<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=ica-wulansari&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/ica-wulansari/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 25 Aug 2026 13:14:09 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Unik, Kadal Afrika Ini Seakan Menggunakan Kostum “Spider-Man”</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/unik-kadal-afrika-ini-seakan-menggunakan-kostum-spider-man/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/unik-kadal-afrika-ini-seakan-menggunakan-kostum-spider-man/#respond</comments>
					<pubDate>25 Agu 2026 13:14:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/06233821/Serengeti_National_Park_03_-_Mwanza_flat-headed_rock_agama_-_Agama_mwanzae-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132377</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kepalanya berwarna merah terang hingga violet, sedangkan tubuh dan ekornya biru tua. Perpaduan warna tersebut membuat Agama mwanzae dikenal sebagai “kadal Spider-Man” karena dianggap menyerupai kostum tokoh superhero populer. Kadal yang juga disebut Mwanza flat-headed rock agama ini hidup di sabana dan ekosistem berbatu Afrika Timur. Persebarannya meliputi Tanzania, Kenya, dan Rwanda. Spesies dari keluarga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/unik-kadal-afrika-ini-seakan-menggunakan-kostum-spider-man/">Unik, Kadal Afrika Ini Seakan Menggunakan Kostum “Spider-Man”</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kepalanya berwarna merah terang hingga violet, sedangkan tubuh dan ekornya biru tua. Perpaduan warna tersebut membuat Agama mwanzae dikenal sebagai “kadal Spider-Man” karena dianggap menyerupai kostum tokoh superhero populer. Kadal yang juga disebut Mwanza flat-headed rock agama ini hidup di sabana dan ekosistem berbatu Afrika Timur. Persebarannya meliputi Tanzania, Kenya, dan Rwanda. Spesies dari keluarga Agamidae ini pertama kali dideskripsikan oleh ahli zoologi Arthur Loveridge pada 1923. Nama “mwanzae” merujuk pada Mwanza di Tanzania, lokasi asal spesimen pertamanya. Namun, warna mencolok itu tidak dimiliki semua individu. Kepala, leher, dan bahu berwarna merah hingga violet hanya terlihat pada pejantan dominan. Betina, pejantan muda, dan pejantan subordinat umumnya berwarna cokelat atau abu-abu dengan pola gelap. Warna redup tersebut membantu mereka menyamarkan tubuh di antara tanah dan bebatuan. Perbedaan fisik antara jantan dan betina disebut dimorfisme seksual. Pada kadal agama, warna pejantan dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan betina atau menghadapi pejantan lain. Warna cerah pejantan teritorial juga dapat meredup menjadi abu-abu ketika merasa terancam atau pada malam hari. Habitat Agama mwanzae berkaitan erat dengan formasi batuan besar bernama kopjes, yang banyak ditemukan di Serengeti dan sabana Afrika Timur. Bebatuan menyediakan tempat terbuka untuk berjemur. Sebagai hewan ektotermik, kadal ini mengandalkan suhu lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya. Karena itu, ia sering terlihat menyerap panas matahari di atas batu pada siang hari. Celah bebatuan juga menjadi tempat berlindung dari predator, suhu tinggi, dan gangguan lainnya. Bentuk kepalanya yang pipih memudahkan kadal bergerak di ruang sempit tersebut. Pejantan memiliki perilaku teritorial. Untuk mempertahankan wilayahnya, ia menggunakan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/unik-kadal-afrika-ini-seakan-menggunakan-kostum-spider-man/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/unik-kadal-afrika-ini-seakan-menggunakan-kostum-spider-man/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Konflik Lahan Masyarakat Adat Anak Tuha dan Perusahaan Sawit Berlarut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/25/ketika-konflik-lahan-masyarakat-adat-anak-tuha-dan-perusahaan-sawit-berlarut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/25/ketika-konflik-lahan-masyarakat-adat-anak-tuha-dan-perusahaan-sawit-berlarut/#respond</comments>
					<pubDate>25 Agu 2026 10:30:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Derri Nugraha*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/24134041/IMG_3994.JPG-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132337</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lampung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Asap membumbung dari tengah perkebunan sawit PT Bumi Sentosa Abadi (BSA), Kecamatan Anak Tuha, Lampung Tengah, Lampung. Malam itu, tujuh bangunan termasuk mess karyawan, kantor, dan gudang, nyaris rata dengan tanah. Sekitar 10  kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil, hingga alat berat, ikut ludes. Api yang berkobar sepanjang malam itu merupakan cermin kekecewaan warga yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/25/ketika-konflik-lahan-masyarakat-adat-anak-tuha-dan-perusahaan-sawit-berlarut/">Ketika Konflik Lahan Masyarakat Adat Anak Tuha dan Perusahaan Sawit Berlarut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Asap membumbung dari tengah perkebunan sawit PT Bumi Sentosa Abadi (BSA), Kecamatan Anak Tuha, Lampung Tengah, Lampung. Malam itu, tujuh bangunan termasuk mess karyawan, kantor, dan gudang, nyaris rata dengan tanah. Sekitar 10  kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil, hingga alat berat, ikut ludes. Api yang berkobar sepanjang malam itu merupakan cermin kekecewaan warga yang sudah berkonflik agraria lebih empat dasawarsa dengan perusahaan. Mereka anggap perusahaan ingkari imbauan yang tersampaikan sebelumnya dalam mediasi bersama aparat dan pemerintah. Salah satu yang membuat warga tersulut adalah aktivitas pemanenan sawit di lahan yang selama ini mereka klaim sebagai tanah adat. Padahal, sebelumnya, warga minta perusahaan menghentikan aktivitas di atas lahan sengketa sampai penyelesaian konflik. Imbauan itu mencakup penghentian pemanenan sawit. Namun, hari itu, warga kembali menemukan aktivitas perusahaan di kebun. Akibatnya, luka lama mereka kembali terbuka. Sebenarnya, akar konflik  bermula pada 1972, ketika  PT Candra Bumi Kota (CBK) hendak menyewa tanah adat Marga Anak Tuha untuk membuka perkebunan tebu. Ketika itu, perusahaan tawarkan ganti rugi tanam tumbuh dan menjanjikan kesejahteraan bagi masyarakat. Namun, mereka ingkar janji. Pada 1990-an, BSA muncul dan mengambil alih hampir 1.000 hektar lahan dengan membeli saham mayoritas CBK. Perusahaan kemudian menanam sawit di atas tanah yang selama beberapa generasi masyarakat kelola.   BSA merupakan anak perusahaan PT Tunas Baru Lampung (TBL), di bawah naungan Sungai Budi Group (SBG), kelompok usaha besar di Indonesia yang bergerak dalam industri dan distribusi produk berbasis pertanian. Afiliasi kelompok usaha ini juga tercatat memiliki sengketa dengan masyarakat di sejumlah wilayah Lampung lainnya,  seperti,  dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/25/ketika-konflik-lahan-masyarakat-adat-anak-tuha-dan-perusahaan-sawit-berlarut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/25/ketika-konflik-lahan-masyarakat-adat-anak-tuha-dan-perusahaan-sawit-berlarut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sedih, Masa Depan Kuskus Papua Terancam Akibat Kepungan Deforestasi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sedih-masa-depan-kuskus-papua-terancam-akibat-kepungan-deforestasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sedih-masa-depan-kuskus-papua-terancam-akibat-kepungan-deforestasi/#respond</comments>
