<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=abdallah-naem-samarinda&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/abdallah-naem-samarinda/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 12 Oct 2026 06:19:35 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>
				<item>
					<title>Ilusi Dekarbonisasi Industri Semen</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/12/ilusi-dekarbonisasi-industri-semen/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/12/ilusi-dekarbonisasi-industri-semen/#respond</comments>
					<pubDate>12 Okt 2026 06:07:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[A. Asnawi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/12053729/Semen-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133275</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Truk-truk itu hilir mudik melewati jalanan berdebu di Lereng Pegunungan Kendeng, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah (Jateng), pertengahan Juli. Bak truk yang penuh muatan batu gamping, bahan baku utama semen, membuat laju kendaraan bergerak lambat. Dari permukiman, dentuman suara ledakan dari proses penambangan batu kapur terdengar cukup jelas. Antara lokasi tambang dengan rumah penduduk  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/12/ilusi-dekarbonisasi-industri-semen/">Ilusi Dekarbonisasi Industri Semen</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Truk-truk itu hilir mudik melewati jalanan berdebu di Lereng Pegunungan Kendeng, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah (Jateng), pertengahan Juli. Bak truk yang penuh muatan batu gamping, bahan baku utama semen, membuat laju kendaraan bergerak lambat. Dari permukiman, dentuman suara ledakan dari proses penambangan batu kapur terdengar cukup jelas. Antara lokasi tambang dengan rumah penduduk  hanya sekitar satu kilometer. “Seminggu bisa dua kali pakai bom itu. Suaranya terdengar sampai sini,” kata Joko Priyanto, Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK), tengah Juli. Seorang petani dengan latar belakang pegunungan Kendeng di Rembang, Jawa Tengah tengah menyemprotkan obat di lahan bawang miliknya. Sulitnya air membuat biaya operasional membengkak. Foto: Asad Asnawi/Mongabay Indonesia. Ketika karst jadi sasaran Joko mengatakan, tambang gamping mulai marak di Kendeng sejak 2006. Lalu, pada 2017, mulai operasi tambang dan pabrik semen yang membuat masyarakat kian merasakan dampaknya. Debit air dari sumber yang selama ini warga manfaatkan untuk mengairi lahan pertanian terus turun. Begitu juga dengan saluran irigasi, banyak yang mengering. Untuk siasati itu, warga banyak andalkan sumur bor yang itu berarti menambah beban operasional petani. Selain itu, pasokan air yang berkurang, dampak paparan debu dari pembukaan tambang kapur dan hilir mudik kendaraan juga Joko nilai berkontribusi menurunkan hasil panen. Dulu, musim kemarau seperti ini, dia masih bisa hasilkan sekitar tiga ton bawang dari satu hamparan lahan miliknya. Kini, dia hanya mendapat satu ton. “Jadi, memang luar biasa. Kami harus mengeluarkan biaya lebih untuk menggunakan sumur bor, yang itu berarti biaya listrik juga naik,” katanya. Dia meyakini, maraknya tambang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/12/ilusi-dekarbonisasi-industri-semen/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/12/ilusi-dekarbonisasi-industri-semen/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>7 Kabupaten di Sumatera Selatan Terus Terbakar, Rawa Gambut Kembali Membara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/12/7-kabupaten-di-sumatera-selatan-terus-terbakar-rawa-gambut-kembali-membara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/12/7-kabupaten-di-sumatera-selatan-terus-terbakar-rawa-gambut-kembali-membara/#respond</comments>
					<pubDate>12 Okt 2026 03:30:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/12020555/kebakaran-di-tol-palembang-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134868</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Lahan Basah, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2015 lalu, membuat pemerintah membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) atau Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) yang kemudian dibubarkan pemerintah akhir 2024. Kini, karhutla luar biasa kembali terjadi tahun 2026. Pemerintah membentuk lagi lembaga yang mengurusi gambut dan mangrove. Berapa kabupaten di Sumatera Selatan yang harus ditata gambut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/12/7-kabupaten-di-sumatera-selatan-terus-terbakar-rawa-gambut-kembali-membara/">7 Kabupaten di Sumatera Selatan Terus Terbakar, Rawa Gambut Kembali Membara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2015 lalu, membuat pemerintah membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) atau Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) yang kemudian dibubarkan pemerintah akhir 2024. Kini, karhutla luar biasa kembali terjadi tahun 2026. Pemerintah membentuk lagi lembaga yang mengurusi gambut dan mangrove. Berapa kabupaten di Sumatera Selatan yang harus ditata gambut dan mangrovenya? “Tampaknya karhutla di Sumatera Selatan tahun 2026 terus terjadi pada wilayah yang selama ini menjadi target restorasi gambut dan mangrove, sebanyak tujuh kabupaten,” kata Galang Suganda, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan, Jumat (9/10/26). Tujuh kabupaten tersebut antara lain Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Kabupaten Musi Rawas, dan Kabupaten Musi Rawas Utara. “Sebagian besar wilayah gambut yang terbakar pada 2015, juga terbakar lagi pada 2026 ini. Bahkan, kabut asap di Kabupaten PALI statusnya sama seperti di Palembang, yakni berbahaya,” jelas Galang. Kebakaran lahan yang terus terjadi di sekitar Jalan Tol Palembang-Inderalaya. Foto drone: Iwan Cheristian/Mongabay Indonesia. Keinginan pemerintah membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) sebagai momentum penting untuk memperkuat perlindungan dan pemulihan ekosistem gambut di Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan. “Namun, pembentukan lembaga baru tidak boleh berhenti pada pergantian nomenklatur maupun penambahan program. BPGMN harus hadir untuk membenahi tata kelola dan menyelesaikan akar persoalan yang selama ini membuat ekosistem gambut terus mengalami kerusakan dan karhutla berulang.” Pengelolaan gambut tidak hanya berorientasi pada penanganan ketika kebakaran terjadi. Pemerintah harus bergerak dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/12/7-kabupaten-di-sumatera-selatan-terus-terbakar-rawa-gambut-kembali-membara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/12/7-kabupaten-di-sumatera-selatan-terus-terbakar-rawa-gambut-kembali-membara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menakar Arah Badan Reforma Agraria di Bawah Pimpinan Jenderal Polisi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/12/menakar-arah-badan-reforma-agraria-di-bawah-pimpinan-jenderal-polisi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/12/menakar-arah-badan-reforma-agraria-di-bawah-pimpinan-jenderal-polisi/#respond</comments>
