- Lebah merupakan serangga penyerbuk alami bagi tanaman berbunga. Tetapi perubahan iklim dan alih fungsi lahan kian mengancam keberlangsungan populasinya.
- Secara global, mereka berkontribusi terhadap sekitar 35% produksi tanaman pangan dan berperan besar dalam menjaga ketersediaan sumber makanan manusia.
- Saat ini banyak lebah madu liar berpindah sarang karena habitatnya di hutan terganggu. Pola Migrasi mengarah ke kawasan perkotaan yang banyak ditumbuhi tanaman berbunga.
- Ramadhani Eka Putra, entomolog Institut Teknologi Bandung, menyebut, pergerakan lebah madu hutan ke tempat yang tidak lazim merupakan pola migrasi guna mendukung proses perkembangbiakan koloni.
Syarianto, pengepul madu skala kecil asal Desa Hampang, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), gundah. Pasalnya, hingga akhir Januari, dia belum menerima setetes pun madu hasil panen hutan hujan tropis di Pegunungan Meratus.
Terakhir kali dia menerima madu hutan sebanyak 50 liter dari para pemuai–pemburu yang biasa memanjat langsung ke atas pohon tinggi untuk mengambil sarang lebah–pada Desember 2025. Itu pun hasil panen dua tahun sebelumnya.
Permintaan terus berdatangan, sedang setok madu dalam kemasan botol 600 mililiter di rumah sudah habis.
“Para pemuai yang kita percaya datang sendiri ke rumah. Madu disimpan tahun 2024 pun juga sudah habis bulan itu juga,” katanya.
Biasanya, dalam setahun, dia bisa menampung hingga 500 liter madu yang datang dari dataran tinggi. Ia melibatkan sekitar 20 orang, mulai Desa Cantung, Kiri Hulu, Hulu Sampanahan, Limbur, hingga Muara Urie. Pada waktu tertentu, suplai juga datang dari kabupaten tetangga.
“Memang saat ini yang aku lihat dari sekian ratus pohon tidak ada sarangnya,” kata pria yang sudah menekuni usaha madu sejak 2014 itu.
Di Juhu, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, desa tertinggi di Pegunungan Meratus, Alli, seorang pemuai, dan sembilan temannya, juga belum menemukan sarang yang terisi koloni lebah madu.
“Biasanya memuai musim hujan, musim berkembang, seperti sekarang. Tetapi di kampung saat ini masih belum ada, Bang,” katanya.
Dia memprediksi lebah madu hutan (Apis dorsata) berkurang berkaitan dengan tanaman di kampung yang tidak berbuah maksimal. Akibatnya, lebah tidak memiliki cukup pakan untuk menghasilkan madu.
“Lebahnya juga tidak ada. Tidak tahu kenapa. Madu tidak mau datang kalau tidak ada bunga.”
Cuaca ekstrem pun membuat proses memuai lebih berisiko. Hujan bisa turun sewaktu-waktu dan menyulitkan proses pemanenan.
Belum lagi akses menuju lokasi harus dengan jalan kaki berjam-jam, naik-turun bukit, serta harus memanjat pohon tempat lebah bersarang secara manual hingga ketinggian lebih 40 meter.
“Mengambil madu juga tidak bisa dilakukan kalau hujan turun. Dahan pohon licin, resikonya besar, bahaya, apalagi prosesnya biasa malam hari.”

Husni Naparin, pengepul madu hutan skala besar di Banjarmasin, juga menilai intensitas hujan tinggi beberapa bulan terakhir memengaruhi langkanya madu. Karena, genangan yang meluas membuat sulit akses menuju lokasi pemanenan.
Dia biasa turun langsung ke lokasi pengambilan madu di berbagai provinsi di Kalimantan dari Barat, Timur, Tengah, dan Selatan untuk memastikan keaslian madu hutan
“Pohon-pohon banyak yang terendam. Ke lokasi kita harus pakai perahu. Biaya operasionalnya tinggi,” katanya.
Dia bilang, terakhir kali menerima pasokan 25 Januari, itu pun hanya sekitar lima liter.
“Yang malam tadi langsung habis, ada orang pesan langsung dijual.”
Menurut dia, perolehan madu dari tahun ke tahun menurun. Rata-rata bahkan hingga 10%.
Tahun 2020, misal, perolehan madunya masih 20 ton, pada 2021 turun menjadi sekitar 17-18 ton.
Penurunan berlanjut pada 2022 hanya mencapai 15-16 ton, dan 2025 sekitar 10 ton, bahkan kurang.
“Maka jika sulit mencari ini, mulai berpengaruh ke harga,” ucapnya.

Pengaruh deforestasi
Selain banjir, alih fungsi hutan di sejumlah wilayah Kalsel, katanya, jadi biang kerok kian sulitnya menemukan lebah. Dia kaget menyaksikan langsung perubahan lanskap saat berkunjung ke Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, beberapa bulan lalu.
