<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=mongabay-com&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/mongabay-com/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 17 Jul 2026 13:41:31 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
				<item>
					<title>Bagaimana Cara Menghentikan Laju Kerusakan Lingkungan Pantura Jawa?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jul 2026 13:41:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/04/22051547/Karawang-6144-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130713</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Waswas PSN Tambak Pantura Jawa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, hutan indonesia, infrastruktur, komunitas lokal, dan Lahan Basah]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa terus mengalami degradasi lingkungan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, erosi mendominasi hingga 65,8 persen garis pantai dari Kabupaten Serang di Banten hingga Kabupaten Situbondo di Jawa Timur. Tubagus Solihuddin, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menjelaskan meluasnya erosi karena sebagian besar pesisir Pantura Jawa tersusun dari endapan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/">Bagaimana Cara Menghentikan Laju Kerusakan Lingkungan Pantura Jawa?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa terus mengalami degradasi lingkungan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, erosi mendominasi hingga 65,8 persen garis pantai dari Kabupaten Serang di Banten hingga Kabupaten Situbondo di Jawa Timur. Tubagus Solihuddin, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menjelaskan meluasnya erosi karena sebagian besar pesisir Pantura Jawa tersusun dari endapan pluvial dan delta. Secara geologi, kedua endapan tersebut belum bersatu baik (unconsolidated). Kondisi itu diperparah morfologi pantai yang didominasi relief rendah dan dataran rendah, dengan elevasi kurang dari sepuluh meter. Di saat yang sama, akresi juga terjadi di angka 34,2 persen yang memicu kemunculan daratan baru. Berdasarkan riset, laju erosi terjadi juga di delta pantai yang alamiahnya menjadi pusat sedimentasi. Sementara, proses terkumpulnya sedimentasi, berkaitan erat dengan aktivitas di hulu. “Ada kanalisasi, pembelokan arah sungai, atau pembangunan bendungan. Itu semua akan menghentikan pasokan sedimen ke muara sungai,” ucapnya kepada Mongabay, Selasa (13/7/26). Akibat erosi, air masuk hingga empat kilometer ke daratan di kawasan Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. “Selain menenggelamkan infrastruktur publik dan warga hingga permanen, erosi juga membuat air laut masuk dan merendam lebih dari 1.000 hektar tambak warga.” Situasi serupa terjadi di Tanjung Pontang, Serang; Legonkulon, Subang; dan Demak, Jawa Tengah yang saat ini, air laut sudah merengsek ke daratan hingga 5-6 km, serta menenggelamkan sawah dan permukiman. Pantura Jawa menghadapi ancaman karena kenaikan muka air laut (sea level rise/SLR) dan penurunan muka tanah (land subsidence) bersamaan. Tren kenaikan SLR mencapai rerata 0,41-0,42 sentimeter per tahun. “Jika dihitung selama 1993-2025, kenaikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagi Masyarakat Sumba, Kuda Bukan Sekadar Tunggangan, Tapi Identitas Budaya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bagi-masyarakat-sumba-kuda-bukan-sekadar-tunggangan-tapi-identitas-budaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bagi-masyarakat-sumba-kuda-bukan-sekadar-tunggangan-tapi-identitas-budaya/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jul 2026 08:00:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/12/22054132/kuda-sandlewood-di-savana-2a-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130702</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Masyarakat Adat, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hamparan sabana yang luas, perbukitan bergelombang, dan kawanan kuda yang berlari bebas telah lama menjadi wajah Pulau Sumba. Namun, bagi masyarakat Sumba, kuda bukan sekadar penghias lanskap. Hewan yang mereka sebut ‘ndara’ ini merupakan bagian dari identitas budaya yang telah menyatu dengan kehidupan selama berabad-abad. Bagi masyarakat Tanah Marapu, kuda menempati posisi yang nyaris setara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bagi-masyarakat-sumba-kuda-bukan-sekadar-tunggangan-tapi-identitas-budaya/">Bagi Masyarakat Sumba, Kuda Bukan Sekadar Tunggangan, Tapi Identitas Budaya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hamparan sabana yang luas, perbukitan bergelombang, dan kawanan kuda yang berlari bebas telah lama menjadi wajah Pulau Sumba. Namun, bagi masyarakat Sumba, kuda bukan sekadar penghias lanskap. Hewan yang mereka sebut ‘ndara’ ini merupakan bagian dari identitas budaya yang telah menyatu dengan kehidupan selama berabad-abad. Bagi masyarakat Tanah Marapu, kuda menempati posisi yang nyaris setara dengan leluhur. Bahkan, berbeda dengan hewan peliharaan lain, kuda di Sumba tidak diberi nama karena dianggap memiliki kedudukan yang terlalu mulia untuk dipersonalisasi. Kuda hadir dalam hampir seluruh fase kehidupan: menjadi alat transportasi, simbol status sosial, bagian dari mas kawin (belis), hewan kurban dalam upacara adat, hingga dipercaya sebagai tunggangan terakhir menuju alam baka. Tak heran jika di antara ternak penting masyarakat Sumba seperti babi, kerbau, dan kuda, justru kuda dianggap memiliki peran paling lengkap. Kuda khas Sumba dikenal sebagai Sandalwood Pony, salah satu rumpun kuda asli Indonesia. Nama &#8220;Sandalwood&#8221; berasal dari kayu cendana yang dahulu menjadi komoditas ekspor utama Nusa Tenggara. Secara fisik, kuda ini tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 110–130 sentimeter. Tubuhnya kompak, berdada lebar, dengan telinga kecil dan surai tebal. Meski bertubuh mungil, keunggulan utamanya justru terletak pada daya tahan. Selama ratusan tahun, Sandalwood berkembang di lingkungan savana Sumba yang panas dan kering. Adaptasi itu membuatnya mampu berjalan jauh, bekerja di medan berbukit, serta bertahan dengan pakan yang relatif terbatas. Ketahanan tersebut juga menjadi alasan mengapa rumpun ini dikenal lebih tahan terhadap cuaca tropis dibanding banyak kuda impor. Kemampuan itulah yang dahulu menjadikan Sandalwood sebagai alat transportasi utama masyarakat, bahkan kendaraan perang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bagi-masyarakat-sumba-kuda-bukan-sekadar-tunggangan-tapi-identitas-budaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bagi-masyarakat-sumba-kuda-bukan-sekadar-tunggangan-tapi-identitas-budaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Pulihkan Hutan Mangrove Soropia di Tengah Ancaman Proyek Terminal Migas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/17/warga-pulihkan-hutan-mangrove-soropia-di-tengah-ancaman-proyek-terminal-migas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/17/warga-pulihkan-hutan-mangrove-soropia-di-tengah-ancaman-proyek-terminal-migas/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jul 2026 07:00:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Risman Hermawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/15080124/2.