					<pubDate>12 Okt 2026 02:00:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/24075153/Hari-Tani-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134863</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>  Kabar pelantikan jenderal polisi memimpin Badan Reforma Agraria Nasional (BRAN), menuai kritik berbagai kalangan. Martamis, Ketua Kelompok Tani Sekato Jaya, Desa Lubuk Mandarsah, Kabupaten Tebo, Jambi ini terheran-heran, mengapa institusi yang kerap bermasalah dengan masyarakat dalam konflik agraria, justru jadi ketua badan yang tangani masalah itu. Prosesnya begitu cepat. Sembilan hari pasca DPR mengesahkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/12/menakar-arah-badan-reforma-agraria-di-bawah-pimpinan-jenderal-polisi/">Menakar Arah Badan Reforma Agraria di Bawah Pimpinan Jenderal Polisi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[  Kabar pelantikan jenderal polisi memimpin Badan Reforma Agraria Nasional (BRAN), menuai kritik berbagai kalangan. Martamis, Ketua Kelompok Tani Sekato Jaya, Desa Lubuk Mandarsah, Kabupaten Tebo, Jambi ini terheran-heran, mengapa institusi yang kerap bermasalah dengan masyarakat dalam konflik agraria, justru jadi ketua badan yang tangani masalah itu. Prosesnya begitu cepat. Sembilan hari pasca DPR mengesahkan Undang-undang Pengaturan Reforma Agraria (UUPRA), Presiden Prabowo Subianto melantik Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi, Dedi Prasetyo menjadi Kepala BRAN, bersamaan dengan perombakan kabinet, 1 Oktober 2026 di Istana Negara, Jakarta. Keputusan Prabowo ini memunculkan trauma psikologis. Martamis bilang, puluhan tahun berkutat dengan konflik agraria tanpa penyelesaian, petani Sekato Jaya selalu berhadapan dengan ketidakadilan. Aparat penegak hukum yang jadi harapan membela hak masyarakat justru berseberangan. “BRAN dikuasai kepolisian yang selama ini selalu bertentangan dengan kami. Perusahaan menggunakan polisi untuk dibenturkan dengan masyarakat,” ucap Martamis kepada Mongabay, 4 Oktober 2026. Konflik agraria di Tebo bermula pada 1997, ketika Pemerintahan Orde Baru menempatkan pencadangan areal hutan tanaman industri (HTI) untuk PT Wira Karya Sakti (WKS) seluas 76.100 hektar secara sepihak. Masyarakat baru menyadari pada 2001, saat sekitar 10.000 hektar lahan pertanian ternyata masuk dalam kawasan perluasan konsesi anak perusahaan Sinar Mas yang mencapai lebih 290.000 hektar itu. Sejak saat itu, protes terus mereka suarakan dan bentrokan kerap terjadi seiring arogansi perusahaan menggusur lahan pertanian masyarakat. Alih-alih mendapat penyelesaian, perusahaan lantas menggunakan aparat untuk menindas petani. Intimidasi, kekerasan, represif hingga kriminalisasi tak segan polisi lakukan terhadap petani yang tengah memperjuangkan haknya. Puluhan petani Tebo dikriminalisasi, belasan lainnya berujung pemidanaan atas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/12/menakar-arah-badan-reforma-agraria-di-bawah-pimpinan-jenderal-polisi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/12/menakar-arah-badan-reforma-agraria-di-bawah-pimpinan-jenderal-polisi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perburuan Gajah Sumatera Berulang, Aktivis Desak Pengusutan Seluruh Jaringan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/perburuan-gajah-sumatera-berulang-aktivis-desak-pengusutan-seluruh-jaringan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/perburuan-gajah-sumatera-berulang-aktivis-desak-pengusutan-seluruh-jaringan/#respond</comments>
					<pubDate>12 Okt 2026 00:30:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/18150550/Kepolisian-olah-TKP-terhadap-gajah-mati-di-blok-lindung-konsesi-PT-RAPP-Selasa-4-Februari-2026.-Foto-Polda-Riau-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134741</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hukum dan politik, hutan indonesia, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kematian seekor gajah sumatera jantan berusia sekitar 40 tahun di konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Pelalawan, Riau, membuka jejak perdagangan gading lintas provinsi. Kasus ini membawa 15 terdakwa ke Pengadilan Negeri Pelalawan sejak awal Agustus, dengan persidangan memasuki tahap pembuktian melalui pemeriksaan saksi. Berdasarkan dakwaan, jaringan tersebut melibatkan pemburu, perantara, pengurus pengiriman, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/perburuan-gajah-sumatera-berulang-aktivis-desak-pengusutan-seluruh-jaringan/">Perburuan Gajah Sumatera Berulang, Aktivis Desak Pengusutan Seluruh Jaringan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kematian seekor gajah sumatera jantan berusia sekitar 40 tahun di konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Pelalawan, Riau, membuka jejak perdagangan gading lintas provinsi. Kasus ini membawa 15 terdakwa ke Pengadilan Negeri Pelalawan sejak awal Agustus, dengan persidangan memasuki tahap pembuktian melalui pemeriksaan saksi. Berdasarkan dakwaan, jaringan tersebut melibatkan pemburu, perantara, pengurus pengiriman, hingga pembeli. Penelusuran aparat juga mengungkap dugaan perburuan berulang dan keterkaitan perdagangan gading dengan penyediaan senjata api. Peristiwa yang membuka jaringan itu terjadi pada 25 Januari 2026. Menurut dakwaan, Rito Armanda bersama Anir, yang masih buron, memasuki konsesi RAPP untuk berburu gading. Mereka menemukan gerombolan sekitar 20 gajah, kemudian menembak seekor jantan dan mengambil gadingnya. Sepasang gading dengan berat sekitar 7,6 kilogram tersebut dijual kepada Fadly seharga Rp35 juta. Fadly kemudian menjualnya kepada Hermansyah Yunus di Padang dengan harga Rp77 juta. Dari sana, gading berpindah melalui sejumlah perantara di Jakarta, Surabaya, dan Jawa Tengah, hingga dibeli seharga Rp129,3 juta untuk diolah menjadi pipa rokok. Perjalanan gading tersebut memperlihatkan panjangnya rantai perdagangan dan kenaikan harga setiap kali berpindah tangan. Pengiriman dilakukan menggunakan jasa kargo udara dan kereta api, dengan paket dibungkus kardus serta karung beras dan memakai nama samaran penerima. Fitriani Dwi Kurniasari, aktivis satwa sekaligus pendiri For Gajah Rahman, menyoroti bahwa sejumlah terdakwa diduga telah berulang kali menjalankan peran serupa. Dalam dakwaan, Fadly disebut mengaku sembilan kali membeli gading hasil buruan Rito, kemudian menjual semuanya kepada Hermansyah. Yuliantony, Direktur Eksekutif Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo, meminta pengungkapan jaringan diikuti tuntutan maksimal karena terdapat indikasi kejahatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/perburuan-gajah-sumatera-berulang-aktivis-desak-pengusutan-seluruh-jaringan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/perburuan-gajah-sumatera-berulang-aktivis-desak-pengusutan-seluruh-jaringan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa di Masa Kini Kucing Rumahan Seolah-olah Tak Lagi Bersemangat Memburu Tikus?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/11/mengapa-di-masa-kini-kucing-rumahan-seolah-olah-tak-lagi-bersemangat-memburu-tikus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/11/mengapa-di-masa-kini-kucing-rumahan-seolah-olah-tak-lagi-bersemangat-memburu-tikus/#respond</comments>
					<pubDate>11 Okt 2026 23:28:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/11232216/Kocka_domaci_spi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134856</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kucing sudah lama hidup berdampingan dengan manusia, dan salah satu alasannya adalah kemampuan mereka menangkap hewan pengerat di rumah, gudang, dan lumbung. Dari kebiasaan itu muncul anggapan bahwa kucing adalah pemburu tikus yang dapat diandalkan. Namun banyak pemilik kucing saat ini mengaku melihat sebaliknya: tikus melintas di dapur, sementara kucing hanya menonton.Kesan itu perlu diperiksa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/11/mengapa-di-masa-kini-kucing-rumahan-seolah-olah-tak-lagi-bersemangat-memburu-tikus/">Mengapa di Masa Kini Kucing Rumahan Seolah-olah Tak Lagi Bersemangat Memburu Tikus?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kucing sudah lama hidup berdampingan dengan manusia, dan salah satu alasannya adalah kemampuan mereka menangkap hewan pengerat di rumah, gudang, dan lumbung. Dari kebiasaan itu muncul anggapan bahwa kucing adalah pemburu tikus yang dapat diandalkan. Namun banyak pemilik kucing saat ini mengaku melihat sebaliknya: tikus melintas di dapur, sementara kucing hanya menonton.Kesan itu perlu diperiksa lebih dulu. Riset perilaku kucing belum banyak yang mengukur apakah kucing rumahan memang lebih jarang berburu dibanding masa lalu. Yang tersedia adalah penelitian tentang apa yang mendorong kucing berburu, apa yang mereka makan, dan seberapa sering mereka berhasil menangkap tikus. Dari sana dapat disusun gambaran mengapa tikus kerap lolos dari kucing rumahan. Berburu dan Makan Adalah Dua Hal yang Berbeda Dorongan berburu pada kucing tidak sepenuhnya ditentukan oleh rasa lapar. Peneliti Universitas Exeter di Inggris menganalisis kumis kucing rumahan yang rutin menangkap satwa liar. Rasio isotop stabil pada kumis dapat menunjukkan sumber protein, sehingga peneliti bisa membedakan makanan dari pemilik dan dari mangsa liar. Hasilnya, sekitar 96 persen asupan makanan kucing-kucing itu berasal dari pakan pemilik dan hanya 3 sampai 4 persen dari satwa liar. Peneliti menduga naluri, bukan rasa lapar, yang membuat kucing-kucing itu tetap berburu. Mereka menyebut sebagian kucing mungkin berburu tanpa lapar, yang dikenal sebagai surplus killing, yaitu menangkap mangsa untuk disimpan dan dimakan kemudian. Dengan demikian, kucing yang tidak memakan tikus belum tentu kehilangan naluri berburunya. Kucing bisa saja tetap mengintai dan menangkap, tetapi tidak menjadikan mangsa itu makanan karena kebutuhan gizinya sudah terpenuhi di rumah. Lima kucing liar yang terekam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/11/mengapa-di-masa-kini-kucing-rumahan-seolah-olah-tak-lagi-bersemangat-memburu-tikus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/11/mengapa-di-masa-kini-kucing-rumahan-seolah-olah-tak-lagi-bersemangat-memburu-tikus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kopra Hidup Lagi, Warga Adat Malind di Merauke Kembali Merawat Dusun Kelapa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/11/kopra-hidup-lagi-warga-adat-malind-di-merauke-kembali-merawat-dusun-kelapa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/11/kopra-hidup-lagi-warga-adat-malind-di-merauke-kembali-merawat-dusun-kelapa/#respond</comments>