					<pubDate>25 Agu 2026 10:03:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/18022306/Kuskus-totol-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132383</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Video seekor kuskus yang bertahan di antara pepohonan tumbang di Merauke, Papua Selatan, ramai dibagikan di media sosial pada awal Agustus 2026. Dalam rekaman tersebut, satwa berwarna keemasan dengan totol putih terlihat memanjat sisa dahan, sementara alat berat terus membuka kawasan di sekitarnya. Identitas pasti kuskus dalam video itu belum dikonfirmasi lembaga konservasi. Namun, berdasarkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sedih-masa-depan-kuskus-papua-terancam-akibat-kepungan-deforestasi/">Sedih, Masa Depan Kuskus Papua Terancam Akibat Kepungan Deforestasi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Video seekor kuskus yang bertahan di antara pepohonan tumbang di Merauke, Papua Selatan, ramai dibagikan di media sosial pada awal Agustus 2026. Dalam rekaman tersebut, satwa berwarna keemasan dengan totol putih terlihat memanjat sisa dahan, sementara alat berat terus membuka kawasan di sekitarnya. Identitas pasti kuskus dalam video itu belum dikonfirmasi lembaga konservasi. Namun, berdasarkan wilayah persebarannya, satwa tersebut diduga merupakan kuskus totol (Spilocuscus maculatus) atau kuskus timur (Phalanger orientalis). Keduanya tersebar di dataran rendah Papua bagian selatan hingga Papua Nugini. Kuskus merupakan mamalia berkantung atau marsupial yang hidup di kawasan Australasia. Di Indonesia, satwa ini ditemukan di Papua, Maluku, Sulawesi, dan Timor. Meski kerap disangka primata karena bergerak lambat dan memiliki mata besar, kuskus lebih dekat kekerabatannya dengan kanguru dan koala. Wartika Rosa Farida, Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, menjelaskan bahwa warna bulu dapat menjadi salah satu ciri pembeda kuskus. “Kuskus merupakan hewan yang memiliki pola warna bulu berbeda berdasarkan genusnya.” Di Papua terdapat dua genus utama, yaitu Spilocuscus dan Phalanger. Beberapa jenisnya, seperti kuskus Waigeo (Spilocuscus papuensis) dan kuskus hitam (Spilocuscus rufoniger), merupakan satwa endemik Papua. Sebagai satwa arboreal sejati, kuskus menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon. Panjang tubuhnya sekitar 35-45 sentimeter. Cakar yang kuat membantunya mencengkeram, sedangkan ujung ekornya yang tidak berbulu berfungsi seperti tangan kelima untuk bergelantungan dan menjaga keseimbangan. Kuskus merupakan satwa nokturnal dan soliter. Pada siang hari, ia beristirahat di lubang pohon, rimbunan daun, atau cabang kokoh. Ketika malam tiba, kuskus keluar untuk mencari buah, daun, dan bunga. Karena sangat bergantung pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sedih-masa-depan-kuskus-papua-terancam-akibat-kepungan-deforestasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sedih-masa-depan-kuskus-papua-terancam-akibat-kepungan-deforestasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Emas Ilegal Sumatera Barat Ngalir ke Mancanegara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/25/emas-ilegal-sumatera-barat-ngalir-ke-mancanegara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/25/emas-ilegal-sumatera-barat-ngalir-ke-mancanegara/#respond</comments>
					<pubDate>25 Agu 2026 02:29:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indionesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/23150854/Salah-satu-lokasi-tambang-emas-ilegal-di-Nagari-Lubuk-Ulang-Aling-Kabupaten-Solok-Selatan-Novia-Harlina-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132299</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, bisnis dan ekonomi, hutan indonesia, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p> A, warga India, mendekam di balik jeruji besi setelah Polda Sumatera Barat (Sumbar) menangkapnya karena terlibat jual beli emas ilegal, Kamis (20/8/26). Polisi menangkapnya  dan menyita tiga batang emas di Koto Baru. “Dalam penangkapan tersebut, polisi menyita tiga batang emas murni, dua  telepon seluler, satu timbangan digital, uang tunai Rp6.036.100, serta satu unit minibus Nissan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/25/emas-ilegal-sumatera-barat-ngalir-ke-mancanegara/">Emas Ilegal Sumatera Barat Ngalir ke Mancanegara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[ A, warga India, mendekam di balik jeruji besi setelah Polda Sumatera Barat (Sumbar) menangkapnya karena terlibat jual beli emas ilegal, Kamis (20/8/26). Polisi menangkapnya  dan menyita tiga batang emas di Koto Baru. “Dalam penangkapan tersebut, polisi menyita tiga batang emas murni, dua  telepon seluler, satu timbangan digital, uang tunai Rp6.036.100, serta satu unit minibus Nissan X-Trail bernomor polisi BA 1730 HP,” kata  AKBP Okta Rahmansyah, Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumbar, Jumat (21/8/26). Penyidik menduga emas yang tersangka beli berasal dari penambangan emas tanpa izin (peti) di  Kabupaten Sijunjung dan Garabak Data, di  Solok. Melalui perantara kurir, emas ilegal itu mengalir hingga ke Malaysia. Meski begitu, kepada penyidik, A mengaku tak mengetahui identitas sang kurir. Dia hanya mendapat informasi dari seseorang berinisial N bahwa emas yang dia kumpulkan akan kurir ambil. “A tidak mengetahui identitas kurir yang datang untuk mengambil emas tersebut dan hanya mendapat informasi dari N setelah barang yang dipesan telah terkumpul,” ujarnya. Dalam prosesnya, N menugaskan dua hingga tiga kurir untuk mengambil emas dari Indonesia. Para kurir  tidak saling mengenal. “A telah menjalankan bisnis jual beli emas yang kuat dugaan dari pertambangan tanpa izin sejak Maret hingga April 2026. Pada periode tersebut, emas yang dia beli berbentuk emas urai dengan rata-rata pembelian sekitar 40 gram per hari,” katanya. Aksi itu kembali dia lakukan sejak Juli. Kali ini, emas yang dia beli berbentuk batangan dengan rata-rata pembelian sekitar satu kilogram per hari. Okta menyebut, perbuatan A melanggar Pasal 161 Undang-undang Nomor 3/2020 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 4/2009&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/25/emas-ilegal-sumatera-barat-ngalir-ke-mancanegara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/25/emas-ilegal-sumatera-barat-ngalir-ke-mancanegara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Ular Tanah Bertahan Tanpa Bergerak Berminggu-minggu Sambil Menyamar Sempurna</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/25/bagaimana-ular-tanah-bertahan-tanpa-bergerak-berminggu-minggu-sambil-menyamar-sempurna/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/25/bagaimana-ular-tanah-bertahan-tanpa-bergerak-berminggu-minggu-sambil-menyamar-sempurna/#respond</comments>
					<pubDate>25 Agu 2026 01:49:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/25014709/21615392263_cccb54c14c_b-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132355</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara berbagai ular berbisa yang hidup di hutan tropis Asia Tenggara, ada yang bertahan hidup bukan dengan mengejar mangsa, melainkan dengan tetap diam dan menyatu dengan lingkungannya. Strategi ini mengandalkan kombinasi warna tubuh, tekstur kulit, dan cara kerja tubuh yang hemat energi, sehingga ular dapat menunggu dalam waktu lama tanpa harus banyak bergerak. Ular [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/25/bagaimana-ular-tanah-bertahan-tanpa-bergerak-berminggu-minggu-sambil-menyamar-sempurna/">Bagaimana Ular Tanah Bertahan Tanpa Bergerak Berminggu-minggu Sambil Menyamar Sempurna</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara berbagai ular berbisa yang hidup di hutan tropis Asia Tenggara, ada yang bertahan hidup bukan dengan mengejar mangsa, melainkan dengan tetap diam dan menyatu dengan lingkungannya. Strategi ini mengandalkan kombinasi warna tubuh, tekstur kulit, dan cara kerja tubuh yang hemat energi, sehingga ular dapat menunggu dalam waktu lama tanpa harus banyak bergerak. Ular tanah (Calloselasma rhodostoma) adalah salah satu ular berbisa yang mengandalkan kamuflase sebagai cara utama bertahan hidup di lantai hutan tropis Asia Tenggara. Spesies ini tersebar di sejumlah wilayah termasuk Thailand, Kamboja, Vietnam, Malaysia, dan sebagian Indonesia, terutama di kawasan hutan dataran rendah dan perkebunan yang lembap. Alih-alih aktif berburu, ular ini dapat diam di satu titik selama berminggu-minggu, melingkar di antara serasah daun kering sambil menunggu mangsa mendekat. Kombinasi warna tubuh, tekstur sisik, dan cara ular ini menghemat energi menjadikannya salah satu pemburu penunggu paling efektif di antara ular berbisa di kawasan ini. Kamuflase dan Cara Bertahan Tanpa Banyak Bergerak Warna tubuh C. rhodostoma membantu memecah bentuk tubuhnya sehingga sulit dikenali. Motif segitiga cokelat tua yang tersusun rapi di sepanjang punggungnya membuat siluetnya menyatu dengan tumpukan daun kering di lantai hutan. Tekstur sisiknya juga berperan. Berbeda dari ular pohon yang sisiknya licin dan memantulkan cahaya, sisik ular tanah lebih kasar dan tidak mengkilap, sehingga tidak memantulkan sinar yang bisa membocorkan posisinya. Ular ini juga hemat energi. Selama berpuasa menunggu mangsa, sejumlah organ dalamnya seperti usus dan hati mengecil sementara dan aliran darah ke organ tersebut berkurang, sehingga kebutuhan energinya turun. Pola semacam ini pernah tercatat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/25/bagaimana-ular-tanah-bertahan-tanpa-bergerak-berminggu-minggu-sambil-menyamar-sempurna/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/25/bagaimana-ular-tanah-bertahan-tanpa-bergerak-berminggu-minggu-sambil-menyamar-sempurna/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belajar dari Gempa NTT, Ancaman Geologi Minim Mitigasi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/24/belajar-dari-gempa-ntt-ancaman-geologi-minim-mitigasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/24/belajar-dari-gempa-ntt-ancaman-geologi-minim-mitigasi/#respond</comments>