-Susur-mangrove-di-Waworaha-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130574</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastrtuktur, Kelautan perikanan, Lahan Basah, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Angin laut bertiup menerpa tubuh Bakring yang duduk di teras belakang rumahnya di Desa Tapulaga, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Sejak 2017, pria 63 tahun itu menanam kembali mangrove jenis Rhizopora sp. agar ekosistem kembali terjaga di pesisir Soropia. Dulu, era 1970-1980-an, sepanjang pesisir laut dekat rumah Bakring tumbuh mangrove jenis beropa (Sonneratia alba) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/warga-pulihkan-hutan-mangrove-soropia-di-tengah-ancaman-proyek-terminal-migas/">Warga Pulihkan Hutan Mangrove Soropia di Tengah Ancaman Proyek Terminal Migas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Angin laut bertiup menerpa tubuh Bakring yang duduk di teras belakang rumahnya di Desa Tapulaga, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Sejak 2017, pria 63 tahun itu menanam kembali mangrove jenis Rhizopora sp. agar ekosistem kembali terjaga di pesisir Soropia. Dulu, era 1970-1980-an, sepanjang pesisir laut dekat rumah Bakring tumbuh mangrove jenis beropa (Sonneratia alba) dan api-api (Avicennia alba). Warga dulu memanfaatkan daun untuk pakan ternak dan batang jadi bahan bakar pembuatan batu kapur. Wilayah ini juga sebagai tempat mencari ikan bagi para nelayan. Ada persepsi muncul jika hutan mangrove menjadi habitat nyamuk. Hutan mangrove pun berubah menjadi permukiman dan vila-vila dengan pemandangan laut untuk menarik pelancong, karena hanya berjarak 20 kilometer dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. “Sehingga banyak yang ditebang pada waktu itu. Padahal, kalau kita lihat ada banyak kerang-kerang hidup di bawah pohon mangrove yang bisa kita konsumsi,” kata Bakring ketika ditemui di rumahnya sekaligus Rumah Belajar Konservasi Mangrove, Senin (29/6/26). Padahal, saat mangrove hilang, ekosistem lebih luas akan lenyap. Nelayan makin sulit mendapat tangkapan ikan di pesisir, kata Bakring, juga akibat dari menurunnya fungsi ekosistem mangrove. “Masa-masa itu kalau pergi menyuluh malam, hampir semua jenis ikan kita dapat. Kepiting rajungan kita pilih-pilih saja yang mana mau kita ambil saking banyaknya,” kata Bakring. “Itu masih banyak pohon mangrove.” Bakring berdiri dekat pepohonan mangrove di belakang rumahnya di Desa Tapulaga, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Foto: La Ode Risman Hermawan/Mongabay Indonesia Berkurangnya mangrove dalam skala besar di kampung halamannya mendorong Bakring menginisiasi pembibitan dan penanaman. Bakring menargetkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/warga-pulihkan-hutan-mangrove-soropia-di-tengah-ancaman-proyek-terminal-migas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/17/warga-pulihkan-hutan-mangrove-soropia-di-tengah-ancaman-proyek-terminal-migas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penertiban Tambang Ilegal Lebih Pentingkan Ekonomi Minim Pemulihan Lingkungan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/17/penertiban-tambang-ilegal-lebih-pentingkan-ekonomi-minim-pemulihan-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/17/penertiban-tambang-ilegal-lebih-pentingkan-ekonomi-minim-pemulihan-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jul 2026 04:55:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20164835/4-10-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130683</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pangan, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selain penertiban kebun sawit di kawan hutan, pemerintah melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) juga menyasar tambang-tambang ilegal di kawasan hutan, termasuk perusahaan yang beroperasi di luar izin.  Berbagai kalangan pesimis langkah ini bisa memperbaiki tata kelola. Bahkan, cenderung kuat aspek ekonomi daripada pemulihan lingkungan. Pada April lalu, Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi segera menertibkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/penertiban-tambang-ilegal-lebih-pentingkan-ekonomi-minim-pemulihan-lingkungan/">Penertiban Tambang Ilegal Lebih Pentingkan Ekonomi Minim Pemulihan Lingkungan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selain penertiban kebun sawit di kawan hutan, pemerintah melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) juga menyasar tambang-tambang ilegal di kawasan hutan, termasuk perusahaan yang beroperasi di luar izin.  Berbagai kalangan pesimis langkah ini bisa memperbaiki tata kelola. Bahkan, cenderung kuat aspek ekonomi daripada pemulihan lingkungan. Pada April lalu, Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi segera menertibkan ratusan tambang ilegal. Ketika itu Prabowo mengatakan, pemerintah tidak akan lagi memberikan toleransi terhadap praktik pertambangan dengan legalitas tak jelas dan merusak hutan. Era &#8220;titip-menitip&#8221; atau perlindungan terhadap kelompok tertentu telah berakhir. &#8220;Kita sudah enggak ada waktu untuk terlalu kasihan. Enggak ada kasihan sekarang ya. Kita hanya membela kepentingan nasional dan kepentingan rakyat, bukan kepentingan kawan, kepentingan konco, kepentingan keluarga, kepentingan kelompok itu nomor sekian,” katanya dalam Rapat Kerja Kabinet Merah Putih di Jakarta, April lalu. Dia pun meminta laporan evaluasi pertambangan kepada Bahlil Lahadalia, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Bahlil mengatakan, penertiban fokus pada aktivitas tambang tanpa izin, terutama di kawasan hutan lindung, konservasi, dan cagar alam. &#8220;Saya sudah melaporkan dan insyaallah hasilnya juga baik, dan sudah saya mendapatkan arahan teknis untuk segera saya akan melakukan eksekusi lebih lanjut.” Dalam menindak aktivitas ilegal di dalam kawasan hutan, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) menjadi andalan pemerintah. Sejak terbentuk 4 Februari 2025, hingga kini, Satgas PKH klaim telah melakukan penyelamatan keuangan aset negara Rp371 lebih, setara 10% APBN Rp3.700 triliun. Pulau Kabaena yang sudah tercemar limbah tambang nikel. Tambang  nikel menyebabkan kerusakan parah ke lingkungan dan masyarakat. Apa penegakan hukumnya?  Foto: Satya Bumi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/penertiban-tambang-ilegal-lebih-pentingkan-ekonomi-minim-pemulihan-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/17/penertiban-tambang-ilegal-lebih-pentingkan-ekonomi-minim-pemulihan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Meski Telah Dijinakkan Ribuan Tahun, Kuda Ternyata Masih Mampu Mengenali Predator</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/17/meski-telah-dijinakkan-ribuan-tahun-kuda-ternyata-masih-mampu-mengenali-predator/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/17/meski-telah-dijinakkan-ribuan-tahun-kuda-ternyata-masih-mampu-mengenali-predator/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jul 2026 04:20:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/17041730/daithiturner-horse-8542469_1280-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130685</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Meski telah dijinakkan manusia selama ribuan tahun, kuda ternyata masih mampu mengenali predator hanya dari penglihatan. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa kuda peliharaan yang ditunjukkan rekaman video serigala tanpa suara tetap mengenali hewan tersebut sebagai ancaman, meskipun sebagian besar dari mereka kemungkinan besar belum pernah bertemu serigala secara langsung. Detak jantung mereka meningkat saat menonton, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/meski-telah-dijinakkan-ribuan-tahun-kuda-ternyata-masih-mampu-mengenali-predator/">Meski Telah Dijinakkan Ribuan Tahun, Kuda Ternyata Masih Mampu Mengenali Predator</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Meski telah dijinakkan manusia selama ribuan tahun, kuda ternyata masih mampu mengenali predator hanya dari penglihatan. