Berkurangnya perjumpaan dengan satwa liar membuat sebagian petani di sekitar Suaka Margasatwa Gunung Raya, Sumatera Selatan, merasa lebih aman berkebun. Namun, persoalan di kebun mereka belum selesai. Babi hutan merusak tanaman, sementara cuaca yang sulit diperkirakan mengganggu pembungaan kopi.
Suparto, petani Desa Way Wangi Seminung, mengaku kebun satu hektarnya dahulu menghasilkan sekitar dua ton kopi pada 2014. Kini, hasilnya sekitar 300 kilogram. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa menghilangnya satwa dari sekitar kebun tidak serta-merta membawa kondisi pertanian yang lebih baik.
Gunung Raya dahulu menjadi habitat gajah sumatera, harimau, macan dahan, kucing emas, kucing kuwuk, hingga tapir. Menurut warga, satwa-satwa tersebut kini semakin jarang terlihat seiring berkurangnya tutupan hutan. Data BKSDA Sumatera Selatan menunjukkan sekitar 32.608 hektar, atau 64% dari luas kawasan, masuk dalam blok rehabilitasi karena terganggu atau berubah menjadi perkebunan.
Erwin Wilianto, pendiri Yayasan SINTAS Indonesia, menekankan pentingnya menjaga satwa beserta habitatnya. “Banyak praktisi sekarang memahami penyelamatan satwa liar, merupakan salah satu kunci dalam memerangi krisis iklim,” katanya.
Di kebun kopi, babi mencari makanan dengan menggali tanah, yang dapat merusak akar dan merobohkan tanaman muda. Parmin, petani kopi di sekitar Gunung Raya. juga melaporkan babi memakan buah kopi. Sebagian warga menduga tekanan ini berkaitan dengan berkurangnya predator, terutama harimau yang memangsa babi. Namun, dugaan tersebut belum cukup untuk memastikan penyebab perubahan populasi babi di Gunung Raya.
Perubahan habitat dan ketersediaan makanan juga perlu diperhatikan. Di wilayah Semende, petani Dapawi menduga menyusutnya hutan membuat babi lebih sering masuk kebun, merusak kopi, padi, dan tanaman lainnya.
Peran kucing liar sebagai pengendali hama terlihat lebih jelas pada hubungan kucing kuwuk dengan tikus sawah.
Antok, petani di Desa Way Wangi Seminung, mengaku pernah melihat kucing kuwuk bersarang di sekitar rumpun padi. “Mereka hanya membuat sarang, tidak menganggu. Karena mereka, hama tikus tidak menyerang padi. Kami sadar mereka memang harus dijaga,” ujarnya.
Penelitian Fakhri dan kolega pada 2024 di Sumatera Barat juga menemukan kesadaran petani mengenai manfaat kucing kuwuk. Satwa ini memanfaatkan sawah untuk berburu tikus, dengan vegetasi di sekitarnya sebagai tempat berlindung.
Hubungan tersebut membuka peluang pertanian yang memberi ruang bagi satwa liar. Penelitian Campera dan kolega pada 2021 menyoroti agroforestri, pendidikan konservasi, aturan lokal, serta praktik organik sebagai bagian dari pendekatan berkelanjutan pada kebun kopi. Memadukan pohon dengan tanaman budidaya dapat mendukung keanekaragaman hayati, disertai upaya mengurangi perburuan dan penjeratan.
Tantangannya adalah menjaga penghidupan petani sekaligus mempertahankan fungsi ekosistem. Kucing liar memiliki jenis mangsa dan kebutuhan habitat berbeda, tetapi keberadaannya mengingatkan bahwa kebun terhubung dengan kehidupan hutan di sekelilingnya.