- Kepiting bakau dan kepiting rajungan sekilas tampak sama. Namun jika diperhatikan dengan teliti, perbedaan kecil yang bisa dilihat ada pada bentuk kaki keduanya.
- Kepiting bakau memiliki kaki runcing, kokoh dan solid, sedangkan kepiting rajungan tampak dari salah satu kakinya pipih seperti dayung mini.
- Rajungan sering kali disebut sebagai kepiting perenang ulung, karena bentuk kaki yang menyerupai dayung dan bisa menjelajah laut lepas, teluk, dan padang lamun. Sedangkan kepiting bakau mendapat julukan petarung darat yang setia pada hutan mangrove yang rimbun.
- Secara ekonomi, penangkapan kepiting bakau dan rajungan menjadi sumber mata pencaharian utama bagi masyarakat pesisir di Indonesia, dengan potensi pendapatan ekspor yang besar. Sayangnya, di beberapa tempat penangkapan kepiting bakau dan kepiting rajungan telah mengalami penangkapan berlebih.
Sekilas, kepiting dan rajungan tampak sama. Namun jika kita jeli, ada perbedaan kecil yang selama ini luput dari perhatian kita yaitu bentuk kaki belakangnya; yang satu runcing, kokoh dan solid, serta yang satunya lagi pipih seperti dayung mini.
Perbedaan kecil ini ternyata menyimpan rahasia kedua makhluk ini beradaptasi dengan lingkungannya, dan kini menentukan nasib mereka di tengah tekanan lingkungan yang semakin berat. Rajungan yang dikenal dengan nama ilmiah Portunus pelagicus, memiliki kaki belakang pipih, lebar, dan meruncing di ujung. Bentuknya menyerupai dayung perahu mini. Alam mendesain kaki ini untuk menjadi perenang ulung di laut lepas.
Sementara kepiting bakau atau kepiting biasa Scylla spp punya kaki jalan yang kokoh dan runcing, seperti memiliki sepatu bot atau paku bumi yang dirancang untuk mencengkeram lumpur licin dan akar-akar mangrove.
Rajungan sering disebut sebagai kepiting perenang ulung yang bisa menjelajah laut lepas, teluk, dan padang lamun. Sedangkan kepiting bakau mendapat julukan petarung darat yang setia pada hutan mangrove yang rimbun.

Dalam sebuah riset berjudul, “A revision of the Portunus pelagicus (Linnaeus, 1758) species complex (Crustacea: Brachyura: Portunidae), with the recognition of four species,” yang ditulis Joelle C. Y. Lai, Peter K. L. Ng, Peter J. F. Davie, menjelaskan bahwa baik rajungan maupun kepiting bakau bukan spesies tunggal, melainkan “kompleks spesies” (species complex) yang terdiri beberapa jenis berbeda.
Kompleks spesies merujuk pada sekelompok organisme yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai satu spesies tunggal yang tersebar luas, tetapi sebenarnya terdiri dari beberapa spesies yang berbeda secara taksonomi. Namun, memiliki kemiripan fisik yang tinggi dan berkerabat sangat dekat. Itu berarti secara kasat mata, kepiting rajungan dan kepiting bakau memang tampak serupa, namun secara genetik berbeda.
Berdasarkan analisis morfologi, data DNA mitokondria, dan pola distribusi biogeografis, para peneliti mengidentifikasi empat spesies yang berbeda kepiting rajungan, yakni Portunus pelagicus (Asia Tenggara dan Timur), Portunus segnis (Samudra Hindia Barat), Portunus reticulatus (Samudra Hindia Timur), dan Portunus armatus (Australia dan Kaledonia Baru).
Penelitian ini mengungkap rahasia pada kaki kepiting rajungan dengan menyebut bahwa karakteristik bentuk, rasio ukuran, dan jumlah duri pada kaki-kaki mereka merupakan kunci taksonomi yang sangat penting untuk membedakan keempat spesies ini.