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa kuda peliharaan yang ditunjukkan rekaman video serigala tanpa suara tetap mengenali hewan tersebut sebagai ancaman, meskipun sebagian besar dari mereka kemungkinan besar belum pernah bertemu serigala secara langsung. Detak jantung mereka meningkat saat menonton, tetapi secara kasat mata perilaku mereka nyaris tidak menunjukkan perubahan apa pun. Penelitian dilakukan di Pusat Kuda Ohio State University (OSU). Sebanyak 18 ekor kuda dibawa satu per satu ke kandang yang sudah mereka kenal, lalu ditunjukkan video berdurasi 60 detik tanpa suara. Alat pemantau detak jantung dipasang pada tiap hewan, sementara kamera merekam wajah dan gerak tubuhnya. Video dibuka dengan tayangan wombat, hewan berkantung penggali asal Australia, yang tampak sedang merumput dengan tenang. Bagian ini berfungsi sebagai kontrol netral. Selanjutnya video beralih ke kawanan serigala, satu klip menampilkan serigala yang berkelahi dan satu klip lain menampilkan serigala yang saling merawat diri (grooming). Ilustrasi stimulus predator berupa perilaku agresif. Foto ini hanya untuk tujuan ilustrasi, tidak identik dengan segmen video kelompok serigala (Canis lupus) yang berkelahi, yang digunakan untuk memicu respons anti-predator dalam penelitian tersebut. Kredit foto: David Selbert/Pexels. Penelitian ini dipimpin oleh Zeynep Benderlioglu, dosen senior di bidang evolusi, ekologi, dan biologi organisme di universitas tersebut. Ia ingin mengetahui apakah kuda bisa mengenali predator hanya melalui penglihatan, tanpa bantuan indra penciuman atau pendengaran. Riset sebelumnya menunjukkan bahwa kuda sangat mengandalkan penciuman dan pendengaran. Sebuah studi pada 2020 menemukan bahwa kuda menjadi waspada dan berkumpul&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/meski-telah-dijinakkan-ribuan-tahun-kuda-ternyata-masih-mampu-mengenali-predator/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/17/meski-telah-dijinakkan-ribuan-tahun-kuda-ternyata-masih-mampu-mengenali-predator/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Waswas Ketika Hutan Gorontalo Utara Terus Tergerus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/16/warga-waswas-ketika-hutan-gorontalo-utara-terus-tergerus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/16/warga-waswas-ketika-hutan-gorontalo-utara-terus-tergerus/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jul 2026 18:09:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan huku]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/12091704/DJI_0743-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130480</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rifal Bobihu, tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Dari tepian desa, dia menunjuk hamparan sisi utara yang penuh pohon jabon dan sengon dalam konsesi hutan tanaman energi.  PT Gema Nusantara Jaya (GNJ). Pohon-pohon seragam itu menutup lanskap yang dulu merupakan hutan alam dan menghidupi warga Desa Bubode, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo. Kehadiran perusahaan  bukan tanpa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/16/warga-waswas-ketika-hutan-gorontalo-utara-terus-tergerus/">Warga Waswas Ketika Hutan Gorontalo Utara Terus Tergerus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rifal Bobihu, tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Dari tepian desa, dia menunjuk hamparan sisi utara yang penuh pohon jabon dan sengon dalam konsesi hutan tanaman energi.  PT Gema Nusantara Jaya (GNJ). Pohon-pohon seragam itu menutup lanskap yang dulu merupakan hutan alam dan menghidupi warga Desa Bubode, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo. Kehadiran perusahaan  bukan tanpa persoalan. GNJ,  semula sebagai perusahaan hutan tanaman industri (HTI)  kini bertransformasi menjadi perusahaan multi usaha kehutanan (MUK)  ini  membawa dampak ekologis. Lanskap banyak berubah yang  akhirnya menurunkan hasil panen para petani. Sebelum GNJ hadir, kata Rifai, konsesi perusahaan itu adalah hutan lebat. Kawasan itu berfungsi menyerap air, penyangga musim, sekaligus pelindung alami desa dari cuaca ekstrem. Kini, lanskap di punggung bukit itu berubah rupa, hutan alami di atasnya  tergantikan barisan jabon dan sengon yang jadi pola tanaman industri. Warga mulai rasakan dampak dari perubahan yang berlangsung  lebih  satu dekade lalu itu . Air dari hulu datang lebih cepat dan lebih keruh dari perbukitan. Sedimen yang terbawa arus menutup daun tanaman dan merendam batang. Bagi Rifal, musim hujan kini menghadirkan cemas, bukan sekadar harap. “Perubahan itu bukan sekadar soal pemandangan. Ada rasa waswas yang menyertai setiap musim tanam. Sekarang kami menanam bukan dengan keyakinan, tapi dengan kekhawatiran,” katanya di sela kesibukan tanam jagung.  Pada Januari 2025, hujan sepanjang hari sebabkan Sungai Bubode meluap. Pada malam hari, air menerobos tanggul dan merendam sawah, kebun jagung, hingga rumah-rumah warga. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat,  2.117 keluarga terdampak. Sekitar 115 hektar sawah dan puluhan hektar kebun jagung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/16/warga-waswas-ketika-hutan-gorontalo-utara-terus-tergerus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/16/warga-waswas-ketika-hutan-gorontalo-utara-terus-tergerus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sabut Kelapa, Solusi Konflik Petani dengan Monyet Ekor Panjang di Simeulue</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/16/sabut-kelapa-solusi-konflik-petani-dengan-monyet-ekor-panjang-di-simeulue/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/16/sabut-kelapa-solusi-konflik-petani-dengan-monyet-ekor-panjang-di-simeulue/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jul 2026 10:54:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/16104416/MEP-saat-turun-ke-permukiman-Falahi-Mubarok-Mongabay-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130668</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Akhir Perjalanan Topeng Monyet di Jalanan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebagian petani di Desa Batu Ralang, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue, Aceh, pernah menganggap monyet ekor panjang sebagai musuh mereka. Primata ini dianggap merusak buah kelapa yang merupakan sumber penghidupan utama masyarakat. Sekarang, cara pandang mereka berubah. Bukan karena konflik hilang, melainkan karena gagasan sederhana, yaitu menjadikan kelapa yang dirusak Macaca fascicularis fusca itu menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/16/sabut-kelapa-solusi-konflik-petani-dengan-monyet-ekor-panjang-di-simeulue/">Sabut Kelapa, Solusi Konflik Petani dengan Monyet Ekor Panjang di Simeulue</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebagian petani di Desa Batu Ralang, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue, Aceh, pernah menganggap monyet ekor panjang sebagai musuh mereka. Primata ini dianggap merusak buah kelapa yang merupakan sumber penghidupan utama masyarakat. Sekarang, cara pandang mereka berubah. Bukan karena konflik hilang, melainkan karena gagasan sederhana, yaitu menjadikan kelapa yang dirusak Macaca fascicularis fusca itu menjadi sumber ekonomi baru. Caranya? Mereka menjadikan sabut kelapa sebagai produk bernilai jual, mulai dari cocopeat, cocofiber, cocobristle, hingga aneka kerajinan tangan. Sabut kelapa yang yang sebelumnya dibakar atau dibuang, kini jadi sumber pendapatan tambahan petani. Sekaligus, membuka ruang hidup berdampingan antara warga dan monyet ekor panjang. Monyet ekor panjang yang tak jarang turun ke permukiman warga. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Mitra Rofendi (31), mengtakan konflik antara petani dengan monyet bukan sekadar cerita. Sebagai petani kelapa sekaligus pengelola rumah produksi kerajinan sabut kelapa yang mulai dirintis sejak 2024, dia merasakan langsung gangguan primata itu. Kerugian akibat buat kelapa yang dimakan monyet bisa mencapai sekitar 4,1 juta setiap bulan. “Sejak kami bisa memanfaatkan sabut kelapa, dampak kerugian mulai berkurang,” jelas Ketua Kelompok Tani SIMCO itu, Rabu (15/7/26). Mitra mengakui, sebelum ada pendekatan baru, sebagian warga memilih membersihkan kebun agar monyet tidak bersarang di semak. Namun, ada pula yang mengambil langkah lebih ekstrem. “Ada yang mengusirnya dengan kekerasan, padahal itu tidak baik karena mereka juga bagian ekosistem.” Melalui pelatihan, masyarakat mengolah sabut kelapa menjadi cocopeat sebagai media tanam, cocofiber untuk kebutuhan industri, cocobristle, hingga aneka kerajinan seperti tas, pot bunga, sandal, lukisan, dan kaligrafi. “Ibu-ibu membuat berbagai kreasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/16/sabut-kelapa-solusi-konflik-petani-dengan-monyet-ekor-panjang-di-simeulue/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/16/sabut-kelapa-solusi-konflik-petani-dengan-monyet-ekor-panjang-di-simeulue/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Siapa Sangka, Letusan Tambora Ikut Melahirkan Sepeda</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/siapa-sangka-letusan-tambora-ikut-melahirkan-sepeda/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/siapa-sangka-letusan-tambora-ikut-melahirkan-sepeda/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jul 2026 03:36:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/06/22002446/sepeda-penny-farthing-alistair-paterson-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130664</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, gaya