- Krisis iklim mengancam habitat komodo. Kenaikan suhu dan permukaan laut diperkirakan dapat mengurangi habitatnya hingga 30% dalam 45 tahun.
- Meski secara populasi terbilang stabil, ancaman habitat komodo terus terjadi. Mulai dari perburuan, perdagangan hingga pembangunan infrastruktur.
- Pariwisata dan pembangunan menekan habitat komodo. Pembangunan infrastruktur wisata berisiko mengubah bentang alam dan mengganggu kehidupan komodo.
- Tak hanya itu, menyempitnya habitat juga mengancam ketersediaan pakan komodo. Kondisi ini meningkatkan persaingan antarpredator serta risiko konflik antara komodo dan manusia.
Komodo (Varanus komodoensis) merupakan spesies kadal terbesar di dunia dan menyandang julukan sebagai naga terakhir di bumi. Habitatnya hanya ada di Nusa Tenggara Timur dan tersebar di lima pulau utama. Yakni, Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Nusa Kode, Pulau Gili Motang, dan Pulau Flores.
Satwa endemik ini memiliki panjang tubuh rata-rata dua sampai tiga meter dengan bobot mencapai l00 kg. Masyarakat lokal di Pulau Komodo, Ata Modo (orang asli komodo) mempercayai bahwa mereka adalah saudara satu rahim dan sudah sejak lama hidup berdampingan. Mereka pun telah mempraktikkan pola konservasi secara kultural terhadap komodo selama ribuan tahun.
Berdasarkan data Balai Taman Nasional Komodo, populasi komodo tahun 2018-2024 sangat fluktuatif. Secara berturut-turut, 2.897 ekor (2018), 3.022 (2019), 3.163 (2020), 3.303 (2021), namun mengalami penurunan di 2022 menjadi 3.156, 3.396 (2023) dan 3.270 (2024).
Meski populasinya terbilang stabil, komodo terdaftar kategori Endangered dalam Daftar Merah Spesies Terancam IUCN pada 2021. Apalagi, ada kekhawatiran dari potensi dampak negatif dari tekanan pariwisata dan krisis iklim yang berpotensi berdampak pada habitatnya.
Lalu, kira-kira apa saja yang membuat komodo menjadi terancam punah? Berikut penjelasannya.
1. Kenaikan suhu akibat krisis iklim

World Heritage Outlook 2025 menyebutkan ancaman krisis iklim, seperti pemutihan karang dan kenaikan permukaan laut. Jika tak terkendali, maka akan berpotensi terjadinya kebakaran di sabana tropis dan hutan yang menjadi habitat bagi komodo. NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) melaporkan, sejak 1880, permukaan laut global rata-rata meningkat sekitar 21 hingga 24 cm. Kondisi ini akan terus berlangsung seiring dengan peningkatan suhu global.
IUCN (2021) memperkirakan kenaikan suhu global dan naiknya permukaan laut akan mengancam habitat komodo hingga 30% dalam 45 tahun ke depan. Apalagi habitat komodo tersebar di pulau-pulau kecil, hal ini mampu mempersempit ruang hidup dan ketersediaan pangan, berkembang biak dan berlindung.
2. Perburuan dan perdagangan ilegal

Tak hanya ancaman habitat, komodo juga menjadi target dalam perburuan liar dan perdagangan ilegal. Berdasarkan data Kepolisian Daerah Jawa Timur pada Januari 2025-Februari 2026 ada penyelundupan 17 anakan komodo masuk ke pasar internasional.
Pada 2019, aparat berhasil mengungkap jaringan perdagangan satwa liar menggunakan media sosial untuk menjual setidaknya 40 komodo dan satwa lainnya. Facebook, misalnya.
Kasus terbaru, April 2026. Hanif Fatih Wicaksono, Kepala Sub Bidang Tipiter Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Timur, menduga pemburu ilegal komodo terjadi di Manggarai Timur, menyelundupkan, lalu menjualnya di pasar gelap Thailand.
Adhi Nurul Hadi, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, mengungkapkan bahwa penyebab maraknya kasus ini karena tingginya permintaan pasar. Di Thailand, misalnya, harga anakan komodo bisa mencapai 500 juta per ekor.
Selain itu, terbatasnya personel mengakibatkan pengawasan menjadi tidak efektif sehingga kasus perburuan dan penyelundupan masih terjadi.
3. Tekanan pariwisata dan pembangunan infrastruktur