“Saat ini, keempat spesies kompleks tersebut dapat dibedakan dan dikenali secara akurat melalui kombinasi karakteristik bentuk cangkang (karapas), kaki (pereiopod), bentuk ruas perut (abdomen) jantan, struktur alat kelamin jantan (gonopod pertama), dan pola warna unik dari masing-masing spesies,” ungkap para peneliti.
Dijelaskan lagi, bentuk kaki renang (pada kaki ke-5 yang disebut natatorial paddle), dianggap sebagai kunci taksonomi yang penting karena bagian ini memiliki pola perbedaan bentuk dan proporsi yang konsisten, yang berevolusi secara unik pada masing-masing spesies. Perbedaan struktur fisik pada organ pendayung ini sangat membantu para peneliti untuk mengidentifikasi dan memisahkan spesies-spesies yang secara sekilas terlihat sangat mirip.
Hal serupa terjadi pada kepiting bakau, yang di Indonesia terdapat empat spesies dan berpotensi untuk dikembangkan, yakni Scylla serrata, Scylla tranquebarica, Scylla olivacea, dan Scylla paramamosain. Ciri-ciri utama yang digunakan untuk membedakan antarspesies ini adalah pada karapas dan lengan sepit atau cheliped.
Kepiting bakau hidup di lingkungan yang sama sekali berbeda dengan kepiting rajungan, yakni hutan mangrove, estuari, dan pantai berlumpur. Ekosistem mangrove menyediakan lingkungan ideal dengan akar-akar pohon yang melindungi mereka dan menjadi tempat bertelur. Capitnya berevolusi menjadi kokoh dan solid, bukan untuk berenang, tapi untuk meremukkan mangsa seperti moluska dan krustasea yang hidup di dasar berlumpur, serta bertahan dari predator di lingkungan yang padat.

Laura Siahainenia, dalam penelitiannya berjudul “Struktur Morfologis Kepiting Bakau” menjelaskan bahwa capit atau cheliped (pasangan kaki pertama) pada kepiting bakau memiliki fungsi-fungsi yang sangat penting untuk kelangsungan hidupnya. Pertama, sebagai alat bantu makan, yang capitnya memiliki struktur kokoh dan dilengkapi gigi-gigi tajam. Fungsinya, untuk mencabik makanan dan memasukkannya ke dalam mulut.
Kedua, fungsi pertahanan diri, yang digunakan sebagai alat bertarung untuk melindungi diri dari pemangsa. Saat terancam, kepiting akan mengangkat kedua capitnya tinggi-tinggi dengan posisi terbuka, atau bahkan melepaskan capit tersebut sebagai strategi untuk membebaskan diri.
Bagi jantan, capit digunakan untuk menjaga kepiting betina dari pejantan lain saat betina sedang berganti kulit (moulting) sebelum kawin, dan juga digunakan untuk membalikkan tubuh betina agar mudah melakukan perkawinan (kopulasi). Sementara bagi betina, capit digunakan untuk menjaga massa telur (zigote) selama proses pengeraman (inkubasi) berlangsung. Selain itu, kepiting betina akan menggunakan capitnya sebagai tumpuan untuk berdiri saat ia berkontraksi dalam proses penetasan telur.
“Jadi fungsi cheliped atau capit digunakan saat bertarung untuk memperebutkan makanan, wilayah tempat berlindung dan kawin, serta pasangan,” ungkap penelitian tersebut.

Fungsi ekologis dan ancaman
Kepiting bakau dan rajungan bukan sekadar menumpang tinggal. Mereka memiliki hubungan timbal balik yang erat dengan habitatnya. Saat menggali liang, kepiting bakau secara alami membajak dan menggemburkan lumpur, membantu oksigen masuk ke tanah yang menyuburkan akar mangrove. Kotoran dan sisa makanan mereka menjadi pupuk alami. Sebagai imbalannya, hutan mangrove memberikan rumah yang aman dari predator dan dapur yang selalu penuh makanan.
Rajungan, sebagai predator, ia memangsa hewan-hewan kecil seperti moluska dan krustasea, menjaga keseimbangan populasi di dasar laut. Laut memberinya ruang tak terbatas untuk bergerak, dan ia membalasnya dengan menjadi bagian penting dari jaring-jaring makanan yang menjaga laut tetap sehat.