hidup, sains dan Teknologi, solusi iklim, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sulit membayangkan bahwa sejarah sepeda berawal dari sebuah letusan gunung api di Indonesia. Namun, sejumlah sejarawan meyakini letusan dahsyat Gunung Tambora pada 1815 menjadi salah satu pemicu lahirnya kendaraan roda dua yang kini digunakan miliaran orang di seluruh dunia. Letusan Tambora merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah modern. Selain menewaskan puluhan ribu orang di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/siapa-sangka-letusan-tambora-ikut-melahirkan-sepeda/">Siapa Sangka, Letusan Tambora Ikut Melahirkan Sepeda</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sulit membayangkan bahwa sejarah sepeda berawal dari sebuah letusan gunung api di Indonesia. Namun, sejumlah sejarawan meyakini letusan dahsyat Gunung Tambora pada 1815 menjadi salah satu pemicu lahirnya kendaraan roda dua yang kini digunakan miliaran orang di seluruh dunia. Letusan Tambora merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah modern. Selain menewaskan puluhan ribu orang di Nusantara, abu dan gas sulfur yang terlontar hingga ke atmosfer menyebabkan suhu Bumi turun. Tahun 1816 kemudian dikenal sebagai &#8220;tahun tanpa musim panas&#8221;. Cuaca yang tidak menentu memicu gagal panen di berbagai wilayah Eropa dan Amerika Utara, sehingga terjadi krisis pangan yang juga berdampak pada ketersediaan pakan ternak. Saat itu, kuda merupakan moda transportasi utama. Ketika pakan langka, banyak kuda mati atau disembelih. Kondisi tersebut mendorong Karl Drais, seorang penemu asal Jerman, mencari alternatif transportasi yang tidak bergantung pada hewan. Pada 1817, ia memperkenalkan laufmaschine atau &#8220;mesin berjalan&#8221;, cikal bakal sepeda modern. Kendaraan itu masih sangat sederhana. Terbuat dari kayu, memiliki dua roda dan kemudi, tetapi belum dilengkapi pedal. Penggunanya melaju dengan mendorong tanah menggunakan kedua kaki, mirip sepeda keseimbangan yang kini populer di kalangan anak-anak. Meski sederhana, inovasi ini membuka jalan bagi perkembangan sepeda selama dua abad berikutnya. Berbagai penyempurnaan kemudian dilakukan, mulai dari penambahan pedal, rantai, rem, bantalan bola, hingga ban karet. Pada akhir abad ke-19, lahirlah desain &#8220;safety bicycle&#8221; dengan dua roda berukuran sama yang menjadi dasar hampir semua sepeda modern saat ini. Dampak sepeda ternyata melampaui dunia transportasi. Kendaraan ini ikut mengubah kehidupan sosial, terutama bagi perempuan. Kemudahan bergerak membuat banyak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/siapa-sangka-letusan-tambora-ikut-melahirkan-sepeda/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/siapa-sangka-letusan-tambora-ikut-melahirkan-sepeda/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Setelah Harimau Jawa Punah, Apakah Macan Tutul Mengalami Nasib yang Sama?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/setelah-harimau-jawa-punah-apakah-macan-tutul-mengalami-nasib-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/setelah-harimau-jawa-punah-apakah-macan-tutul-mengalami-nasib-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jul 2026 03:18:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/10/22082922/foto-CITNGHS-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130663</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pulau Jawa telah kehilangan harimau jawa. Kini, hanya satu kucing besar yang masih menjadi penguasa hutan: macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Di tengah pulau yang menjadi rumah bagi lebih dari 150 juta manusia, predator ini ternyata masih mampu bertahan. Namun, kemampuan adaptasi yang luar biasa itu memiliki batas. Salah satu fakta menarik tentang macan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/setelah-harimau-jawa-punah-apakah-macan-tutul-mengalami-nasib-yang-sama/">Setelah Harimau Jawa Punah, Apakah Macan Tutul Mengalami Nasib yang Sama?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pulau Jawa telah kehilangan harimau jawa. Kini, hanya satu kucing besar yang masih menjadi penguasa hutan: macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Di tengah pulau yang menjadi rumah bagi lebih dari 150 juta manusia, predator ini ternyata masih mampu bertahan. Namun, kemampuan adaptasi yang luar biasa itu memiliki batas. Salah satu fakta menarik tentang macan tutul jawa adalah statusnya yang sangat istimewa. Ia merupakan satu dari sembilan subspesies macan tutul yang diakui di dunia dan hanya ditemukan di Pulau Jawa. Meski secara fisik tampak mirip dengan macan tutul dari Afrika atau India, perbedaan di antara mereka baru benar-benar terlihat melalui analisis genetik. Macan tutul jawa juga menyimpan teka-teki lain yang sering disalahpahami. Banyak orang mengira macan kumbang adalah spesies berbeda. Padahal, macan kumbang hanyalah macan tutul jawa yang mengalami melanisme, kelainan genetik yang membuat bulunya tampak hitam. Jika diperhatikan dari dekat, corak tutulnya tetap terlihat samar. Menariknya lagi, sifat melanisme ini diduga menjadi hasil adaptasi terhadap hutan tropis Jawa yang teduh, sekaligus menjadi ciri khas yang tidak ditemukan pada subspesies macan tutul lain. Kemampuan bertahan hidup satwa ini juga mengesankan. Tidak seperti predator yang bergantung pada satu jenis mangsa, macan tutul jawa adalah pemburu oportunis. Tikus, burung, monyet, rusa, hingga babi hutan dapat masuk ke dalam menu makanannya. Fleksibilitas inilah yang membuatnya mampu bertahan di habitat yang terus berubah. Namun, kehebatan tersebut tidak cukup untuk melawan ancaman terbesar: hilangnya hutan. Menurut Hendra Gunawan, Peneliti Utama Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), populasi macan tutul jawa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/setelah-harimau-jawa-punah-apakah-macan-tutul-mengalami-nasib-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/setelah-harimau-jawa-punah-apakah-macan-tutul-mengalami-nasib-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Proyek Tanggul Laut Minim Partisipasi Publik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/16/proyek-tanggul-laut-minim-partisipasi-publik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/16/proyek-tanggul-laut-minim-partisipasi-publik/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jul 2026 01:42:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/12/21234453/Pantura-101-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130567</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah terus melanjutkan ambisinya untuk membangun tanggul laut raksasa atau giant sea wall (GSA) di sepanjang pantai utara (Pantura) Jawa. Pemerintah perkirakan proyek sepanjang 575 kilometer dari Banten hingga Gresik itu bakal menelan anggaran sekitar US$80 miliar atau sekitar Rp1.280 triliun. Pemerintah berdalih proyek itu sebagai solusi melindungi wilayah pesisir pantura dari banjir rob, penurunan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/16/proyek-tanggul-laut-minim-partisipasi-publik/">Proyek Tanggul Laut Minim Partisipasi Publik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah terus melanjutkan ambisinya untuk membangun tanggul laut raksasa atau giant sea wall (GSA) di sepanjang pantai utara (Pantura) Jawa. Pemerintah perkirakan proyek sepanjang 575 kilometer dari Banten hingga Gresik itu bakal menelan anggaran sekitar US$80 miliar atau sekitar Rp1.280 triliun. Pemerintah berdalih proyek itu sebagai solusi melindungi wilayah pesisir pantura dari banjir rob, penurunan muka tanah, dan kenaikan muka laut. Namun, warga pesisir pantura Jateng tak berpendapat demikian. Sebaliknya, mereka menilai proyek itu sebagai solusi palsu. Sugeng, nelayan Kendal katakan tanggul laut bukan solusi atasi banjir rob dan abrasi. Dia menilai ketika tanggul  sudah terbangun, justru akan menghambat air hujan ke laut dan memperbesar potensi banjir. “Resapan air di gunung sudah tak ada, sudah dikeruk sedalam-dalamnya (dan gundul). Kalau musim hujan dan laut pasang tinggi nanti air laut meluap ke mana? Sekarang di gunung sudah banjir karena gak ada resapan air. Dulu,  air lari ke laut dan sekarang