<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=onrizal&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/onrizal/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Wed, 22 Apr 2026 07:16:16 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Warga Waswas  Ekosistem Gumuk Jember Tergerus  Tambang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/22/kala-ekosistem-gumuk-tdi-jember-erancam-tambang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/22/kala-ekosistem-gumuk-tdi-jember-erancam-tambang/#respond</comments>
					<pubDate>22 Apr 2026 07:16:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/21120029/Alat-berat-dan-sisa-sisa-kerukan-gumok-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126696</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gumuk banyak ditemui di Kabupaten Jember, Jawa timur. Bagi masyarakat di  sana, gumuk tak sekadar bentang alam biasa. Ia memiliki hubungan panjang dengan sejarah keluarga, kepemilikan tanah, hingga praktik sosial dan keagamaan masyarakat. Sayangnya,  aktivitas tambang pasir dan batu belakangan mengancam kelestarian bukit-buklt kecil ini. Padahal, keberadaan gumuk berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, penangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/22/kala-ekosistem-gumuk-tdi-jember-erancam-tambang/">Warga Waswas  Ekosistem Gumuk Jember Tergerus  Tambang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gumuk banyak ditemui di Kabupaten Jember, Jawa timur. Bagi masyarakat di  sana, gumuk tak sekadar bentang alam biasa. Ia memiliki hubungan panjang dengan sejarah keluarga, kepemilikan tanah, hingga praktik sosial dan keagamaan masyarakat. Sayangnya,  aktivitas tambang pasir dan batu belakangan mengancam kelestarian bukit-buklt kecil ini. Padahal, keberadaan gumuk berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, penangan angin, hingga sumber mata air. Di Desa Ajung, sejumlah makam terpaksa pindah demi membuka jalan bagi tambang. “Total ada sekitar 80 makam yang ditemukan. Dari jumlah itu ada sekitar 12 yang tidak ditemukan sisa tulangnya,” kata  Dara Quthni, pemilik gumuk kepada Mongabay, Rabu (18/2/26). Dia bilang, ada sekitar 4-5  keluarga dia ketahui memiliki hubungan dengan makam itu. Sebagian besar makam, katanya, sudah tidak terawat  bahkan tak memiliki penanda. “Banyak yang sudah rusak. Tidak ada patoknya lagi.” Sumiati, warga yang makam keluarganya kena relokasi mengatakan, tidak tahu soal pemindahan makam. Dia baru tahu saat makam keluarganya sudah dikeruk. “Pertama kaget waktu ibu cerita, pas ngecek sudah dikeruk gumuknya. Ya mau gimana lagi, sudah tidak ada,” katanya, Jumat (20/2/26). Dia kaget dengan pemindahan makam itu. Apalagi, makam-makam itu  tidak berada di atas tanah sengketa. Di belakang Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kalisat,   juga terdapat gumuk. Warga sekitar menyebut dengan Gumuk Taman. Kepemilikan lahan gumuk itu terbagi dalam beberapa bagian keluarga. Pesantren memiliki bagian sisi barat dan selatan. Bagi Ahmad, salah satu pengasuh pondok tersebut mengatakan, gumuk adalah warisan keluarga yang sarat nilai ekologis dan sosial. “Warisan dari orang tua. Tanah turun temurun yang harus dijaga,” katanya. Pada bagian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/22/kala-ekosistem-gumuk-tdi-jember-erancam-tambang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/22/kala-ekosistem-gumuk-tdi-jember-erancam-tambang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Refleksi di Hari Bumi, Meratapi Nasib Hutan Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/22/refleksi-di-hari-bumi-meratapi-nasib-hutan-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/22/refleksi-di-hari-bumi-meratapi-nasib-hutan-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>22 Apr 2026 04:00:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/22035343/Papua-food-estate-Pusaka-5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126713</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hari bumi jadi perayaan seremoni tiap tahun, tetapi nasib hutan Indonesia kian memprihatinkan di tengah nafsu menggenjot pertumbuhan ekonomi dan menciptakan cadangan pangan, energi, serta air dengan mengikis hutan. Kondisi ini yang terjadi di lapangan, malah masyarakat makin terhimpit,  dan lingkungan rusak, hanya segelintir orang rasakan ini sebagai manfaat. Pemerintah mencadangkan 20,6 juta hektar kawasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/22/refleksi-di-hari-bumi-meratapi-nasib-hutan-indonesia/">Refleksi di Hari Bumi, Meratapi Nasib Hutan Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hari bumi jadi perayaan seremoni tiap tahun, tetapi nasib hutan Indonesia kian memprihatinkan di tengah nafsu menggenjot pertumbuhan ekonomi dan menciptakan cadangan pangan, energi, serta air dengan mengikis hutan. Kondisi ini yang terjadi di lapangan, malah masyarakat makin terhimpit,  dan lingkungan rusak, hanya segelintir orang rasakan ini sebagai manfaat. Pemerintah mencadangkan 20,6 juta hektar kawasan hutan untuk  pangan, energi dan air pada akhir 2024. Sekitar 15,53 juta hektar berada dari kawasan hutan lindung dan produksi yang belum terbebani izin. Rinciannya, 2,29 juta hektar hutan lindung dan 13,24 juta hektare hutan produksi. Sekitar 3,17 juta hektar dari kawasan hutan yang terbebani perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH)  tidak aktif dan potensial dicabut, serta 1,9 juta hektar  dari kawasan perhutanan sosial. Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan, menjamin program itu tidak akan menambah deforestasi. Justru, katanya, pengelolaan lahan-lahan itu  akan menggabungkan pertanian dan kehutanan (agroforestri). Berbanding terbalik dengan  temuan Yayasan Auriga Nusantara dalam Status Deforestasi Indonesia (STADI) 2025 menunjukkan, 18% dari  luas deforestasi 2025, atau 79.408 hektar, terjadi di area pencadangan pangan, energi, dan air. Tertinggi di Kalimantan Tengah dengan 13.439 hektar, kemudian Sumatera Barat 8.273 hektar, Kalimantan Barat 6.281 hektar, Aceh 6.086 hektar, dan Kalimantan Timur 5.040 hektar. Walhi menilai rencana hutan untuk pangan dan energi akan menjadi proyek legalisasi deforestasi terbesar dalam sejarah. Proyek ini berbasis lahan yang tidak hanya mengancam hutan-hutan di Indonesia, melainkan ekosistem seperti satwa dan masyarakat, terutama masyarakat adat. Terlebih, paradigma yang pemerintah pakai  masih berorientasi bisnis, bukan kebutuhan masyarakat. Programnya, pengembangan  pangan skala besar (food estate) dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/22/refleksi-di-hari-bumi-meratapi-nasib-hutan-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/22/refleksi-di-hari-bumi-meratapi-nasib-hutan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk</title>
					<link>https://mongabay.co.id/video/2026/04/kesempatan-hidup-kedua-bayi-orangutan-tanpa-induk/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/video/2026/04/kesempatan-hidup-kedua-bayi-orangutan-tanpa-induk/#respond</comments>
					<pubDate>22 Apr 2026 01:31:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/22012507/Bayi-orangutan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=videos&#038;p=126731</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Masa Depan Orangutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, kera besar, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Di hutan, bayi orangutan tidak pernah hidup sendiri. Sejak lahir, mereka selalu bersama induknya. Dari situlah mereka belajar semuanya. Cara makan, memanjat, mengenali makanan, sampai bagaimana bertahan hidup di antara pepohonan. Semua dipelajari perlahan, dari hari ke hari. Tanpa induk, mereka bukan hanya kehilangan perlindungan. Mereka kehilangan satu-satunya tempat belajar tentang hidup. Di usia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/04/kesempatan-hidup-kedua-bayi-orangutan-tanpa-induk/">Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Di hutan, bayi orangutan tidak pernah hidup sendiri. Sejak lahir, mereka selalu bersama induknya. Dari situlah mereka belajar semuanya. Cara makan, memanjat, mengenali makanan, sampai bagaimana bertahan hidup di antara pepohonan. Semua dipelajari perlahan, dari hari ke hari. Tanpa induk, mereka bukan