					<pubDate>11 Okt 2026 12:22:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kresensia Kurniawati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/11121458/IMG_1755-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134841</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Papua Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi masyarakat adat suku Malind yang mendiami wilayah Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, kelapa bukan hanya menghasilkan uang. Pohon-pohon yang tumbuh di sekitar kampung itu telah menjadi sumber pangan, bahan kebutuhan sehari-hari, sekaligus penghidupan yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, kelapa muda tidak boleh dijual. “Hanya kelapa tua yang boleh dijual,” ungkap Kamilus Mahuze, mantan Sekretaris [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/11/kopra-hidup-lagi-warga-adat-malind-di-merauke-kembali-merawat-dusun-kelapa/">Kopra Hidup Lagi, Warga Adat Malind di Merauke Kembali Merawat Dusun Kelapa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi masyarakat adat suku Malind yang mendiami wilayah Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, kelapa bukan hanya menghasilkan uang. Pohon-pohon yang tumbuh di sekitar kampung itu telah menjadi sumber pangan, bahan kebutuhan sehari-hari, sekaligus penghidupan yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, kelapa muda tidak boleh dijual. “Hanya kelapa tua yang boleh dijual,” ungkap Kamilus Mahuze, mantan Sekretaris Kampung Matara saat ditemui beberapa waktu lalu. Larangan ini berkaitan dengan manfaat kelapa dalam kehidupan masyarakat. Sabutnya digunakan sebagai bahan bakar pengganti kayu, tempurungnya dijual, sementara daging kelapa menjadi bahan baku minyak atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kamilus bercerita, sekitar tahun 2000-2010, masyarakat adat di Matara sebenarnya telah coba mengolah kelapa menjadi kopra yang dijual ke pengepul. Kopra merupakan daging buah kelapa yang dikeringkan melalui penjemuran atau pengasapan sebagai bahan baku utama pembuatan minyak kelapa dan produk turunannya. Namun karena harga kopra kala itu tidak stabil, kata Kamilus, sebagian besar petani adat berhenti memproduksi kopra dan lebih memilih menjual kelapa utuh. Kondisi ini berlangsung bertahun-tahun. Potensi kelapa yang melimpah untuk diolah menjadi kopra di Merauke, Papua Selatan. Dok: EcoNusa Enam belas tahun kemudian, masyarakat kembali berupaya memproduksi kopra. Upaya ini mendapat pendampingan Yayasan EcoNusa, yang kemudian ikut mendorong pengembangan rantai usaha melalui Koperasi Yora Mekhande Jaya. Pertemuan awal dengan petani kopra dilakukan di Kampung Matara pada 20 Januari 2026. Dalam pertemuan itu, warga membicarakan berbagai persoalan yang selama ini membuat usaha kopra sulit berkembang. Salah satunya pasar yang jauh dari kampung. Waktu tempuh dari Kampung Matara ke pusat kota Merauke sekitar 1 sampai 1,5 jam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/11/kopra-hidup-lagi-warga-adat-malind-di-merauke-kembali-merawat-dusun-kelapa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/11/kopra-hidup-lagi-warga-adat-malind-di-merauke-kembali-merawat-dusun-kelapa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Burung Purba Kasuari, Penjaga Hutan Papua yang Diburu Manusia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/11/kisah-burung-purba-kasuari-penjaga-hutan-papua-yang-diburu-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/11/kisah-burung-purba-kasuari-penjaga-hutan-papua-yang-diburu-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>11 Okt 2026 10:00:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/11003713/Kasuari_malagufuk-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134833</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pasangan suami istri berinisial YH dan NZ, warga negara Tiongkok, dideportasi dari Indonesia setelah kedapatan berburu satwa dilindungi di Papua, salah satunya adalah kasuari. Dalam pemeriksaan ditemukan adanya foto dan rekaman video kegiatan berburu satwa yang dilindungi seperti burung kasuari, kuskus, dan satwa lainnya. YH tercatat bolak-balik ke Indonesia lebih dari 10 kali sejak 2023 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/11/kisah-burung-purba-kasuari-penjaga-hutan-papua-yang-diburu-manusia/">Kisah Burung Purba Kasuari, Penjaga Hutan Papua yang Diburu Manusia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pasangan suami istri berinisial YH dan NZ, warga negara Tiongkok, dideportasi dari Indonesia setelah kedapatan berburu satwa dilindungi di Papua, salah satunya adalah kasuari. Dalam pemeriksaan ditemukan adanya foto dan rekaman video kegiatan berburu satwa yang dilindungi seperti burung kasuari, kuskus, dan satwa lainnya. YH tercatat bolak-balik ke Indonesia lebih dari 10 kali sejak 2023 dan selama perburuan dia menyiarkannya secara daring ke Tiongkok melalui platform Douyin. YH dan istrinya, NZ, kini telah dideportasi. Ben Yuda Karubaba, Kepala Kantor Imigrasi Jayapura, menjelaskan bahwa petugas menemukan foto dan rekaman video perburuan satwa dilindungi saat memeriksa pasangan itu. Kegiatan tersebut, katanya dikutip dari iNews, dilakukan YH bersama warga kampung Skanto yang sudah lama dikenal dan dianggap keluarga. Keduanya dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian berdasarkan Pasal 75 UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. Perkara ini ditangani sebagai pelanggaran izin tinggal dan tidak merinci berapa satwa yang ditangkap atau dibunuh. Namun, yang mereka buru bukan sekadar burung. Kasuari adalah spesies paling unik di planet ini; burung purba terberat ketiga di dunia, penebar biji terbesar di hutan hujan Papua. Ironisnya, ancaman terbesar kelestariannya datang dari manusia yang memburunya. Kasuari, spesies endemik Papua yang hidup di lantai hutan dan menjadi penyebar buah yang penting bagi regenerasi hutan. Foto: Faizal Abdul Aziz/Rekam Nusantara Foundation. Kasuari adalah burung raksasa yang tak bisa terbang. Di Australia, kasuari selatan betina beratnya bisa mencapai 76 kilogram, dengan cakar belati lebih dari 12 sentimeter. Di balik tampang garang itu, ia menjalankan tugas yang penting: menanam hutan. Para ekolog menyebut kasuari sebagai frugivora&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/11/kisah-burung-purba-kasuari-penjaga-hutan-papua-yang-diburu-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/11/kisah-burung-purba-kasuari-penjaga-hutan-papua-yang-diburu-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lewat Film, Pelajar 70 Kota di Indonesia Diajak Memahami AI Secara Kritis</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/lewat-film-pelajar-70-kota-di-indonesia-diajak-memahami-ai-secara-kritis/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/lewat-film-pelajar-70-kota-di-indonesia-diajak-memahami-ai-secara-kritis/#respond</comments>