					<pubDate>24 Agu 2026 16:28:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22092014/WhatsApp-Image-2026-08-21-at-19.02.25-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132258</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lebih sepekan gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) berkekuatan magnitudo 7,7 berlalu. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai mengalihkan fokus dari operasi pencarian dan penyelamatan pada penanganan dan pemenuhan kebutuhan dasar  para penyintas. Hingga Jumat (21/8/26) pukul 17.00, data korban dari BNPB, 83 orang meninggal dunia, 986 luka-luka. sekitar 110.785 warga mengungsi, sembilan kabupaten dan satu kota [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/24/belajar-dari-gempa-ntt-ancaman-geologi-minim-mitigasi/">Belajar dari Gempa NTT, Ancaman Geologi Minim Mitigasi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lebih sepekan gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) berkekuatan magnitudo 7,7 berlalu. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai mengalihkan fokus dari operasi pencarian dan penyelamatan pada penanganan dan pemenuhan kebutuhan dasar  para penyintas. Hingga Jumat (21/8/26) pukul 17.00, data korban dari BNPB, 83 orang meninggal dunia, 986 luka-luka. sekitar 110.785 warga mengungsi, sembilan kabupaten dan satu kota terdampak. “Seiring terbukanya akses menuju sejumlah wilayah yang sebelumnya terisolasi, proses pendataan korban masih terus berlangsung,” tulis BNPB dalam keterangannya. Selain korban jiwa dan luka, 45.006 rumah rusak,  17.175 rusak berat, 9.818 rusak sedang, dan 18.013 rusak ringan. Gempa juga merusak 502 fasilitas pendidikan, 264 fasilitas kesehatan, 300 rumah ibadah, dan 339 gedung perkantoran. Kemudian, satu gudang Bulog, satu pasar, 38 fasilitas umum, 15 fasilitas air bersih, 68 titik jalan, dan 25 jembatan di berbagai wilayah terdampak. Bersama kementerian terkait, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan berbagai organisasi kemanusiaan, BNPB terus mendistribusikan bantuan logistik ke puluhan titik pengungsian. Badan ini  memusatkan penanganan pada penyediaan pangan, layanan kesehatan, air bersih, hunian darurat, serta percepatan pemulihan jalan, jaringan listrik, komunikasi, dan infrastruktur dasar. Untuk menjangkau wilayah yang masih terisolasi akibat longsor, BNPB juga mengerahkan distribusi bantuan melalui jalur darat, laut, dan udara, termasuk dengan dukungan helikopter serta kapal logistik. Kendaraan double cabin milik Basarnas Kota Ende mengantarkan barang bantuan logistik dan peralatan ke Desa Jegharangga dari Kantor BPBD Kabupaten Ende, Kota Ende, Nusa Tenggara Barat, Jumat (21/8). Foto: BNPB. Perbedaan dengan tsunami 1992 Selain sebabkan kerusakan bangunan dan infrastruktur, gempa juga sempat memicu peringatan dini tsunami. Badan Meteorologi, Klimatologi,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/24/belajar-dari-gempa-ntt-ancaman-geologi-minim-mitigasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/24/belajar-dari-gempa-ntt-ancaman-geologi-minim-mitigasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Babi Kutil Jawa Terancam Punah, Mengapa Belum Dilindungi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/babi-kutil-jawa-terancam-punah-mengapa-belum-dilindungi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/babi-kutil-jawa-terancam-punah-mengapa-belum-dilindungi/#respond</comments>
					<pubDate>24 Agu 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/21105703/Babikutil.jpg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132317</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, jawa timur, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Babi kutil jawa bukan sekadar babi hutan biasa. Satwa bernama ilmiah Sus verrucosus ini merupakan satu dari tujuh spesies babi endemik Indonesia. Persebarannya terbatas di Pulau Jawa sehingga keberadaannya tidak dapat ditemukan secara alami di tempat lain. Secara fisik, babi kutil jawa memiliki tubuh dan tulang lebih besar. Kepalanya besar dan berat, wajahnya memanjang, serta [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/babi-kutil-jawa-terancam-punah-mengapa-belum-dilindungi/">Babi Kutil Jawa Terancam Punah, Mengapa Belum Dilindungi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Babi kutil jawa bukan sekadar babi hutan biasa. Satwa bernama ilmiah Sus verrucosus ini merupakan satu dari tujuh spesies babi endemik Indonesia. Persebarannya terbatas di Pulau Jawa sehingga keberadaannya tidak dapat ditemukan secara alami di tempat lain. Secara fisik, babi kutil jawa memiliki tubuh dan tulang lebih besar. Kepalanya besar dan berat, wajahnya memanjang, serta telinganya lebar. Rambut panjang menyerupai surai tumbuh dari tengkuk hingga bagian belakang tubuh. Kakinya relatif ramping, sementara ekornya panjang dengan sedikit rambut di ujungnya. Satwa ini menghuni hutan sekunder pada ketinggian kurang dari 800 meter. Babi kutil jawa juga dapat ditemukan di hutan dataran rendah, perkebunan, semak belukar, dan hutan jati. Namun, perubahan kawasan menjadi lahan pertanian telah mengurangi banyak habitat alaminya. Di alam, babi kutil jawa memiliki peran penting. Aktivitasnya membantu menggemburkan tanah dan menyebarkan biji tumbuhan. Peran tersebut dapat mendukung pemulihan lahan yang rusak serta menjaga regenerasi pohon. Jika populasinya terus berkurang, keseimbangan ekosistem tempat satwa ini hidup juga dapat terganggu. Keberadaannya kini semakin mengkhawatirkan. Uni Internasional untuk Konservasi Alam atau IUCN memasukkan babi kutil jawa dalam kategori terancam punah. Populasinya terus menurun akibat perburuan ilegal dan hilangnya habitat. Jumlahnya di alam belum diketahui secara pasti. Di Taman Nasional Baluran, babi kutil jawa semakin sulit ditemukan sejak tahun 2000-an dan dianggap telah punah secara lokal. Upaya pemulihan dilakukan sejak 2018 melalui penyelamatan dan pelepasliaran. Namun, kematian janin menjadi salah satu kendala dalam pengembangbiakannya. Selain daya reproduksi yang rendah dan sifatnya yang soliter, babi kutil jawa menghadapi sedikitnya enam ancaman utama. Ancaman itu mencakup&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/babi-kutil-jawa-terancam-punah-mengapa-belum-dilindungi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/babi-kutil-jawa-terancam-punah-mengapa-belum-dilindungi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Kakatua, Apakah Ada Hubungannya dengan Burung Kakatua?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/24/ikan-kakatua-apakah-ada-hubungannya-dengan-burung-kakatua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/24/ikan-kakatua-apakah-ada-hubungannya-dengan-burung-kakatua/#respond</comments>