hanya kehilangan perlindungan. Mereka kehilangan satu-satunya tempat belajar tentang hidup. Di usia yang masih sangat kecil, mereka bahkan belum tahu apa yang bisa dimakan, ke mana harus pergi, atau bagaimana bergerak dengan aman di hutan. Dan ketika itu terjadi, peluang mereka untuk bertahan hidup sendirian sangat kecil. Sepanjang 2025, Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam CAN Borneo bersama BKSDA Kalimantan Timur menyelamatkan tiga bayi orangutan kalimantan tanpa induki. Mereka adalah Lucas, Hannes, dan Jack. Ketiganya ditemukan di tempat dan waktu berbeda. Tapi, mereka punya satu kesamaan. Mereka belum siap hidup sendiri di alam. Lucas yang pertama datang. Ia ditemukan di Desa Miau Baru, Kutai Timur, dalam kondisi  sangat kecil. Usianya diperkirakan dua hingga tiga bulan. Bahkan, giginya belum tumbuh. Setiap bangun tidur, ia menangis jika tidak ada yang menggendong atau menenangkannya. Perawat harus benar-benar menggantikan peran induknya, meski hanya sementara. Hannes datang dengan kondisi berbeda. Ia ditemukan di Bengalon pada Agustus 2025. Meski usianya sekitar satu tahun, Hannes sudah menunjukkan perilaku liar cukup kuat. Ia lebih sering berada di pohon, bisa membuat sarang, dan mencari makan sendiri. Ia juga tidak terlalu nyaman dekat manusia. Perilaku ini menunjukkan bahwa ia sempat belajar langsung dari induknya di alam. Di sekolah hutan, Hannes sering terlihat seperti “kakak” bagi Lucas. Ia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/04/kesempatan-hidup-kedua-bayi-orangutan-tanpa-induk/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/video/2026/04/kesempatan-hidup-kedua-bayi-orangutan-tanpa-induk/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Menjaga Harapan Tersisa di Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/22/opini-menjaga-harapan-tersisa-di-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/22/opini-menjaga-harapan-tersisa-di-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>22 Apr 2026 00:52:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/22003741/Suku-Mapur-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126724</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, gaya hidup, hukum dan politik, hutan indonesia, Masyarakat Adat, solusi iklim, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat ini Bumi kian tertekan. Mulai dari dampak iklim, ekonomi, hingga konflik politik. Sejumlah bangsa mengalami atau terancam krisis pangan, air bersih, energi, serta ruang hidup. Sementara banyak flora dan fauna yang punah atau terancam punah. Masih adakah kelompok masyarakat di dunia ini, yang memiliki harapan Bumi akan selamat dari berbagai tekanan tersebut? Saya terkejut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/22/opini-menjaga-harapan-tersisa-di-bumi/">Opini: Menjaga Harapan Tersisa di Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat ini Bumi kian tertekan. Mulai dari dampak iklim, ekonomi, hingga konflik politik. Sejumlah bangsa mengalami atau terancam krisis pangan, air bersih, energi, serta ruang hidup. Sementara banyak flora dan fauna yang punah atau terancam punah. Masih adakah kelompok masyarakat di dunia ini, yang memiliki harapan Bumi akan selamat dari berbagai tekanan tersebut? Saya terkejut ketika membaca berita yang mengabarkan puluhan ribu petani di India melakukan bunuh diri akibat krisis iklim. Kekeringan menyebabkan gagal panen, hutang, kebangkrutan, dan masalah pertanian lainnya. Mereka bunuh diri seakan kehilangan harapan Bumi akan membaik. Saya juga membaca sejumlah artikel tentang ancaman perang akibat krisis iklim. Kelangkaan pangan, air, migrasi massal, diperkirakan akan menjadi pemicu perang di abad ke-21, yang bersifat global. Sementara perang, selain membuat kematian ribuan manusia, juga akan meningkatkan krisis iklim. Contohnya, perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran, yang diperkirakan menghasilkan jutaan ton emisi karbon dioksida (CO2). Dalam kehidupan Suku Mapur, pembagian peran perempuan dan lelaki sama. Sejajar. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia Beberapa tahun terakhir, saya mencari harapan tersebut pada berbagai kelompok masyarakat atau komunitas adat di Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Barat, yang ruang hidupnya mulai mengalami kerusakan atau perubahan. Dan, saya bahagia. Harapan tersebut masih saya temukan. Harapan yang hadir dalam sejumlah perilaku atau tradisi yang arif terhadap alam, yang sudah terjaga selama ratusan tahun. Harapan yang bertahan di antara berbagai ancaman dari aktivitas perkebunan monokultur skala besar, pertambangan, industri, dan lainnya, di dalam atau sekitar hutan, danau, sungai, bukit dan laut. Mereka percaya bahwa Tuhan, leluhur&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/22/opini-menjaga-harapan-tersisa-di-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/22/opini-menjaga-harapan-tersisa-di-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Tesso Nilo Enggan Relokasi, Pemerintah Masih Cari Lahan Pengganti</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/21/warga-tesso-nilo-enggan-relokasi-pemerintah-masih-cari-lahan-pengganti/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/21/warga-tesso-nilo-enggan-relokasi-pemerintah-masih-cari-lahan-pengganti/#respond</comments>
					<pubDate>21 Apr 2026 23:22:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/21231530/Warga-petani-dari-TNTN-berunjuk-rasa-selama-tiga-hari-dan-bertahan-di-bawah-tenda-Selasa-14-April-2026.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126715</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Benahi dan Pulihkan Tesso Nilo]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penyelesaian masalah warga yang tinggal dan berkebun sawit di dalam Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) masih belum tuntas. Selama dua hari warga aksi di Kantor Gubernur Riau. Mereka menolak relokasi karena ketidakjelasan konsep dan lokasi juga minim dialog dengan yang terdampak. Pemerintah pun akui, masih terus mencari lokasi pengganti atau relokasi bagi warga Tesso Nilo. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/21/warga-tesso-nilo-enggan-relokasi-pemerintah-masih-cari-lahan-pengganti/">Warga Tesso Nilo Enggan Relokasi, Pemerintah Masih Cari Lahan Pengganti</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penyelesaian masalah warga yang tinggal dan berkebun sawit di dalam Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) masih belum tuntas. Selama dua hari warga aksi di Kantor Gubernur Riau. Mereka menolak relokasi karena ketidakjelasan konsep dan lokasi juga minim dialog dengan yang terdampak. Pemerintah pun akui, masih terus mencari lokasi pengganti atau relokasi bagi warga Tesso Nilo. Rencananya, warga yang menolak relokasi akan berdialog lagi dengan pemerintah pusat, Rabu, 22 April di Jakarta. Begitu informasi dari Wandri Saputra Simbolon,  Ketua Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pelalawan (AMMP), pemimpin aksi, kepada Mongabay Senin (20/4/26). “Kami sudah membuka akses ke Kementerian Kehutanan diwakili Dirjen KSDAE (Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem) melalui pertemuan virtual. Nanti akan diatur waktu mendengar langsung aspirasi warga di Jakarta,”  kata Supriyadi, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistika (Kominfotik) Riau. Meski begitu, Wandri, beri penekanan tak boleh ada pergerakan apapun dari Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). “Jangan ada relokasi sebelum pemerintah membuka data 4.000 warga yang katanya telah mendaftar (untuk dipindahkan).” Data itu, dia dengar dalam ruang dialog. Wandri memimpin ratusan warga dari TNTN, berunjuk rasa sejak 13 April 2026. Mulai hari itu, massa bertahan di bawah tenda yang dibangun di Jalan Cut Nyak Dien, Pekanbaru, sebelah kantor Gubernur Riau. Awalnya, mereka tidak akan beranjak, sebelum difasilitasi pertemuan dalam jaringan bersama Presiden Prabowo Subianto. Warga menyadari keinginan itu takkan terwujud dalam sekejap. Apalagi, saat itu, Prabowo tengah melawat ke Rusia dan Prancis. Akhirnya, tekad itu pun mereka urungkan karena menimbang tak ingin ada korban jiwa atau warga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/21/warga-tesso-nilo-enggan-relokasi-pemerintah-masih-cari-lahan-pengganti/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/21/warga-tesso-nilo-enggan-relokasi-pemerintah-masih-cari-lahan-pengganti/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pentingnya Hak Kolektif Perempuan Adat dalam RUU Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/21/pentingnya-hak-kolektif-perempuan-adat-dalam-ruu-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/21/pentingnya-hak-kolektif-perempuan-adat-dalam-ruu-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>21 Apr 2026 21:46:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/02/22004322/moa-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126706</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Nasib UU Masyarakat Adat]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hak-hak masyarakat adat, termasuk perempuan adat masih jauh dari perlindungan negara. Rancangan Undang-undang (RUU) Masyarakat Adat, yang jadi payung hukum dalam pemenuhan hak-hak masyarakat  adat belasan tahun dalam bahasan tetapi tak jua terealisasi.  