mau dibendung,” katanya. Menurut dia, sudah seharusnya pemerintah provinsi mengedepankan pembangunan dengan mengacu pada rencana tata ruang wilayah (RTRW). Selama ini, banyak ruang yang berubah hanya demi membuka jalan investasi. Sedang fungsi perlindungan ruang terabaikan. “Harusnya RTRW solusi karena yang tahu dampak itu kita sendiri. Kita mau hidup di mana, pesisir terancam, di gunung terancam, peraturan daerah gak ada artinya kalau ada proyek strategis nasional,” katanya. Jamal, nelayan Kota Semarang belum pernah ada sosialisasi pembangunan GSW. Informasi ihwal pembangunan tanggul berasal dari media dan kerap bermunculan di sosial media. Menurutnya pembangunan seharusnya melibatkan warga. Karena yang paham kondisi wilayahnya. Selama ini,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/16/proyek-tanggul-laut-minim-partisipasi-publik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/16/proyek-tanggul-laut-minim-partisipasi-publik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Pemulihan Kebun Kopi Terdampak Bencana Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/15/menanti-pemulihan-kebun-kopi-terdampak-bencana-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/15/menanti-pemulihan-kebun-kopi-terdampak-bencana-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jul 2026 23:49:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/03082206/Kayu-di-pemukiman-penduduk-desa-Geudumbak-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130649</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dampak bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat November tahun lalu belum pulih hingga kini.  Selain menghancurkan infrastruktur, bencana juga merusak ribuan hektar lahan pertanian, dan perkebunan, antara lain, kebun kopi di Aceh. Salman Pedemun, Master Trainer Sustainable Cofee Platform Indonesia (SCOPI) Aceh Tengah, mengatakan,  para petani kopi di Aceh Tengah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/menanti-pemulihan-kebun-kopi-terdampak-bencana-sumatera/">Menanti Pemulihan Kebun Kopi Terdampak Bencana Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dampak bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat November tahun lalu belum pulih hingga kini.  Selain menghancurkan infrastruktur, bencana juga merusak ribuan hektar lahan pertanian, dan perkebunan, antara lain, kebun kopi di Aceh. Salman Pedemun, Master Trainer Sustainable Cofee Platform Indonesia (SCOPI) Aceh Tengah, mengatakan,  para petani kopi di Aceh Tengah melewati masa krisis pasca bencana banjir bandang, dan kelangkaan BBM. Jaringan internet juga terputus, sudah mulai membaik, tetapi jalur distribusi logistik masih kendala, jembatan-jembatan akses jalan nasional juga belum seutuhnya baik. “Sampai hari ini beberapa jalan produksi menuju ke kebun-kebun petani itu belum bisa dilewati dengan baik, malahan masih ada yang tertimpa longsor dan lain-lain,” katanya, belum lama ini. Pengangkutan hasil panen kopi pada Maret pun terkendala, akses para petani dari kebun-kebun mereka ke titik kumpul di kampung menjadi sulit. Salman bilang, ke depan ini perlu jadi prioritas, minimal ada akses motor untuk mengangkut kopi dari kebun. Saat ini,  warga masih fokus terhadap kebutuhan pangan mereka. Sebagai pelatih, Salman merekomendasi wanatani, selain kopi, di kebun kopi ada tanaman lain sembari memperbaiki kebun kopi yang rusak. “Sekarang untuk Kecamatan Kute Panang,  saya sedang mencoba untuk tanam padi gugu,” katanya. Dia berharap, para petani terdampak tidak hanya dapat bantuan, juga pendampingan. Sepanjang mata memandang hanya lautan kayu yang terhampar di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Belasan ribu hektar rusak Anshary, Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Aceh Tengah, mengatakan, seluas 12.637 hektar dari 52.074 hektar kebun kopi di Aceh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/menanti-pemulihan-kebun-kopi-terdampak-bencana-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/15/menanti-pemulihan-kebun-kopi-terdampak-bencana-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ternyata Bekantan Punya Kebiasaan Memamah Biak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/15/ternyata-bekantan-punya-kebiasaan-memamah-biak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/15/ternyata-bekantan-punya-kebiasaan-memamah-biak/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jul 2026 12:14:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/15120624/bekantan-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130638</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Memamah biak selama ini diketahui perilaku yang identik dengan sapi, kambing, atau unta. Namun ternyata, primata berhidung besar khas Kalimantan, yakni bekantan (Nasalis larvatus), terbukti secara ilmiah melakukan regurgitasi dan mengunyah ulang. Dikutip dari media sains internasional science.org, bekantan menjadi bukti bahwa primata bisa memamah biak. Ini merupakan sebuah strategi pencernaan yang disebut hanya milik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/ternyata-bekantan-punya-kebiasaan-memamah-biak/">Ternyata Bekantan Punya Kebiasaan Memamah Biak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Memamah biak selama ini diketahui perilaku yang identik dengan sapi, kambing, atau unta. Namun ternyata, primata berhidung besar khas Kalimantan, yakni bekantan (Nasalis larvatus), terbukti secara ilmiah melakukan regurgitasi dan mengunyah ulang. Dikutip dari media sains internasional science.org, bekantan menjadi bukti bahwa primata bisa memamah biak. Ini merupakan sebuah strategi pencernaan yang disebut hanya milik hewan berkaki empat, yang memanfaatkan mikroba di perutnya untuk mengurai serat dedaunan. Penemuan ini diungkap tim peneliti yang dipimpin Ikki Matsuda dari Universitas Kyoto pada 2011 lalu. Mereka menemukan perilaku tersebut dengan melihat video yang dikumpulkan sejak tahun 2000. Berdasarkan data tersebut, sekitar 23 monyet hidung panjang terpantau memiliki perilaku mengeluarkan makanan dari perut dan mengunyah kembali/regurgitasi. Para peneliti menekankan bahwa fenomena memamah biak pada satwa liar sebenarnya berbeda tingkatannya. Hewan pemamah biak sejati seperti sapi dan unta memiliki mekanisme penyortiran khusus di lambung yang memisahkan partikel makanan besar untuk dikunyah ulang. Dengan begitu, mereka bisa mencerna makanan dalam jumlah besar, sekaligus mengurus ukuran partikelnya dengan sangat efisien. Bekantan yang dijuluki Monyet Belanda. Foto: Rhett A Butler /Mongabay. Tahun 2023, tim peneliti yang dipimpin Jonas Bösch bersama Ikki Matsuda dan kolega menerbitkan studi lanjutan di Journal of Zoology, dengan judul “They chew by night? Night-time behaviour in a &#8216;ruminating&#8217; primate, the proboscis monkey (Nasalis larvatus)”. Mereka menganalisis rekaman video inframerah perilaku malam hari dari 179 individu bekantan liar selama 35 malam. Total pengamatan diperkirakan lebih dari 251 jam di kawasan hilir Sungai Kinabatangan, Sabah, Malaysia. Hasilnya, bekantan menghabiskan lebih banyak waktu terjaga sambil beristirahat dibanding&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/ternyata-bekantan-punya-kebiasaan-memamah-biak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/15/ternyata-bekantan-punya-kebiasaan-memamah-biak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>17 Hari Bawa Bangkai Anaknya Sejauh 1.600 Km, Orca Betina Ini Jadi Simbol Krisis Populasinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/15/17-hari-bawa-bangkai-anaknya-sejauh-1-600-km-orca-betina-ini-jadi-simbol-krisis-populasinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/15/17-hari-bawa-bangkai-anaknya-sejauh-1-600-km-orca-betina-ini-jadi-simbol-krisis-populasinya/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jul 2026 11:25:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/02/22090432/Paus-orca2-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130629</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada 2018, seekor orca betina dari populasi Southern Resident ((orca yang menetap di wilayah Pasifik Barat Laut Amerika Utara) bernama Tahlequah (J35) membawa bangkai anaknya yang baru lahir selama 17 hari, menempuh jarak lebih dari 1.600 