					<pubDate>24 Agu 2026 07:51:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/11/21235134/perempuan-nelayan-gurita-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132333</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kakatua bukan hanya nama jenis burung, tapi juga ada pada spesies ikan. Jenis ini dinamakan kakatua karena mulutnya mirip dengan paruh burung kakatua. Ikan kakatua merupakan spesies penting yang ikut mengendalikan kesehatan terumbu karang dunia. Kehadirannya membantu terumbu karang tetap sehat untuk mendukung keberlanjutan ekosistem lautan. Parrotfish, nama populer ikan tersebut, juga menjadi bagian penting [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/24/ikan-kakatua-apakah-ada-hubungannya-dengan-burung-kakatua/">Ikan Kakatua, Apakah Ada Hubungannya dengan Burung Kakatua?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kakatua bukan hanya nama jenis burung, tapi juga ada pada spesies ikan. Jenis ini dinamakan kakatua karena mulutnya mirip dengan paruh burung kakatua. Ikan kakatua merupakan spesies penting yang ikut mengendalikan kesehatan terumbu karang dunia. Kehadirannya membantu terumbu karang tetap sehat untuk mendukung keberlanjutan ekosistem lautan. Parrotfish, nama populer ikan tersebut, juga menjadi bagian penting laut Indonesia yang diapit dua samudera dan sekaligus pusat segitiga terumbu karang dunia. Diperkirakan, sedikitnya ada 30 jenis ikan kakatua yang hidup di perairan Indonesia hingga kini. Ikan tersebut memiliki kebiasaan unik saat mencari makan, yaitu dengan menggigit dan menghancurkan sebagian matriks kapur. Namun, cara itu bukan untuk memakan terumbu karang, melainkan mencari alga dan mikroorganisme yang menempel pada karang. Adriani Sunuddin, Pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, bahkan menyebut ikan yang masuk famili Scaridae itu, sebagai insinyur pada ekosistem terumbu karang. Sebutan yang benar adanya. Selain sebagai pengendali pertumbuhan alga di permukaan karang, ia membantu pembentukan pasir laut melalui proses pencernaan fragmen karang mati, dan menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang, sehingga pemulihan menjadi lebih cepat saat ada gangguan. “Aktivitas mengikis maupun mengunyah karang memberikan manfaat ekologis jauh lebih besar dibandingkan kerusakan fisik yang ditimbulkan,” ucapnya dilansir portal resmi IPB University, Minggu (31/7/26). Kakatua yang berperan menjadi pengikis, melakukan pencegahan alga agar tidak mendominasi permukaan terumbu karang. Jika itu terjadi, maka larva atau anakan karang akan mendapatkan ruang lebih luas untuk bisa menempel dan tumbuh menjadi koloni baru. Sementara untuk pengeruk, itu adalah tugas yang bertujuan untuk meluaskan sebaran fragmen karang atau alga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/24/ikan-kakatua-apakah-ada-hubungannya-dengan-burung-kakatua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/24/ikan-kakatua-apakah-ada-hubungannya-dengan-burung-kakatua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat, Waswas di Tanah Leluhur, Keadilan Senyap</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/24/masyarakat-adat-waswas-di-tanah-leluhur-keadilan-senyap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/24/masyarakat-adat-waswas-di-tanah-leluhur-keadilan-senyap/#respond</comments>
					<pubDate>24 Agu 2026 06:19:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/20232543/Papua-Pusaka-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132326</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Jerat hukum masyarakat adat maupun komunitas lokal kerap jadi alat membungkam upaya mereka menjaga dan mempertahankan tanah dan lingkungan. Kasus terjadi di berbagai penjuru negeri. Salah satu di Sagea-Kiya di Halmahera Tengah, Maluku Utara, masyarakat berhadapan dengan perusahaan tambang nikel. Sebanyak 14 orang berhadapan dengan hukum, enam adalah perempuan. Mereka terjerat Pasal 162 UU [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/24/masyarakat-adat-waswas-di-tanah-leluhur-keadilan-senyap/">Masyarakat Adat, Waswas di Tanah Leluhur, Keadilan Senyap</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Jerat hukum masyarakat adat maupun komunitas lokal kerap jadi alat membungkam upaya mereka menjaga dan mempertahankan tanah dan lingkungan. Kasus terjadi di berbagai penjuru negeri. Salah satu di Sagea-Kiya di Halmahera Tengah, Maluku Utara, masyarakat berhadapan dengan perusahaan tambang nikel. Sebanyak 14 orang berhadapan dengan hukum, enam adalah perempuan. Mereka terjerat Pasal 162 UU Nomor 3/2020 dan aturan perubahan soal Pertambangan Mineral dan Batubara setelah menghadang aktivitas tambang PT Zhong Hai Rare Metal Mining Indonesia. Rifya Rusdi, perempuan Sagea-Kiya—satu dari 14 warga&#8211; mengatakan, dampak tambang mencemari lingkungan mereka. Hutan rusak, sungai-sungai utama, termasuk Sungai Kobe, menjadi keruh kecoklatan. Masyarakat protes karena Sagea bukan sekadar aset ekonomi, melainkan fondasi kehidupan. &#8220;Sagea itu bukan hanya sebatas kampung atau desa, tapi di sana tempat kehidupan kami. Sudah seperti ibu yang menghidupi masyarakat,” katanya kepada Mongabay Sabtu, (8/8/26). Di Sikka, Nusa Tenggara Timur, Masyarakat Adat Suku Soge Natarmage dan Goban Runut alami nasib tak jauh beda.  Masyarakat Sub Suku Tana Ai ini juga berhadapan dengan jerat hukum. Ada yang sudah vonis, ada yang masih proses hukum. Di Ketapang, Kalimantan Barat, Tarsisius Fendy Sesupi, Kepala Adat Dusun Lelayang juga alami masalah hukum. Pada Desember 2025 jadi tersangka atas tuduhan pemerasan dengan kekerasan atau ancaman setelah denda adat kepada perusahaan hutan tanaman industri, PT Mayawana Persada. Masyarakat sejak lama suarakan protes dan penolakan bahkan, berulang kali berurusan dengan aparat. Sejumlah juga warga alami kriminalisasi sebelum Fendy. “Semangat kami mempertahankan adat dan budaya tidak akan pudar. Kami tidak bergantung kepada perusahaan, kami bergantung kepada alam. Kalau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/24/masyarakat-adat-waswas-di-tanah-leluhur-keadilan-senyap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/24/masyarakat-adat-waswas-di-tanah-leluhur-keadilan-senyap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ghost Gear, Ancaman Senyap Ekosistem Laut Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ghost-gear-ancaman-senyap-ekosistem-laut-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ghost-gear-ancaman-senyap-ekosistem-laut-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>24 Agu 2026 03:30:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/10/21235750/Nelayan1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132315</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, jakarta, jawa, Kelautan perikanan, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sampah plastik bukan satu-satunya ancaman bagi laut Indonesia. Alat penangkapan ikan yang hilang, ditinggalkan, atau sengaja dibuang juga dapat terus menjerat satwa meski tidak lagi digunakan nelayan. Sampah yang dikenal sebagai Abandoned, Lost, or Otherwise Discarded Fishing Gear (ALDFG) atau ghost gear ini dapat merusak habitat dan membunuh berbagai satwa laut. Pengelolaannya menjadi tantangan karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ghost-gear-ancaman-senyap-ekosistem-laut-indonesia/">Ghost Gear, Ancaman Senyap Ekosistem Laut Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sampah plastik bukan satu-satunya ancaman bagi laut Indonesia. Alat penangkapan ikan yang hilang, ditinggalkan, atau sengaja dibuang juga dapat terus menjerat satwa meski tidak lagi digunakan nelayan. Sampah yang dikenal sebagai Abandoned, Lost, or Otherwise Discarded Fishing Gear (ALDFG) atau ghost gear ini dapat merusak habitat dan membunuh berbagai satwa laut. Pengelolaannya menjadi tantangan karena sekitar 90 persen nelayan Indonesia merupakan nelayan kecil. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2024 mencatat jumlah mereka mencapai 2,91 juta orang, sedangkan nelayan bukan skala kecil sekitar 323 ribu orang. Salah satu alat tangkap yang berisiko tinggi menjadi sampah laut adalah gillnet atau jaring insang. Alat ini lazim digunakan nelayan kecil dengan kapal berukuran kurang dari lima gros ton untuk menangkap rajungan dan tongkol. Jaring tersebut dibentangkan seperti dinding vertikal. Bagian atasnya dibuat mengapung, sedangkan bagian bawah diberi pemberat. Ikan yang berenang melewati mata jaring akan terjerat pada insang atau tubuhnya. Ketika hilang atau dibuang ke laut, jaring dapat terus menangkap ikan dan satwa lain tanpa terkendali. Masa pakai gillnet juga relatif singkat. Jaring untuk menangkap tongkol, misalnya, perlu diganti setelah digunakan paling lama dua bulan. Diperkirakan terdapat sekitar 18.206 ton gillnet yang harus diganti setiap tahun. Tanpa sistem pengumpulan yang memadai, alat tangkap bekas tersebut berpotensi menjadi sampah laut. Salah satu upaya penanganannya dilakukan melalui program Net Free Seas. Pada fase pertama sepanjang 2023–2025, program ini mengumpulkan dan mendaur ulang 10 ton sampah alat tangkap di Indonesia. Nelayan dari Pemalang, Pangandaran, dan Cilincing terlibat karena lokasinya relatif dekat dengan pabrik daur ulang di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ghost-gear-ancaman-senyap-ekosistem-laut-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ghost-gear-ancaman-senyap-ekosistem-laut-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Warga Kembali Gugat Izin Lingkungan Tambang Seng Dairi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/24/ketika-warga-kembali-gugat-izin-lingkungan-tambang-seng-dairi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/24/ketika-warga-kembali-gugat-izin-lingkungan-tambang-seng-dairi/#respond</comments>
					<pubDate>24 Agu 2026 02:30:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/07/22012255/Dairi-Ajun-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132288</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Putusan hukum tertinggi di negeri ini seolah tak berarti. Gugatan warga Dairi kepada pemerintah sudah berkekuatan hukum tetap, tetapi keluar izin lingkungan lagi. Penerbitan izin lingkungan baru oleh Kementerian Lingkungan Hidup untuk perusahaan tambang, PT Dairi Prima Mineral (DPM) ini pun kembali warga gugat  ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, bulan lalu. Gugatan warga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/24/ketika-warga-kembali-gugat-izin-lingkungan-tambang-seng-dairi/">Ketika Warga Kembali Gugat Izin Lingkungan Tambang Seng Dairi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Putusan hukum tertinggi di negeri ini seolah tak berarti. Gugatan warga Dairi kepada pemerintah sudah berkekuatan hukum tetap, tetapi keluar izin lingkungan lagi. Penerbitan izin lingkungan baru oleh Kementerian Lingkungan Hidup untuk perusahaan tambang, PT Dairi Prima Mineral (DPM) ini pun kembali warga gugat  ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, bulan lalu. Gugatan warga dengan nomor perkara 271/G/LH/2026/PTUN.JKT itu menuntut pembatalan izin karena sudah ada putusan Mahkamah Agung (MA) 2024 yang membatalkan izin yang sama. Nurleli Sihotang, kuasa hukum warga sekaligus Koordinator Divisi Bantuan Hukum Perhimpunan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Sumut (Bakumsu) menjelaskan, putusan Mahkamah Agung pada 2024 tetap berlaku saat izin baru terbit, Maret 2026. Aturan tata ruang tidak berubah, namun kementerian menerbitkan izin baru seolah-olah putusan tertinggi itu tidak pernah ada. Warga, katanya, menilai izin baru itu tidak menyelesaikan persoalan hukum dan teknis yang  mereka adukan sebelumnya. Perusahaan juga gagal melakukan konsultasi bermakna kepada warga terkait perubahan desain proyek yang jauh lebih besar dan berisiko. Marlince Sinambela sedang memetik daun gambir. Foto: Irfan Maulana/Monhgabay Indonesia Secara spesifik, gugatan menyatakan penerbitan izin terbaru adalah tindakan melanggar hukum. Izin baru itu berdasarkan klaim perusahaan yang menyatakan akan timbun seluruh limbah tambang ke bawah tanah. hingga tidak perlu membangun fasilitas penampungan limbah di permukaan. Dalam dokumen pengajuan izin lingkungan hidup yang baru kepada pemerintah, perusahaan mengklaim akan menimbun kembali 100% limbah ke dalam lubang tambang melalui metode penimbunan pasta semen dan menyebut proyek bebas limbah tambang. Namun, Steven Emerman, pakar hidrologi tambang, menyatakan,  maksimal hanya 50-60% limbah bisa kembali &hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/24/ketika-warga-kembali-gugat-izin-lingkungan-tambang-seng-dairi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/24/ketika-warga-kembali-gugat-izin-lingkungan-tambang-seng-dairi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kawin Silang Kucing Hutan dengan Kucing Domestik Bisa Bawa Penyakit ke Alam Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik-bisa-bawa-penyakit-ke-alam-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik-bisa-bawa-penyakit-ke-alam-liar/#respond</comments>
					<pubDate>23 Agu 2026 13:00:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/19150355/Kucing-Kuwuk-di-Ujung-Kulon-Dok_-Uci-Sanusi_YIARI5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132294</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Video kucing berbintik yang berinteraksi dengan kucing peliharaan sering mengundang kekaguman di media sosial. Sebagian warganet bahkan berharap dapat memiliki anak hasil persilangan keduanya. Namun, bagi ilmuwan konservasi, perkawinan itu bukan sekadar peristiwa menggemaskan. Proses tersebut disebut hibridisasi, yaitu kawin silang antara satwa dari jenis berbeda. Jika terjadi tanpa kendali, hibridisasi dapat mengikis identitas genetik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik-bisa-bawa-penyakit-ke-alam-liar/">Kawin Silang Kucing Hutan dengan Kucing Domestik Bisa Bawa Penyakit ke Alam Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Video kucing berbintik yang berinteraksi dengan kucing peliharaan sering mengundang kekaguman di media sosial. Sebagian warganet bahkan berharap dapat memiliki anak hasil persilangan keduanya. Namun, bagi ilmuwan konservasi, perkawinan itu bukan sekadar peristiwa menggemaskan. Proses tersebut disebut hibridisasi, yaitu kawin silang antara satwa dari jenis berbeda. Jika terjadi tanpa kendali, hibridisasi dapat mengikis identitas genetik satwa liar dan membuka jalan bagi penularan penyakit. Di Indonesia, salah satu satwa yang rentan adalah kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus javanensis). Felid berukuran kecil ini hidup di sawah, pinggiran hutan, kawasan agroforestri, hingga perkebunan sawit. Ukuran tubuhnya hampir sama dengan kucing peliharaan. Karena itu, kucing kuwuk sering disangka kucing kampung, meskipun bulunya memiliki pola bintik cokelat. Padahal, satwa ini dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018. Erwin Wilianto, pendiri Yayasan Sintas Indonesia, menuturkan hibridisasi yang melibatkan satwa liar dilindungi merupakan tindakan ilegal. Persilangan dapat merusak kemurnian genetik, memengaruhi kesuburan keturunan, melemahkan kekebalan tubuh, atau menimbulkan kecacatan. Secara alami, kucing liar cenderung menghindari perkawinan dengan jenis lain. Jika perilakunya telah berubah akibat campur tangan manusia, satwa tersebut juga semakin sulit dikembalikan ke alam. Ancaman lain muncul melalui kontak langsung dengan kucing domestik. Kucing peliharaan dapat membawa penyakit atau menjadi perantara patogen yang sebelumnya tidak ditemukan di alam. Sistem kekebalan kucing hutan berbeda sehingga paparan tersebut dapat membahayakan kesehatannya. Risiko ini terlihat dalam penelitian University of Edinburgh yang diterbitkan pada 2023. Peneliti memeriksa 120 kucing liar di enam kawasan prioritas konservasi Skotlandia Utara selama 2015–2019. Hasilnya, sedikitnya 11 agen infeksius&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik-bisa-bawa-penyakit-ke-alam-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik-bisa-bawa-penyakit-ke-alam-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jerit Nelayan Anambas Hadapi Kapal Ikan Asing</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/23/jerit-nelayan-anambas-hadapi-kapal-ikan-asing/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/23/jerit-nelayan-anambas-hadapi-kapal-ikan-asing/#respond</comments>