Tahun 2026, RUU ini masuk lagi dalam program legislasi nasional prioritas. Berbagai kalangan, termasuk Persekutuan Perempuan Adat Nusantara (PEREMPUAN AMAN)  mendorong hak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/21/pentingnya-hak-kolektif-perempuan-adat-dalam-ruu-masyarakat-adat/">Pentingnya Hak Kolektif Perempuan Adat dalam RUU Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hak-hak masyarakat adat, termasuk perempuan adat masih jauh dari perlindungan negara. Rancangan Undang-undang (RUU) Masyarakat Adat, yang jadi payung hukum dalam pemenuhan hak-hak masyarakat  adat belasan tahun dalam bahasan tetapi tak jua terealisasi.  Tahun 2026, RUU ini masuk lagi dalam program legislasi nasional prioritas. Berbagai kalangan, termasuk Persekutuan Perempuan Adat Nusantara (PEREMPUAN AMAN)  mendorong hak kolektif perempuan adat masuk dalam rancangan aturan ini. Devi Anggraini, Ketua Umum PEREMPUAN AMAN, mengatakan, ketiadaan pengaturan hak kolektif perempuan adat berpotensi membuat RUU Masyarakat Adat gagal mencapai tujuannya secara utuh. Tanpa memasukkan hak kolektif perempuan adat, katanya, pengakuan terhadap masyarakat adat menjadi parsial dan tak inklusif. Untuk itu, katanya, penting memastikan hak perempuan adat secara kolektif diakui dan dilindungi dalam RUU ini. “ Agar keadilan bagi seluruh anggota komunitas adat benar-benar terwujud,” katanya dalam diskusi bertajuk “Memahami Urgensi Hak Kolektif Perempuan Adat dalam RUU Masyarakat Adat” di Jakarta, 17 April lalu. Dalam diskusi itu, Devi mengatakan, pembicaraan hak kolektif perempuan adat masih sangat minim  padahal merupakan isu krusial. Dia bilang, ada tiga aspek utama yang melekat pada identitas perempuan adat. Pertama,  wilayah kelola perempuan adat di dalam wilayah adat. Di sini, mereka tidak menekankan pada aspek kepemilikan, melainkan akses perempuan, peran, serta fungsi ruang sebagai tempat membangun pengetahuan. “Sekaligus ruang aktualisasi politik perempuan adat melalui pengaturan pengelolaannya,” katanya. Dia contohkan, praktik hutan perempuan di Papua. Pengelolaan bersifat semi otonom, di mana perempuan adat memiliki kewenangan dalam mengatur kapan, apa, dan berapa banyak hasil hutan yang dapat mereka panen. Selain sebagai ruang pengelolaan sumber daya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/21/pentingnya-hak-kolektif-perempuan-adat-dalam-ruu-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/21/pentingnya-hak-kolektif-perempuan-adat-dalam-ruu-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Nasib Nelayan Kecil Kian Tersudut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/21/ketika-nasib-nelayan-kecil-kian-tersudut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/21/ketika-nasib-nelayan-kecil-kian-tersudut/#respond</comments>
					<pubDate>21 Apr 2026 11:53:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/03161805/WhatsApp-Image-2025-10-03-at-09.10.42-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126639</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nasib nelayan nelayan kecil dan tradisional tak juga membaik. Ada Hari Nelayan setiap 6 April ternyata tak juga terlalu berarti bagi  perbaikan dan perlindungan. Alih-alih, nasib mereka kian terpuruk dan terpinggirkan. Susan Herawati, Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menyebut, peringatan Hari Nelayan seharusnya menjadi momentum bagi semua pihak untuk mengakui, melindungi, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/21/ketika-nasib-nelayan-kecil-kian-tersudut/">Ketika Nasib Nelayan Kecil Kian Tersudut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nasib nelayan nelayan kecil dan tradisional tak juga membaik. Ada Hari Nelayan setiap 6 April ternyata tak juga terlalu berarti bagi  perbaikan dan perlindungan. Alih-alih, nasib mereka kian terpuruk dan terpinggirkan. Susan Herawati, Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menyebut, peringatan Hari Nelayan seharusnya menjadi momentum bagi semua pihak untuk mengakui, melindungi, dan memberdayakan nelayan. Termasuk nelayan perempuan. “Harus ada kepastian hukum atas pengakuan dan perlindungan terhadap hak atas identitas nelayan dan perempuan nelayan, ruang pengelolaan nelayan tradisional, dan jaminan keamanan dan keselamatan nelayan di laut,” katanya. Menurut dia, upaya pemberdayaan itu meliputi peningkatan kemampuan untuk mengolah hasil tangkapan, penguatan kelembagaan, penyediaan fasilitas dan permodalan hingga meningkatkan kapasitas mereka dalam memitigasi perubahan iklim. Pasalnya, kelautan menjadi salah satu sektor paling terdampak krisis iklim. Dia soroti sejumlah kebijakan dan program yang berpotensi menggerus eksistensi para nelayan. Sebut saja perampasan ruang laut (ocean grabbing) dan juga rencana pembangunan tanggul raksasa di sepanjang Pantura Jawa yang dia nilai sebagai bentuk mal adaptasi krisis iklim. Dia contohkan di Jakarta,  proyek Giant Sea Wall (GSW) tidak akan mencegah meningkatnya air laut ke daratan. Sebaliknya, justru memperparah karena menurunnya muka tanah di wilayah pesisir utara Jawa. GSW juga bertentangan dengan Pasal 35 UU Nomor 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, karena itu adalah kegiatan yang dilarang dalam pengelolaan wilayah pesisir di Indonesia. Seharusnya, pemerintah fokus pada upaya mencegah penurunan tanah itu terjadi. Misalnya, memperketat penggunaan air tanah dan juga mengembalikan sabuk hijau mangrove di pesisir. Deretan perahu nelayan yang tengah sandar di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/21/ketika-nasib-nelayan-kecil-kian-tersudut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/21/ketika-nasib-nelayan-kecil-kian-tersudut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Mangrove ke Meja Makan: Ketahanan Pangan Raja Ampat ala Mama-Mama Friwen</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/21/dari-mangrove-ke-meja-makan-ketahanan-pangan-raja-ampat-di-tangan-mama-mama-friwen/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/21/dari-mangrove-ke-meja-makan-ketahanan-pangan-raja-ampat-di-tangan-mama-mama-friwen/#respond</comments>
