, melintasi wilayah ini, menciptakan kondisi isolasi geografis yang mendorong spesiasi.

Menurut para peneliti BRIN, penemuan ini memperkaya keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya reptil fosorial yang masih sedikit diketahui. Dibamus oetamai disebut merupakan contoh bagaimana pulau-pulau kecil seperti Buton dapat menjadi rumah bagi spesies unik yang berevolusi secara terisolasi.
“Temuan ini menunjukkan bahwa masih banyak keragaman reptil Indonesia yang belum terungkap, terutama di wilayah Wallacea yang menjadi hotspot keanekaragaman hayati,” ujar Awal Riyanto.
Meski demikian, endemisitasnya yang tinggi dan keterbatasan sebaran tersebut, membuat Dibamus oetamai berpotensi rentan terhadap ancaman deforestasi dan perubahan habitat. Perlindungan kawasan hutan di Buton, seperti kawasan lindung Hutan Lambusango, disebut akan menjadi kunci untuk menjaga kelestarian spesies ini.
Referensi:
Dwi Prasetyo, M., Satria Yudha, D., Thasun Amarasinghe, A.A., Ineich, Ivan G.R., Gillespie, Riyanto, Awal. A New Blind Skink (Reptilia: Dibamidaea: Dibamus) from Buton Island, Indonesia. Taprobanica, Volume 14, Number 1, May 2025. DOI:10.47605/tapro.v14i1.349