kilometer di perairan Salish Sea, Pasifik Barat Laut Amerika Utara. Peristiwa ini menarik perhatian dunia dan menjadi salah satu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/17-hari-bawa-bangkai-anaknya-sejauh-1-600-km-orca-betina-ini-jadi-simbol-krisis-populasinya/">17 Hari Bawa Bangkai Anaknya Sejauh 1.600 Km, Orca Betina Ini Jadi Simbol Krisis Populasinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada 2018, seekor orca betina dari populasi Southern Resident ((orca yang menetap di wilayah Pasifik Barat Laut Amerika Utara) bernama Tahlequah (J35) membawa bangkai anaknya yang baru lahir selama 17 hari, menempuh jarak lebih dari 1.600 kilometer di perairan Salish Sea, Pasifik Barat Laut Amerika Utara. Peristiwa ini menarik perhatian dunia dan menjadi salah satu sorotan utama terkait kondisi populasi Southern Resident, subpopulasi orca yang berstatus terancam punah. Status itu bukan sekadar label. Sensus Southern Resident yang dilakukan Center for Whale Research pada Juli 2025 mencatat populasi ini hanya tersisa 74 ekor, jauh dari perkiraan populasi historis yang pernah berjumlah lebih dari 200 ekor sebelum abad ke-20. Para ilmuwan tidak dapat memastikan alasan di balik perilaku Tahlequah, namun perilakunya yang berlangsung lama ini memperkuat perhatian terhadap tekanan yang dihadapi populasinya, terutama menyusutnya ikan salmon Chinook (Oncorhynchus tshawytscha) sebagai sumber makanan utama. Seekor orca dari populasi Southern Resident melompat (breaching) di perairan Pasifik Barat Laut Amerika Utara. Populasi ini berstatus terancam punah dan hanya tersisa 74 ekor berdasarkan sensus Center for Whale Research pada Juli 2025. Foto: Center for Whale Research Kisah Tahlequah kemudian menjadi salah satu simbol yang paling sering dikutip dalam peringatan World Orca Day, yang jatuh setiap 14 Juli. Orca (Orcinus orca), yang juga dikenal sebagai paus pembunuh, merupakan anggota terbesar dari keluarga lumba-lumba (Delphinidae). Hewan ini hidup di hampir seluruh perairan dunia, dari perairan dingin Antarktika hingga wilayah tropis. Sebagai predator puncak, orca tidak memiliki predator alami dan berperan penting mengendalikan populasi mangsa di ekosistem laut, sehingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/17-hari-bawa-bangkai-anaknya-sejauh-1-600-km-orca-betina-ini-jadi-simbol-krisis-populasinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/15/17-hari-bawa-bangkai-anaknya-sejauh-1-600-km-orca-betina-ini-jadi-simbol-krisis-populasinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan Menanti Keseriusan Pemerintah Setop Tambang Timah di Teluk Kelabat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/15/nelayan-menanti-keseriusan-pemerintah-setop-tambang-timah-di-teluk-kelabat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/15/nelayan-menanti-keseriusan-pemerintah-setop-tambang-timah-di-teluk-kelabat/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jul 2026 05:56:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07095444/foto-nelayan-3-e1783418199804-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130231</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka dan bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perjuangan nelayan Tanjung Kelabat Dalam, Kepulauan Bangka Belitung (Babel) melawan tambang timah ilegal menemukan harapan baru. Saat audiensi bersama Forum Nelayan Pecinta Teluk Kelabat, 8 Juni lalu, Didit Srigusjaya, Ketua DPRD Kepulauan Babel, sepakat mendukung perjuangan para nelayan. Dalam pertemuan yang berlangsung awal Juni itu, para nelayan keluhkan aktivitas tambang timah ilegal yang memenuhi kawasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/nelayan-menanti-keseriusan-pemerintah-setop-tambang-timah-di-teluk-kelabat/">Nelayan Menanti Keseriusan Pemerintah Setop Tambang Timah di Teluk Kelabat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perjuangan nelayan Tanjung Kelabat Dalam, Kepulauan Bangka Belitung (Babel) melawan tambang timah ilegal menemukan harapan baru. Saat audiensi bersama Forum Nelayan Pecinta Teluk Kelabat, 8 Juni lalu, Didit Srigusjaya, Ketua DPRD Kepulauan Babel, sepakat mendukung perjuangan para nelayan. Dalam pertemuan yang berlangsung awal Juni itu, para nelayan keluhkan aktivitas tambang timah ilegal yang memenuhi kawasan Teluk Kelabat. Bahkan, tak kurang ada sekitar 100 ponton yang beraktivitas melakukan penambangan. Eko Sanjaya, nelayan Kelabat Dalam katakan, maraknya aktivitas tambang timah ilegal itu tak hanya merusak ekosistem pesisir. Tetapi, juga menyebabkan hasil tangkapan nelayan turun yang berujung pada memburuknya pendapatan mereka. “Ini sudah berlangsung lama,” katanya. Ada muncul dugaan PT Timah ada di balik beroperasinya tambang-tambang ilegal itu. Didit pun meminta perwakilan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Babel yang hadir dalam pertemuan memberikan penjelasan. Menanggapi  itu, perwakilan DKP Babel menegaskan, berdasar Peraturan Daerah (Perda) 3/2020 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K), wilayah Teluk Kelabat terklasifikasi ke dalam empat zona, yakni,  zona pelabuhan, perikanan tangkap, budidaya dan pariwisata. “Daerah tersebut merupakan kawasan bebas tambang atau zero tambang.&#8221; Devi, perwakilan PT Timah dalam pertemuan itu akui, mengantongi izin usaha pertambangan (IUP) di sana tetapi membantah ada di balik beroperasinya ratusan ponton di perairan itu. Sampai saat ini, katanya,  perusahaan  belum pernah mengeluarkan surat perintah kerja (SPK) untuk penambangan di Teluk Kelabat. “Kami (sejak) 2022 sudah tidak ada penambangan di ketiga IUP tersebut, karena terkait zona zero tambang tadi,” kata Devi, sebagaimana rekaman video yang nelayan kirim kepada Mongabay. Mendengar penjelasan itu, Didit&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/nelayan-menanti-keseriusan-pemerintah-setop-tambang-timah-di-teluk-kelabat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/15/nelayan-menanti-keseriusan-pemerintah-setop-tambang-timah-di-teluk-kelabat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Kucing Rumahan Bisa Jinak? Jawabnya Ada pada Kucing Liar Ini</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-kucing-rumahan-bisa-jinak-jawabnya-ada-pada-kucing-liar-ini/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-kucing-rumahan-bisa-jinak-jawabnya-ada-pada-kucing-liar-ini/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jul 2026 04:16:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/15041413/Kucing-Felis-lybica--768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130604</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, dunia kucing, gaya hidup, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hampir setiap rumah mengenal kucing. Hewan ini tidur di sofa, berburu serangga di halaman, atau meringkuk di pangkuan pemiliknya. Namun, jauh sebelum menjadi hewan peliharaan yang akrab dengan manusia, nenek moyang kucing rumahan hidup bebas di padang rumput, gurun, dan semak belukar Afrika hingga Asia. Spesies itu adalah Felis lybica, atau kucing liar Afro-Asia, yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-kucing-rumahan-bisa-jinak-jawabnya-ada-pada-kucing-liar-ini/">Mengapa Kucing Rumahan Bisa Jinak? Jawabnya Ada pada Kucing Liar Ini</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hampir setiap rumah mengenal kucing. Hewan ini tidur di sofa, berburu serangga di halaman, atau meringkuk di pangkuan pemiliknya. Namun, jauh sebelum menjadi hewan peliharaan yang akrab dengan manusia, nenek moyang kucing rumahan hidup bebas di padang rumput, gurun, dan semak belukar Afrika hingga Asia. Spesies itu adalah Felis lybica, atau kucing liar Afro-Asia, yang hingga kini masih berkeliaran di alam liar dan menyimpan banyak misteri. Ironisnya, meski menjadi leluhur langsung kucing domestik (Felis catus), Felis lybica justru termasuk salah satu kucing liar yang paling sedikit dipelajari. Sebarannya sangat luas, mulai dari Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah, hingga India, Mongolia, dan Tiongkok. Namun, para ilmuwan mengakui pengetahuan tentang perilaku, jumlah populasi, bahkan tren keberadaannya masih sangat terbatas. Secara fisik, Felis lybica memang sangat mirip dengan kucing rumahan. Ukurannya hampir sama, tetapi