					<pubDate>21 Apr 2026 10:30:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ridzki R Sigit]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/21101907/buah-aibon-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126677</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Loesye Fainsenem (42) —yang akrab disapa Lusy—tidak memulai hidupnya sebagai pendamping masyarakat. Ia pernah berada di jalur karier yang mapan sebagai Director of Sales (DOS) di sebuah hotel ternama di Manokwari, Papua Barat, sebuah posisi yang menjanjikan stabilitas dan prestise. Namun, di tengah ritme kerja profesional itu, Lusy merasakan kegelisahan yang perlahan tumbuh, yaitu: dia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/21/dari-mangrove-ke-meja-makan-ketahanan-pangan-raja-ampat-di-tangan-mama-mama-friwen/">Dari Mangrove ke Meja Makan: Ketahanan Pangan Raja Ampat ala Mama-Mama Friwen</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Loesye Fainsenem (42) —yang akrab disapa Lusy—tidak memulai hidupnya sebagai pendamping masyarakat. Ia pernah berada di jalur karier yang mapan sebagai Director of Sales (DOS) di sebuah hotel ternama di Manokwari, Papua Barat, sebuah posisi yang menjanjikan stabilitas dan prestise. Namun, di tengah ritme kerja profesional itu, Lusy merasakan kegelisahan yang perlahan tumbuh, yaitu: dia merasa ada jarak antara dirinya dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Hingga, di suatu titik, dia mengambil keputusan yang tidak banyak orang berani lakukan—meninggalkan kariernya, dan menjawab apa yang dia sebut sebagai “panggilan nurani”. Langkah itu membawanya ke Raja Ampat, di sebuah kampung kecil bernama Friwen, yang bahkan bukan tanah kelahirannya sendiri. Di Friwen, dia pun berlaku tidak seperti “orang luar” yang membawa solusi instan, melainkan mendengar dan belajar bersama warga lokal. Di kampung yang berada di sebuah pulau kecil dengan sekitar 60 Kepala Keluarga itu, dia banyak berdiskusi dengan mama-mama di kampung, yang pada akhirnya dia memahami bahwa perempuan adalah aktor utama dalam upaya rehabilitasi mangrove, penguatan pangan lokal, hingga menjaga ketahanan ekonomi rumah tangga. Dengan latar belakangnya yang bergerak dalam industri layanan wisata, Lusy paham apa yang harus didorong untuk memajukan kesejahteraan warga lokal di Raja Ampat yang areanya sedang berkembang pesat sebagai destinasi wisata bahari. Disitulah mereka lalu menggagas Kawan Pesisir, sebuah organisasi yang mendorong penguatan ruang ekonomi masyarakat tanpa meninggalkan budaya asal mereka. Bahkan berani membangun masa depan dengan kekuatan sumberdaya alam yang ada. Meskipun telah diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, baginya hidup bersama&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/21/dari-mangrove-ke-meja-makan-ketahanan-pangan-raja-ampat-di-tangan-mama-mama-friwen/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/21/dari-mangrove-ke-meja-makan-ketahanan-pangan-raja-ampat-di-tangan-mama-mama-friwen/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Mama Papua Jaga Tanah Adat di Tengah Ancaman Proyek Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/21/upaya-mama-papua-jaga-tanah-adat-di-tengah-ancaman-proyek-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/21/upaya-mama-papua-jaga-tanah-adat-di-tengah-ancaman-proyek-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>21 Apr 2026 04:30:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/12/22042740/aman02-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126451</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alowesia Kwerkujai tidak pernah ingin memberikan tanahnya di Kampung Blandin Kakayo, Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke, Papua Selatan pada perusahaan tebu PT Murni Nusantara Mandiri (MNM) untuk proyek strategis nasional (PSN). Baginya, tanah bukan hanya soal lahan, tetapi ruang hidup dan sumber segala penghidupan. Tanah adat  menyediakan apa saja yang dia butuhkan, mulai dari makanan, bambu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/21/upaya-mama-papua-jaga-tanah-adat-di-tengah-ancaman-proyek-nasional/">Upaya Mama Papua Jaga Tanah Adat di Tengah Ancaman Proyek Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alowesia Kwerkujai tidak pernah ingin memberikan tanahnya di Kampung Blandin Kakayo, Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke, Papua Selatan pada perusahaan tebu PT Murni Nusantara Mandiri (MNM) untuk proyek strategis nasional (PSN). Baginya, tanah bukan hanya soal lahan, tetapi ruang hidup dan sumber segala penghidupan. Tanah adat  menyediakan apa saja yang dia butuhkan, mulai dari makanan, bambu, rotan, hingga obat-obatan sampai budaya mereka di sana. &#8220;Kita tidak kasih untuk perusahaan satu jengkal tanah pun tidak,&#8221; katanya. Sejak 2024, dia dan Vincen Kwipalo, suaminya, konsisten menolak aktivitas perusahaan dan penggusuran tanah adat. Aparat pun kerap menekan mereka. Tak hanya aparat, tetangga yang sudah terpengaruh perusahaan pun sering mendatangi suami-istri ini. Mereka membujuk Alowesia agar mau menyerahkan tanahnya. Perusahaan sudah memicu konflik horizontal. Hubungan sosial antar tetangga dan marga yang tadinya rukun mulai retak karena hasutan perusahaan. Mama Alowesia (baju hitam) tengah melihat instalansi lambang kesengsaraan yang PSN bawa ke Merauke di Pesta Pinggiran, Jakarta, Januari lalu. Foto: Pusaka Bentala Rakyat. MNM mendapat izin konsesi seluas 52.395 hektar. Yayasan Pusaka Bentala Rakyat mencatat, perusahaan ini telah melakukan ekspansi 105 hektar pada 2024 dan 8.384 hektar pada 2025. &#8220;Kadang Mama menangis pas dengar suara backhoe tengah malam.” Menurut dia, kehadiran perusahaan lebih banyak menimbulkan kerugian. Kini, berburu dan meramu sudah tak mudah lagi mereka. Air Sungai Yop, yang biasa menjadi akses menuju hutan, meluap. Ikan yang hidup di dalamnya pun sudah makin sulit. &#8220;Kita tidak bisa dapat ikan. Air sudah keluar sampai di rawa-rawa.&#8221; Hulu sungai berada dalam konsesi perusahaan tebu itu. Pusaka menyebut daerah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/21/upaya-mama-papua-jaga-tanah-adat-di-tengah-ancaman-proyek-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/21/upaya-mama-papua-jaga-tanah-adat-di-tengah-ancaman-proyek-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mencari Jejak Jalur Garam di Besemah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/21/mencari-jejak-jalur-garam-di-besemah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/21/mencari-jejak-jalur-garam-di-besemah/#respond</comments>
					<pubDate>21 Apr 2026 01:35:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/21012736/Jalan-setapak-yang-digunakan-masyarakat-Semende-untuk-mendapat-garam-melintasi-hutan-Bukit-Lumut-Balai-menuju-Bengkulu-Selatan.-Foto_-Ariadi-Damara_Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126658</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ikan asin buat sebagian besar masyarakat perkotaan atau pesisir adalah simbol kesederhanaan. Tapi, bagi masyarakat di pegunungan Sumatera Selatan, seperti wilayah Besemah (Semende, Lahat, dan Pagaralam), ikan asin adalah kemewahan. Sebuah kehormatan bagi seorang tamu, saat makan, dihidangkan masakan menu ikan asin. Rasa asin tidak mudah didapatkan di Semende, baik dari hutan maupun sungai. Berbeda [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/21/mencari-jejak-jalur-garam-di-besemah/">Mencari Jejak Jalur Garam di Besemah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ikan asin buat sebagian besar masyarakat perkotaan atau pesisir adalah simbol kesederhanaan. Tapi, bagi masyarakat di pegunungan Sumatera Selatan, seperti wilayah Besemah (Semende, Lahat, dan Pagaralam), ikan asin adalah kemewahan. Sebuah kehormatan bagi seorang tamu, saat makan, dihidangkan masakan menu ikan asin. Rasa asin tidak mudah didapatkan di Semende, baik dari hutan maupun sungai. Berbeda dengan rasa asam dan manis yang mudah diperoleh dari tanaman. Rasa asin hanya didapatkan dari garam. Di masa lalu, garam didatangkan atau diambil dari wilayah pesisir Bengkulu Selatan, yang membutuhkan waktu panjang dan biaya tinggi. “Garam di sini sangat istimewa atau mewah, termasuk bahan masakan yang rasanya asin, seperti ikan asin,” kata Mansir (53), warga Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Rabu (15/4/2026). Elianah (47), warga Desa Kota Agung, Kecamatan Semende Darat Tengah, menjelaskan hampir semua lauk dan sayur di Semende rasa asinnya cukup kuat. Rasa asin ini merupakan penghormatan. “Jangan heran, kalau masakan di Semende, khususnya lauk dan sayur, rasa asinnya lebih kuat dibandingkan rasa asam, manis, dan pedas.” Tapi, dalam perkembangan saat ini, seperti alasan kesehatan, rasa asin pada lauk dan sayur di Semende mulai berkurang. “Namun, rasa asinnya tetap menonjol dibandingkan masakan di Palembang,” katanya. Dijelaskan Mansir, hingga tahun 1970-an, garam yang dibutuhkan masyarakat Semende, diambil atau dibawa dari Bengkulu. Mereka yang membawa garam menggunakan kuda, melintasi perbukitan Gunung Patah dan Bukit Barisan Selatan. Jenis kuda yang dipakai yakni kuda sandel (Equus caballus), yang banyak dikembangkan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jalur garam ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/21/mencari-jejak-jalur-garam-di-besemah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/21/mencari-jejak-jalur-garam-di-besemah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Waswas El Nino Godzilla, Waspada Karhutla dan Kekeringan Ekstrem</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/20/waswas-el-nino-godzilla-waspada-karhutla-dan-kekeringan-ekstrem/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/20/waswas-el-nino-godzilla-waspada-karhutla-dan-kekeringan-ekstrem/#respond</comments>
