Kota Apung Futuristis Ini Terinspirasi Pari Manta

Arsitek asal Perancis, Jacques Rougerie, membuat mendesain sebuah ‘kota apung’ berbentuk kapal yang menyerupai ikan pari manta. Ukurannya, panjang 900 m, lebar 400 m, tinggi 60 m, dan mampu menampung hingga 7.000 orang. Kota Mériens (marine) ini nantinya akan menjadi universitas untuk para peneliti dan mahasiswa.

Kapal raksasa ini berbentuk seperti ikan pari manta, dan bisa menjadi inspirasi bagi kapal-kapal pesiar di masa mendatang
Kapal raksasa ini berbentuk seperti ikan pari manta, dan bisa menjadi inspirasi bagi kapal-kapal pesiar di masa mendatang. Desain: Jacques Rougerie

Sejumlah laboratorium, ruang kelas, ruang kuliah, tempat tinggal, dan ruangan khusus olahraga juga disiapkan guna memfasilitasi proyek penelitian jangka panjang.

“Mengingat komunitas ilmiah internasional yang besar, kota apung ini akan mampu menampung 7.000 orang yang tersebar di seluruh struktur City of Mériens. Saya merancangnya dalam bentuk manta ray karena manta ray merupakan desain yang paling pas berkaitan dengan korelasi terbaik antara kebutuhan ruang dan stabilitas di permukaan air,” kata Rougerie, mengutip dari Science Alert.

Kota apung ini akan mampu menampung 7000 peneliti dan mahasiswa dalam jangka waktu lama. Desain: Jacques Rougerie
Kota apung ini akan mampu menampung 7000 peneliti dan mahasiswa dalam jangka waktu lama. Desain: Jacques Rougerie

Desain manta ray dipilih karena mampu bertahan dari hantaman badai dan cuaca ekstrim sekalipun. Struktur yang terlihat dari memang hanya 60 meter, tapi di bawah permukaannya ada struktur lain sedalam 120 m yang membantu menjaga kestabilan kapal.

Kota apung masa depan yang terinspirasi pari manta. Desain: Jacques Rougerie
Kota apung masa depan yang terinspirasi pari manta. Desain: Jacques Rougerie

Bentuk yang unik tersebut juga memungkinkan sebuah laguna besar ditempatkan di dalamnya,  di mana kapal penelitian seperti SeaOrbiters, yang juga dirancang oleh Rougerie, dapat bersandar. Di kedua sisinya pun bisa dibangun budidaya laut yang dapat dihunakan sebagai penelitian. Sementara sayap pada kapal itu akan difungsikan juga sebagai rumah hidroponik, memelihara tanaman buah atau sayur sebagai suplai makanan yang dibutuhkan di kapal tersebut.

“Desain ini diperuntukkan para peneliti, akademisi, dan mahasiswa yang ingin mengeksplorasi laut. Mereka akan memiliki kontak permanen dengan laut, juga akses ke bawah laut. Semua pihak dari seluruh dunia bisa bergabung di sini karena desainnya diperuntukkan bagi kota internasional sesuai standar PBB,” tambah Rougerie.

Rancangan ini diharapkan rampung pada 2050 nanti. Desain: Jacques Rougerie
Rancangan ini diharapkan rampung pada 2050 nanti. Desain: Jacques Rougerie

Menurut Rougerie,  semua rancangan kota ini dibuat 100 % renewable, bekerja otomatis, dioperasikan dengan energi laut yang diperbaharui, serta bebas sampah.

Meski  kota ini baru sebatas desain, namun sang desainer optimis rancangannya menjadi nyata pada 2050 nanti.

Kredit

Editor

Topik

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra

Alunan suara lantang yang menggema dari puncak-puncak kanopi adalah kidung kehidupan bagi siamang, sang penjaga sejati yang merawat keasrian rimba Sumatra. Namun, melodi alam ini kian terancam sunyi oleh kepungan perburuan, jerat perdagangan lintas negara, dan kepedihan hidup di balik jeruji besi. Melalui peran penting mereka dalam menjaga keseimbangan hutan lewat penyebaran benih, perlindungan terhadap […]

Artikel terbaru

Semua artikel