					<pubDate>23 Agu 2026 10:40:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/13074823/WhatsApp-Image-2025-11-09-at-11.37.49-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132250</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yupin bersiap menurunkan pancing ulurnya di perairan  Anambas, Kepulauan Riau, Kamis siang (16/8/26). Dari kejauhan dia  melihat dua pasang kapal ikan asing Vietnam tengah bergerak melakukan aktivitas penangkapan ikan. Melihat itu, Yupin pilih membatalkan niatnya. Dia tarik jangkar dan bergeser untuk mencari fishing ground lain. “Kalau tidak pindah risiko jangkar bisa nyangkut di jaring kapal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/23/jerit-nelayan-anambas-hadapi-kapal-ikan-asing/">Jerit Nelayan Anambas Hadapi Kapal Ikan Asing</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yupin bersiap menurunkan pancing ulurnya di perairan  Anambas, Kepulauan Riau, Kamis siang (16/8/26). Dari kejauhan dia  melihat dua pasang kapal ikan asing Vietnam tengah bergerak melakukan aktivitas penangkapan ikan. Melihat itu, Yupin pilih membatalkan niatnya. Dia tarik jangkar dan bergeser untuk mencari fishing ground lain. “Kalau tidak pindah risiko jangkar bisa nyangkut di jaring kapal trawl mereka, karena kawan saya sudah ada pernah kena, terseret jaring mereka,” kata nelayan Palmatak, Kabupaten Anambas itu. Bagi nelayan seperti Yupin, kehadiran kapal Vietnam adalah momok. Bukan hanya aktivitasnya yang ‘mengobok-ngobok’ wilayah tangkap mereka, tetapi juga alat penangkapan ikan (API) yang mereka gunakan, yakni trawl. Penggunaan API  adalah dengan menariknya menggunakan dua kapal. Dengan begitu, jaring trawl yang berukuran besar menyapu dasar laut. “&#8221;Makanya, kami harus menghindar, kalau tidak habislah disikat mereka pakai jaring trawl,” kata Yupin bercerita ke Mongabay, Sabtu (15/8/26). Pertemuannya dengan kapal Vietnam itu berada di koordinat 04°33&#8217;56.0&#8243;N, 106°52&#8217;23.2&#8243;E yang merupakan teritorial Indonesia. Dari Pulau Anambas, jaraknya sekitar 80 mil. “Itu kejadian siang, malam juga saya bertemu dengan mereka. Siang malam mereka kerja,” katanya. Bagi Yupin, kehadiran kapal asing itu membuat nelayan Anambas tak merasa tenang untuk beraktivitas. “Jadi kita melaut sekarang seperti dikejar-kejar, pas kita mancing, disitu mereka ada juga. Kita terpaksa menghindarlah.&#8221; ABK Vietnam saat digiring di pangakalan PSDKP Batam. Foto Yogi Eka Sahputra Pengawasan lemah? Bagi Yupin, intrusi kapal asing terjadi hampir sepanjang tahun dan memiliki sejumlah rekaman atas keberadaan mereka. Dia pun mengaku telah meneruskan informasi itu ke pemerintah tetapi sejauh ini tidak ada respons berarti. “Jadi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/23/jerit-nelayan-anambas-hadapi-kapal-ikan-asing/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/23/jerit-nelayan-anambas-hadapi-kapal-ikan-asing/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>30 Tahun Dokter Hewan Ini Menyelamatkan Satwa Liar di Hutan Leuser</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/30-tahun-dokter-hewan-ini-menyelamatkan-satwa-liar-di-hutan-leuser/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/30-tahun-dokter-hewan-ini-menyelamatkan-satwa-liar-di-hutan-leuser/#respond</comments>
					<pubDate>23 Agu 2026 10:15:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/15074239/Anhar1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132044</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, sumatera, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada 18 Juni 2019, pukul 15.00 WIB, Anhar Lubis menemukan seekor anak gajah sumatera betina bernama Salma di dalam goa. Enam jam sebelumnya, dia bersama Tim Perlindungan Satwa Liar Forum Konservasi Leuser berjalan menyusuri hutan Gampong Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur. Kondisi Salma memprihatinkan. Kaki kiri depannya hampir putus akibat jerat kawat baja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/30-tahun-dokter-hewan-ini-menyelamatkan-satwa-liar-di-hutan-leuser/">30 Tahun Dokter Hewan Ini Menyelamatkan Satwa Liar di Hutan Leuser</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada 18 Juni 2019, pukul 15.00 WIB, Anhar Lubis menemukan seekor anak gajah sumatera betina bernama Salma di dalam goa. Enam jam sebelumnya, dia bersama Tim Perlindungan Satwa Liar Forum Konservasi Leuser berjalan menyusuri hutan Gampong Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur. Kondisi Salma memprihatinkan. Kaki kiri depannya hampir putus akibat jerat kawat baja pemburu. Tubuhnya mengalami dehidrasi berat dan sulit bergerak. Selama lebih dari dua jam, Anhar dan tim berusaha menariknya keluar dari gua. Pertolongan pertama segera diberikan. Namun, mereka masih harus menggiring Salma keluar dari hutan menuju Conservation Response Unit Serbajadi. Proses itu baru dapat dilakukan sekitar pukul 03.00 WIB. Meski telah dirawat intensif, nyawa Salma akhirnya tidak dapat diselamatkan. Bagi Anhar, menemukan satwa liar dalam kondisi terluka bukan pengalaman baru. Sekitar 30 tahun hidupnya dihabiskan untuk merawat satwa, terutama gajah sumatera. Anhar lahir di Meulaboh, Aceh Barat, pada September 1968. Sejak kecil, dia terbiasa melihat satwa liar di sekitar Hutan Ulu Masen. Ia meraih gelar dokter hewan dari Universitas Syiah Kuala pada 1996, kemudian memulai kariernya di Medan Zoo pada tahun yang sama. Kebun binatang menjadi tempatnya mempelajari anatomi, perilaku, dan psikologi berbagai satwa. Pada 2001, ia bergabung dengan Sumatran Orangutan Conservation Programme dan merawat orangutan korban perburuan serta perdagangan. Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa menyelamatkan satwa bukan hanya soal mengobati luka fisik. Satwa yang pernah disakiti manusia juga dapat mengalami trauma dan membutuhkan waktu untuk membangun kembali kepercayaan. Sejak 2006, Anhar menjadi dokter hewan utama dalam Program Perawatan Kesehatan Gajah yang dijalankan Vesswic. Ia berkeliling Sumatera&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/30-tahun-dokter-hewan-ini-menyelamatkan-satwa-liar-di-hutan-leuser/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/30-tahun-dokter-hewan-ini-menyelamatkan-satwa-liar-di-hutan-leuser/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mempertanyakan Keseriusan Pemerintah Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/23/mempertanyakan-keseriusan-pemerintah-antisipasi-kebakaran-hutan-dan-lahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/23/mempertanyakan-keseriusan-pemerintah-antisipasi-kebakaran-hutan-dan-lahan/#respond</comments>
					<pubDate>23 Agu 2026 06:20:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22133501/Kebakaran-hutan-dan-lahan-karhutla-Foto-milik-Greenpeace-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132270</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) makin menggila terutama di berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan Barat,  Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, maupun Sumatera Selatan. Badan Nasioan Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan, penanganan karhutla menjadi prioritas pemerintah saat ini, termasuk di Kalimantan yang merupakan zona terparah. BNPB menyebut, hingga Jumat (21/8/26), karhutla di Kalimantan terdeteksi terjadi di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/23/mempertanyakan-keseriusan-pemerintah-antisipasi-kebakaran-hutan-dan-lahan/">Mempertanyakan Keseriusan Pemerintah Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) makin menggila terutama di berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan Barat,  Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, maupun Sumatera Selatan. Badan Nasioan Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan, penanganan karhutla menjadi prioritas pemerintah saat ini, termasuk di Kalimantan yang merupakan zona terparah. BNPB menyebut, hingga Jumat (21/8/26), karhutla di Kalimantan terdeteksi terjadi di sembilan wilayah, yakni,  Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan Balangan dengan total area terbakar capai 595 hektar. Wilayah dengan estimasi luasan terbesar berada di Kabupaten Banjar sekitar 174 hektar, Kabupaten Tanah Laut 107 hektar, Kabupaten Barito Kuala 96 hektar, dan Kabupaten Tapin 85 hektar. Selain darat, BNPB siagakan armada udara di Lanud Sjamsudin Noor berupa dua unit patroli udara dan tiga  helikopter water bombing. Operasi water-bombing menggunakan tiga helikopter jenis AS 322C1 Super Puma, M18-AMT dan Sikorsky Black Hawk dengan lebih dari 1,5 juta liter air. Kobaran api muncul di tengah hamparan lahan kosong di kawasan Awang Peramuan, Kelurahan Landasan Ulin Tengah, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Rabu (22/7/26). Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia. &nbsp; Tak serius? Sejumlah kalangan menilai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua tak sekadar soal cuaca tetapi cerminan atas buruknya tata kelola sumber daya alam (SDA). Ironisnya, kendati sudah menjadi bencana tahunan, pemerintah terkesan tak serius melakukan antisipasi. Hasil pantauan Greenpeace 11–16 Agustus, jumlah titik sumber asap di Kalimantan meluas, dengan 592 titik, 455 di antaranya berada di lanskap gambut. Sebanyak 322 titik terdeteksi di Kalimantan Barat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/23/mempertanyakan-keseriusan-pemerintah-antisipasi-kebakaran-hutan-dan-lahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/23/mempertanyakan-keseriusan-pemerintah-antisipasi-kebakaran-hutan-dan-lahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lukisan 67 Ribu Tahun Silam di Sulawesi jadi Karya Seni Tertua Homo Sapiens</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/23/lukisan-67-ribu-tahun-silam-di-sulawesi-jadi-karya-seni-tertua-homo-sapiens/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/23/lukisan-67-ribu-tahun-silam-di-sulawesi-jadi-karya-seni-tertua-homo-sapiens/#respond</comments>
					<pubDate>23 Agu 2026 03:08:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/23142338/Lukisan-di-Gua-Sulawesi-Selatan-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132278</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gambar cap tangan di dinding gua era prasejarah di Sulawesi itu, seperti hendak mengatakan sesuatu kepada manusia di zaman ini. Saat menyapa, manusia modern akan mengangkat tangan sambil memperlihatkan telapaknya menghadap ke muka. Manusia prasejarah meletakkan tangannya di dinding gua dan mengabadikannya dalam bentuk lukisan. Pesan apa sesungguhnya yang ingin disampaikan manusia prasejarah dari Sulawesi? [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/23/lukisan-67-ribu-tahun-silam-di-sulawesi-jadi-karya-seni-tertua-homo-sapiens/">Lukisan 67 Ribu Tahun Silam di Sulawesi jadi Karya Seni Tertua Homo Sapiens</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gambar cap tangan di dinding gua era prasejarah di Sulawesi itu, seperti hendak mengatakan sesuatu kepada manusia di zaman ini. Saat menyapa, manusia modern akan mengangkat tangan sambil memperlihatkan telapaknya menghadap ke muka. Manusia prasejarah meletakkan tangannya di dinding gua dan mengabadikannya dalam bentuk lukisan. Pesan apa sesungguhnya yang ingin disampaikan manusia prasejarah dari Sulawesi? Riset yang dikerjakan peneliti Indonesia dan Australia atas gambar itu, justru menemukan fakta baru. Terlihat kusam, mirip goresan yang menempel di tembok lembap, dan cat yang mengelupas, gambar cap tangan itu ditengarai sebagai yang tertua di dunia. “Motif ini sebagian tertutup speleothem coralloid kuno. Cap ini dalam kondisi pengawetan yang buruk, hanya terdiri bercak pigmen pudar sepanjang 14 × 10 cm yang memuat sebagian jari dan area telapak tangan berdekatan,” tulis Adhi Agus Oktaviana, penulis pertama laporan penelitian yang dimuat di jurnal Nature, edisi 21 Januari 2026, berjudul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi.”  Adhi adalah peneliti BRIN yang memiliki kepakaran dalam seni gua. Uniknya, gambar ini hanya ditemukan di Sulawesi. Gambar jari-jari yang ujungnya dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai cakar hewan. Manusia prasejarah membuat lukisan dengan teknik sederhana, namun kreatif. Setelah telapak tangan ditempelkan ke dinding gua, langkah selanjutnya adalah menyemprotkan warna di sekeliling tangan. Warna ini bisa berasal dari tanah, arang, atau mineral lain. Caranya, disemprotkan menggunakan mulut atau pipa terbuat dari bambu atau tulang. “Mengubah gambar tangan manusia dengan cara ini mungkin memiliki makna simbolis, barangkali terkait dengan pemahaman masyarakat kuno tentang hubungan manusia dan hewan,” tulis Maxime&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/23/lukisan-67-ribu-tahun-silam-di-sulawesi-jadi-karya-seni-tertua-homo-sapiens/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/23/lukisan-67-ribu-tahun-silam-di-sulawesi-jadi-karya-seni-tertua-homo-sapiens/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cara Perempuan Wujudkan Ketahanan Pangan di Pulau Kelapa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cara-perempuan-wujudkan-ketahanan-pangan-di-pulau-kelapa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cara-perempuan-wujudkan-ketahanan-pangan-di-pulau-kelapa/#respond</comments>
					<pubDate>23 Agu 2026 00:01:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07064905/SaveClip.App_568176351_18382487137183415_733977403012204759_n-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132185</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bisnis dan ekonomi, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap ada kapal sayur merapat di Dermaga Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, Jakarta, warga langsung berkerumun. Semua sayuran berasal dari Jakarta, perjalanan lebih dari dua jam untuk merapat ke pulau. Kondisinya banyak tak lagi segar.  Julian Puput Lendri, warga Pulau Kelapa, mengatakan sayuran yang tiba sering sudah layu, tetapi tetap diburu warga karena tak ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cara-perempuan-wujudkan-ketahanan-pangan-di-pulau-kelapa/">Cara Perempuan Wujudkan Ketahanan Pangan di Pulau Kelapa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap ada kapal sayur merapat di Dermaga Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, Jakarta, warga langsung berkerumun. Semua sayuran berasal dari Jakarta, perjalanan lebih dari dua jam untuk merapat ke pulau. Kondisinya banyak tak lagi segar.  Julian Puput Lendri, warga Pulau Kelapa, mengatakan sayuran yang tiba sering sudah layu, tetapi tetap diburu warga karena tak ada pilihan. “Di sini kalau sayur berebut. Kita sampai ke tukang sayur, semuanya habis. Mending kalau segar, nggak segar pula kita dapetnya, tapi cepat habis,” kata Julian. Ketergantungan pada pasokan dari Jakarta juga membuat harga sayuran lebih mahal, kenaikkan bisa mencapai 50%. Saat cuaca buruk, kapal bahkan tidak dapat merapat sehingga pasokan sayur bisa terhenti hingga tiga hari. Kondisi itu mendorong para perempuan Pulau Kelapa membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Hijau Daun sejak 2018. Mereka memilih hidroponik karena kondisi tanah yang berpasir, keterbatasan air bersih, serta ancaman banjir rob membuat sayuran sulit ditanam langsung di lahan. Mereka menanam kangkung, bayam, sawi, pakcoi, dan cabai dengan memanfaatkan rak hidroponik. “Dengan menanam sayur sendiri secara alami, kita bisa memenuhi kebutuhan dapur sekaligus mendapat banyak manfaat,” ujar Rosda, Ketua KWT Hijau Daun Pulau Kelapa Dua. Untuk memenuhi kebutuhan air, mereka menampung air hujan di bawah rumah panggung. Saat kemarau panjang, warga juga mengumpulkan air buangan AC secara urunan. Upaya tersebut membuat KWT Hijau Daun meraih penghargaan sebagai program urban farming terbaik se-DKI Jakarta pada 2025 setelah berhasil memanen 21 kilogram kangkung di lahan terbatas. Namun, hasil panen masih belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga. Pada April, misalnya, mereka memanen&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cara-perempuan-wujudkan-ketahanan-pangan-di-pulau-kelapa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cara-perempuan-wujudkan-ketahanan-pangan-di-pulau-kelapa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Polusi Udara Jakarta Parah, Masalah Menahun Tanpa Penyelesaian</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/#respond</comments>