					<pubDate>20 Apr 2026 23:42:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/20063828/Petugas-memadamkan-kebakaran-lahan-di-Kecamatan-Landasan-Ulin-Banjarbaru.-Foto_-Riyad-Dafhi-Rizki_Mongabay-Indonesia2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126655</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia harus bersiap menghadapi ancaman serius kemarau panjang yang disertai fenomena El Nino tahun ini. Fenomena iklim terpicu menghangatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ini akan memperparah intensitas musim kemarau. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko bencana seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga kekeringan. Data satelit menunjukkan lonjakan angka kebakaran awal 2026. Kementerian Kehutanan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/waswas-el-nino-godzilla-waspada-karhutla-dan-kekeringan-ekstrem/">Waswas El Nino Godzilla, Waspada Karhutla dan Kekeringan Ekstrem</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia harus bersiap menghadapi ancaman serius kemarau panjang yang disertai fenomena El Nino tahun ini. Fenomena iklim terpicu menghangatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ini akan memperparah intensitas musim kemarau. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko bencana seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga kekeringan. Data satelit menunjukkan lonjakan angka kebakaran awal 2026. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat, luas karhutla periode Januari–Maret 2026 seluas 55.324,2 hektar. Tiga provinsi dengan luas kejadian kebakaran tertinggi berturut-turut Kalimantan Barat (25.420,73 hektar), Riau (8.555,37 hektar), dan Kep. Riau (4.167,78 hektar). Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat, angka ini naik drastis puluhan kali lipat dibandingkan periode sama pada 2025 yang hanya mencatatkan angka sekitar 1.000 hektar. Berdasarkan satelit Terra Aqua Peningkatan titik panas (hotspot) juga terpantau meningkat hampir tiga kali lipat, mencapai 700 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi. Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Lingkungan Hidup mengatakan, kondisi tahun ini jauh lebih berat akibat ancaman fenomena &#8220;Godzilla El Nino.&#8221;  Kondisi ini membuat, pemerintah mengambil langkah mitigasi ekstrem untuk menghindari bencana ekologis lebih besar. &#8220;Tahun ini kita benar-benar masuk posisi El Nino yang mengharuskan kita melakukan langkah-langkah siaga. Bapak Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan untuk melakukan langkah-langkah antisipasi,&#8221; katanya dalam Rakornas Pengendalian Karhutla, awal April lalu. Dia bilang,  kesiapsiagaan tahun ini tidak bisa disamakan dengan tahun lalu yang masih terbantu fenomena La Nina. Tahun lalu, areal karhutla mencapai 359.619 hektar. &#8220;Kalau kesiapsiagaan 2025 ini satu kali, tahun 2026 mestinya ditingkatkan 20 kali lipat jika melihat intensitas yang akan kita hadapi bersama.” Dia pun mengimbau seluruh kepala daerah segera menetapkan status&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/waswas-el-nino-godzilla-waspada-karhutla-dan-kekeringan-ekstrem/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/20/waswas-el-nino-godzilla-waspada-karhutla-dan-kekeringan-ekstrem/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Mata Air Mulai Mengering,  Krisis Air Hantui Jawa dan Madura?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/20/ketika-mata-air-mulai-mengering-krisis-air-hantui-jawa-dan-madura/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/20/ketika-mata-air-mulai-mengering-krisis-air-hantui-jawa-dan-madura/#respond</comments>
					<pubDate>20 Apr 2026 23:03:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/20225515/Sumber-Sok-sok-INI--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126648</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan madura]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pangan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Krisis air mengintai ketika sumber-sumber mata air mengering satu persatu. Fenomena ini mulai terjadi di Jawa dan Madura. Seperti di Sumenep, Madura, beberapa sumber mata air mengering atau debit menyusut. Dari penelusuran Mongabay pada Januari lalu, tujuh dari 11 mata air di Desa Gilang, Sera Barat, Sera Timur, Sera Tengah dan Aeng Baja Raja, kering [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/ketika-mata-air-mulai-mengering-krisis-air-hantui-jawa-dan-madura/">Ketika Mata Air Mulai Mengering,  Krisis Air Hantui Jawa dan Madura?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Krisis air mengintai ketika sumber-sumber mata air mengering satu persatu. Fenomena ini mulai terjadi di Jawa dan Madura. Seperti di Sumenep, Madura, beberapa sumber mata air mengering atau debit menyusut. Dari penelusuran Mongabay pada Januari lalu, tujuh dari 11 mata air di Desa Gilang, Sera Barat, Sera Timur, Sera Tengah dan Aeng Baja Raja, kering dan tidak bisa berfungsi lagi kendati di musim hujan. Sebagian kolam sumber air tergenang air selebihnya masih berfungsi tetapi debit air turun drastis. Tak pelak, sawah-sawah yang bergantung dari sumber air pun terdampak, tak ada lagi pengairan. Kini, sawah-sawah itu mengandalkan air hujan. Pada musim padi, petani beralih menanam jagung. Petrasa Wacana, ahli geologi dan speleologi juga Ketua Umum Masyarakat Speleologi Indonesia mengatakan, ada banyak faktor penyebab sumber air mengering.  Salah satu, katanya, penggunaan sumur bor berlebihan dapat berpengaruh terhadap penurunan debit air permukaan. Terlebih bila sumur bor dari aquifer atau sumber sama. Karena, katanya, air yang harusnya keluar melalui mata air dicegat oleh sumur bor. “Apabila pengambilan sumur bor ini berlangsung lama, muka air tanah akan membentuk cekungan dan mengakibatkan tekanan air berkurang dan debit mata air akan mengecil. Apabila kekuatan daya hisap air tidak seimbang dibandingkan kemampuan air secara alami mengisi aquifer,” katanya belum lama ini. Petani padi gagal panen akibat kekeringan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Faktor lain, katanya, penggunaan air berlebihan, tutupan lahan berkurang, dan perubahan bentang alam juga dapat berdampak pada hilangnya daya isi air alami ke akuifer. Kondisi itu, katanya, meningkatkan run off saat musim hujan dan dalam kondisi cuaca&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/ketika-mata-air-mulai-mengering-krisis-air-hantui-jawa-dan-madura/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/20/ketika-mata-air-mulai-mengering-krisis-air-hantui-jawa-dan-madura/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Burung Sekretaris: Predator yang Dapat Melumpuhkan Ular Kobra dengan Sekali Tendang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/20/mengenal-burung-sekretaris-predator-yang-dapat-melumpuhkan-ular-kobra-dengan-sekali-tendang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/20/mengenal-burung-sekretaris-predator-yang-dapat-melumpuhkan-ular-kobra-dengan-sekali-tendang/#respond</comments>
