- Kucing bakau (Prionailurus viverrinus) merupakan jenis kucing liar paling langka di dunia, yang habitatnya berada di lahan basah, yakni hutan mangrove, rawa dan juga sungai.
- Kucing ini memiliki selaput pada kakinya, yang berfungsi membantu mereka saat berenang dan mencegah tenggelam ketika berjalan di atas lumpur atau tanah yang lunak di habitat lahan basah seperti hutan mangrove.
- Setiap hektar mangrove yang berubah jadi tambak, kompleks perumahan, atau kawasan industri, adalah satu ruang hidup yang hilang dari sang predator pemburu ikan ini.
- Bagi kucing bakau, hilangnya mangrove bukan cuma soal kehilangan tempat tinggal. Ekosistem ini adalah “dapur” tempat ia berburu ikan, kepiting, dan udang; sekaligus “kamar tidur” tempat induk kucing menyembunyikan anak-anaknya dari predator dan gangguan manusia.
Tubuhnya sebesar anjing kecil, bulunya kuning keabu-abuan dengan bercak hitam, dan cakarnya sedikit berselaput. Ia adalah ciri khas satwa yang lahir untuk berburu di air, meskipun selaput ini tidak menutupi seluruh bagian kaki seperti pada beberapa spesies lainnya.
Itulah kucing bakau (Prionailurus viverrinus), jenis kucing liar paling langka di dunia yang keberadaannya nyaris tak disadari banyak orang. Bahkan, oleh masyarakat yang tinggal berdekatan dengannya.
Secara umum, selaput pada kaki kucing bakau berfungsi membantu mereka saat berenang dan mencegah tenggelam ketika berjalan di atas lumpur atau tanah lunak di habitat lahan basah seperti hutan mangrove. Hal ini berkaitan dengan perilaku mereka sebagai fishing cat atau “kucing pemancing” yang sering berinteraksi dengan lingkungan perairan.
“Kucing bakau adalah kucing terbesar di antara jenis-jenis Prionailurus, dengan wajah lonjong bercirikan hidung khas, bagian bawah tubuh putih, dan telinga belakang berwarna hitam dengan totol putih di tengahnya,” tulis Kuncoro, dkk, peneliti dari Universitas Negeri Surabaya dalam laporan identifikasi morfologi dan genetik mereka.
Penelitian yang dipublikasikan tahun 2023 tersebut dengan judul, “The vulnerable fishing cat Prionailurus viverrinus from Wonorejo Mangroves, Surabaya, Indonesia based on morphology and molecular data”, berhasil mengonfirmasi kehadiran spesies ini di Jawa Timur berdasarkan analisis gen Cytochrome b. Temuan ini penting, karena data populasi kucing bakau di Indonesia, khususnya di luar Sumatera dan Jawa Barat, masih sangat minim.
Nama belakang yang disematkan padanya; bakau, merujuk pada habitatnya di lahan basah, yakni hutan mangrove, rawa dan juga sungai. Sayangnya, rumah kucing ini sedang runtuh pelan-pelan. Setiap hektar mangrove yang berubah jadi tambak, kompleks perumahan, atau kawasan industri, adalah satu ruang hidup yang hilang dari sang pemburu ikan ini.

