- Instalasi budidaya mutiara milik PT Autore Pearl Culture (APC) berupa pelampung dan tali longline kini membentang di Teluk Jukung hingga Tanjung Ringgit. Bentangan tersebut membentuk “pagar” di laut yang selama puluhan tahun menjadi wilayah tangkap nelayan kecil, sehingga mereka harus memutar jalur melaut dan kesulitan menebar jaring atau memasang rumpon.
- Nelayan dari desa-desa pesisir seperti Meringkik, Sekaroh, Paremas, hingga Ketapang Raya menyebut tangkapan cumi dan ikan pelagis kecil terus berkurang. Mereka kini harus melaut lebih jauh dengan mesin perahu lebih besar dan biaya bahan bakar meningkat, sementara hasil tangkapan tidak selalu sebanding.
- APC melalui kuasa hukumnya menyatakan tidak pernah melarang nelayan melintas atau menangkap ikan di sekitar area budidaya. Namun aparat desa dan masyarakat menyebut perluasan instalasi terjadi tanpa komunikasi, bahkan diduga dilakukan secara diam-diam pada malam hari, melanggar kesepakatan awal dengan warga.
- Mutiara laut selatan dari Lombok merupakan komoditas premium yang diperdagangkan hingga pasar perhiasan dunia, dengan nilai ekspor mutiara NTB mencapai sekitar US$69,4 juta pada 2020–2024 dan sekitar 40% berasal dari APC. Namun di pesisir Lombok Timur, lebih dari sepertiga rumah tangga masih tergolong miskin atau rentan miskin, sementara nelayan menghadapi ruang tangkap yang semakin menyempit.
Lampu kristal memantul di kaca etalase dalam gedung pameran Fiera di Vicenza, Kota Vicenza Italia, Jumat (16/1/26). Para kolektor, desainer, dan pembeli perhiasan dari berbagai negara berkumpul dalam gelaran Vicenzaoro Boutique Show itu. Di antara deretan perhiasan mewah itu, butiran mutiara laut selatan dari Lombok turut dipamerkan.
Bertekstur bulat sempurna dengan kilau yang lembut, perhiasan yang diunggah di akun media sosial Autore, produsen mutiara kenamaan asal Australia terkesan begitu mewah. Siapa sangka, di balik kilau mewah itu, para nelayan sekitar 12.000 kilometer dari ruang pamerah itu justru terancam ruang hidupnya.
Zaenuddin, nelayan di Teluk Jakung, Lombok Timur, tak pernah menyangka, laut yang dulu jadi tempatnya menebar jaring cumi dan ikan pelagis kecil kini nyaris penuh oleh pelampung budidaya mutiara PT Autore Pearl Culture (APC).
Pelampung-pelampung warna biru itu mengapung memanjang, saling terhubung oleh tali yang membentang di permukaan laut. Dari kejauhan, bentangan itu terlihat seperti pagar yang membelah teluk.
“Dulu, laut di depan kampung ini luas sekali. Sekali melaut bisa dapat banyak. Sekarang sudah berbeda,” kata lelaki 54 tahun ini menunjuk ke arah pelampung.
Dia dan para nelayan dulu cukup melaut beberapa mil dari pantai. Itu saja perahu berkapasitas 15 PK yang biasa mereka bawa sudah penuh oleh cumi. Kini, situasi itu nyaris tak pernah terjadi.
Zaenuddin bilang, awalnya, hanya beberapa pelampung budidaya di tengah teluk. Lama-kelamaan bertambah, membentuk jalur panjang yang membentang dari satu sisi teluk ke sisi lain.
Bentangan tali longline untuk menggantung kerang mutiara itu kini memenuhi sebagian besar wilayah perairan yang dulu menjadi jalur dan wilayah tangkap nelayan. Di beberapa titik, pelampung-pelampung terpasang rapat hingga membentuk lorong-lorong sempit di laut. Perahu nelayan kecil harus memutar untuk melewatinya.
“Kalau mau lewat harus hati-hati. Kalau kena tali bisa putus atau mesin sampan tersangkut.”

