Catatan keanekaragaman hayati di banyak wilayah kering belum selengkap yang dibayangkan. Hewan yang bergerak cepat, bersembunyi di semak, atau hanya muncul pada jam tertentu mudah luput dari survei, sehingga satu spesies bisa tidak tercatat di suatu lokasi selama puluhan tahun. Ketika akhirnya ada yang berhasil mendokumentasikannya, temuan itu mengisi kekosongan data yang sudah lama terbuka dan membantu peneliti memperbarui peta persebaran jenis tersebut.
Berawal dari Ular Lain di Pinggir Jalan
Penemunya adalah Jayesh Dumadiya, Range Forest Officer yang baru ditugaskan di Kutch. Ia dan timnya sedang dalam perjalanan pulang dari patroli di sekitar Kala Dungar, tidak jauh dari Kota Bhuj, pada malam 6 September. Mereka berhenti karena seekor ular royal berkepala hitam (Spalerosophis atriceps), jenis yang cukup umum di kawasan itu, berada di jalan.
Saat menangani ular tersebut, pandangan mereka tertuju pada reptil lain di sekitar jalan itu yang belum pernah dilihat Dumadiya. Ia memotret dan merekam video hewan itu, lalu mengirimkannya kepada para ahli, penyelamat ular, dan ilmuwan. Tak lama kemudian, hasil identifikasi menyebut ular tersebut sebagai ular pasir Afro-Asia.

Menurut Dumadiya, sejak catatan lama itu ada dua atau tiga laporan penampakan di Kutch, tetapi tidak ada yang dapat dikonfirmasi. Konservator Hutan Dheeraj Mittal menyebut catatan terakhir yang dapat dirujuk berasal dari era 1870-an, ketika naturalis Ferdinand Stoliczka berkeliling India untuk mengumpulkan spesimen zoologi. Mittal menilai verifikasi fisik pada 2026 atas catatan tahun 1872 itu sebagai pencapaian besar.
Stoliczka lahir di Moravia, wilayah yang kini masuk Republik Ceko, dan bekerja sebagai ahli paleontologi pada Geological Survey of India. Dari Kutch, tempat ia bekerja pada 1871 hingga 1872, ia membawa pulang spesimen 18 spesies ikan, dan pada 1872 ia menulis tentang burung serta mamalia kawasan itu. Ia meninggal pada 1874 dalam perjalanan pulang dari misi diplomatik ke Yarkand, diduga akibat penyakit ketinggian.
Ular Gurun yang Gesit dan Berbisa Ringan
Ular pasir Afro-Asia, yang juga dikenal sebagai Schokari sand racer, pertama kali dideskripsikan pada 1775 oleh naturalis Peter Forsskål dan kini dimasukkan ke famili Psammophiidae. Persebarannya termasuk yang terluas di antara ular Palearktik barat, mencakup Afrika Utara, Semenanjung Arab, dan Asia Barat hingga barat laut India. Di India, spesies ini terutama dikaitkan dengan wilayah kering seperti Rajasthan dan Gujarat.
Ular ini aktif pada siang hari dan bergerak sangat cepat, dengan tubuh ramping dan sisik halus. Panjang tubuh dewasanya umumnya sekitar 100 sentimeter, dan sejumlah sumber mencatat hingga 120 sentimeter atau lebih. Pola warnanya bervariasi, dari individu bergaris gelap memanjang hingga yang polos atau hanya berbintik samar, tergantung populasinya.

Mangsanya mencakup kadal (termasuk gekko dan agamid), burung, dan hewan pengerat kecil. Ular ini tergolong berbisa ringan. Taringnya terletak di bagian belakang rahang atas (opistoglifa), sehingga bisa disalurkan lewat gigitan yang mengunyah. Spesies bertaring belakang semacam ini umumnya tidak signifikan secara medis bagi manusia, dan perannya sebagai pemangsa hewan pengerat kerap dianggap menguntungkan.
IUCN memasukkan spesies ini dalam kategori Risiko Rendah (Least Concern), dan persebarannya memang luas. Temuan di Kutch karena itu terutama berarti sebagai pembaruan data lokal. Jeda catatan sekitar 150 tahun juga tidak otomatis berarti ular ini sempat lenyap dari sana, sebab ular gurun yang gesit dan pandai bersembunyi mudah luput dari pengamatan.
Pola serupa pernah muncul di negara lain. Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 60 survei lapangan di Lebanon selatan dan tengah pada 2018 hingga 2025 mengonfirmasi keberadaan ular ini di sana, padahal kehadirannya lama dianggap belum pasti. Hasil itu menunjukkan bahwa survei yang sistematis dapat menjawab pertanyaan lama tentang persebaran suatu reptil.
Otoritas kehutanan Gujarat berencana mendokumentasikan temuan ini lebih lanjut dalam jurnal ilmiah. Distrik Kutch mencakup Rann of Kutch Besar maupun Kecil, dataran lumpur asin musiman yang sekilas tampak gersang. Penampakan ini dipandang sebagai tanda bahwa kawasan tersebut menyimpan keanekaragaman hayati yang membutuhkan perlindungan dan penelitian lebih lanjut.
**
Referensi: