Di alam, warna mencolok sering menjadi tanda bahaya. Pada pitohui, burung endemik Papua, peringatan itu bukan sekadar isyarat. Kulit dan bulunya benar-benar mengandung racun yang dapat mengusir predator maupun parasit. Ironisnya, kemampuan bertahan hidup yang unik ini tidak membuat pitohui aman dari ancaman manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, burung “beracun” tersebut justru semakin sering ditemukan di pasar burung dan platform jual beli daring.
Keunikan pitohui terletak pada racun yang terdapat di kulit dan bulunya. Burung ini mengandung neurotoksin kuat yang membantu melindungi tubuhnya dari parasit, seperti kutu dan caplak, sekaligus menghalau predator. Saat disentuh manusia, racun tersebut dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan menimbulkan sensasi seperti reaksi alergi. Meski demikian, racun ini tidak menghalangi minat para kolektor, karena pitohui memiliki suara kicauan yang keras dan merdu.
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Bird Conservation International (Desember 2024) menunjukkan perubahan cukup mencolok. Selama dua dekade, antara 1994 hingga 2014, pitohui nyaris tidak pernah ditemukan dalam perdagangan burung kicau. Namun sejak 2015, spesies ini mulai bermunculan di pasar burung dan media sosial. Hingga 2023, peneliti mencatat sedikitnya 113 individu dijual di 12 pasar burung serta 199 individu diperdagangkan secara daring. Dari jumlah itu, 54 individu merupakan pitohui kepala hitam (Pitohui dichrous), spesies yang dikenal paling beracun.
Mengapa pitohui tiba-tiba diminati? Salah satu penyebabnya adalah krisis burung kicau di Indonesia. Banyak spesies favorit penghobi semakin langka akibat perburuan berlebihan, sehingga pasar terus mencari “pengganti” baru. Pitohui kemudian dipasarkan dengan nama dagang yang lebih menarik, seperti “cucakrawa Papua”, memanfaatkan popularitas cucakrawa asli yang kini semakin sulit ditemukan di alam.
Fenomena ini mencerminkan pola yang telah lama diamati para peneliti. Ketika satu spesies menjadi langka akibat eksploitasi, perdagangan akan beralih ke spesies lain yang sebelumnya kurang diminati. Pergeseran tersebut membuat tekanan terhadap satwa liar terus berpindah tanpa pernah benar-benar berhenti. Di Pulau Jawa sendiri, hobi memelihara burung sangat populer, dengan puluhan juta burung diperkirakan dipelihara di sangkar. Sebagian besar, berasal dari tangkapan alam liar, sehingga perdagangan burung menjadi penyebab utama penurunan populasi berbagai spesies di Indonesia.
Sebagian besar pitohui yang diperdagangkan berasal dari Papua dan masuk ke Pulau Jawa melalui Surabaya, lalu dijual dengan harga sekitar Rp1-5 juta per individu. Laporan TRAFFIC menunjukkan meningkatnya penyitaan pitohui dalam beberapa tahun terakhir, mengindikasikan bahwa perdagangan ilegal spesies ini terus berkembang. Namun, para ahli mengingatkan bahwa jumlah penyitaan kemungkinan hanya menggambarkan sebagian kecil dari perdagangan yang sebenarnya.
Meski seluruh spesies pitohui saat ini masih berstatus Least Concern menurut Daftar Merah IUCN, namun tidak ada kuota resmi yang mengizinkan perdagangan satwa ini di Indonesia. Artinya, penjualannya dapat dikategorikan ilegal. Para konservasionis menilai pemerintah perlu memperkuat pemantauan pasar burung dan perdagangan daring sebelum permintaan meningkat lebih jauh dan mulai mengancam populasi pitohui di alam liar.
Foto utama: Pitohui waigeo (P. cerviniventris). Tidak ada spesies pitohui terdaftar sebagai spesies yang dilindungi di Indonesia, namun tidak ada kuota resmi untuk perdagangan mereka, yang menjadikan penjualannya ilegal. Foto: Marcthibault via iNaturalist (CC-BY-NC 4.0).