					<pubDate>11 Okt 2026 09:13:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/09021200/Science-Film-Festival-2026_3_%C2%A9-Goethe-Institut-Indonesien-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134720</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bayangkan sebuah komputer yang mampu mengenali ribuan gambar satwa, menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, bahkan membantu ilmuwan memprediksi perubahan iklim. Kemampuan tersebut bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan dan penelitian lingkungan. Namun, kecanggihan itu menyimpan sejumlah pertanyaan. Bagaimana komputer [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/lewat-film-pelajar-70-kota-di-indonesia-diajak-memahami-ai-secara-kritis/">Lewat Film, Pelajar 70 Kota di Indonesia Diajak Memahami AI Secara Kritis</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bayangkan sebuah komputer yang mampu mengenali ribuan gambar satwa, menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, bahkan membantu ilmuwan memprediksi perubahan iklim. Kemampuan tersebut bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan dan penelitian lingkungan. Namun, kecanggihan itu menyimpan sejumlah pertanyaan. Bagaimana komputer belajar mengenali gambar? Dari mana AI memperoleh jawaban? Mengapa teknologi yang tampak pintar ini terkadang menghasilkan informasi keliru? Memahami pertanyaan tersebut menjadi penting, terutama bagi generasi muda yang tumbuh bersama teknologi digital. Dalam dunia konservasi, misalnya, AI dapat membantu peneliti mengidentifikasi spesies melalui pengenalan gambar, memantau keanekaragaman hayati, hingga memodelkan skenario perubahan iklim. Teknologi ini juga berpotensi mengoptimalkan penggunaan energi terbarukan. Meski demikian, AI bukan teknologi tanpa jejak lingkungan. Di balik kemampuannya mengolah informasi, terdapat sistem komputasi berskala besar yang membutuhkan energi signifikan. Penggunaannya juga memunculkan persoalan mengenai transparansi, perlindungan data, dan kesetaraan akses. Lantas, bagaimana memperkenalkan teknologi yang kompleks ini kepada anak-anak? Salah satu caranya melalui film dan eksperimen sains. Pendekatan tersebut digunakan dalam Science Film Festival Indonesia 2026 yang mengangkat tema kecerdasan buatan. Festival yang diinisiasi Goethe-Institut ini menghadirkan 20 film dari tujuh negara dan menjangkau pelajar SD hingga SMA di 70 kabupaten/kota pada 6 Oktober–14 November 2026. Dua film asal Jerman, Sembilan Setengah – Melindungi Iklim di Dunia Digital dan Sembilan Setengah – ChatGPT di Ruang Kelas, menjadi bagian dari pembelajaran yang menghubungkan teknologi dengan persoalan lingkungan dan pendidikan. Maila Dinia Husni Rahiem, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Peningkatan STEM dan Kompetensi Guru,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/lewat-film-pelajar-70-kota-di-indonesia-diajak-memahami-ai-secara-kritis/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/lewat-film-pelajar-70-kota-di-indonesia-diajak-memahami-ai-secara-kritis/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Korban Asap Kebakaran Hutan Terus Berjatuhan, Ekonomi Warga pun Terdampak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/11/korban-asap-kebakaran-hutan-terus-berjatuhan-ekonomi-warga-pun-terdampak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/11/korban-asap-kebakaran-hutan-terus-berjatuhan-ekonomi-warga-pun-terdampak/#respond</comments>
					<pubDate>11 Okt 2026 08:41:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/11041558/6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134808</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#8220;Tolong jagakan anak ulun (saya).&#8221; Marhamah, warga Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), tidak menyangka ucapan Lisna sebelum berangkat ke rumah sakit, 26 September, itu jadi pesan terakhir anaknya. Tak lama setelah mendapat perawatan, gurun SDN Tanjung Pagar 3 Banjarmasin itu meninggal dunia karena sesak napas. Perempuan 29 tahun itu memang memiliki riwayat asma. Penyakitnya sering lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/11/korban-asap-kebakaran-hutan-terus-berjatuhan-ekonomi-warga-pun-terdampak/">Korban Asap Kebakaran Hutan Terus Berjatuhan, Ekonomi Warga pun Terdampak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&#8220;Tolong jagakan anak ulun (saya).&#8221; Marhamah, warga Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), tidak menyangka ucapan Lisna sebelum berangkat ke rumah sakit, 26 September, itu jadi pesan terakhir anaknya. Tak lama setelah mendapat perawatan, gurun SDN Tanjung Pagar 3 Banjarmasin itu meninggal dunia karena sesak napas. Perempuan 29 tahun itu memang memiliki riwayat asma. Penyakitnya sering lebih cepat kambuh belakangan, selama periode kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghantam Banjarmasin pada September. Siang sebelum meninggal, Lisna masih beraktivitas seperti biasa. Sekitar pukul 21.00 Wita, dia mengeluhkan sakit di dada dan sulit bernapas. Selama karhutla, dia terbiasa menggunakan nebulizer. Malam itu, dia meminta ibunya membantu menggunakan alat itu. &#8220;Ma, uapkan ulun, Ma. Sakit dada ulun,&#8221; ujar Marhamah, ibunya, menirukan ucapan Lisna. Perempuan 53 tahun itu  memasangkan alat yang mengubah cairan jadi uap itu. Dengan pakai satu botol obat, tetapi sesak anaknya tak kunjung reda. Lisna kemudian meminta ayahnya, Tasrifin, mencari satu botol obat lagi. Sang ayah berangkat, sementara keluarga mulai menyiapkan kendaraan untuk membawa Lisna ke rumah sakit. Marhamah tetap berada di sisi putrinya, dan saling berpelukan. Saat itulah Lisna menyampaikan pesan untuk jaga anaknya kepada sang bunda. Sempat sampai RSUD Ansari Saleh Banjarmasin, namun, sebelum perawatan intens, dia hembuskan napas terakhir. Marhamah bilang, putrinya harus menerobos pekatnya jerubu untuk berangkat dari kediaman di Sungai Andai, Banjarmasin Utara, menuju SDN Tanjung Pagar 3, di Banjarmasin Selatan, berjarak setengah jam perjalanan. “Mulai sini kan (Sungai Andai) sudah kabut asap. Lalu ke sekolah di Tanjung Pagar,” katanya. Penggunaan nebulizer yang sebelumnya hanya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/11/korban-asap-kebakaran-hutan-terus-berjatuhan-ekonomi-warga-pun-terdampak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/11/korban-asap-kebakaran-hutan-terus-berjatuhan-ekonomi-warga-pun-terdampak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jerat Hukum Kasus Karhutla pada 2 Peladang Dayak Maanyan Tuai Kritik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/11/jerat-hukum-kasus-karhutla-pada-2-peladang-dayak-maanyan-tuai-kritik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/11/jerat-hukum-kasus-karhutla-pada-2-peladang-dayak-maanyan-tuai-kritik/#respond</comments>
					<pubDate>11 Okt 2026 01:05:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Krismes Santo Haloho]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/11002432/karhutla-kfrismes-768x510.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134793</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalaimantan Tengah dan kalimantan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dua warga adat Dayak Ma’ayan dari Desa Hayaping, Kecamatan Awang, Barito Timur, Kalimantan Tengah, Subarno dan Yadi, polisi tangkap dan jadi tersangka atas tudingan kasus pembakaran lahan.  Setelah penetapan tersangka, ada surat dari masyarakat Desa Hayaping antara lain menyatakan, kedua warga persiapan lahan berladang sesuai tradisi, dengan sekat bakar, dapat izin dan dengan pengawasan bersama. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/11/jerat-hukum-kasus-karhutla-pada-2-peladang-dayak-maanyan-tuai-kritik/">Jerat Hukum Kasus Karhutla pada 2 Peladang Dayak Maanyan Tuai Kritik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dua warga adat Dayak Ma’ayan dari Desa Hayaping, Kecamatan Awang, Barito Timur, Kalimantan Tengah, Subarno dan Yadi, polisi tangkap dan jadi tersangka atas tudingan kasus pembakaran lahan.  Setelah penetapan tersangka, ada surat dari masyarakat Desa Hayaping antara lain menyatakan, kedua warga persiapan lahan berladang sesuai tradisi, dengan sekat bakar, dapat izin dan dengan pengawasan bersama. Awalnya, pada 28 September 2026,  Polda Kalimantan Tengah (Kalteng) adakan konferensi pers . Mereka memajang barang bukti di meja depan Aula Polda Kalimantan Tengah. Hari itu, di atas meja, barang bukti polisi kelompokkan berdasarkan wilayah. Ada tulisan besar menandai tiga daerah: Kotawaringin Timur (Kotim), Barito Selatan (Barsel), dan Barito Timur (Bartim). Barang bukti dari Bartim menarik perhatian, antara lain, keranjang anyaman rotan atau lanjung dalam bahasa Dayak Maanyan dan tangki semprot. Barang-barang itu merupakan peralatan yang lazim masyarakat gunakan untuk berladang. “Barang bukti yang ada, ini ada dua jerigen ukuran dua liter berisi oli bekas. Satu tangki semprot, dua botol mineral berisi oli bekas, ada ember dan ada satu tas,” katanya. Polisi juga sebut luas lahan terbakar hampir 11 hektar. “Kemudian ada di Barito Timur. Ini dengan tersangka saudara S dan saudara Y, dengan luasan terbakar kurang lebih hampir 11 hektar. Kejadiannya Minggu, 20 September 2026,” kata Iwan Kurniawan, Kapolda Kalteng. Barang Bukti yang dipajang saat konferensi pers di Polda Kalteng, Kota Palangka Raya, Kalteng. Foto: Krismes Santo Haloho/Mongabay Indonesia Surat dari Desa Hayaping, kearifan turun menurun Penetapan tersangka dua warga Bartim ini pun menjadi ramai.  Sehari setelah penangkapan, 27 September 2026, beredar surat dukungan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/11/jerat-hukum-kasus-karhutla-pada-2-peladang-dayak-maanyan-tuai-kritik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/11/jerat-hukum-kasus-karhutla-pada-2-peladang-dayak-maanyan-tuai-kritik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/10/kupu-kupu-mata-rantai-yang-rapuh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/10/kupu-kupu-mata-rantai-yang-rapuh/#respond</comments>
