Pada 2018, seekor orca betina dari populasi Southern Resident ((orca yang menetap di wilayah Pasifik Barat Laut Amerika Utara) bernama Tahlequah (J35) membawa bangkai anaknya yang baru lahir selama 17 hari, menempuh jarak lebih dari 1.600 kilometer di perairan Salish Sea, Pasifik Barat Laut Amerika Utara. Peristiwa ini menarik perhatian dunia dan menjadi salah satu sorotan utama terkait kondisi populasi Southern Resident, subpopulasi orca yang berstatus terancam punah.
Status itu bukan sekadar label. Sensus Southern Resident yang dilakukan Center for Whale Research pada Juli 2025 mencatat populasi ini hanya tersisa 74 ekor, jauh dari perkiraan populasi historis yang pernah berjumlah lebih dari 200 ekor sebelum abad ke-20. Para ilmuwan tidak dapat memastikan alasan di balik perilaku Tahlequah, namun perilakunya yang berlangsung lama ini memperkuat perhatian terhadap tekanan yang dihadapi populasinya, terutama menyusutnya ikan salmon Chinook (Oncorhynchus tshawytscha) sebagai sumber makanan utama.

Kisah Tahlequah kemudian menjadi salah satu simbol yang paling sering dikutip dalam peringatan World Orca Day, yang jatuh setiap 14 Juli.
Orca (Orcinus orca), yang juga dikenal sebagai paus pembunuh, merupakan anggota terbesar dari keluarga lumba-lumba (Delphinidae). Hewan ini hidup di hampir seluruh perairan dunia, dari perairan dingin Antarktika hingga wilayah tropis. Sebagai predator puncak, orca tidak memiliki predator alami dan berperan penting mengendalikan populasi mangsa di ekosistem laut, sehingga perubahan pada populasinya kerap dijadikan indikator kesehatan laut secara lebih luas.
Dialek Antar-Pod dan Peran Nenek dalam Kelompok
Orca hidup dalam kelompok keluarga yang disebut pod, tempat anak-anaknya umumnya tetap bersama induk betina seumur hidup. Riset yang dimulai peneliti John Ford dan Graeme Ellis pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, dengan menganalisis ribuan jam rekaman suara bawah laut, menemukan bahwa setiap pod memiliki 7 hingga 17 jenis panggilan berbeda yang membentuk dialek khasnya. Anak orca tidak lahir dengan dialek yang sudah lengkap, melainkan mempelajarinya dari induk dan anggota kelompok lain, mirip proses anak manusia belajar bahasa.

Peran individu tua dalam kelompok juga telah diteliti secara khusus. Sebuah studi yang dipimpin Dr. Stuart Nattrass dari University of York, dipublikasikan pada 2019, menemukan bahwa orca betina yang sudah berhenti bereproduksi memberi dampak paling besar terhadap peluang bertahan hidup cucu-cucunya.
Peneliti menduga hal ini terjadi karena betina yang tidak lagi memiliki anak sendiri dapat mencurahkan lebih banyak waktu dan sumber daya untuk generasi berikutnya. Studi yang sama mencatat bahwa peran nenek ini menjadi sangat penting pada tahun-tahun ketika stok salmon menipis, dan penelitian tersebut turut menjelaskan sebagian faktor yang memengaruhi kelangsungan hidup Southern Resident, populasi yang berstatus terancam punah dan berisiko punah.
Ancaman dari Aktivitas Manusia
Meski berada di puncak rantai makanan, orca menghadapi berbagai tekanan akibat aktivitas manusia. Zat pencemar kimia dapat terakumulasi dalam lemak tubuhnya selama puluhan tahun, sementara kebisingan bawah laut dari kapal dapat mengganggu ekolokasi yang digunakan orca untuk berburu dan berkomunikasi. Perubahan iklim turut memperbesar tekanan tersebut dengan mengubah kondisi laut dan struktur jaring makanan, sementara risiko tabrakan kapal dan jeratan alat tangkap ikan tetap menjadi ancaman di berbagai wilayah.

Populasi Southern Resident, tempat Tahlequah berasal, menjadi salah satu kelompok paling rentan karena ketergantungannya yang tinggi pada salmon Chinook. Sensus Juli 2025 mencatat komposisi populasi ini terdiri dari 27 ekor di J pod, 14 ekor di K pod, dan 33 ekor di L pod, angka yang masih jauh dari target pemulihan jangka panjang otoritas setempat.