Sejak 2021, penetapan kawasan TNK menjadi bagian pengembangan kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) super prioritas Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur menuai beragam kontroversi. Rencananya, pemerintah akan mengembangkan destinasi wisata baru, mencakup sejumlah wilayah yang menjadi habitat komodo, yaitu Pulau Flores dan Pulau Rinca.
UNESCO juga mengingatkan pemerintah Indonesia mengenai ancaman terhadap aset dengan nilai luar biasa, yakni komodo yang menjadi spesies kunci dan warisan dunia. Mereka pun meminta agar negara anggota menangguhkan seluruh proyek infrastruktur pariwisata yang berdampak pada satwa kunci. Selain itu, juga meminta adanya analisis mengenai dampak lingkungan untuk dikaji oleh IUCN.
Salah satu pembangunan yang paling kontroversial berada di Pulau Padar. Pemerintah memberikan PT KWE (Komodo Wildlife Ecotourism) izin usaha penyediaan sarana dan wisata alam seluas 274,13 hektar atau 19,5% dari Pulau Padar. Izin ini berpotensi terjadinya konflik akibat penyempitan ruang hidup antara komodo dan masyarakat.
Selain itu, pemerintah melakukan penataan di kawasan Loh Buaya dengan pembangunan sarana dan prasarana baru, seperti Jurassic Park. Sejumlah peneliti menilai bahwa pembangunan ini berpotensi mengubah keaslian bentang alam dan mengancam habitat komodo serta satwa lainnya yang berada di kawasan tersebut. Yuvensius Stefanus Nonga, Deputi WALHI NTT, menyebutkan ada kecenderungan perubahan perilaku komodo pasca pembangunan Jurassic Park di Pulau Rinca.
4. Menyempitnya habitat dan pakan alami komodo

Meski Ata Modo (orang asli komodo) mempercayai bahwa komodo adalah saudara satu rahim dan biasa hidup berdampingan, konflik antara komodo dan manusia tak terelakkan. Pada 2021–2024, kasus komodo menggigit manusia terjadi berulang kali.
Sidiq, warga Desa Komodo menyebutkan komodo memiliki sifat agresif, misalnya pada kasus 2021, kebetulan saat itu balita bermain menggunakan tali seperti memancing ikan dan tidak mengetahui ada komodo di kolong rumahnya. Biasanya, kata Sidiq, komodo bermain ke kampung saat mencium bau amis dari ikan yang dijemur warga. Meski beberapa kali, komodo memangsa hewan ternak.
Balai TNK mencatat, sepanjang 1974-2023, terdapat 36 kasus gigitan komodo, lima di antaranya meninggal dunia. Maria Panggur, Pengendali Ekosistem Hutan Balai TNK, Maria Panggur, mengatakan, sebagai jumlah populasi komodo akan mengikuti pada ketersediaan pakan di habitatnya. predator puncak, populasi komodo bergantung pada ketersediaan populasi satwa mangsa seperti rusa, kerbau, babi hutan, dan keamanan habitat dan wilayah jelajahnya.
Ancaman terhadap ketersediaan mangsa terjadi akibat menyempitnya habitat, komodo juga bersaing dengan predator lainnya. Hasil monitoring BKSDA 2025, menyebutkan bahwa spesies pesaing seperti biawak air (Varanus salvator) dan anjing turut mengancam kelestarian komodo.
Ancaman tersebut muncul bersamaan dengan aktivitas manusia di pulau yang menjadi habitat komodo sehingga terjadi kasus perburuan, pemasangan jerat, serta risiko tertabrak kendaraan dan pembukaan lahan yang mempersempit ruang hidup dan meningkatkan persaingan antar predator.
*****