					<pubDate>11 Okt 2026 00:03:32 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/09/22044859/troides-helena-jantan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=134792</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kupu-kupu menyerbuki tumbuhan, menjadi bagian dari rantai makanan, dan kondisinya sering mencerminkan kesehatan lingkungan tempat ia hidup. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan mengancam kehidupannya di alam, sementara industri ekstraktif menggerus habitat kupu-kupu di Kalimantan Timur. Spesies endemik seperti kupu-kupu barong di Bali hanya ada di satu wilayah, sehingga perlindungannya tidak bisa ditunda. Bila kupu-kupu hilang, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/10/kupu-kupu-mata-rantai-yang-rapuh/">Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kupu-kupu menyerbuki tumbuhan, menjadi bagian dari rantai makanan, dan kondisinya sering mencerminkan kesehatan lingkungan tempat ia hidup. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan mengancam kehidupannya di alam, sementara industri ekstraktif menggerus habitat kupu-kupu di Kalimantan Timur. Spesies endemik seperti kupu-kupu barong di Bali hanya ada di satu wilayah, sehingga perlindungannya tidak bisa ditunda. Bila kupu-kupu hilang, penyerbukan terganggu, rantai makanan goyah, dan keseimbangan alam bergeser. Upaya menjaganya sudah berjalan lewat sains warga dan taman konservasi yang dirawat orang-orang di berbagai daerah, dan kerja itu ikut menentukan apakah kupu-kupu masih terbang di sekitar kita. The post Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/10/kupu-kupu-mata-rantai-yang-rapuh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/10/kupu-kupu-mata-rantai-yang-rapuh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bosan di Kandang Evakuasi Samboja, 11 Orangutan Kalimantan Menanti Kembali ke Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/10/bosan-di-kandang-evakuasi-samboja-11-orangutan-kalimantan-menanti-kembali-ke-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/10/bosan-di-kandang-evakuasi-samboja-11-orangutan-kalimantan-menanti-kembali-ke-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>10 Okt 2026 10:59:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yovanda]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/10105016/Orangutan-Indra-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134786</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kalimantan, kera besar, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lestari duduk di lantai kandang dengan kedua tangan memegang jeruji. Ia menatap ke arah pepohonan yang menjadi pagar alami kandang itu. Beberapa helai daun berserakan di dekat kakinya. Tidak banyak yang bisa ia lakukan di ruang sempit itu. Orangutan betina usia 8,5 tahun ini biasa menghabiskan hari di Sekolah Hutan. Berayun dari satu pohon ke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/10/bosan-di-kandang-evakuasi-samboja-11-orangutan-kalimantan-menanti-kembali-ke-hutan/">Bosan di Kandang Evakuasi Samboja, 11 Orangutan Kalimantan Menanti Kembali ke Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lestari duduk di lantai kandang dengan kedua tangan memegang jeruji. Ia menatap ke arah pepohonan yang menjadi pagar alami kandang itu. Beberapa helai daun berserakan di dekat kakinya. Tidak banyak yang bisa ia lakukan di ruang sempit itu. Orangutan betina usia 8,5 tahun ini biasa menghabiskan hari di Sekolah Hutan. Berayun dari satu pohon ke pohon lain, mencari pakan, dan bermain dengan sesamanya. Kini, geraknya dibatasi dinding dan jeruji. Di kandang sebelah, Indra sadar ada yang merekamnya dan langsung mendekat ke arah kamera. Orangutan jantan usia 7,5 tahun itu berdiri di antara tumpukan dedaunan, menatap lurus dari balik tiang kandang. Sebagaimana Lestari, ia juga sedang berada jauh dari tempat yang biasa dikenalnya. Lestari diselamatkan dari Sangatta, Kutai Timur. Indra berasal dari Bengalon, kabupaten yang sama. Keduanya adalah 2 dari 11 orangutan yang kini tinggal di kandang evakuasi di Kilometer 38 Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Siti Nur Badriyah, Kepala Departemen Orangutan Yayasan Jejak Pulang, mengatakan perilaku mereka berubah sejak dipindahkan. &#8220;Mereka tampak bosan di kandang,” jelasnya, Jumat (25/10/26). Di kandang, orangutan tidak mendapat stimulasi yang biasa mereka peroleh di hutan. Ruang gerak mereka terbatas dan pakan hutan yang tersedia jauh lebih sedikit. Di hutan, mereka bebas bermain, berayun antarkanopi dan bergelantungan pada pohon. Mereka juga bermain dengan memanfaatkan tumbuhan di hutan. Perawatan di kandang tidak bisa menggantikan itu semua itu. &#8220;Di kandang, mereka hanya bisa mendapatkan perawatan maksimal, namun itu semua tidak cukup.” Siti mengatakan, proses rehabilitasi tidak terhenti meski orangutan berada di kandang. Tim tetap memberikan kegiatan agar orangutan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/10/bosan-di-kandang-evakuasi-samboja-11-orangutan-kalimantan-menanti-kembali-ke-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/10/bosan-di-kandang-evakuasi-samboja-11-orangutan-kalimantan-menanti-kembali-ke-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Laut Kaya, Nelayan Rentan: Di Mana Negara Kesejahteraan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/10/opini-laut-kaya-nelayan-rentan-di-mana-negara-kesejahteraan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/10/opini-laut-kaya-nelayan-rentan-di-mana-negara-kesejahteraan/#respond</comments>
					<pubDate>10 Okt 2026 06:04:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Mufti Fathul Barri*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/10053736/03-Seorang-remaja-di-Pulau-Buru-memerlihatkan-potongan-tuna-yang-baru-diturunkan-dari-perahu-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134774</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bayangkan seorang nelayan di Kepulauan Aru, yang menggantungkan hidupnya pada Laut Arafura, salah satu kawasan perikanan tangkap terkaya di Indonesia (WPP 718). Setiap hari ia melihat kapal-kapal besar, berbendera Indonesia maupun asing, menangkap ikan di perairan yang sama. Sebagian beroperasi secara ilegal. Si nelayan bukannya tidak mampu melaut. Namun, akses terhadap pasar, teknologi, dan jaminan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/10/opini-laut-kaya-nelayan-rentan-di-mana-negara-kesejahteraan/">Opini: Laut Kaya, Nelayan Rentan: Di Mana Negara Kesejahteraan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bayangkan seorang nelayan di Kepulauan Aru, yang menggantungkan hidupnya pada Laut Arafura, salah satu kawasan perikanan tangkap terkaya di Indonesia (WPP 718). Setiap hari ia melihat kapal-kapal besar, berbendera Indonesia maupun asing, menangkap ikan di perairan yang sama. Sebagian beroperasi secara ilegal. Si nelayan bukannya tidak mampu melaut. Namun, akses terhadap pasar, teknologi, dan jaminan sosial yang timpang membuatnya sulit bersaing dan kerap hanya menjadi penonton atas kekayaan alam di sekitarnya. Laut Arafura kaya akan sumber daya perikanan, termasuk udang, kakap, dan kerapu. Namun, kekayaan itu menghadirkan paradoks: sumber daya yang besar belum tentu berbanding lurus dengan manfaat bagi masyarakat sekitar. Sepanjang 2024, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengamankan 240 kapal yang melakukan pelanggaran penangkapan ikan, 30 di antaranya kapal asing. Menurut KKP, penindakan tersebut menyelamatkan potensi kerugian negara senilai Rp3,7 triliun. Pada 2025, KKP juga membekukan izin 10 kapal penangkap ikan dan satu kapal pengangkut yang diduga melakukan pelanggaran alih muat (transhipment) di perairan Arafura. Dua buruh angkut memikul hasil tangkapan ikan tuna di Pelabuhan tradisional di Kedonganan, Badung, Bali. Foto : A. Asnawi/Mongabay Indonesia Di sisi lain, kerja sama perikanan Indonesia dan Tiongkok melalui skema Technical Cooperation Guidelines (TCG) menunjukkan bagaimana pemanfaatan sumber daya laut juga terkait dengan penerimaan negara. Namun, besarnya penerimaan fiskal saja belum menjawab pertanyaan tentang siapa yang menikmati manfaat dari kekayaan laut itu. Kerugiannya bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga ekologis. Penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (illegal, unreported, and unregulated fishing/IUU fishing) menguras stok ikan yang menjadi sandaran hidup nelayan kecil.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/10/opini-laut-kaya-nelayan-rentan-di-mana-negara-kesejahteraan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/10/opini-laut-kaya-nelayan-rentan-di-mana-negara-kesejahteraan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Batam Krisis Air,  Warga Demo Data Center</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/10/batam-krisis-air-warga-demo-data-center/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/10/batam-krisis-air-warga-demo-data-center/#respond</comments>
					<pubDate>10 Okt 2026 02:50:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/10024848/WhatsApp-Image-2026-10-09-at-19.22.45-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134742</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[batam dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan emak-emak warga Sambau, Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) berunjuk rasa di depan gerbang masuk pusat data center kawasan Nongsa Digital Park (NDP), Senin (5/10/26). Kelangkaan air bersih yang sudah berlangsung tiga bulan melatari aksi mereka. Dalam aksinya, mereka membawa galon kosong, gayung dan juga perlengkapan rumah tangga lainnya. Beragam poster bernada protes juga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/10/batam-krisis-air-warga-demo-data-center/">Batam Krisis Air,  Warga Demo Data Center</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan emak-emak warga Sambau, Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) berunjuk rasa di depan gerbang masuk pusat data center kawasan Nongsa Digital Park (NDP), Senin (5/10/26). Kelangkaan air bersih yang sudah berlangsung tiga bulan melatari aksi mereka. Dalam aksinya, mereka membawa galon kosong, gayung dan juga perlengkapan rumah tangga lainnya. Beragam poster bernada protes juga mereka bawa. &#8220;Air-air-air, kami butuh air,&#8221; teriak mereka. Buntut aksi yang berlangsung sekitar pukul 06.00 ini, sejumlah pekerja tak bisa masuk ke area proyek karena pintu gerbang tertutup. Dewi Susanti,  peserta aksi meminta Badan Pengusahaan (BP) Batam mendengar kesulitan warga imbas kelangkaan air yang mereka alami semenjak proyek data center marak. &#8220;Kalau air tidak nyala, kami tidak akan pulang,&#8221; katanya di lokasi. BP Batam beberapa kali mendatangkan air bersih melalui mobil tangki tetapi masalah tak selesai justru memicu masalah baru. Warga terlibat pertengkaran dengan warga lain karena saling berebut air bersih. Air yang BP kirim juga kotor. Menurut Dewi, beberapa warga bahkan alami gatal-gatal setelah gunakan air itu. &#8220;Sampai subuh kami menunggu tangki, yang ada zonk. Itu kerjaan kami setiap hari. Air yang datang pun bikin gatal-gatal,&#8221; kata Dewi. Dalam kondisi terdesak, dia terpaksa membeli air seharga Rp125.000 untuk dua drum. Itu pun, hanya cukup untuk sehari pemakaian. &#8220;Tidak mungkin kami beli begitu setiap hari.” Baginya, biaya  membeli air terlalu mahal. Dia bahkan harus alihkan uang beras untuk membeli air. &#8220;Uang yang harusnya beli beras dibelikan air. Anak-anak jadi tidak sekolah. Bapak-bapak harus kerja pagi, padahal malamnya menunggu air,&#8221; katanya. Warga makin geram. Pasalnya, meski&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/10/batam-krisis-air-warga-demo-data-center/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/10/batam-krisis-air-warga-demo-data-center/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Target 2 Kilogram Cumi Berujung Kekerasan terhadap Awak Kapal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/target-2-kilogram-cumi-berujung-kekerasan-terhadap-awak-kapal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/target-2-kilogram-cumi-berujung-kekerasan-terhadap-awak-kapal/#respond</comments>
					<pubDate>10 Okt 2026 00:30:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/07053745/Awak-kapal-siksa-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134628</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kelautan dan perikanan, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Janji penghasilan membawa Ilyas Salahuddin dan awak lainnya bekerja di KM Maulana 23. Namun, pelayaran di perairan Kepulauan Aru, Maluku, justru menyisakan luka. Ilyas bersama Oktavian Makhreza, Syawal Suswono, dan Johan Saputra mengalami penyiksaan yang videonya beredar pada 30 September. Para korban dipukul, diinjak, dan dicelupkan ke bak berisi air. Kepada ibunya, Ilyas mengeluhkan sakit [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/target-2-kilogram-cumi-berujung-kekerasan-terhadap-awak-kapal/">Target 2 Kilogram Cumi Berujung Kekerasan terhadap Awak Kapal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Janji penghasilan membawa Ilyas Salahuddin dan awak lainnya bekerja di KM Maulana 23. Namun, pelayaran di perairan Kepulauan Aru, Maluku, justru menyisakan luka. Ilyas bersama Oktavian Makhreza, Syawal Suswono, dan Johan Saputra mengalami penyiksaan yang videonya beredar pada 30 September. Para korban dipukul, diinjak, dan dicelupkan ke bak berisi air. Kepada ibunya, Ilyas mengeluhkan sakit di seluruh tubuh, gangguan pendengaran pada telinga kiri, serta nyeri perut dan kaki. Keempat korban kemudian menjalani perawatan di RSUD Cendrawasih Dobo. Setelah video tersebut viral, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menangkap KM Maulana 23 pada 2 Oktober. Kapal bertonase 89 GT itu sedang mengoperasikan pancing cumi dan membawa sekitar satu ton hasil tangkapan. Pemeriksaan menemukan penggunaan alat tangkap yang tidak sesuai dengan izin sebelumnya. Menurut Direktur Jenderal PSDKP, Pung Nugroho Saksono, awak diwajibkan memperoleh sedikitnya dua kilogram cumi setiap malam. “Kurang dari dua kilogram, maka wakil dari nakhoda memukuli AKP. Bahkan awak yang dapat paling sedikit nanti dipukuli ramai-ramai. Ini aturan di kapal tersebut,” katanya. Pemeriksaan sementara menunjukkan kekerasan berlangsung berulang atas perintah wakil nakhoda. Awak bekerja sejak sore hingga pagi, tetapi hanya mendapat makan dua kali sehari. KKP mendalami dugaan perbudakan dan mencabut izin operasional kapal untuk kepentingan penyidikan. Polisi memeriksa 24 kru, dengan 19 orang disebut berpotensi menjadi tersangka. Selain menyelidiki keterlibatan mereka, penyidik memprioritaskan penanganan kondisi fisik dan psikologis korban yang masih menjalani perawatan. Persoalan juga muncul sejak perekrutan. Para awak dijanjikan uang muka Rp5 juta dan bagi hasil hingga Rp10 juta, tetapi hanya menerima sekitar Rp100–500 ribu saat berangkat serta&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/target-2-kilogram-cumi-berujung-kekerasan-terhadap-awak-kapal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/target-2-kilogram-cumi-berujung-kekerasan-terhadap-awak-kapal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Meski Populasi Relatif Stabil, Mengapa Komodo Masih Terancam Punah?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/10/fakta-dan-ancaman-komodo-di-habitatnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/10/fakta-dan-ancaman-komodo-di-habitatnya/#respond</comments>
