Sungai Musi Tercemar, Ikan-ikan Diduga Mengandung Merkuri

Sungai Musi tercemar dengan berbagai aktivitas industri. Diduga ikan-ikan dari sungai ini sudah mengandung mercuri. Foto: Taufik Wijaya

Walhi Sumatera Selatan mengingatkan masyarakat Palembang berhati-hati mengonsumsi ikan air tawar di Sungai Musi seperti baung, juaro, lais, dan patin. Sebab, sebagian besar ikan-ikan itu diduga tercemar merkuri. Organisasi lingkungan ini meminta pemerintah memberi perhatian serius terhadap masalah ini.

“Merkuri di Sungai Musi, mengendap di tubuh sejumlah ikan itu, kemungkinan besar dari aktifitas pertambangan, bahan pertanian, obat-obatan, cat, kertas dan limbah industri,” kata Hadi Jatmiko, direktur Walhi Sumsel, Senin (26/5/14).

Dugaan ini muncul berdasarkan dokumen pemaparan para akademisi di Palembang, tahun lalu. Dalam makalah itu disebutkan, berbagai aktivitas di Sungai Musi menyebabkan pencemaran yang berdampak pada biota perairan dan kesehatan manusia.

Beragam aktivitas ini mengakibatkan terpaparnya logam logam berat ke dalam badan sungai, termasuk merkuri. Menurut hasil penelitian Eddy, dkk (2012),  Sungai Musi Palembang antara Polokerto sampai Pulau Salah Nama telah tercemar merkuri total. Kadar merkuri dalam air berkisar 17,250 – 21,750 ppb, kadar merkuri di sedimen antara 1.125 – 2.521 ppb. Keberadaan merkuri dalam air dan sedimen dapat menyebabkan merkuri terakumulasi dalam biota Sungai Musi termasuk ikan. Sebab, logam merkuri mudah masuk ke tubuh ikan melalui proses rantai makanan.

Dari penelitian Eddy mengidentifikasi, dari 29 jenis, paling besar kandungan merkuri yaitu baung, juaro, lais dan patin.  Akumulasi merkuri jenis ini lebih tinggi dibandingkan yang lain, karena ikan predator.

Hadi meminta, pemerintah memberikan perhatian serius terhadap pencemaran merkuri ini, misal dengan memulai penelitian. Jika penelitian terbaru membenarkan kandungan merkuri pada ikan hidup di Sungai Musi, perlu kebijakan bagi masyarakat. “Misal melarang masyarakat mengonsumsi ikan dari Musi, sambil pencegahan pencemaran merkuri di sungai itu.”

Menurut dia, pencegahan paling benar dengan menghentikan berbagai aktivitas industri yang aliran limbah menuju Sungai Musi. Namun, selama proses itu, pemerintah harus mengontrol penggunaan merkuri. “Terutama mengontrol peredaran merkuri secara ilegal.”

Pemakan Ikan Sungai

Masyarakat Palembang, senang mengonsumsi ikan. Beragam masakan di Palembang menggunakan bahan baku ikan, seperti pindang, pempek, pepes, atau digoreng maupun disambal.

Patin paling dominan sebagai bahan baku pindang, banyak dari pertambakan ikan. “Itupun tetap hati-hati, sebab sebagian pertambakan patin juga di badan sungai. Bukan di kolam. Terutama di Gandus,” kata Hadi.

Kredit

Topik

Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa

Gunung Muria berdiri sebagai benteng alam terakhir di pesisir utara Jawa yang menyimpan kekayaan luar biasa. Kawasan ini merupakan ruang hidup bagi predator puncak seperti macan tutul Jawa hingga spesies unik yang baru ditemukan seperti cecak batu. Namun posisi strategisnya sebagai jantung ekologi kini menghadapi tantangan besar akibat alih fungsi lahan dan dampak nyata perubahan […]

Artikel terbaru

Semua artikel