Ruang tangkap hilang
Bagi nelayan kecil seperti Zaenuddin, memutar arah berarti membuang waktu dan bahan bakar. Mesin kecil yang mereka gunakan tidak dirancang untuk perjalanan jauh ke tengah laut. Kini, mereka tak punya banyak pilihan.
“Mungkin ikan masih banyak di situ. Tapi kita tidak bisa nebar jaring,” katanya.
Cerita serupa datang dari nelayan di desa-desa sekitar Teluk Jukung, Desa Meringkik, Tanjung Luar, Ketapang Raya, Jerowaru hingga Paremas. Perusahaan beberapa kali meminta mereka menjauh dari area budidaya mutiara.
“Pernah kami ditegur. Katanya jangan memancing di situ karena itu lokasi perusahaan,” cerita Zaenuddin.
Melalui kuasa hukumnya, Donal Fariz, APC membantah tuduhan itu. Dalam keterangan tertulisnya, perusahaan menyatakan tidak pernah melarang nelayan melintas maupun melakukan aktivitas penangkapan ikan di sekitar lokasi usaha mereka.
“Perusahaan tidak pernah melarang nelayan melintas ataupun melakukan aktivitas penangkapan ikan di area tersebut,” tulisnya kepada Mongabay.
Sampai saat ini, perusahaan juga tidak pernah menerima aduan maupun keluhan resmi dari nelayan terkait kegiatan budidaya mutiara yang mereka jalankan.
Selama ini, tulis Donal, hubungan perusahaan dengan masyarakat sekitar cukup baik. Kegiatan perusahan juga tidak pernah menimbulkan konflik terbuka dengan nelayan.
Instalasi budidaya mutiara, termasuk bentangan longline di area kegiatan usaha, sudah melalui proses komunikasi dengan masyarakat. Termasuk, persetujuan kelompok nelayan dari berbagai desa di sekitar lokasi.
Agus, Sekretaris Desa Meringkik membantah klaim itu. Lekai 41 ini menuturkan, masyarakat sempat diberi jaminan bahwa ekspansi tidak akan dilakukan tanpa koordinasi. Sebuah nota kesepahaman pernah mereka sepakati. Isinya, antara lain menyebutkan perusahaan tidak akan memperluas jalur longline tanpa komunikasi dengan masyarakat.
“Ada MOU, tapi itu tidak terlaksana,” katanya.
Perluasan budidaya itu, katka Agus, tanpa berkoordinasi dengan para nelayan.
Sekitar 2007–2008, bentangan instalasi budidaya perlahan bergerak menjauh dari titik awal hingga hari ini. Contoh, dulu, lokasi budidaya hanya ada di Tanjung Subui, sekarang sudah meluas hingga ke Perairan Gili Peteluh.
Agus menyebut, perluasan berlangsung senyap, bahkan diduga pada malam hari. Perusahaan melepas tanda batas lama, lalu memasang kembali lebih keluar.
Konsekuensi baru
Amin Abdullah, dari Lembaga Pengembangan Sumber Daya Nelayan (LPSDN), mengatakan, sejak lama perairan di sekitar Tanjung Ringgit hingga Teluk Sunut area tangkap nelayan kecil.
“Dalam kesejarahannya, itu fishing ground mereka sejak dulu. Sebelum ada Autore,” katanya.
Pada dekade 1970 hingga awal 2000-an, wilayah ini bahkan terkenal sebagai salah satu penghasil cumi terbesar di Selat Alas. Hasil tangkapan nelayan dikirim ke Surabaya sebelum ekspor ke Jepang. Belakangan, produksi cumi makin sepi.
Junaedi, nelayan Desa Sekaroh, mengatakan, tangkapan cumi terus berkurang meskipun jarak melaut makin jauh.
“Dulu cukup di dekat pantai saja sudah dapat.”
Sekarang, dia harus melaut hingga beberapa mil ke tengah laut. “Kadang sampai tengah, tapi hasilnya tetap sedikit.”