Berbeda dari kucing umumnya yang menghindari air, kucing bakau justru piawai berenang dan menyelam untuk menangkap ikan. Ia mengandalkan penciuman tajam dan cakar semi-berselaput untuk mengintai mangsa di rawa, sungai pasang surut, dan kawasan mangrove yang becek.
Seperti diketahui, mangrove Indonesia menyusut dari tahun ke tahun, digerus oleh tiga kekuatan besar: tambak, ekspansi permukiman pesisir, serta pembangunan kawasan industri dan pelabuhan.
Bagi kucing bakau, hilangnya mangrove bukan cuma soal kehilangan tempat tinggal. Ekosistem ini adalah “dapur” tempat ia berburu ikan, kepiting, dan udang; sekaligus “kamar tidur” tempat induk kucing menyembunyikan anak-anaknya dari predator dan gangguan manusia. Ketika tambak menggantikan rimbunnya akar mangrove, kucing bakau kehilangan keduanya sekaligus.
“Kucing bakau adalah spesies yang terancam punah dengan kerusakan dan fragmentasi habitat lahan basah sebagai pendorong utama penurunan populasinya di seluruh wilayah sebaran,” demikian kesimpulan tim IUCN Cat Specialist Group dalam asesmen resmi mereka untuk Daftar Merah Spesies Terancam Punah.
Status ini berarti kucing bakau menghadapi risiko kepunahan yang tinggi di alam liar, apabila tekanan terhadap habitatnya terus berlanjut tanpa upaya perlindungan yang serius.

Kucing bakau penjaga mangrove
Satu peran penting kucing bakau yang jarang dibahas adalah sebagai indikator kesehatan ekosistem mangrove. Sebagai predator puncak di rantai makanan mangrove, kehadiran kucing bakau menandakan bahwa populasi ikan, kepiting, dan hewan kecil lain di bawahnya dalam kondisi baik. Sementara ketiadaannya sering kali menjadi alarm dini bahwa sesuatu sedang rusak di ekosistem itu.
“Keanekaragaman dan kelimpahan fauna yang hidup di kawasan hutan mangrove dapat dijadikan indikator untuk menilai tingkat kesehatan ekosistem tersebut,” tulis para peneliti dalam kajian mereka tentang biodiversitas fauna dan kesehatan hutan mangrove.
Dengan kata lain, memantau kucing bakau sama artinya dengan memantau denyut nadi seluruh hutan mangrove, mulai dari kualitas air, kelimpahan ikan, sampai kerapatan vegetasi hutan mangrove itu sendiri.
Di hutan mangrove Wonorejo, Surabaya, Jawa Timur, keberadaan kucing bakau awalnya diduga melalui hasil kamera jebak dan kemudian dikonfirmasi melalui penelitian morfologi serta analisis genetik (DNA). Kawasan ini merupakan ekosistem hutan mangrove yang memiliki interaksi unik antara perairan laut, payau, sungai, dan daratan.
Hutan mangrove Wonorejo memiliki tingkat keragaman flora dan fauna tinggi. Satu keunikan yang menonjol adalah sebagai habitat kucing bakau, yang keberadaannya menarik perhatian para peneliti. Kawasan ini menjadi lokasi penting untuk studi identifikasi morfologi dan genetik guna memperkuat data keanekaragaman hayati dan upaya konservasi kucing bakau, khususnya di wilayah Jawa Timur.

Penelitian di hutan mangrove Wonorejo itu, menjelaskan bahwa kondisi populasi kucing bakau mencerminkan kualitas lingkungan tempat tinggalnya. Beberapa alasan mengapa kucing bakau berkaitan erat dengan indikasi kesehatan ekosistem adalah kepekaan terhadap perubahan lingkungan, yakni populasi kucing bakau mengalami penurunan yang salah satunya disebabkan oleh perubahan kualitas lingkungan.
Selain kualitas lingkungan, populasi mereka juga terancam penangkapan ikan berlebihan (over fishing). Sebagai predator yang mengandalkan ikan, keberadaan kucing bakau dapat menjadi tanda ketersediaan sumber daya hayati yang cukup di lingkungan perairan mangrove.
Referensi:
Kuntjoro, S., Rahayu, D. A., Budijastuti, W., & Winarsih. (2023). The vulnerable fishing cat Prionailurus viverrinus from Wonorejo Mangroves, Surabaya, Indonesia based on morphology and molecular data. Jurnal Biodjati, 8(2), 306–315. https://www.cabidigitallibrary.org/doi/full/10.5555/20240022785
*****