- Jamur ini punya julukan unik, The Veiled Lady atau perempuan berkerudung. Ia masuk genus Phallus yang memiliki sekitar 100 spesies, dengan tampilan paling asing di dunia jamur.
- Bau menyengat yang didukung oleh warna yang mencolok, diduga berfungsi untuk memikat serangga yang lebih mengaktifkan penglihatan daripada penciuman. Strategi ini memberikan keuntungan ganda di lantai hutan tropis.
- Salah satu jenis jamur yang mirip (Phallus multicolor) sangat jarang terdokumentasi secara resmi. Sejak catatan Boedijn tahun 1932, hampir seabad berlalu hingga akhirnya keberadaan jamur ini diverifikasi kembali melalui studi molekuler pada spesimen Bekasi tahun 2022.
- Peranya pentingnya dalam ekosistem kini mulai berkurang karena sejak berkembangnya perkebunan karet dan sawit, jamur ini mulai jarang ditemui di jongot.
Di lantai hutan yang tertutup serasah daun cempedak, warna oranye dan kerudungnya tampak mencolok. Bagi serangga, jamur ini adalah rumah makan sempurna. Satu per satu semut, kumbang, dan lalat mendekat.
Saat mereka berpesta pora, spora jamur pun menempel, lalu terbawa dan menyebar ke seantero hutan. Begitulah strategi jamur dengan julukan The Veiled Lady (perempuan berkerudung) ini memperbanyak keturunan.
Penelitian Kibby (2015) menyebutkan, jamur ini telah melakukan evolusi cerdas dengan tidak menerbangkan spora lewat angin, melainkan menggunakan bau (meski bagi kita busuk) untuk menyewa jasa serangga.
Beruntung, kami masih bisa melihat di jongot tersisa di Talang Turunan Gajah, Desa Tempirai Selatan, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan. Menurut warga setempat, jamur ini cukup jarang ditemui.
“Ia memang sering tumbuh di bawah pohon hutan yang banyak tumpukan daunnya,” kata Pipi Seli, pewaris jongot tempat ditemukannya jamur itu, akhir Januari 2025.
Jongot adalah kebun buah hutan yang dimiliki keluarga pada masyarakat Penukal, Kabupaten PALI. Selain sebagai sumber pangan, obat-obatan, ekonomi, jongot juga berperan sebagai penjaga mata air Sungai Penukal yang bermuara ke Sungai Musi.
“Tidak pernah dikonsumsi karena baunya busuk, orang di sini menyebutnya jamur kotoran anjing,” lanjutnya.
Sebutan lokal tersebut menggambarkan aroma yang dikeluarkan sang jamur. Meski baunya busuk dan dihindari manusia, justru aroma itulah yang memikat serangga untuk datang. Bahkan, baunya akan tercium lebih dulu sebelum terlihat. Hal ini dipertegas dengan sebutannya di kalangan peneliti, yakni stinkhorn (tanduk busuk).

Serupa tapi tak sama
Jamur ini masuk Genus Phallus dan memiliki sekitar 100 spesies yang tersebar hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia (Asia), Amerika Selatan dan Tengah, Meksiko, hingga Australia.
Satu jenis yang umum ditemui adalah Phallus indusiatus, bentuknya serupa, tapi tudungnya berwarna putih. Menurut studi Hermawan dan kolega (2022) yang meneliti spesimen dari Bekasi, karakter seperti bentuk, warna, dan ukuran jamur ini sering dipengaruhi faktor lingkungan –karenanya dapat menyebabkan kesalahan identifikasi.
Spesimen yang ia teliti dipastikan sebagai Phallus multicolor yang berkerabat dengan P. fuscoechinovolvatus dan P. echinovolvata. Namun, kedua spesies tersebut memiliki indusium (tudung) berwarna putih, sedangkan P. multicolor memiliki indusium berwarna kuning-oranye.
“Jika dibandingkan dengan P. luteus (kuning-oranye) dan P. cinnabarinus (merah-oranye), P. multicolor dapat dibedakan dari warna tangkai semunya yang putih kekuningan dan tahap telurnya yang cokelat hingga keputihan,” tulis penelitian tersebut.
Denga demikian, ada kemungkinan temuan jamur di Tempirai adalah P. multicolor, atau bisa juga P. luteus ataupun P. cinnabarinus, namun jelas bukan Phallus indusiatus yang memiliki tudung berwarna putih.