Dia mengeluhkan tidak lagi bisa memasang rumpon di beberapa lokasi yang dulu menjadi titik tangkap nelayan. Salah satunya di perairan Tanjung Segui.
Rumpon merupakan alat bantu penangkapan ikan berupa rakit atau pelampung agar ikan berkumpul. Nelayan biasa memasang rumpon di lokasi yang dianggap sebagai jalur migrasi ikan.
Kini, beberapa titik berada di area budidaya mutiara APC.
“Di Tanjung Segui dulu banyak rumpon. Sekarang sudah tidak bisa lagi dipasang di sana,” kata nelayan 61 tahun ini.
Bagi nelayan, hilangnya lokasi rumpon berarti kehilangan salah satu strategi penting dalam menangkap ikan. Tanpa rumpon, mereka harus mencari ikan secara acak di laut terbuka. Hal itu membuat waktu melaut semakin lama dan hasil tangkapan semakin tidak menentu.
Di Desa Meringkik, beberapa nelayan mulai mengganti mesin perahu mereka dengan mesin yang lebih besar. Jika dulu mesin 15 PK sudah cukup untuk melaut, kini sebagian nelayan menggunakan mesin 40 PK agar bisa menjangkau lokasi tangkap yang lebih jauh.
Perubahan itu membawa konsekuensi baru, konsumsi bahan bakar lebih banyak, berarti biaya operasional turut naik.
“Dulu, satu jeriken cukup. Sekarang bisa dua atau tiga kalau melaut jauh, ” kata nelayan di Meringkik.

Habitat penting
Penelitian Sri Turni Hartati dan tim pada 2001 mengidentifikasi wilayah perairan Tanjung Cumi, Teluk Sunut hingga Tanjung Ringgit sebagai habitat penting cumi-cumi sekaligus jalur penangkapan utama nelayan lokal.
Kawasan ini memiliki karakteristik ekologi yang mendukung siklus hidup berbagai spesies cumi. Perairan yang relatif terlindung oleh teluk-teluk kecil serta keberadaan ekosistem pesisir menjadikan wilayah ini tempat yang ideal bagi cumi untuk bertelur, berkembang, dan mencari makan.
Cumi-cumi memanfaatkan struktur ekosistem seperti terumbu karang dan padang lamun sebagai lokasi berkembang biak. Pada musim tertentu, terutama ketika kondisi arus dan suhu stabil, cumi-cumi akan berkumpul di kawasan itu untuk memijah.
Fenomena inilah yang selama bertahun-tahun nelayan manfaatkan untuk memasang alat tangkap sederhana seperti pancing atau bagan kecil di sekitar teluk.
Sebelum instalasi budidaya mutiara penuhi area tersebut, nelayan mengaku hasil tangkapan mereka melimpah hanya dengan melaut beberapa mil dari garis pantai.
Selain cumi-cumi, kawasan ini juga terkenal sebagai habitat penting ikan-ikan pelagis kecil seperti tembang, kembung, selar, dan tongkol ukuran kecil. Ikan-ikan ini merupakan komoditas utama tangkapan nelayan kecil karena mudah dijangkau dengan perahu kecil dan alat tangkap sederhana.
Hasil riset M. Junaedi dan tim dari Universitas Mataram pada 2007 memperkuat gambaran itu. Studi mereka menemukan bahwa perairan Selat Alas, khususnya di sekitar Tanjung Ringgit, merupakan salah satu wilayah dengan kelimpahan ikan pelagis kecil yang cukup tinggi.
Kondisi itu menarik predator yang lebih besar seperti tuna, tongkol, dan beberapa jenis ikan karang bernilai ekonomi. Siklus ekologis tersebut menciptakan sebuah rantai makanan yang membuat kawasan ini produktif bagi kegiatan perikanan tangkap.
Produktivitas tersebut juga tidak terlepas dari keberadaan berbagai ekosistem pesisir yang saling terhubung. Terumbu karang yang membentang di sepanjang garis pantai berfungsi sebagai habitat bagi berbagai jenis ikan karang serta tempat berlindung bagi organisme kecil. Padang lamun yang tumbuh di perairan dangkal menjadi tempat pembesaran bagi berbagai spesies ikan muda, sekaligus lokasi mencari makan bagi cumi-cumi dan biota lainnya.