					<pubDate>20 Apr 2026 10:34:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/20102532/auf-der-jagd-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126630</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dunia burung pemangsa biasanya identik dengan serangan dari langit. Elang atau alap-alap mengandalkan kecepatan menukik dan cengkeraman kuku tajam untuk melumpuhkan mangsa. Namun, burung sekretaris (Sagittarius serpentarius) mematahkan norma tersebut. Predator penghuni sabana Afrika ini memiliki strategi yang jauh lebih brutal sekaligus presisi. Ia membunuh mangsanya dengan tendangan kilat tepat di bagian kepala. Burung sekretaris [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/mengenal-burung-sekretaris-predator-yang-dapat-melumpuhkan-ular-kobra-dengan-sekali-tendang/">Mengenal Burung Sekretaris: Predator yang Dapat Melumpuhkan Ular Kobra dengan Sekali Tendang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dunia burung pemangsa biasanya identik dengan serangan dari langit. Elang atau alap-alap mengandalkan kecepatan menukik dan cengkeraman kuku tajam untuk melumpuhkan mangsa. Namun, burung sekretaris (Sagittarius serpentarius) mematahkan norma tersebut. Predator penghuni sabana Afrika ini memiliki strategi yang jauh lebih brutal sekaligus presisi. Ia membunuh mangsanya dengan tendangan kilat tepat di bagian kepala. Burung sekretaris hidup di padang rumput terbuka sub-Sahara Afrika, di lingkungan yang sangat menantang karena tidak menyediakan banyak tempat persembunyian atau dahan pohon yang tinggi untuk melakukan penyergapan dari udara. Vegetasi yang didominasi rumput tinggi memaksa setiap hewan yang hidup di dalamnya untuk selalu waspada terhadap pergerakan sekecil apa pun. Kondisi geografis yang ekstrem ini membuat strategi klasik burung pemangsa seperti mengintai dari ketinggian menjadi kurang efektif karena mangsa sering kali tersembunyi di balik lebatnya rumput. Kaki jenjang burung sekretaris bukan hanya adaptasi untuk berjalan, melainkan senjata pegas mematikan yang dirancang secara alami untuk membunuh dengan satu hentakan presisi.| Foto oleh Donald Macauley CC BY-SA https://s3.animalia.bio/animals/photos/full/original/c4EhvZ5cCD5DLLf7AaHz.webp Alih-alih terbang mencari mangsa, burung sekretaris berevolusi menjadi pelari darat yang tangguh. Ia melangkah dengan langkah-langkah yang sengaja dibuat gaduh guna mengusik hewan yang bersembunyi di balik vegetasi. Saat tikus, kadal, atau ular muncul karena terkejut, burung ini tidak langsung menerjang dengan paruh yang bisa membahayakan wajahnya. Ia memanfaatkan kakinya yang sangat panjang untuk menjaga jarak aman. Jarak ini menjadi perisai utama yang krusial, terutama saat menghadapi ular berbisa seperti kobra. Dengan tetap berdiri di luar jangkauan serangan ular, burung sekretaris dapat meluncurkan tendangan cepat ke arah kepala sebagai senjata pamungkas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/mengenal-burung-sekretaris-predator-yang-dapat-melumpuhkan-ular-kobra-dengan-sekali-tendang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/20/mengenal-burung-sekretaris-predator-yang-dapat-melumpuhkan-ular-kobra-dengan-sekali-tendang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Emas Ilegal Resahkan Masyarakat Aceh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/20/tambang-emas-ilegal-resahkan-masyarakat-aceh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/20/tambang-emas-ilegal-resahkan-masyarakat-aceh/#respond</comments>
					<pubDate>20 Apr 2026 08:50:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/20084442/Wisata-sungai-di-Desa-Jalin-Tutup-Karena-AIr-sungai-keruh-akibat-tambang-emas-illegal-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126623</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Horor Merkuri di Tengah Kilauan Emas]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Amiruddin gusar saat menceritakan tambang emas ilegal yang beroperasi di hulu Sungai Krueng Aceh. Setahun terakhir, belasan alat berat mengeruk tebing sungai untuk mencari butiran emas. Sebagai kepala desa atau di Aceh disebut Keuchik Desa Barueh, Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, dia tidak terima kegiatan liar yang merusak hutan di kawasan Ulu Masen itu. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/tambang-emas-ilegal-resahkan-masyarakat-aceh/">Tambang Emas Ilegal Resahkan Masyarakat Aceh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Amiruddin gusar saat menceritakan tambang emas ilegal yang beroperasi di hulu Sungai Krueng Aceh. Setahun terakhir, belasan alat berat mengeruk tebing sungai untuk mencari butiran emas. Sebagai kepala desa atau di Aceh disebut Keuchik Desa Barueh, Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, dia tidak terima kegiatan liar yang merusak hutan di kawasan Ulu Masen itu. “Sungai keruh dan mengancam kehidupan masyarakat, terutama kebutuhan air bersih. Ikan kerling atau jurung (Tor tambroides) dan sidat (Anguilla sp) mulai menghilang. Padahal masyarakat Barueh dan 12 desa di Kecamatan Kota Jantho sangat bergantung sungai ini,” terangnya, Senin (13/4/2026). Saat warga tidak memiliki uang, mereka akan mencari ikan di sungai. Sebagian dibawa pulang untuk dimakan, sebagian lagi dijual. Selain itu, ada tradisi gotong royong mencari ikan di sungai untuk membantu warga yang mendapat musibah. “Warga bergiliran mencari ikan selama tujuh hari.” Keruhnya air sungai Krueng, juga berdampak pada tempat wisata air di Desa Jalin, Kecamatan Jantho, Kabupaten Aceh Besar. “Ada warga yang membuat bangunan penunjang wisata. Sekarang tutup, karena tidak ada wisatawan yang datang,” ujar Hamdani, warga Desa Jalin, Senin (13/4/2026). Wisata sungai di Desa Jalin, tutup karena aIr sungai keruh akibat tambang emas ilegal. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Anshari, Ketua Forum Keuchik Kecamatan Kota Jantho, menegaskan tidak pernah ada izin dari pemerintah desa terkait aktivitas tambang tersebut. “Warga desa di Kota Jantho sepakat menolak tambang emas ilegal. Kami tidak mau bencana yang terjadi di Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang menimpa kami juga,” jelasnya, Senin (13/4/2026). Penolakan tersebut disepakati dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/tambang-emas-ilegal-resahkan-masyarakat-aceh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/20/tambang-emas-ilegal-resahkan-masyarakat-aceh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Aksi Nyata Kelompok Perempuan di Tengah Karut Marut Kelola Sampah Jakarta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/20/aksi-nyata-kelompok-perempuan-di-tengah-karut-marut-kelola-sampah-jakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/20/aksi-nyata-kelompok-perempuan-di-tengah-karut-marut-kelola-sampah-jakarta/#respond</comments>
					<pubDate>20 Apr 2026 01:35:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/19080636/Koperasi-Kompos-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126601</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekelompok  perempuan  meriung di kebun sayuran pada Senin (30/3/26). Suka cita, mereka memetik beragam sayuran dengan pupuk kompos limbah rumah tangga. Mereka adalah para perempuan  yang tergabung dalam Kelompok Tani Taman Puspa Elok Lestari RT05/RW16 Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. “Kami mengolah sampah rumah tangga saat Pandemi COVID-19, pada Februari 2021,’’ kata Shanty Syahril, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/aksi-nyata-kelompok-perempuan-di-tengah-karut-marut-kelola-sampah-jakarta/">Aksi Nyata Kelompok Perempuan di Tengah Karut Marut Kelola Sampah Jakarta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekelompok  perempuan  meriung di kebun sayuran pada Senin (30/3/26). Suka cita, mereka memetik beragam sayuran dengan pupuk kompos limbah rumah tangga. Mereka adalah para perempuan  yang tergabung dalam Kelompok Tani Taman Puspa Elok Lestari RT05/RW16 Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. “Kami mengolah sampah rumah tangga saat Pandemi COVID-19, pada Februari 2021,’’ kata Shanty Syahril, Koordinator Koperasi Kompos dalam webinar bertema “Krisis Pangan, Lonjakan Gas Metan dan Tantangan Iklim Indonesia” pada Kamis (12/3/26). Berawal dari 30 orang di lingkup RW16, yang intens diskusi perihal pengolahan sampah, mereka lantas tergerak, memilah dan mengolah sampah rumah tangga. “Mengubah masalah menjadi manfaat. Koperasi kompos menerima sisa sayur dan kulit buah. Petugas menjemput ke rumah anggota setiap Senin, Rabu dan Jumat,” katanya. Santy katakan, hampir semua sampah berakhir di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. Dengan luas 110,3 hektar, sampah yang tertampung di Bantar Gebang rerata 6.500–7.000 ton per hari.  Mereka pun berinisiatif mengatasi persoalan sampah skala rumah tangga. Apalagi, sampah yang telah terpilah di rumah, kerap tercampur saat diangkut truk Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Sehingga konsep koperasi kompos ini menjadi alternatif mengolah sampah secara mandiri. Jakarta memang sudah memiliki Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 77 /2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga mengatur masyarakat di lingkup rukun warga untuk mengolah sendiri sampah organik tetapi  tak banyak berjalan efektif. Di lingkungannya, dari 470-an warga, tak sampai 10 rumah  yang melakukan pengomposan. Tim operasional Koperasi Kompos RW 16 Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur rata-rata setiap pekan mengolah 300–400 kilogram sampah atau 1,5 ton&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/20/aksi-nyata-kelompok-perempuan-di-tengah-karut-marut-kelola-sampah-jakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/20/aksi-nyata-kelompok-perempuan-di-tengah-karut-marut-kelola-sampah-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan dan Petani Kotabaru Terdampak Tambang Batubara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/19/nelayan-dan-petani-kotabaru-terdampak-tambang-batubara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/19/nelayan-dan-petani-kotabaru-terdampak-tambang-batubara/#respond</comments>