					<pubDate>10 Okt 2026 00:05:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Adhitya*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/17075915/komodo-purba-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134736</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Suaka Terakhir Sang Naga]]>
						</reporting-project>
					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Komodo (Varanus komodoensis) merupakan spesies kadal terbesar di dunia dan menyandang julukan sebagai naga terakhir di bumi. Habitatnya hanya ada di Nusa Tenggara Timur dan tersebar di lima pulau utama. Yakni, Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Nusa Kode, Pulau Gili Motang, dan Pulau Flores. Satwa endemik ini memiliki panjang tubuh rata-rata dua sampai tiga meter [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/10/fakta-dan-ancaman-komodo-di-habitatnya/">Meski Populasi Relatif Stabil, Mengapa Komodo Masih Terancam Punah?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Komodo (Varanus komodoensis) merupakan spesies kadal terbesar di dunia dan menyandang julukan sebagai naga terakhir di bumi. Habitatnya hanya ada di Nusa Tenggara Timur dan tersebar di lima pulau utama. Yakni, Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Nusa Kode, Pulau Gili Motang, dan Pulau Flores. Satwa endemik ini memiliki panjang tubuh rata-rata dua sampai tiga meter dengan bobot mencapai l00 kg. Masyarakat lokal di Pulau Komodo, Ata Modo (orang asli komodo) mempercayai bahwa mereka adalah saudara satu rahim dan sudah sejak lama hidup berdampingan. Mereka pun telah mempraktikkan pola konservasi secara kultural terhadap komodo selama ribuan tahun. Berdasarkan data Balai Taman Nasional Komodo, populasi komodo tahun 2018-2024 sangat fluktuatif. Secara berturut-turut, 2.897 ekor (2018), 3.022 (2019), 3.163 (2020), 3.303 (2021), namun mengalami penurunan di 2022 menjadi 3.156, 3.396 (2023) dan 3.270 (2024). Meski populasinya terbilang stabil, komodo terdaftar kategori Endangered dalam Daftar Merah Spesies Terancam IUCN pada 2021. Apalagi, ada kekhawatiran dari potensi dampak negatif dari tekanan pariwisata dan krisis iklim yang berpotensi berdampak pada habitatnya. Lalu, kira-kira apa saja yang membuat komodo menjadi terancam punah? Berikut penjelasannya. 1. Kenaikan suhu akibat krisis iklim Data SST- Sea Surface Temperature NOAA –  Coral Reef Watch yang menunjukkan indikasi naiknya suhu permukaan laut signifikan pada periode awal April – akhir Mei 2020 di perairan Jawa Timur dan Bali. Sumber: coralreefwatch.noaa.gov World Heritage Outlook 2025 menyebutkan ancaman krisis iklim, seperti pemutihan karang dan kenaikan permukaan laut. Jika tak terkendali, maka akan berpotensi terjadinya kebakaran di sabana tropis dan hutan yang menjadi habitat bagi komodo.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/10/fakta-dan-ancaman-komodo-di-habitatnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/10/fakta-dan-ancaman-komodo-di-habitatnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Pasir Afro-Asia Muncul Lagi di Pinggir Jalan Setelah Satu Setengah Abad Hilang dari Pengamatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/09/ular-pasir-afro-asia-muncul-lagi-di-pinggir-jalan-setelah-satu-setengah-abad-hilang-dari-pengamatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/09/ular-pasir-afro-asia-muncul-lagi-di-pinggir-jalan-setelah-satu-setengah-abad-hilang-dari-pengamatan/#respond</comments>
					<pubDate>09 Okt 2026 22:54:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/09224716/17241109778_dd832ca3b6_h-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134758</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Catatan keanekaragaman hayati di banyak wilayah kering belum selengkap yang dibayangkan. Hewan yang bergerak cepat, bersembunyi di semak, atau hanya muncul pada jam tertentu mudah luput dari survei, sehingga satu spesies bisa tidak tercatat di suatu lokasi selama puluhan tahun. Ketika akhirnya ada yang berhasil mendokumentasikannya, temuan itu mengisi kekosongan data yang sudah lama terbuka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/09/ular-pasir-afro-asia-muncul-lagi-di-pinggir-jalan-setelah-satu-setengah-abad-hilang-dari-pengamatan/">Ular Pasir Afro-Asia Muncul Lagi di Pinggir Jalan Setelah Satu Setengah Abad Hilang dari Pengamatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Catatan keanekaragaman hayati di banyak wilayah kering belum selengkap yang dibayangkan. Hewan yang bergerak cepat, bersembunyi di semak, atau hanya muncul pada jam tertentu mudah luput dari survei, sehingga satu spesies bisa tidak tercatat di suatu lokasi selama puluhan tahun. Ketika akhirnya ada yang berhasil mendokumentasikannya, temuan itu mengisi kekosongan data yang sudah lama terbuka dan membantu peneliti memperbarui peta persebaran jenis tersebut. Hal itu terjadi di Kutch, distrik di negara bagian Gujarat, India bagian barat. Pada 6 September 2026, petugas Departemen Kehutanan Gujarat merekam seekor ular pasir Afro-Asia (Psammophis schokari) di dekat Kala Dungar, titik tertinggi di distrik tersebut. Setelah memeriksa foto dan video yang dikirim, para ahli menyatakan spesies ini belum pernah tercatat lagi di Kutch sejak 1872, atau sekitar 150 tahun lalu. Berawal dari Ular Lain di Pinggir Jalan Penemunya adalah Jayesh Dumadiya, Range Forest Officer yang baru ditugaskan di Kutch. Ia dan timnya sedang dalam perjalanan pulang dari patroli di sekitar Kala Dungar, tidak jauh dari Kota Bhuj, pada malam 6 September. Mereka berhenti karena seekor ular royal berkepala hitam (Spalerosophis atriceps), jenis yang cukup umum di kawasan itu, berada di jalan. Saat menangani ular tersebut, pandangan mereka tertuju pada reptil lain di sekitar jalan itu yang belum pernah dilihat Dumadiya. Ia memotret dan merekam video hewan itu, lalu mengirimkannya kepada para ahli, penyelamat ular, dan ilmuwan. Tak lama kemudian, hasil identifikasi menyebut ular tersebut sebagai ular pasir Afro-Asia. Ular pasir Afro-Asia (Psammophis schokari) yang difoto Jayesh Dumadiya pada malam 6 September 2026 di sekitar Kala&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/09/ular-pasir-afro-asia-muncul-lagi-di-pinggir-jalan-setelah-satu-setengah-abad-hilang-dari-pengamatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/09/ular-pasir-afro-asia-muncul-lagi-di-pinggir-jalan-setelah-satu-setengah-abad-hilang-dari-pengamatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Hanya Main, Anak Orangutan yang Aktif Menjelajah Hutan Hidupnya Lebih Mandiri</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/09/bukan-hanya-main-anak-orangutan-yang-aktif-menjelajah-hutan-hidupnya-lebih-mandiri/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/09/bukan-hanya-main-anak-orangutan-yang-aktif-menjelajah-hutan-hidupnya-lebih-mandiri/#respond</comments>
					<pubDate>09 Okt 2026 16:27:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/01/22065811/Orangutan1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134754</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor anak orangutan sumatera (Pongo abelii) terekam mengamati buah neesia/bengang dengan penuh rasa ingin tahu. Ia memegang, menggigit dan meletakkannya di antara batang dan cabang pohon. Lalu dengan kaki, ia berusaha membuka buah lonjong seperti bola rugby itu. Neesia, buah yang masih berkerabat dengan durian tersebut merupakan satu dari sekitar 250 jenis makanan orangutan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/09/bukan-hanya-main-anak-orangutan-yang-aktif-menjelajah-hutan-hidupnya-lebih-mandiri/">Bukan Hanya Main, Anak Orangutan yang Aktif Menjelajah Hutan Hidupnya Lebih Mandiri</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor anak orangutan sumatera (Pongo abelii) terekam mengamati buah neesia/bengang dengan penuh rasa ingin tahu. Ia memegang, menggigit dan meletakkannya di antara batang dan cabang pohon. Lalu dengan kaki, ia berusaha membuka buah lonjong seperti bola rugby itu. Neesia, buah yang masih berkerabat dengan durian tersebut merupakan satu dari sekitar 250 jenis makanan orangutan yang diperoleh langsung dari hutan. Orangutan harus belajar memilih dari ribuan pilihan yang tersedia. Beberapa di antaranya beracun, sebagian harus dibuka lebih dulu kulitnya, atau mengambil makanan memakai alat. &#8220;Bagaimana bayi (oangutan) menguasai kurikulum diet kompleks ini di tahun-tahun pertama?