Di beberapa bagian teluk, vegetasi mangrove juga berperan sebagai penyangga ekosistem pesisir. Akar-akar mangrove menyediakan tempat berlindung bagi larva ikan dan berbagai organisme laut lainnya.
Selain itu, mangrove membantu menjaga kestabilan sedimen di pesisir sehingga perairan tetap jernih dan mendukung pertumbuhan terumbu karang serta lamun.
Bagi nelayan tradisional di desa-desa pesisir Lombok Timur, kondisi ekologis tersebut telah lama menjadi dasar dari sistem penghidupan mereka.
Selama puluhan tahun, mereka memanfaatkan perairan di sekitar teluk dan tanjung sebagai wilayah tangkap utama. Dengan perahu kayu bermesin kecil, nelayan biasanya berangkat melaut menjelang senja dan kembali pada dini hari dengan membawa hasil tangkapan berupa cumi-cumi, ikan pelagis kecil, maupun ikan karang.
Beberapa nelayan bahkan telah mengembangkan pengetahuan lokal mengenai pola musim dan pergerakan ikan. Mereka mengetahui kapan cumi-cumi mulai bermunculan, di titik mana ikan pelagis kecil biasanya berkumpul, serta bagaimana membaca perubahan arus laut.
Karena itulah, bagi masyarakat pesisir, kawasan perairan di sekitar Tanjung Cumi, Teluk Sunut, hingga Tanjung Ringgit bukan sekadar ruang kosong. Wilayah tersebut merupakan bagian dari ruang hidup yang menopang aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat nelayan selama bertahun-tahun.
Temuan-temuan ilmiah mengenai produktivitas perairan ini pada akhirnya memperkuat kesaksian nelayan mengenai pentingnya kawasan tersebut sebagai wilayah tangkap tradisional. Namun dalam dekade terakhir, sebagian kawasan yang sebelumnya menjadi wilayah tangkap itu mulai berubah fungsi. Instalasi budidaya mutiara yang menggunakan sistem longline membentang di sejumlah teluk, menciptakan batas-batas baru di laut yang sebelumnya terbuka bagi nelayan.
Perubahan ruang laut ini tidak hanya mengubah lanskap perairan, tetapi juga mempengaruhi cara nelayan mengakses sumber daya yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
Jutaan dolar
Pulau Lombok terkenal sebagai salah satu pusat produksi South Sea Pearl, mutiara laut selatan yang sering dijuluki sebagai Queen of Pearls. Lingkungan perairan yang stabil membuat wilayah ini ideal bagi pertumbuhan tiram mutiara Pinctada maxima. Suhu laut yang hangat, kadar salinitas yang relatif stabil, serta arus laut yang membawa nutrien mendukung pertumbuhan tiram mutiara secara optimal.
Tidak mengherankan bila banyak teluk di Lombok menjadi lokasi strategis pengembangan industri mutiara, termasuk oleh APC. Perairan yang relatif terlindung dari gelombang besar memungkinkan pemasangan instalasi budidaya seperti tali longline dan jaring poket yang digunakan untuk menggantung kerang mutiara selama masa pembesaran.
Praktik budidaya oleh APC berlangsung sejak tahap pembenihan tiram, pembesaran di laut, hingga pemasaran mutiara ke pasar internasional.
Berdasarkan dokumen AHU Kemenkum HAM, APC merupakan perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang terhubung dengan jaringan bisnis mutiara internasional.
Struktur kepemilikan perusahaan menunjukkan keterkaitan dengan sejumlah entitas investasi luar negeri, termasuk Autore Group PTY Limited, perusahaan produsen mutiara berbasis di Australia.
Sejumlah entitas tercatat sebagai pemegang saham perusahaan ini. Salah satunya Deccan Investments Limited serta Autore Pearl Culture Pte. Ltd. yang berbasis di luar negeri.
Komposisi kepemilikan tersebut memperlihatkan bahwa industri mutiara Lombok tidak hanya menjadi bagian dari ekonomi lokal, tetapi juga terhubung dengan rantai pasok global industri perhiasan.
APC menanamkan investasi cukup besar dalam kegiatan budidaya mutiara di perairan NTB. Data administrasi perusahaan menunjukkan nilai modal disetor perusahaan mencapai sekitar Rp28,1 miliar untuk mendukung operasional budidaya tiram mutiara di sejumlah lokasi perairan di kawasan timur Indonesia.
Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia menyebut, APC memiliki Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL) dengan total luasan mencapai 312,48 hektar.
Area itu tersebar di beberapa provinsi, yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Timur, yang diberikan secara bertahap pada periode 2023-2025.

Di NTB, salah satu lokasi kegiatan budidaya perusahaan berada di kawasan perairan Teluk Jukung. Dari Gili Sunutn hinggaTanjung Ringgit.
Berdasarkan peta di situs e-Sea Map Kementerian Kelautan dan Perikanan, perusahaan memiliki belasan blok area budidaya yang tersebar dari wilayah Gili Peteluh, Tanjung Segui hingga Gili Sunut.
Luasnya area budidaya mencerminkan skala industri mutiara yang berkembang di wilayah ini. Dalam praktiknya, instalasi budidaya berupa bentangan longline dan pelampung dapat membentang ratusan meter hingga beberapa kilometer di permukaan laut, tempat kerang mutiara tergantung selama bertahun-tahun hingga menghasilkan butiran mutiara yang siap panen.
Setelah panen, mutiara kemudian masuk ke dalam rantai perdagangan global yang panjang. Butiran mutiara dari Lombok biasanya terlebih dahulu dikumpulkan dan disortir berdasarkan ukuran, warna, bentuk, serta tingkat kilau atau lustre.
Setelah melalui proses seleksi tersebut, mutiara kemudian dipasarkan melalui jaringan perdagangan internasional.
APC mengekspor sebagian mutiara dalam bentuk mentah (raw pearls) ke Australia. Di sana butiran mutiara itu melalui proses hingga menjadi komoditas siap jual oleh Autore Group. Melalui rantai perdagangan global itulah mutiara Lombok bisa sampai ke ajang Vicenzaoro Boutique Show di Italia, dan beberapa outlet barang mewah di belahan dunia.
Nilai ekonomi dari komoditas ini sangat besar. Data Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat mencatat nilai ekspor mutiara provinsi tersebut mencapai US$69,4 juta pada periode 2020–2024. Sekitar 40 persen dari nilai ekspor itu berasal dari APC.
Data Dinas Perdagangan NTB juga menunjukkan lonjakan ekspor perusahaan lebih dari 90% dalam lima tahun terakhir (lihat grafis). Peningkatan ini menunjukkan besarnya permintaan pasar global terhadap mutiara laut selatan dari Lombok.
Di pasar internasional, mutiara jenis ini termasuk komoditas premium dengan nilai jual tinggi karena ukurannya besar dan kilau alami yang khas. Hal itu mendorong ekspansi industri budidaya mutiara di sejumlah wilayah pesisir Lombok.

Ketimpangan pesisir
Besarnya nilai ekspor mutiara itu berbanding terbalik dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir di sekitar lokasi usaha.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lombok Timur menunjukkan wilayah pesisir selatan Lombok Timur masih menghadapi tingkat kemiskinan tinggi hingga 2024. Di Kecamatan Keruak yang berpenduduk 58.000 jiwa, terdapat sekitar 10–11 ribu keluarga penerima bantuan sosial. Sementara di Kecamatan Jerowaru dengan populasi 62.000 jiwa, sekitar 11–12 ribu keluarga tercatat sebagai rumah tangga miskin atau rentan miskin.
Angka tersebut menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga rumah tangga di kedua kecamatan tersebut hidup dalam kondisi ekonomi yang rapuh.
