Kala Orangutan Terjebak di Kebun Sawit Langkat

Evakuasi orangutan Sumatera di perkebunan sawit Kabupaten Langkat kawasan TNGL oleh tim OIC. Foto: Ayat S Karokaro
Evakuasi orangutan Sumatera di perkebunan sawit Kabupaten Langkat kawasan TNGL oleh tim OIC. Foto: Ayat S Karokaro

Orangutan Sumatera yang terjebak di perkebunan sawit Desa Kuala Musam, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, berhasil dievakuasi tim penyelamat Orangutan Information Centre (OIC), Senin (30/3/15).

Panut Hadisiswoyo, Direktur Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-OIC, mengatakan, habitat orangutan betina, usia 20 tahun ini ini rusak. Ekspansi perkebunan sawit pemicu utama.

Dia mengatakan, tim mendapatkan informasi orangutan berada perkebunan sawit, langsung ke lokasi, dan evakuasi. Proses penyelamatan berjalan cukup panjang, karena berada di ketinggian sulit terjangkau senapan bius. Setelah lebih lima jam, akhirnya orangutan terkena bius. Tim penyelamat mengantisipasi, dengan menyiapkan jaring.

Ketika tidak sadarkan diri karena pengaruh bius, orangutan jatuh ke jaring. Tim penyelamat dan dokter hewan langsung memeriksa kesehatan dan detak jantung.

Julius, dokter hewan,  memeriksa tubuh orangutan dan dalam keadaan sehat serta stabil. Meskipun ada dua butir peluru di tubuh, namun tidak menganggu kesehatan satwa ini. Setelah pemeriksaan selesai, barulah translokasi.

OIC mencatat, tempat evakuasi orangutan ini, salah satu lokasi tinggi konflik antara manusia dengan satwa, seperti orangutan, gajah, dan harimau.

Setelah berhasil evakuasi, tim melepaskan orangutan di Desa Halaban, Kecamatan Besitang, Langkat, sekitar 100 km dari lokasi penemuan. Menurut Panut, pelepasliaran satwa di sana karena jarak translokasi kecil kemungkinan orangutan kembali ke pedesaan karena lokasi pelepasan cukup jauh.

Sebelah barat dan utara tempat pelepasliaran ini hutan alami cukup luas. Walaupun ada sebagian hutan skunder dan perkebunan sawit cukup luas. Namun, kecil kemungkinan kembali.  “Saat hutan dibabat habis untuk perkebunan, semua habis, termasuk pohon-pohon orangutan hidup.”

Panut mengatakan, makin lama makin banyak orangutan terdesak karena habitat mereka di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) rusak.

Catatan OIC, 2015, sejak Januari-Maret, sudah translokasi 10 orangutan. “Hampir setiap minggu, translokasi dilakukan. Sebenarnya ini sangat disesalkan, karena translokasi dan evakuasi orangutan yang muncul di desa dan perkebunan sawit sekitar TNGL, tidak perlu. Karena habitat hancur penyelamatan terpaksa harus dilakukan.”

Setelah evakuali, orangutan langsung dilepasliarkan di hutan TNGL berdekatan dengan Desa Halaban, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat. Foto: Ayat S Karokaro
Setelah evakuali, orangutan langsung dilepasliarkan di hutan TNGL berdekatan dengan Desa Halaban, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat. Foto: Ayat S Karokaro

Kredit

Topik

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

Krisis keanekaragaman hayati Indonesia tersingkap erat melalui lensa jurnalisme investigasi dan konservasi. Di balik pesona suara dan tingginya minat masyarakat terhadap kontes burung, terdapat sisi gelap berupa masifnya perburuan liar, penyelundupan antarpulau seperti jalur Sumatra ke Jawa, hingga pemanfaatan platform digital untuk perdagangan ilegal. Seluruh laporan memotret urgensi penyelamatan satwa, pentingnya pemanfaatan data dalam memantau […]

Artikel terbaru

Semua artikel