					<pubDate>19 Apr 2026 15:00:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://mongabay.co.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG_20260313_101752_072-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126584</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, data dan statistik, komunitas lokal, pangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Amir Hasan tidak bisa menyembunyikan kekecewaan karena hasil tangkapannya sangat sedikit. Sebagian besar dari 10 jebakan yang dia pasang di dua titik lokasi rawa berbeda pada area Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Bekambit asri, Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), kosong. “Tidak ada satu pun. Padahal lukah (perangkap ikan tradisional)-nya masih baik, tidak rusak, tidak ada apa-apanya,” kata  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/nelayan-dan-petani-kotabaru-terdampak-tambang-batubara/">Nelayan dan Petani Kotabaru Terdampak Tambang Batubara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Amir Hasan tidak bisa menyembunyikan kekecewaan karena hasil tangkapannya sangat sedikit. Sebagian besar dari 10 jebakan yang dia pasang di dua titik lokasi rawa berbeda pada area Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Bekambit asri, Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), kosong. “Tidak ada satu pun. Padahal lukah (perangkap ikan tradisional)-nya masih baik, tidak rusak, tidak ada apa-apanya,” kata  pria 65 tahun itu. Sebulan lebih alat itu dia tinggalkan, tetapi, hama keong yang justru mendominasi di dalamnya. Pria yang sudah jadi nelayan belasan tahun itu, mendapat 10 ikan haruan gabus (Channa striata) dan kerandang (Channa pleurophthalma) dengan ukuran kecil hingga sedang. Kondisi ini, katanya, jauh beda ketimbang beberapa tahun lalu. Saat itu, lukah bisa terisi setengahnya hanya dalam waktu tiga hari. “Banyak yang mengundurkan diri sudah, tidak sanggup lagi mencari ikan, karena tidak sesuai dengan hasilnya.” Perubahan ini, dia duga, berkaitan erat dengan alih fungsi sungai alami dalam area izin usaha pertambangan (IUP) PT Sebuku Sejaka Coal (SSC) yang Kementerian Energi dan Sumber Daya Minerak (KESDM) bekukan sementara karena konflik agraria. Padahal sungai-sungai itu tadinya jalur sirkulasi untuk memengaruhi pasang surut, faktor terpenting bagi keberlangsungan hidup ekosistem perikanan. Dulu, Amir bilang, ketersediaan di wilayahnya melimpah, bahkan terkenal sampai Banjarmasin. Para pemancing, dari dalam dan luar kota kerap berkunjung ke sana. Selain mengganggu habitat ikan, pola perubahan sungai karena aktivitas perusahaan ini berimbas pada putusnya jalur transportasi air, fasilitas umum yang biasa nelayan gunakan untuk melintas. Akibatnya, mereka harus menempuh jalur lebih jauh hanya untuk mencapai lokasi tangkap. Biaya operasionalnya pun makin berlipat seiring hasil&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/nelayan-dan-petani-kotabaru-terdampak-tambang-batubara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/19/nelayan-dan-petani-kotabaru-terdampak-tambang-batubara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Misran Toni  Bebas,  Desak Aparat Buru Pembunuh Sesungguhnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/19/misran-toni-bebas-desak-aparat-buru-pembunuh-sesungguhnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/19/misran-toni-bebas-desak-aparat-buru-pembunuh-sesungguhnya/#respond</comments>
					<pubDate>19 Apr 2026 06:28:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ms ArdanYuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/19062434/MUARA-KATE-JATAM-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126555</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ketika Energi Bergantung Batubara]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan warga memadati halaman Pengadilan Negeri Tanah Grogot, Kalimantan Timur,  sejak pukul 9.00 pagi, 16 April 2026. Warga hendak mengawal sidang putusan pembela lingkungan, Misran Toni alias Imis, yang jadi terdakwa kasus penyerangan yang menewaskan Russel di pos jaga hauling batubara di Dusun Muara Kate, Desa Muara Langon, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Setelah hampir tiga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/misran-toni-bebas-desak-aparat-buru-pembunuh-sesungguhnya/">Misran Toni  Bebas,  Desak Aparat Buru Pembunuh Sesungguhnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan warga memadati halaman Pengadilan Negeri Tanah Grogot, Kalimantan Timur,  sejak pukul 9.00 pagi, 16 April 2026. Warga hendak mengawal sidang putusan pembela lingkungan, Misran Toni alias Imis, yang jadi terdakwa kasus penyerangan yang menewaskan Russel di pos jaga hauling batubara di Dusun Muara Kate, Desa Muara Langon, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Setelah hampir tiga jam sidang berlangsung, majelis hakim membebaskan Misran Toni dari segala tudingan. Pria berusia 53 tahun itu dinyatakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan atas seluruh dakwaan terhadap kasus itu. Abdul Hamid,  Kuasa Hukum Misran Toni, menyebutkan, hakim telah mengetuk palu keadilan dan jeli dalam melihat kebenaran. “Hari ini kebenaran menemukan jalannya, yang artinya, segala tuduhan sejak dari awal terhadap Misran Toni dinyatakan bebas dari segala dakwaan maupun tuntutan,” katanya pasca sidang putusan. Dia bilang, putusan ini merupakan kemenangan untuk seluruh aktivis lingkungan dan masyarakat adat di Kabupaten Paser yang berjuang melawan batubara. Herdiansyah Hamzah,  Pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Mulawarman, mengatakan, vonis bebas ini merupakan tamparan bagi aparat penegak hukum. Putusan itu secara otomatis mengkonfirmasi bahwa ada kriminalisasi terhadap Misran Toni dan rekayasa dalam pengungkapan kasus di Muara Kate. Misran Toni, katanya, jadi kambing hitam aparat penegak hukum. “Ini proses hukum yang sesat. Pertanyaannya, siapa pelaku aslinya? Aparat harus menyasar perusahaan yang diduga memiliki keterlibatan dalam konflik di Muara Kate,” kata pria yang akrab disapa Castro itu. Aktivitas batubara di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, yang diduga mengangkut batubara melintasi jalan umum dan perkampungan Muara Kate. Foto: MS Ardan/Mongabay Indonesia Kasus di Muara Kate bermula&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/misran-toni-bebas-desak-aparat-buru-pembunuh-sesungguhnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/19/misran-toni-bebas-desak-aparat-buru-pembunuh-sesungguhnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hutan Papua, Rumah Besar Kanguru Pohon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/19/hutan-papua-rumah-besar-kanguru-pohon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/19/hutan-papua-rumah-besar-kanguru-pohon/#respond</comments>