&#8221; tanya Revathe Thillaikumar, dikutip dari Phys.org. Dia adalah peneliti pada Max Planck Institute of Animal Behavior, Jerman. Bersama rekannya dari beberapa negara termasuk Indonesia, mereka meneliti cara belajar bayi orangutan memahami lingkungan hidupnya. Hasil penelitin mereka terbit dalam jurnal Science, 24 September 2026 berjudul “How 8 years of social and individual learning interact to shape ecological competence in orangutans.” Orangutan sumatera ini terpantau di Stasiun Riset Suaq Belimbing. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Mengamati dan mencoba Seperti diketahui, anak orangutan membutuhkan waktu sekitar delapan tahun bersama induknya sebelum mampu hidup mandiri. Selama masa tersebut, mereka harus mempelajari berbagai keterampilan, terutama mencari dan mengolah makanan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemampuan ini berkembang melalui perpaduan dua cara belajar. Yaitu, dengan cara mengamati orangutan lain dan menjelajahi lingkungan secara mandiri. Untuk bertahan hidup orangutan harus mengenali makanan yang aman, mengetahui bagian yang dapat dimakan, memahami cara mendapatkannya, serta mengingat kapan dan di mana makanan tersedia. Keterampilan tersebut sangat penting karena&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/09/bukan-hanya-main-anak-orangutan-yang-aktif-menjelajah-hutan-hidupnya-lebih-mandiri/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/09/bukan-hanya-main-anak-orangutan-yang-aktif-menjelajah-hutan-hidupnya-lebih-mandiri/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan dan Petani Waswas Terdampak Proyek PLTS Waduk Gajah Mungkur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/09/nelayan-dan-petani-waswas-terdampak-proyek-plts-waduk-gajah-mungkur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/09/nelayan-dan-petani-waswas-terdampak-proyek-plts-waduk-gajah-mungkur/#respond</comments>
					<pubDate>09 Okt 2026 13:47:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/09033231/IMG_9518-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134727</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dua kali mengitari Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng) dengan perahu kecil tak membuat Joko Suharyo mendapat  ikan cukup. Merasa upayanya sia-sia, dia mengakhiri aktivitasnya dan hanya membawa pulang 2,5 kilogram nila. Sejak 1992 dia jadi nelayan di Gajah Mungkur, Joko merasakan penurunan tangkapan tahun ini sebagai yang terparah. “Dulu,  itu bisa sekali berangkat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/09/nelayan-dan-petani-waswas-terdampak-proyek-plts-waduk-gajah-mungkur/">Nelayan dan Petani Waswas Terdampak Proyek PLTS Waduk Gajah Mungkur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dua kali mengitari Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng) dengan perahu kecil tak membuat Joko Suharyo mendapat  ikan cukup. Merasa upayanya sia-sia, dia mengakhiri aktivitasnya dan hanya membawa pulang 2,5 kilogram nila. Sejak 1992 dia jadi nelayan di Gajah Mungkur, Joko merasakan penurunan tangkapan tahun ini sebagai yang terparah. “Dulu,  itu bisa sekali berangkat dapat 20 kilogram, 10 tahun terakhir berkurang drastis yang puncaknya tahun ini,” kata warga Desa Wuryantoro, Wonogiri ini, Kamis (10/9/26). Sejatinya, September memang musim tangkap nila. Dengan harga di pasaran  Rp25.000 per kilogram, jerih payah Joko hari itu hanya berkisar Rp62.500. Angka itu  cukup untuk menutup biaya operasional bensin perahu. Di balik itu, dia menyimpan kekhawatiran akan penghasilan ke depan. Bagi Joko, kekhawatiran itu beralasan. Bulan lalu, pemerintah baru saja memulai proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Megawatt di waduk itu. “Jelas makin takut karena wilayah tangkapan jadi makin terbatas, dampaknya nanti hasil tangkapan makin minim,” ujarnya. Joko tahu proyek dari informasi yang beredar di kalangan nelayan. Tak pernah ada sosialisasi yang mengundangnya sebagai warga terdampak proyek PLTS dengan model secara terapung itu. Tak hanya Joko banyak nelayan yang kebingungan. “Dampaknya,  tidak hanya wilayah tangkapan yang berkurang juga pendaratan pasti tidak bisa leluasa lagi, lalu kami juga takut ini kan berkaitan sama listrik di tengah air yang artinya ada potensi kesetrum lalu bagaimana keselamatan kami.&#8221; Tak hanya nelayan yang terdampak pembangunan PLTS ini, petani penggarap di tepian Waduk Gajah Mungkur juga terkena imbasnya. Salah satunya Sutinah, warga Kecamatan Baturetno yang memanfaatkan lahan saat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/09/nelayan-dan-petani-waswas-terdampak-proyek-plts-waduk-gajah-mungkur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/09/nelayan-dan-petani-waswas-terdampak-proyek-plts-waduk-gajah-mungkur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Krisis Air dan Kesehatan Membayangi 24 Ribu Penyintas Gempa NTT</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/krisis-air-dan-kesehatan-membayangi-24-ribu-penyintas-gempa-ntt/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/krisis-air-dan-kesehatan-membayangi-24-ribu-penyintas-gempa-ntt/#respond</comments>
					<pubDate>09 Okt 2026 10:00:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/04170653/6A-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134594</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, nusa tenggara, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebulan lebih setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur, ancaman terhadap keselamatan warga belum berakhir. Data BNPB per 28 September mencatat 156 korban meninggal, terdiri dari 48 orang yang meninggal ketika gempa terjadi dan 108 orang setelah bencana. Kematian pascabencana berlangsung di rumah, fasilitas kesehatan, maupun pengungsian. Sementara itu, sekitar 24.027 orang masih mengungsi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/krisis-air-dan-kesehatan-membayangi-24-ribu-penyintas-gempa-ntt/">Krisis Air dan Kesehatan Membayangi 24 Ribu Penyintas Gempa NTT</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebulan lebih setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur, ancaman terhadap keselamatan warga belum berakhir. Data BNPB per 28 September mencatat 156 korban meninggal, terdiri dari 48 orang yang meninggal ketika gempa terjadi dan 108 orang setelah bencana. Kematian pascabencana berlangsung di rumah, fasilitas kesehatan, maupun pengungsian. Sementara itu, sekitar 24.027 orang masih mengungsi dalam kondisi keterbatasan air bersih, pangan, sanitasi, dan layanan kesehatan. Situasi tersebut memperberat kehidupan penyintas, terutama lansia, anak-anak, dan warga yang memiliki penyakit penyerta. BNPB mengkategorikan kematian pascabencana sebagai kematian tidak langsung, yang berkaitan dengan usia, penyakit kronis, serta penurunan kesehatan. “Data dari tim medis menunjukkan sebagian besar warga tersebut adalah kelompok lansia yang meninggal dunia karena komplikasi penyakit kronis,” kata Berton SP. Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. Namun, korban juga mencakup warga usia produktif, anak, dan bayi. Gangguan kesehatan, kelelahan ekstrem, tekanan mental, serta memburuknya kondisi setelah gempa susulan turut disebut sebagai faktor yang berkaitan dengan kematian tersebut. Kondisi pengungsian menjadi perhatian karena dapat memperbesar risiko kesehatan kelompok rentan. Fransiskus Sales Solo, Sekretaris Daerah NTT,  menyebut pneumonia dan diare sebagai sejumlah persoalan yang dialami penyintas. “Mereka terserang berbagai penyakit saluran pernapasan seperti pneumonia hingga diare akibat cuaca ekstrem serta lingkungan pengungsian yang berdebu dan bersanitasi kurang memadai,” ujarnya. Di tengah kemarau, menurunnya debit dan kualitas air sungai turut memperburuk kesulitan mendapatkan air bersih. BNPB juga mencatat 1.620 korban luka atau sakit, sementara ribuan rumah dan berbagai fasilitas publik mengalami kerusakan. Walhi menilai tingginya kematian pascabencana harus mendorong evaluasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/krisis-air-dan-kesehatan-membayangi-24-ribu-penyintas-gempa-ntt/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/krisis-air-dan-kesehatan-membayangi-24-ribu-penyintas-gempa-ntt/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>