Sebuah studi ekologi yang dilakukan oleh Tuah Kristoval, Ita Karlina, dan Henky Irawan dari Universitas Maritim Raja Ali Haji berjudul, “Studi Ekologi Kepiting Bakau dan Kepiting Ranjungan di Perairan Batu Licin, Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan” menjelaskan bahwa fungsi ekologis utama kepiting, termasuk kepiting bakau dan kepiting rajungan, adalah sebagai indikator perairan. Mereka memiliki peranan penting karena kepiting diklasifikasikan sebagai organisme bentos (biota yang hidup di dasar perairan) yang tidak bersifat mobile atau pergerakannya terbatas.
Karena sifatnya yang menetap ini, keberadaan, kelimpahan, dan kondisi tubuh mereka sangat dipengaruhi kualitas parameter fisika dan kimia di lingkungan sekitarnya, sehingga sangat baik untuk dijadikan indikator kesehatan ekosistem perairan tersebut.
Selain sebagai indikator lingkungan, kepiting juga memiliki fungsi penting dalam rantai makanan di ekosistem perairan, sebab mereka adalah hewan nokturnal (aktif mencari makan di malam hari) yang umumnya mengonsumsi fitoplankton dan zooplankton. Selain itu, mereka juga memakan sisa-sisa hewan laut atau organisme kecil seperti gastropoda, bivalvia, krustasea lain, dan ikan-ikan kecil.
“Kepiting bakau memanfaatkan vegetasi mangrove dan kepiting rajungan memanfaatkan padang lamun sebagai tempat pemijahan, area pengasuhan (nursery ground), dan tempat berlindung,” tulis para peneliti.

Secara ekonomi, penangkapan kepiting bakau dan rajungan menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat pesisir di Indonesia, dengan potensi pendapatan ekspor yang besar. Berdasarkan siaran pers KKP, data ekspor menunjukkan bahwa rajungan dan kepiting merupakan komoditas strategis. Tahun 2024, keduanya tercatat sebagai komoditas ekspor perikanan terbesar keempat Indonesia setelah udang, tuna–cakalang–tongkol, dan cumi–sotong–gurita, dengan nilai mencapai USD513,35 juta atau sekitar 8,6 persen dari total ekspor perikanan Indonesia. Negara tujuan ekspor terbesar meliputi Tiongkok, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.
Sayangnya, di beberapa tempat penangkapan kepiting rajungan telah mengalami penangkapan berlebih. Data menunjukkan, di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 712, yang dikenal sebagai pemasok utama rajungan, sudah masuk kategori tangkap lebih (over exploited). Lebih banyak rajungan diambil daripada yang bisa pulih secara alami.
Untuk kepiting bakau, seperti diungkapkan dalam studi ekologi di Kabupaten Bintan, terdapat banyak aktivitas nelayan yang menangkap kepiting bakau secara terus-menerus setiap harinya. Penangkapan ini dilakukan tanpa memberikan jeda atau jenjang waktu yang cukup bagi kepiting bakau untuk berkembang biak dan mempertahankan kelangsungan hidupnya.
“Akibat tingginya penangkapan harian tersebut, kelimpahan kepiting bakau (begitu juga kepiting ranjungan) yang ditemukan di perairan tergolong rendah. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa telah terjadi eksploitasi berlebihan terhadap populasi kepiting,” ujar para peneliti dalam laporan mereka.
Referensi:
Kristoval, T., Karlina, I., & Irawan, H. (2017). Studi ekologi kepiting bakau dan kepiting ranjungan di perairan Batu Licin Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Bintan. Universitas Maritim Raja Ali Haji.
Lai, J. C. Y., Ng, P. K. L., & Davie, P. J. F. (2010). A revision of the Portunus pelagicus (Linnaeus, 1758) species complex (Crustacea: Brachyura: Portunidae), with the recognition of four species. The Raffles Bulletin of Zoology.
Siahainenia, L. (2009). Struktur morfologis kepiting bakau (Scylla paramamosain). Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan TRITON, 5(1), 11–21.
*****