					<pubDate>19 Apr 2026 05:00:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/19025054/Kanguru-pohon-matschnei.jpg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126562</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, papua, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut, Pegunungan Wondiwoi, Papua Barat, terdapat satwa unik dan endemik yang selama 90 tahun dianggap telah lenyap. Bulu keemasannya berpadu dengan lumut di dahan-dahan pohon, menciptakan kamuflase sempurna yang membuatnya nyaris tak terlihat. Inilah kanguru pohon wondiwoi (Dendrolagus mayri), spesies yang pertama kali didokumentasikan oleh ahli biologi Ernst [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/hutan-papua-rumah-besar-kanguru-pohon/">Hutan Papua, Rumah Besar Kanguru Pohon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut, Pegunungan Wondiwoi, Papua Barat, terdapat satwa unik dan endemik yang selama 90 tahun dianggap telah lenyap. Bulu keemasannya berpadu dengan lumut di dahan-dahan pohon, menciptakan kamuflase sempurna yang membuatnya nyaris tak terlihat. Inilah kanguru pohon wondiwoi (Dendrolagus mayri), spesies yang pertama kali didokumentasikan oleh ahli biologi Ernst Mayr pada 1928. Keberadaannya yang menghilang hampir satu abad, akhirnya difoto kembali oleh botanis asal Inggris, Michael Smith, pada tahun 2018. Kanguru pohon bukan sekadar memanjat pohon. Mereka adalah keajaiban evolusi yang berbeda secara fundamental dari sepupu darat mereka di Australia. Kanguru pohon memiliki kaki belakang lebih pendek dan lengan depan lebih kuat dibandingkan kanguru darat. Adaptasi ini memberi mereka kelincahan luar biasa di atas pohon, tetapi juga membuat mereka canggung saat berada di tanah. Cakar melengkung di keempat kakinya berfungsi seperti kait pengaman, sementara telapak kaki dilapisi kulit kasar seperti bantalan yang memberikan cengkeraman kuat pada batang licin sekalipun. Ketika bergerak di atas dahan, mereka tidak melompat seperti kanguru darat. Mereka berjalan dengan keempat kaki seperti kucing, menggunakan ekor panjangnya antara 40–94 cm sebagai penyeimbang sekaligus berfungsi seperti tungkai untuk mencengkeram cabang. Kangguru pohon matschie (Dendrolagus matschiei) yang hidup di hutan asli mereka di Semenanjung Huon, Papua Nugini. Foto: Wikimedia Commons/Jaganath/GNU Free Documentation License Sebagai satwa arboreal (penghuni pohon), kanguru pohon menghabiskan lebih dari 90 persen hidupnya di atas pepohonan. Mereka aktif pada waktu fajar dan senja, memanfaatkan suhu yang lebih sejuk untuk mencari makan. Di kebun binatang Woodland Park Zoo, Seattle, Amerika Serikat, empat ekor kangguru pohon&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/hutan-papua-rumah-besar-kanguru-pohon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/19/hutan-papua-rumah-besar-kanguru-pohon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Suaka Terakhir Sang Naga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/suaka-terakhir-sang-naga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/suaka-terakhir-sang-naga/#respond</comments>
					<pubDate>19 Apr 2026 04:00:10 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/10/22043659/4-14-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=126572</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Suaka Terakhir Sang Naga]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Varanus komodoensis bukan sekadar satwa, melainkan penyintas tangguh yang membawa jejak evolusi empat juta tahun dari daratan Eropa hingga menetap di kepulauan Nusantara. Di balik sosoknya yang purba, Komodo kini berdiri di garis depan peradaban yang kian menghimpit. Keberadaannya kini terkepung oleh ancaman nyata, mulai dari jaringan penyelundupan internasional hingga dampak tak terelakkan dari krisis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/suaka-terakhir-sang-naga/">Suaka Terakhir Sang Naga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Varanus komodoensis bukan sekadar satwa, melainkan penyintas tangguh yang membawa jejak evolusi empat juta tahun dari daratan Eropa hingga menetap di kepulauan Nusantara. Di balik sosoknya yang purba, Komodo kini berdiri di garis depan peradaban yang kian menghimpit. Keberadaannya kini terkepung oleh ancaman nyata, mulai dari jaringan penyelundupan internasional hingga dampak tak terelakkan dari krisis iklim global. Di tanah asalnya sendiri, sang naga terjebak dalam pusaran ketegangan antara ambisi pariwisata skala besar dan kebijakan pemerintah yang kerap berbenturan dengan hak masyarakat lokal serta prinsip konservasi. Narasi ini menyatukan perspektif ilmiah dengan fakta lapangan yang tajam untuk mengingatkan dunia bahwa suaka yang tersisa ini adalah benteng terakhir bagi kelangsungan hidup predator paling ikonik di planet bumi. The post Suaka Terakhir Sang Naga appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/suaka-terakhir-sang-naga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/suaka-terakhir-sang-naga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Merkuri sampai Kerusakan Hutan Tambang Emas Ilegal Mandailing Natal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/19/jejak-merkuri-sampai-kerusakan-hutan-tambang-emas-ilegal-mandailing-natal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/19/jejak-merkuri-sampai-kerusakan-hutan-tambang-emas-ilegal-mandailing-natal/#respond</comments>
					<pubDate>19 Apr 2026 03:13:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/18064857/Foto15-eskavator-brimobAyat-S-Karokaro-1-768x448.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126538</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatara dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aktivitas tambang emas ilegal di Mandailing Natal (Madina) yang berlangsung sejak lama memicu berbagai dampak tak berkesudahan. Selain ekonomi, degradasi lingkungan dan kerusakan hutan kian meluas. Sementara ancaman kesehatan akibat lingkungan tercemar terus menghantui. Syarifah Ainun, Permanent Member of the Chemical Engineering Degree Region Sumatera, mengatakan, pada 2014,  sempat melakukan penelitian kualitas air di aliran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/jejak-merkuri-sampai-kerusakan-hutan-tambang-emas-ilegal-mandailing-natal/">Jejak Merkuri sampai Kerusakan Hutan Tambang Emas Ilegal Mandailing Natal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aktivitas tambang emas ilegal di Mandailing Natal (Madina) yang berlangsung sejak lama memicu berbagai dampak tak berkesudahan. Selain ekonomi, degradasi lingkungan dan kerusakan hutan kian meluas. Sementara ancaman kesehatan akibat lingkungan tercemar terus menghantui. Syarifah Ainun, Permanent Member of the Chemical Engineering Degree Region Sumatera, mengatakan, pada 2014,  sempat melakukan penelitian kualitas air di aliran Sungai Batang Gadis yang diduga terkontaminasi material tambang. Hasilnya, kualitas air sangat buruk dan layak pakai. Padahal, sungai ini banyak warga manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. “Hasil uji laboratorium menunjukkan kualitas air sangat buruk. jadi, tidak boleh digunakan untuk keperluan air minum, mencuci atau juga mandi karena bisa terpapar pada kulit. Apalagi terkena mata akan sangat berbahaya,” katanya, Senin (6/4/26). Ainul katakan, pemeriksaan fokus pada beberapa parameter kimia seperti merkuri, timbal, arsenik, kadmium, tembaga, nikel, dan seng. Parameter itu dipilih seturut dengan potensi kontaminasi dari aktivitas tambang. Proses pengolahan material emas dengan menggunakan mesin glundung. Foto: Roby Ayat Karokaro/Mongabay Indonesia. Selama ini, seperti di banyak tempat, proses amalgamasi (pemisahan emas) oleh para penambang menggunakan merkuri. Bahkan, limbah sisa pengolahan juga mereka buang langsung ke media lingkungan terbuka, termasuk sungai. Dari hasil uji laboratorium, terang Ainun, kandungan merkuri mencapai 1,22 mg/l. Padahal, ambang batas senyawa ini hanya 0,025 mg/l. Akhir 2024, Ainun kembali melakukan penelitian serupa. Kali ini, dengan cakupan lebih luas, meliputi tujuh sungai di Madina yang diduga kuat terdampak aktivitas tambang emas. Selain Batang Gadis, pengambilan sampel juga dilakukan di Sungai Tanoman, Batang Natal, Simalagi, Aek Namora, Muara Sipongi dan Aek Kapesong. &#8220;Sampel air kami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/19/jejak-merkuri-sampai-kerusakan-hutan-tambang-emas-ilegal-mandailing-natal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/19/jejak-merkuri-sampai-kerusakan-hutan-tambang-emas-ilegal-mandailing-natal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>