- Tumbuhan akar kuning tidak hanya dimanfaatkan masyarakat sebagai obat tradisional, tetapi juga digunakan orangutan untuk mengobati luka.
- Hal ini diketahui berdasarkan penelitian orangutan sumatera di Stasiun Penelitian Suaq Belimbing, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh, yang masuk kawasan Taman Nasional Gunung Leuser [TNGL]. Dalam riset tersebut terlihat seeokr orangutan mengunyah daun dan batang akar kuning yang selanjutnya dioleskan pada lukanya.
- Akar kuning merupakan tumbuhan liana dari Suku Menispermaceae. Tumbuhan ini merambat/melilit pada tumbuhan lain, dengan diameter batang sekitar 5 sentimeter dan panjang bisa mencapai lebih 20 meter. Di Provinsi Aceh, akar kuning dapat ditemukan di Kawasan Ekosistem Leuser [KEL] maupun Ulu Masen.
- Akar kuning mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan t Masyarakat memanfaatkannya untuk mengatasi penyakit hepatitis, antidiabetes, antimalaria, antimikroba, dan antioksidan.
Tumbuhan akar kuning digunakan orangutan untuk mengobati luka.
Hal ini diketahui berdasarkan penelitian orangutan sumatera di Stasiun Penelitian Suaq Belimbing, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh, yang masuk kawasan Taman Nasional Gunung Leuser [TNGL]
Isabelle Laumer, ahli biologi dari Max Planck Institute, Jerman, dalam riset yang dipublikasikan di Jurnal Scientific Reports, edisi 2 Mei 2024 mengatakan, orangutan sumatera jantan bernama Rakus, pertama sekali diketahui mengalami luka di wajahnya, tepatnya di bawah mata kanan, pada 22 Juni 2022.
“Tim peneliti, seperti biasa mengikuti dan mencatat aktivitas orangutan di Suaq Belimbing dari bangun tidur pagi hingga membangun sarang dan tidur pada sore atau malam hari,” terangnya, sebagai penulis utama laporan berjudul “Active self-treatment of a facial wound with a biologically active plant by a male Sumatran orangutan.”

Rakus merupakan jantan dewasa berumur sekitar 44 tahun. Luka tersebut diperkirakan akibat perkelahian dengan sesama orangutan jantan.
Mengetahui Rakus terluka, tim di Stasiun Penelitian Suaq Belimbing yang pengelolaannya dilakukan Yayasan Ekosistem Lestari – Sumatran Orangutan Conservation Programme [YEL-SOCP] bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser [BBTNGL], berinisiatif mencatat semua aktivitasnya.
“Pada 25 Juni pukul 11:16 WIB, Rakus terlihat memakan batang dan daun akar kuning [Fibraurea tinctoria]. Padahal sebelumnya, orangutan sumatera jarang ditemukan memakan tumbuhan ini,” jelasnya.

Isabelle menambahkan, kunyahan daun dan batang tersebut dioleskan Rakus ke lukanya. Aktivitas ini dilakukan kembali pada 26 Juni 2022.
Pengamatan pada hari-hari berikutnya, tidak menunjukkan adanya infeksi pada luka tersebut. Tanggal 30 Juni 2022, lukanya sudah tertutup dan pada 19 Juli 2022, lukanya tampak sembuh total. Hanya tersisa sedikit bekas.
“Penelitian ini merupakan dokumentasi sistematik pertama, mengenai pengobatan luka aktif menggunakan tanaman obat pada kera besar,” jelasnya.

Akar kuning obat tradisional
Syamsuar, warga Pasie Lembang, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, yang tempat tinggalnya berbatasan langsung dengan hutan rawa Suaq Belimbing, mengatakan belum pernah melihat orangutan mengobati luka menggunakan daun.
“Kalau mengobati luka dengan air liurnya, saya pernah melihat di Stasiun Penelitian Suaq Belimbing. Lukanya dijilati,” ujarnya, Senin [8/7/2024].
Syamsuar telah bekerja di Stasiun Penelitian Suaq Belimbing sejak 1992, yang awalnya sebagai tukang masak. Berikutnya, dia dipercaya sebagai manager stasiun dari 1999 hingga 2003.
“Sebelumnya, tidak pernah terpantau langsung orangutan mengobati luka dengan akar kuning,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Arwin, warga Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, yang cukup lama bekerja sebagai asisten peneliti, maupun Manager Stasiun Penelitian Ketambe, di hutan TNGL.
“Kalau warga mencari akar kuning sebagai obat tradisional, saya sering menemukan. Mereka meyakini, akar kuning dapat mencegah penyakit diabetes,” jelasnya, Senin [8/7/2024].
Menurut Arwin, banyak warga mencari akar kuning tidak hanya digunakan sebagai obat keluarga, tetapi juga dijual.
“Untuk obat, batangnya direbus lalu airnya diminum. Rasanya agak pahit dan sepat.”

Syukirman, warga Pondok Baru, Kabupaten Bener Meriah, mengatakan bahwa tidak banyak masyarakat yang memanfaatkan akar kuning sebagai obat herbal.
“Di sini, kayu kuning atau akar kuning baru beberapa tahun dibutuhkan sebagai obat. Umumnya, warga mencari untuk dijual,” ungkapnya, Selasa [2/5/2024].
Sebelumnya, Plh. Kepala Dinas Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan [DLHK] Aceh, Muhammad Daud, kepada Mongabay, mengatakan perburuan akar kuning di kawasan hutan seperti hutan lindung dan hutan produksi memang ada.
“Pencarian akar kuning di hutan produksi dan hutan lindung tidak boleh dilakukan, jika tidak ada izin. Di Aceh ada yang memiliki izin, tapi yang berburu ilegal juga ada,” ujarnya, Rabu [29/6/2022].

Akar kuning merupakan tumbuhan liana dari Suku Menispermaceae. Di kalangan masyarakat, diyakini berkhasiat sebagai obat herbal untuk menyembuhkan penyakit.
Tumbuhan ini merambat/melilit pada tumbuhan lain, dengan diameter batang sekitar 5 sentimeter dan panjang bisa mencapai lebih 20 meter. Jenis ini dapat ditemukan di hutan Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Papua Nugini.
Di Provinsi Aceh, akar kuning ditemukan hampir di seluruh kawasan hutan alami, di Kawasan Ekosistem Leuser [KEL] maupun Ulu Masen.
Berdasarkan pengujian yang dilakukan Supomo dan kawan-kawan dalam buku “Khasiat Tumbuhan Akar Kuning Berbasis Bukti” terbitan 2021, akar kuning mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan terparoid.
“Masyarakat memanfaatkannya untuk mengatasi penyakit hepatitis, antidiabetes, antimalaria, antimikroba, dan antioksidan,” jelasnya.
Menurut UNESCO [1998], tumbuhan akar kuning banyak digunakan dalam pengobatan tradisional. Terutama, untuk mengatasi gangguan saluran pencernaan, sakit kuning, cacingan, diare, serta dapat digunakan untuk membersihkan luka.