kakinya lebih panjang, telinganya berwarna jingga kemerahan, dan warna bulunya menyesuaikan lingkungan, mulai dari cokelat pasir hingga keabu-abuan. Kemiripan inilah yang membuat keduanya mudah kawin silang, sehingga sering kali sulit dibedakan hanya dari penampilan luar. Hubungan antara manusia dan Felis lybica diperkirakan dimulai sekitar 10 ribu tahun lalu, ketika manusia mulai bertani di kawasan Bulan Sabit Subur (suatu wilayah yang terbentang dari Turki hingga Irak saat ini). Lumbung penyimpanan hasil panen menarik tikus, sementara tikus mengundang kucing liar. Hubungan yang awalnya saling menguntungkan itu perlahan berkembang menjadi proses domestikasi. Kucing yang paling toleran terhadap kehadiran manusia memperoleh keuntungan berupa makanan melimpah, sedangkan manusia terbantu mengendalikan hama. Dari proses evolusi yang berlangsung ribuan tahun itulah lahir kucing rumahan yang kini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-kucing-rumahan-bisa-jinak-jawabnya-ada-pada-kucing-liar-ini/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-kucing-rumahan-bisa-jinak-jawabnya-ada-pada-kucing-liar-ini/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jangan Sentuh, Burung Endemik Papua Ini Beracun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-sentuh-burung-endemik-papua-ini-beracun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-sentuh-burung-endemik-papua-ini-beracun/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jul 2026 03:34:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233729/Waigeo-Pitohui-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130602</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, hutan indonesia, papua, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di alam, warna mencolok sering menjadi tanda bahaya. Pada pitohui, burung endemik Papua, peringatan itu bukan sekadar isyarat. Kulit dan bulunya benar-benar mengandung racun yang dapat mengusir predator maupun parasit. Ironisnya, kemampuan bertahan hidup yang unik ini tidak membuat pitohui aman dari ancaman manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, burung “beracun” tersebut justru semakin sering ditemukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-sentuh-burung-endemik-papua-ini-beracun/">Jangan Sentuh, Burung Endemik Papua Ini Beracun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di alam, warna mencolok sering menjadi tanda bahaya. Pada pitohui, burung endemik Papua, peringatan itu bukan sekadar isyarat. Kulit dan bulunya benar-benar mengandung racun yang dapat mengusir predator maupun parasit. Ironisnya, kemampuan bertahan hidup yang unik ini tidak membuat pitohui aman dari ancaman manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, burung “beracun” tersebut justru semakin sering ditemukan di pasar burung dan platform jual beli daring. Keunikan pitohui terletak pada racun yang terdapat di kulit dan bulunya. Burung ini mengandung neurotoksin kuat yang membantu melindungi tubuhnya dari parasit, seperti kutu dan caplak, sekaligus menghalau predator. Saat disentuh manusia, racun tersebut dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan menimbulkan sensasi seperti reaksi alergi. Meski demikian, racun ini tidak menghalangi minat para kolektor, karena pitohui memiliki suara kicauan yang keras dan merdu. Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Bird Conservation International (Desember 2024) menunjukkan perubahan cukup mencolok. Selama dua dekade, antara 1994 hingga 2014, pitohui nyaris tidak pernah ditemukan dalam perdagangan burung kicau. Namun sejak 2015, spesies ini mulai bermunculan di pasar burung dan media sosial. Hingga 2023, peneliti mencatat sedikitnya 113 individu dijual di 12 pasar burung serta 199 individu diperdagangkan secara daring. Dari jumlah itu, 54 individu merupakan pitohui kepala hitam (Pitohui dichrous), spesies yang dikenal paling beracun. Mengapa pitohui tiba-tiba diminati? Salah satu penyebabnya adalah krisis burung kicau di Indonesia. Banyak spesies favorit penghobi semakin langka akibat perburuan berlebihan, sehingga pasar terus mencari &#8220;pengganti&#8221; baru. Pitohui kemudian dipasarkan dengan nama dagang yang lebih menarik, seperti &#8220;cucakrawa Papua&#8221;, memanfaatkan popularitas cucakrawa asli yang kini semakin&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-sentuh-burung-endemik-papua-ini-beracun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-sentuh-burung-endemik-papua-ini-beracun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Masyarakat Adat Gugat UU Konservasi ke Mahkamah Konstitusi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/15/ketika-masyarakat-adat-gugat-uu-konservasi-ke-mahkamah-konstitusi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/15/ketika-masyarakat-adat-gugat-uu-konservasi-ke-mahkamah-konstitusi/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jul 2026 02:30:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/15015830/Masyarakat-Adat-Komunitas-Lokal-dan-Organisasi-Layangkan-Uji-Materiil-UU-KSDAHE-ke-MK-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130582</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>I Putu Ardana, Masyarakat Adat Dalem Tamblingan, Bali, mengeluarkan ceper, anyaman dari janur yang berisi berbagai bunga dari tasnya. Sajen itu dia taruh di depan Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (8/7/26), pasca menyerahkan gugatan permohonan uji materiil (judicial review) Undang-undang 32/2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UU Konservasi ) yang resmi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/ketika-masyarakat-adat-gugat-uu-konservasi-ke-mahkamah-konstitusi/">Ketika Masyarakat Adat Gugat UU Konservasi ke Mahkamah Konstitusi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[I Putu Ardana, Masyarakat Adat Dalem Tamblingan, Bali, mengeluarkan ceper, anyaman dari janur yang berisi berbagai bunga dari tasnya. Sajen itu dia taruh di depan Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (8/7/26), pasca menyerahkan gugatan permohonan uji materiil (judicial review) Undang-undang 32/2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UU Konservasi ) yang resmi teregistrasi dengan nomor perkara 262/PUU/PAN.MK /ARPK/2026. Dia lalu membakar dupa dan mengajak semua orang di sana berdoa berdasarkan kepercayaan masing-masing. Ritual ini, bentuk ketulusan dalam memperjuangkan uji materiil itu. Alasannya mengajukan permohonan karena paradigma konservasi yang dalam UU itu justru membatasi dan meniadakan masyarakat adat. Bahkan, terdapat pasal yang mengancam masyarakat adat, hingga mudah untuk kriminalisasi. Padahal, katanya, setiap komunitas adat mempunyai paradigma konservasi yang lebih komprehensif dan berkesesuaian dengan bentang alam di mana masyarakat adat itu berada. “Itu malah dirusak oleh paradigma konservasi yang dijalankan negara. Sekarang lebih kelihatan dalam UU No 32 Tahun 2024,” katanya. Putu merupakan satu dari tujuh pemohon. Selain itu, ada Herman Sarira, Masyarakat Adat Pali, Tana Toraja, dari Sulawesi Selatan, Rukka Sombolinggi, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Susan Herawati Romica, Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), serta para kuasa hukum. Para pemohon yang berhalangan menyerahkan langsung ke MK antara lain, Maksi Kornelis Liem (Masyarakat Adat Mollo/Mutis, Nusa Tenggara Timur), Rukmini P. Toheke (Masyarakat Adat Ngata Toro, Sulawesi Tengah), dan Bambang Zakariya dari Komunitas Bahari Karimunjawa, Jawa Tengah. Mereka menamakan diri Koalisi untuk Konservasi Berkeadilan. Ritual Ngaturang Pejati setelah Pengajuan permohonan Uji Materiil UU KSDAHE. Foto: Yulia Adiningsih/Mongabay&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/ketika-masyarakat-adat-gugat-uu-konservasi-ke-mahkamah-konstitusi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/15/ketika-masyarakat-adat-gugat-uu-konservasi-ke-mahkamah-konstitusi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 09:23:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/14090910/Orangutan-Sumatera-di-SRA-12-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130571</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, kera besar, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dalam