Kawasan yang sebelumnya berupa hutan kini jadi sawit, lengkap dengan pabrik. Perubahan itu, katanya, otomatis berdampak pada kehidupan hewan sekitar, termasuk penerangan bangunan yang membuat koloni lebah cenderung menjauh.
Begitu juga dampak perkebunan monokultur skala besar yang membabat habis hutan alam. Di banyak tempat, karena deforestasi, lebah madu hutan tak lagi menemukan habitat alaminya.
Raden Rafiq Sepdian Fadel Wibisono, Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, bilang, data MapBiomas Indonesia menunjukkan perkiraan tutupan hutan tersisa di Kalsel pada 2024 hanya 1,789 juta hektar atau 45,2% dari total luas 3,84 juta hektar. Tutupan tumbuhan non-hutan mencapai 1,644 juta hektar atau 41,6%, dan kawasan non-vegetasi seluas 453.000 hektar atau 11,5%.
Menurut dia, kondisi itu merupakan tekanan yang harus mendapat perhatian serius. Efek samping dari pengurangan ekosistem hutan itu, katanya, tidak hanya menghilangkan ruang hidup, tetapi memperparah dampak perubahan iklim di tingkat lokal.
“Hutan itu bukan lahan kosong, tetapi rumah mewah bagi semua ekosistem yang hidup didalamnya, termasuk hewan makro seperti lebah itu sendiri,” katanya.
Data Global Forest Watch (GFW), juga mencatat hingga 2024 terjadi kehilangan hutan alam 2,2 ribu hektar. Dalam rentang 2001–2024, Kalsel bahkan kehilangan sekitar 96.000 hektar hutan primer basah.
Merujuk data itu, Raden menyebut kehilangan hutan dalam skala luas menyebabkan fragmentasi habitat. Bentang hutan yang sebelumnya utuh, kini sudah terpecah-pecah.
Tidak heran, katanya, serangga seperti lebah hutan terpaksa memperluas jarak jelajahnya untuk mencari nektar dan serbuk sari.
“Ketika hutan terfragmentasi, jarak terbang lebah bisa saja jadi lebih jauh. Energi yang dibutuhkan mungkin semakin besar. Sementara sumber pakan tidak selalu tersedia karena dipengaruhi perubahan iklim.”
Catatan internal Walhi Kalsel, sekitar 51,57% dari total 3,7 juta hektar Kalsel terbebani berbagai izin konsesi. Rinciannya, perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH) seluas 722.895 hektar, izin usaha pertambangan (IUP) 559.080 hektar, serta hak guna usaha (HGU), yang mayoritas merupakan perkebunan sawit, 645.612 hektar.
“Semua itu tambang resmi, belum lagi yang ilegal, tidak kalah luas. Di sejumlah kabupaten, malah dibiarkan begitu saja tidak ditindak dengan tegas.”
Menurunnya, tekanan ruang akibat kondisi tersebut sudah menjelaskan fenomena semakin seringnya menemukan lebah di luar habitat alaminya. Sebagian koloni terpaksa bersarang di pelepah kelapa sawit, bahkan berpindah ke kawasan perkotaan.
“Sangat mungkin lebah beralih ke kota karena pohon tempat mereka bersarang di alam sudah dibabat habis.”

Migrasi ke kota
Ramadhani Eka Putra, entomolog Institut Teknologi Bandung, menyebut, pergerakan lebah madu hutan ke tempat yang tidak lazim merupakan pola migrasi guna mendukung proses perkembangbiakan koloni.
“Fenomena baru, diteliti dalam sepuluh tahun terakhir.”
Menurut dia, ada tiga faktor yang mendorong pergerakan agen penyerbuk itu beradaptasi dari hutan ke kota, yaitu ketersediaan pakan, tempat bersarang, serta perlindungan dari musuh alami.
Dia mencontohkan, kawasan perumahan baru dan kompleks elit yang saat ini memiliki banyak ruang terbuka hijau, berpotensi jadi sarang lebah. Karena, sumber daya yang dapat mereka manfaatkan untuk bertahan hidup tersedia di sana.
Sudut kemiringan tertentu pada bangunan yang menyerupai ranting atau celah pohon, kerap lebah manfaatkan sebagai tempat bersarang karena mereka anggap aman.
Apalagi, di kota, lebah minim terhadap gangguan berbagai predator, mulai dari beruang hingga elang pemburu lebah Sikep-madu asia (Pernis ptilorhynchus).
“Sekarang, di kota lebah tidak ada gangguan, paling manusia saja yang sering menganggap itu adalah masalah.”
Temuan sarang di area perkotaan, katanya, seharusnya tidak selalu dianggap ancaman, melainkan cerminan lingkungan sekitar masih mampu menopang kehidupan makhluk yang sangat sensitif perubahan suhu hingga curah hujan itu.