Sebagian besar masyarakat di desa-desa pesisir seperti Desa Meringkik, Sekaroh, Paremas, dan Ketapang Raya menggantungkan hidup pada sektor ekonomi tradisional yang sangat bergantung pada alam: nelayan kecil, petani lahan kering, buruh tambak, hingga pekerja migran.
Bagi keluarga nelayan, penghasilan biasanya diperoleh dari hasil tangkapan harian yang sangat bergantung pada cuaca dan musim. “Di desa kami banyak keluarga yang hidup dari hasil laut,” kata Junaidi,
Pendapatan nelayan kecil di wilayah ini tidak menentu. Pada musim tangkap yang baik, mereka bisa membawa pulang hasil tangkapan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun pada musim angin atau, penghasilan mereka bisa turun drastis.
Dalam kondisi seperti itu, sebagian keluarga nelayan terpaksa mencari sumber penghasilan tambahan dengan menjadi buruh atau merantau ke luar daerah. Di beberapa desa, menjadi pekerja migran bahkan menjadi pilihan utama. “Banyak anak muda di sini memilih merantau karena sulit mencari kerja di kampung. Hasil melaut kadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Nur Aisyah, warga Desa Meringkik.
Bagi rumah tangga nelayan, berubahnya ruang tangkap menambah tekanan ekonomi. Ketika nelayan harus melaut lebih jauh untuk mencari ikan, biaya operasional mereka ikut meningkat. Pengeluaran untuk bahan bakar menjadi lebih besar, sementara hasil tangkapan tidak selalu meningkat.
Dalam kondisi normal, nelayan kecil biasanya membawa bekal bahan bakar sekitar satu jeriken untuk melaut. Namun ketika harus pergi lebih jauh ke tengah laut, jumlah itu bisa bertambah dua hingga tiga kali lipat.
Bagi nelayan kecil, peningkatan biaya tersebut cukup terasa. Sebab penghasilan mereka tidak tetap dan sangat bergantung pada jumlah tangkapan. Jika hasil tangkapan sedikit, biaya bahan bakar yang besar bisa menggerus hampir seluruh pendapatan dari melaut.
Dalam beberapa kasus, nelayan bahkan pulang tanpa membawa keuntungan. Situasi ini membuat sebagian keluarga nelayan harus berutang kepada tengkulak atau pengepul ikan untuk menutup kebutuhan rumah tangga.
Di sisi lain, sebagian masyarakat pesisir mengatakan manfaat ekonomi dari industri mutiara tidak banyak mereka rasakan secara langsung. Beberapa warga memang pernah bekerja sebagai buruh di lokasi budidaya, terutama pada tahap pemasangan instalasi atau perawatan kerang mutiara. Namun pekerjaan tersebut biasanya bersifat terbatas dan tidak semua warga bisa terlibat.

***
Bagi masyarakat yang sejak lama menggantungkan hidup pada perikanan tangkap, laut bukan sekadar ruang ekonomi. Ia juga merupakan bagian dari ruang hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di desa-desa pesisir Teluk Jukung, banyak keluarga nelayan yang telah melaut selama puluhan tahun. Ketika ruang tangkap berubah, perubahan itu tidak hanya berdampak pada ekonomi rumah tangga, tetapi juga pada cara hidup masyarakat pesisir.
“Kalau laut makin sempit untuk nelayan, yang paling terasa dampaknya keluarga di rumah. Penghasilan jadi makin tidak pasti,” kata Nur Aisyah.
Di tengah kondisi tersebut, industri mutiara bernilai jutaan dolar menggerus laut yang sama; kontras dengan kondisi sosial masyarakat di sekitarnya. Di satu sisi, industri mutiara berkembang sebagai bagian dari jaringan perdagangan global yang menghubungkan perairan tropis Indonesia dengan pasar perhiasan mewah di berbagai negara.
*****
Liputan ini terselenggara atas dukungan The Environmental Justice Foundation (EJF) berkolaborasi dengan Project Multatuli (PM) dalam Program Fellowship bertajuk “Pelanggaran HAM di Laut”.