kurun waktu sekitar satu dekade, hutan-hutan di utara Sumatera diperkirakan kehilangan sekitar 2.700 individu orangutan sumatera (Pongo abelii). Jumlah itu, setara hampir seperlima populasi kera besar endemik Pulau Sumatera tersebut. Angka tersebut diperoleh dari survei lapangan menyeluruh periode 2021–2023. Para peneliti menyusuri sekitar 208 sarang orangutan yang mencakup hampir seluruh habitat spesies tersebut di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/">Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dalam kurun waktu sekitar satu dekade, hutan-hutan di utara Sumatera diperkirakan kehilangan sekitar 2.700 individu orangutan sumatera (Pongo abelii). Jumlah itu, setara hampir seperlima populasi kera besar endemik Pulau Sumatera tersebut. Angka tersebut diperoleh dari survei lapangan menyeluruh periode 2021–2023. Para peneliti menyusuri sekitar 208 sarang orangutan yang mencakup hampir seluruh habitat spesies tersebut di Sumatera. Hasil penelitian itu dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional Global Ecology and Conservation berjudul “Population Status of Sumatran and Tapanuli Orangutans: A Comprehensive Assessment 2021–2023” edisi 20 Juni 2026. Riset ini dipimpin Adhi N. Hadi dan Julius P. Siregar, bersama belasan peneliti dari Indonesia, Inggris, dan Jerman. Dengan menggunakan metode yang sama seperti survei 2011, para peneliti menemukan populasi orangutan sumatera menurun sekitar 19,5 persen dalam satu dekade terakhir, atau rata-rata 1,8 persen setiap tahun. Dalam wilayah pembanding yang sama, jumlah orangutan sumatera diperkirakan turun dari sekitar 13.846 individu (2011) menjadi 11.146 individu (2023). Artinya, sedikitnya 2.700 orangutan sumatera hilang dalam periode tersebut, atau rata-rata sekitar 225 individu setiap tahun. “Perbandingan distribusi yang sama menunjukkan penurunan populasi orangutan sumatera sebesar 19,5 persen. Ini setara 1,8 persen per tahun,” tulis Adhi dan kolega dalam laporannya. Di tengah tren penurunan itu, Ekosistem Leuser masih menjadi benteng utama kelangsungan hidup orangutan sumatera. Sekitar 84 persen populasi spesies ini berada di kawasan Leuser Barat dan Leuser Timur, yang masing-masing diperkirakan menampung sekitar 4.935 individu dan 4.926 individu. Kepadatan tertinggi, ditemukan di kawasan rawa gambut Trumon-Singkil, dengan rata-rata 1,18 individu per kilometer persegi. Kondisi ini, menjadikannya sebagai habitat orangutan sumatera&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>9 Orang Tertimbun Longsor di Tambang Emas Ilegal Mandailing Natal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 05:56:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/05/22024852/Penyidik-kepolisian-dari-Polres-Mandailing-olah-TKP-di-lokasi-lubang-tambang-ilegal-menimbun-12-perempuan-pencari-butiran-emas-Ayat-S-Karokaro-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130517</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatara Utara dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Situs penambangan emas ilegal di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut) longsor dan menimbun sembilan orang pekerja, Sabtu (4/7/26). Dua orang meninggal dunia, yakni Erlin Nasution, warga Desa Tarlola dan Zulparman, warga Desa Aek Guo, Kecamatan Kotanopan. Insiden longsor hanya selang sehari setelah tim gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Perindustrian dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/">9 Orang Tertimbun Longsor di Tambang Emas Ilegal Mandailing Natal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Situs penambangan emas ilegal di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut) longsor dan menimbun sembilan orang pekerja, Sabtu (4/7/26). Dua orang meninggal dunia, yakni Erlin Nasution, warga Desa Tarlola dan Zulparman, warga Desa Aek Guo, Kecamatan Kotanopan. Insiden longsor hanya selang sehari setelah tim gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Perindustrian dan perdagangan, serta Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar operasi terpadu. Hingga laporan ini terbit, proses pencarian terhadap korban tersisa masih berlangsung. AKP Tri Boy Alvin Siahaan, Kasat Reskrim Polres Madina Siahaan, mengatakan, tim penyidik dari Satreskrim Polres Madina telah turun untuk amankan lokasi dengan memasang garis polisi. Selain membantu pencarian korban, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. &#8220;Untuk data kronologi lengkapnya masih kami kumpulkan. Beberapa saksi sudah kami mintai keterangan,” katanya Dia katakan, upaya penyelidikan tidak hanya menyangkut kecelakaan kerja yang merenggut korban jiwa juga mendalami aktor yang terlibat dalam penambangan emas tanpa izin  termasuk mencari tahu pemodalnya. “Terhadap dua korban meninggal, sudah berhasil dievakuasi ke rumah sakit. Untuk yang lain masih dalam proses pencarian,” katanya.  Dia bilang, proses pencarian berlangsung sangat hati-hati lantaran kondisi tanah di lokasi  belum stabil. Salah satu lokasi tambang emas ilegal di Madina, Sumatera Utara. Foto: Roby Ayat Karo-karo/Mongabay Indonesia. Bukan pertama kali Longsornya tambang emas ilegal di Madina bukan kali pertama terjadi. Azura Borotan, tim periset dari For Madina, mengatakan,  total ada belasan orang meninggal dunia di lokasi tambang  dalam  Januari 2025-Juli 2026. Beberapa insiden longsor  antara lain,  di Pegunungan Huta Bargot  Januari 2025 ada dua orang jadi &hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tikus Ini Hidup di Ketinggian Ekstrem Nyaris 7.000 Meter, Hidup di Tanah Vulkanik yang Penuh Racun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 05:42:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/14053428/20231020_on_mice_high_altitude_mouse-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130558</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bertahan hidup di ketinggian ekstrem saja sudah cukup berat bagi kebanyakan mamalia, apalagi jika lingkungan tersebut juga menyimpan ancaman lain yang tidak kalah mematikan. Tikus daun Andes (Phyllotis vaccarum) tidak hanya mampu hidup di puncak gunung berapi setinggi hampir 7.000 meter, tempat suhu nyaris selalu berada di bawah titik beku dan oksigen sangat tipis, tikus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/">Tikus Ini Hidup di Ketinggian Ekstrem Nyaris 7.000 Meter, Hidup di Tanah Vulkanik yang Penuh Racun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bertahan hidup di ketinggian ekstrem saja sudah cukup berat bagi kebanyakan mamalia, apalagi jika lingkungan tersebut juga menyimpan ancaman lain yang tidak kalah mematikan. Tikus daun Andes (Phyllotis vaccarum) tidak hanya mampu hidup di puncak gunung berapi setinggi hampir 7.000 meter, tempat suhu nyaris selalu berada di bawah titik beku dan oksigen sangat tipis, tikus ini juga harus bertahan dari racun yang terkandung dalam tanah vulkanik dan tumbuh-tumbuhan di sekitarnya. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Science pada 9 Juli 2026 mengungkap bagaimana mamalia kecil ini menjadi salah satu makhluk paling tangguh di dunia, dengan sebaran hidup terluas dari permukaan laut hingga puncak Andes. Puncak Gunung Berapi Salín (6.029 meter), salah satu lokasi penemuan tikus daun Andes di ketinggian ekstrem. Foto: Jay Storz Populasi tikus daun Andes yang hidup di puncak gunung berapi Llullaillaco, di perbatasan Argentina dan Chili, bertahan pada ketinggian 6.739 meter, tempat tekanan udara hanya 45 kilopascal, setara dengan kadar oksigen sekitar 44 persen dari yang tersedia di permukaan laut. Penelitian yang dipimpin oleh Schuyler Liphardt bersama tim dari University of Nebraska-Lincoln dan sejumlah institusi lain ini menggabungkan eksperimen fisiologis dengan analisis genom untuk memahami mekanisme adaptasi tikus daun Andes. Sebelum temuan ini, ketinggian seperti itu diyakini berada di luar batas kemampuan bertahan hidup mamalia mana pun, bahkan pendaki manusia yang terlatih dan teraklimatisasi hanya sanggup menahan kadar oksigen serendah itu selama pendakian satu hari, bukan untuk hidup menetap. Produksi Panas Tubuh yang Lebih Efisien Tim peneliti menguji kemampuan bernapas dan menghasilkan panas tubuh tikus dari populasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>