- Serangga tongkat baru Nesiophasma davisdamaledoi sp. nov. merupakan serangga jenis baru endemik Pulau Sumba.
- Ini adalah spesies pertama dari genus Nesiophasma Günther, 1934 dan serangga tongkat pertama yang tercatat dari Sumba serta spesies ketiga Nesiophasma yang diketahui dari Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia.
- Serangga berbentuk ranting, berukuran 13-18 cm ini memiliki ciri khas bercak hitam pada Genae (pipi) dan punya kemampuan berkamuflase.
- Habitatnya di hutan sekunder (Sumba Tengah) dan kebun (Sumba Timur). Mereka memakan jambu biji di alam dan berkembang biak secara seksual, tetapi juga bisa partenogenesis seperti Phasmid pada umumnya, telur menetas sekitar empat bulanan.
Davis Marthin Damaledo merupakan mahasiswa semester 4 Fakultas Pertanian, Prodi Agroekoteknologi, Universitas Udayana, yang juga dikategorikan sebagai peneliti serangga.
Lelaki kelahiran Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, baru saja menemukan serangga tongkat tanpa sayap yang termasuk Genus Nesiophasma Günther, 1934 dari Wallacea. Genus ini baru direvisi Hennemann (2021) dan ditinjau secara singkat oleh Hennemann et al. (2023).
“Ini adalah spesies ketiga dari genus yang diketahui dari Kepulauan Sunda Kecil dan serangga tongkat pertama yang tercatat dari Sumba,” sebut Garda Bagus Damastra, peneliti serangga kepada Mongabay Indonesia, Selasa (10/3/2026).
Garda merupakan mentor Davis yang sudah dikenal di dunia serangga. Dia pendiri Indonesian Mantis and Phasmid Forum (IMPF), beranggotakan sekitar 3.600 orang yang senang serangga. Namanya juga tercatat sebagai nama serangga temuannya, Phyllium gardabagusi.
Serangga tongkat baru Nesiophasma davisdamaledoi sp. nov. dari Pulau Sumba, dideskripsikan dan diilustrasikan dari kedua jenis kelamin dan telurnya.
Ini adalah spesies pertama dari genus Nesiophasma Günther, 1934 dan serangga tongkat pertama yang tercatat dari Sumba serta spesies ketiga Nesiophasma yang diketahui dari Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia.

Endemik Pulau Sumba
Beberapa bulan setelah publikasi Nesiophasma sobesonbaii keluar, pamannya Davis di Sumba mengirimkan gambar serangga ranting yang dia temukan di rumah temannya.
Penasara, Davis langsung mencari serangga tersebut ditemani sang paman. Spesimen pertama didapatkan di Kabupaten Sumba Tengah dan yang kedua di Kabupaten Sumba Timur.
“Spesimen kedua saya dapatkan di kebun teman paman saya yang uniknya tidak ada hutan. Saya kumpulkan telurnya, yang sebagian saya tetaskan dan sebagian lagi saya kirim ke Mas Garda,” tuturnya, Selasa (10/3/2026).

Lokasi penemuannya di sebuah kebun kecil depan rumah. Terdapat beberapa pohon jambu yang menjadi habitat serangga ini saat ditemukan.
Frank H Hennemann, peneliti serangga, awalnya mengira ini spesies yang sama dengan Nesiophasma sobesonbaii. Namun, Davis bersikeras jika spesies ini berbeda karena jelas ada perbedaan.
“Saat saya kirimkan foto pembanding, akhirnya ditetapkan spesies baru. Kami menamainya Nesiophasma davisdamaledoi, menggunakan nama saya, “ ungkapnya.
Jenis yang ditemukan di Sumba pada Agustus 2023 tersebut, berukuran lebih kecil. Tidak adanya garis merah pada samping thorax. Jantan berwarna hijau kebiruan sedangkan jantan Nesiophasma sobesonbaii berwarna coklat.
Garda mengatakan, genus Nesiophasma tersebar luas di Wallacea tetapi Nesiophasma davisdamaledoi endemik Pulau Sumba. Jenis ini tidak begitu sulit ditemukan di habitatnya.
Serangga berbentuk ranting, berukuran 13-18 cm ini memiliki ciri khas bercak hitam pada Genae (pipi) dan punya kemampuan berkamuflase.
“Habitatnya di hutan sekunder (Sumba Tengah) dan kebun (Sumba Timur). Mereka memakan jambu biji di alam dan berkembang biak secara seksual, tetapi juga bisa partenogenesis seperti Phasmid pada umumnya, telur menetas sekitar empat bulanan,” terangnya.

Potensi biodiversitas
Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa. Untuk holotype sudah didaftarkan dan didepositkan di Laboratorium Entomology Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Nama spesies sesuai penemunya di lokasi, yang juga berperan dalam penemuan species sebelumnya yaitu Nesiophasma sobesonbaii,” ucap Garda.
Spesies serangga ranting baru dari Pulau Sumba ini telah resmi dideskripsikan.
“Semoga penemuan ini menambah pengetahuan kita tentang kekayaan biodiversitas Indonesia,” ucap Davis.
Dia mengaku terus meneliti dan mengamati serangga karena merupakan passion dirinya. Kegiatan yang membuatnya menikmati hidup.
“Banyak yang bilang hobi aneh, tapi inilah yang membuat saya gembira,” ucapnya.

Berharap banyak peneliti muda
Garda mengaku memiliki motivasi mengungkap potensi biodiversitas serangga, khususnya Phasmatodea yang masih sedikit diteliti di Indonesia.
Publikasi spesies baru akan membangun kesadaran masyarakat terhadap potensi kekayaan hayati dan spesies baru di sekitar mereka. Dengan begitu, masyarakat akan lebih menghargai betapa pentingnya ekosistem dan konservasi.
“Harapannya, lebih banyak peneliti serangga memberikan perhatian kepada spesies-spesies yang understudied atau yang kurang dipelajari,” tuturnya.
Senada, Davis juga berharap semakin banyak orang yang sadar betapa kayanya Indonesia. Menurutnya, masih banyak spesies baru di Indonesia yang harus diungkap.
Serangga memiliki peran penting bagi ekosistem, namun masih saja diremehkan oleh kebanyakan orang.
“Saya benar-benar berharap, semakin banyak pihak yang memahami serangga,” ungkapnya.
Referensi:
Hennemann, F. H., Damastra, G. B., & Tirant, S. L. (2025). Nesiophasma davisdamaledoi sp. nov. a new stick insect from the island of Sumba, Indonesia (Insecta: Phasmatodea). Zootaxa, 5660(2), 194-210. https://www.researchgate.net/publication/393533361_Nesiophasma_davisdamaledoi_sp_nov-a_new_stick_insect_from_the_island_of_Sumba_Indonesia_Insecta_Phasmatodea
*****