Menurut Kibby (2015), semua varian jamur stinkhorn memiliki struktur dasar serupa. Terdapat pelindung menyerupai telur yang disebut peridium. Di dalam “telur” ini, ada lapisan jeli yang membungkus receptacle, yaitu jaringan spons yang ditekan kuat dan berfungsi sebagai penyangga bagi massa spora atau gleba.
Saat mencapai kematangan, tekanan cairan dari lapisan jeli memicu pemekaran yang luar biasa cepat. Hanya dalam hitungan menit, wadah akan memanjang dan memecahkan kulit telur, sehingga mendorong keluarnya spora massal.
Setelah mekar sepenuhnya, spora tersebut akan mencair dan mengeluarkan aroma sangat kuat —mulai dari wangi bunga hingga bau busuk menyerupai kotoran— sebagai daya tarik serangga seperti lalat dan kumbang agar membantu penyebaran spora.
Variasi bentuk jamur ini sangat bergantung pada familinya. Pada famili Phallaceae, spora biasanya menempel di permukaan luar, sering pada bagian yang menyerupai tudung kepala.
Sebaliknya, pada famili Clathraceae dan Lysuraceae, spora berada di permukaan bagian dalam. Perbedaan letak spora ini menciptakan bentuk visual unik: ada yang tumbuh menyerupai jaring-jaring sangkar yang rumit, hingga yang memiliki lengan-lengan terpisah menyerupai tentakel.
“Ini menjadikan mereka sebagai organisme dengan tampilan paling asing di dunia jamur,” tulis Kibby.

Lebih lanjut, pada beberapa spesies tropis seperti P. multicolor yang tersebar luas di Asia, indusium ini bisa berwarna cerah seperti merah muda, merah, atau jingga.
“Struktur berwarna diduga berfungsi untuk memikat serangga yang lebih mengaktifkan penglihatan ketimbang penciuman.”
Di hutan tropis yang sirkulasi udara di permukaan tanahnya cenderung tenang, strategi ini memberikan keuntungan ganda.
“Bau sebagai sinyal sekaligus visual karena molekul aroma mungkin tidak bisa tersebar jauh oleh angin yang lambat,” tulis Kibby.

Jarang terdokumentasi
Menurut Hermawan dan kolega (2022), jejak resmi Phallus multicolor sangat sedikit ditemukan. Sejak catatan komprehensif Boedijn pada 1932 di masa kolonial, hampir satu abad berlalu hingga akhirnya studi molekuler terbaru tahun 2022 kembali memverifikasi keberadaannya melalui spesimen di Bekasi, Jawa Barat.
Jamur merupakan dekomposer alami yang banyak ditemukan pada kayu lapuk, serasah, dan tanah. Bersama bakteri, jamur mempercepat proses pembusukan bahan organik di lantai hutan. Melalui peran ini, jamur mengembalikan nutrisi ke dalam tanah, menjaga kesuburan lahan, dan memastikan hutan tetap tumbuh dengan subur.
Di wilayah Penukal, seperti di Tempirai, jongot sebagai wilayah hutan tersisa, mendukung berkembangnya banyak spesies jamur. Lantai hutan yang dipenuhi daun dan ranting pohon yang lapuk dan lembab, memastikan jamur bisa tumbuh subur.
Namun, jamur-jamur ini mulai jarang ditemui, termasuk jamur bertudung yang kami temui. Ini disebabkan karena alih fungsi lahan menjadi perkebunan karet dan sawit skala besar.
“Jamur biasanya tumbuh di jongot itulah. Tapi sekarang sudah jarang. Adanya jamur yang tumbuh di batang karet,” kata Rina Robin, pencari jamur dari Desa Tempirai Selatan.
Referensi:
Hermawan, R., Putra, I. P., Amelya, M. P., & Gunawan, M. R. W. (2022). A Morphological and Molecular Study of Phallus multicolor in Indonesia. Makara Journal of Science, 26(2), 2. https://doi.org/10.7454/mss.v26i2.1283
Kibby, G. (2015). The weird, wonderful and smelly world of stinkhorns and clathroid fungi. Field Mycology, 16(2), 58–69. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.fldmyc.2015.04.008
*****