					<pubDate>22 Agu 2026 10:30:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Fachri HamzahRichaldo Hariandja]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001741/UDARA-JAKARTA-KEMBALI-TIDAK-SEHAT-1-scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132254</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ananda Randy, warga Jakarta Selatan, memilih tidak memperbanyak aktivitasnya di luar ruangan. Sebab, sesak napas selalu datang saat dia berada di luar ruangan. Membawa motor pun membuat matanya terasa perih. “Dada saya terasa sesak, dan sering bersin. Kalau berkendara pasti mata saya terasa perih,” ujar pria 30 tahun itu. Darlita, warga Jakarta Timur, pun merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/">Polusi Udara Jakarta Parah, Masalah Menahun Tanpa Penyelesaian</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ananda Randy, warga Jakarta Selatan, memilih tidak memperbanyak aktivitasnya di luar ruangan. Sebab, sesak napas selalu datang saat dia berada di luar ruangan. Membawa motor pun membuat matanya terasa perih. “Dada saya terasa sesak, dan sering bersin. Kalau berkendara pasti mata saya terasa perih,” ujar pria 30 tahun itu. Darlita, warga Jakarta Timur, pun merasa hal yang sama. Perempuan 52 tahun harus mengeluarkan uang lebih untuk berobat. Sebab, dia alami batuk dan dehidrasi. ”Itu (beli obat) sangat mahal dibanding pendapatan,” kata pekerja rumah tangga itu. Mongabay memantau langit Jakarta Sepanjang Agustus. Kabut tipis membuat penampakan gedung-gedung pencakar langit samar, 13-20 Agustus. Beberapa kali napas terasa sesak dan mata perih. Laman pemantauan kualitas udara IQAir 16 Agustus pukul 06.01 WIB, pun mencatat Ibu Kota Indonesia itu menempati peringkat kedua kota dengan udara terburuk di dunia. Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai 167 dan konsentrasi PM2.5 sebesar 79 mikrogram per meter kubik. Begitu juga pada 22 Agustus 2026, AQI 158 dengan 68 PM2,5. Angka itu jauh di atas ambang batas rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sepanjang bulan kemerdekaan tahun ini, Jakarta bahkan nyaris tak pernah absen dari daftar 10 kota paling berpolusi di dunia. Pada 1 Agustus, misal, berada di peringkat ketiga dengan AQI 163. Konsentrasi PM2.5 melonjak ke 83 mikrogram per meter kubik—level tertinggi dalam sebulan terakhir, lima hari kemudian. Tangkapan layar aplikasi pemantau kualitas udara terhadap kondisi udara Jakarta, 10 Agustus. Kegagalan pengelolaan lingkungan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai buruknya kualitas udara di Jakarta dan kota-kota besar lainnya bukan sekadar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Semut Peluru, Semut dengan Sengatan Paling Menyakitkan di Dunia Serangga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/#respond</comments>
					<pubDate>22 Agu 2026 02:25:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22022200/8364413312_9b4b6f6372_o-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132243</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dunia serangga menyimpan banyak kejutan, mulai dari kemampuan terbang jarak jauh, kekuatan mengangkat beban berkali-kali lipat dari tubuhnya sendiri, hingga sistem pertahanan kimiawi yang jauh melampaui ukuran tubuhnya yang kecil. Di antara ragam pertahanan tersebut, sengatan tetap jadi salah satu senjata paling efektif, dan tidak ada yang mengalahkan reputasi satu spesies semut asal hutan hujan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/">Semut Peluru, Semut dengan Sengatan Paling Menyakitkan di Dunia Serangga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dunia serangga menyimpan banyak kejutan, mulai dari kemampuan terbang jarak jauh, kekuatan mengangkat beban berkali-kali lipat dari tubuhnya sendiri, hingga sistem pertahanan kimiawi yang jauh melampaui ukuran tubuhnya yang kecil. Di antara ragam pertahanan tersebut, sengatan tetap jadi salah satu senjata paling efektif, dan tidak ada yang mengalahkan reputasi satu spesies semut asal hutan hujan Amazon ini. Semut peluru atau Paraponera clavata menempati posisi tertinggi dalam Schmidt Sting Pain Index, skala yang disusun entomolog Amerika Serikat Justin O. Schmidt sejak 1984 untuk membandingkan rasa sakit sengatan lebah, tawon, dan semut, dengan nilai maksimal 4 yang hanya diraih segelintir spesies. Panjang tubuhnya bisa mencapai 18 hingga 30 milimeter dengan warna cokelat kemerahan hingga kehitaman yang membuatnya lebih mirip tawon tak bersayap ketimbang semut pada umumnya. Semut peluru tersebar di hutan hujan dataran rendah mulai dari Honduras dan Nikaragua di Amerika Tengah sampai Bolivia dan Brasil di Amerika Selatan, dengan beberapa koloni bahkan ditemukan di ketinggian 1.500 meter. Racun yang Dirancang untuk Menyakitkan Rasa sakit dari sengatan semut peluru datang dari poneratoksin, peptida neurotoksik yang jadi komponen utama racunnya sejak pertama kali diisolasi para peneliti pada awal 1990-an. Racun ini menempel pada kanal ion natrium di sel saraf, gerbang yang biasanya membuka dan menutup untuk mengalirkan sinyal listrik antar neuron. Poneratoksin membuat kanal itu tetap terbuka lebih lama dari seharusnya, sehingga sinyal rasa sakit terus dikirim ke otak tanpa jeda. Belakangan, penelitian lanjutan bahkan menemukan bahwa yang selama ini disebut poneratoksin ternyata terdiri dari beberapa varian peptida yang strukturnya berbeda satu sama&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Banjang Tupai, Ular Bermata Kucing dari Hutan Malang Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>22 Agu 2026 01:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22001342/Banjang-Tupai-Foto-Fariq-Izzudien-Ash-Shidiq-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132233</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ditakuti Padahal Penjaga Ekosistem]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa yang membuat mata banjang tupai menyerupai mata kucing? Pertanyaan itu terjawab tatkala Fariq Izzudien Ash Shidiq (29), pertama kali mendokumentasikan Boiga drapiezii di hutan Malang Selatan, Jawa Timur. Pertemuan dengan ular tersebut, berawal dia dan rekannya membantu sebuah kegiatan. Setelah pekerjaan selesai, mereka menyusuri kawasan hutan dengan vegetasi rapat. Sekitar berjalan 50 meter, perhatian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/">Ular Banjang Tupai, Ular Bermata Kucing dari Hutan Malang Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa yang membuat mata banjang tupai menyerupai mata kucing? Pertanyaan itu terjawab tatkala Fariq Izzudien Ash Shidiq (29), pertama kali mendokumentasikan Boiga drapiezii di hutan Malang Selatan, Jawa Timur. Pertemuan dengan ular tersebut, berawal dia dan rekannya membantu sebuah kegiatan. Setelah pekerjaan selesai, mereka menyusuri kawasan hutan dengan vegetasi rapat. Sekitar berjalan 50 meter, perhatian mereka tertuju pada seekor ular. “Pepohonan cukup tinggi, sementara tumbuhan bagian bawah relatif rapat,” ujar Fariq, yang merupakan mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika, Senin (10/8/26). Ular banjang tupai yang jago kamuflase. Foto: Dok. Fariq Izzudien Ash Shidiq. Kondisi tersebut membuat warna tubuh banjang tupai menyatu dengan lingkungan. Kemampuan menyarunya tidak mudah diketahui bila tidak dilihat teliti. Fariq dan rekannya coba mendokumentasikan jenis itu. Menariknya, Boiga drapiezii tidak menunjukkan perilaku agresif. Saat didekati, posisinya yang sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah, cenderung menjauh. Tak terlihat upaya menyerang ataupun melakukan gerakan agresif untuk mempertahankan diri. “Relatif santai. Saya melihatnya seperti jenis ular yang tenang, namun tetap waspada” Karakter itu membuat proses pengamatan berlangsung relatif mudah. Baginya, respons banjang tupai berbeda dengan sejumlah ular lain yang pernah ditemui dan didokumentasikan. Berdasarkan IUCN, Boiga drapiezi berstatus Least Concern atau Risiko Rendah secara global. Banjang tupai yang menyukai hutan vegetasi rapat. Foto: Dok. Fariq Izzudien Ash Shidiq. Mata mirip kucing Saat pengamatan, langit mendung. Tak lama setelah dokumentasi dilakukan, hujan turun. Fariq memperkirakan, pengamatan hanya berlangsung lima hingga sepuluh menit. Setelah mendapatkan foto yang diperlukan, mereka membiarkan ular tersebut kembali ke habitatnya. Keputusan itu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>