Karena, biologi mereka secara langsung bergantung pada ketersediaan tanaman berbunga dan kondisi cuaca yang stabil untuk mencari makan.
Artinya, kehadiran lebah hutan di suatu kawasan dapat menjadi indikator ekologi yang kuat terhadap kualitas lingkungan setempat. Tanda lingkungan relatif bersih hingga kualitas udara yang terjaga.
“Pada saat yang sama, kondisi tersebut juga menunjukkan fungsi ekologis ruang hijau perkotaan yang masih berfungsi dengan baik,” ucapnya.
Perubahan iklim dan suhu yang ekstrem, katanya, tentu juga memengaruhi perilaku lebah madu hutan. Jika sebelumnya lebih fokus memproduksi madu, kini koloni cenderung masuk ke mode perlindungan diri untuk bertahan hidup.
“Sebab, saat kemarau panjang, sarang berisiko terbakar atau rusak akibat asap.”
Lebah juga harus menjangkau sumber ketersediaan nutrisi, pergeseran wilayah jelajah memisahkan mereka dari habitat dan pakan yang layak. Sehingga, energinya lebih banyak terserap untuk bertahan hidup ketimbang membangun sarang dan mengumpulkan nektar.
Sebaliknya, peningkatan variabilitas curah hujan akibat perubahan iklim menimbulkan tantangan dalam mencari makan.
“Curah hujan lebat berkepanjangan mencegah lebah terbang keluar untuk mengumpulkan nektar.”
Dia bilang, lebah madu liar tidak mencari makan saat hujan karena mereka tidak dapat mengatur suhu tubuh terbang dalam kondisi dingin dan basah. Mereka yang kedinginan dan basah kuyup berpotensi mati, sehingga mendorong lebah menghindari aktivitas di luar koloni saat hujan turun.
Hujan deras berturut-turut semakin memaksa koloni bertahan hidup tanpa nutrisi yang cukup. Perkembangan larva mengalami kemunduran langsung, sementara cadangan makanan berkurang.
Kalau situasi ini terus berlangsung, maka lebah akan menjadi salah satu organisme yang paling awal terdampak perubahan iklim, produksi madu pun makin terbatas karena sumber pakan menyusut.
Ketika lebah gagal memproduksi madu, siklus pembungaan akan terganggu, interaksi antar spesies melemah, dan stabilitas ekosistem mulai runtuh.
Sehingga, katanya, krisis madu bukan hanya soal hasil hasil panen yang berkurang, melainkan peringatan dini atas melemahnya sistem penyerbukan yang menopang produksi pangan.
“Kehilangan komponen kecil seperti lebah dapat memicu gangguan ekologis yang lebih luas.”
Dalam kondisi tersebut, pendekatan intensifikasi ekologi menjadi penting, yakni memperbaiki proses alami alih-alih menambah input. Peran lebah menjadi semakin krusial sehingga menuntut perhatian serius dalam pengelolaan ekosistem.
“Makna migrasi lebah ke kota menandakan kegagalan hutan menjalankan fungsinya. Kota hanya menjadi habitat darurat, bukan solusi. Bentuk maladaptasi ekologi.”

Musim tidak pasti
Ketidakpastian musim yang mempengaruhi produktivitas lebah madu hutan dalam mengisi madu di sarangnya juga pernah Trisnu Satriadi teliti pada 2018. Sebagai bagian dari disertasinya untuk meraih gelar doktor di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
Dia menyebut, madu hutan salah satu hasil hutan bukan kayu yang banyak masyarakat adat Dayak Meratus manfaatkan.
Mereka kelola madu turun-temurun berdasarkan kepercayaan dan pengetahuan lokal dengan memperhatikan kondisi lingkungan. Sehingga, hubungan erat antara manusia dan alam terbentuk.
Perbedaan cara pengelolaan madu hutan di setiap tapak dan komunitas turut mempengaruhi kualitas madu.
Penelitiannya di Desa Ulang, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Pengamatan lapangan berlangsung selama satu periode musim bunga, September 2017 hingga September 2018.
Hasil menunjukkan lebah madu hutan umumnya membuat sarang di pohon gala-gala (Koompassia malaccensis) dengan ketinggian lebih dari 45 meter. Pohon sarang berada di kebun masyarakat dengan pola agroforestri karet.
Namun, sarang lebah juga terdapat di dahan pohon karet yang lebih rendah, terutama di area dengan tutupan vegetasi lebat dan minim gangguan.
Dia mencatat, sedikitnya terdapat 13 jenis tumbuhan pakan lebah. Tumbuhan budidaya meliputi karet, cempedak, langsat, durian, kapul, rambai hutan, dan manggis. Sementara tumbuhan alami antara lain alaban, bangkinang, lua, medang, sungkai, dan ulin.
“Lebah itukan perlu makanan bunga-bunga hutan dan kebun masyarakat.”
Keanekaragaman tumbuhan tersebut membentuk musim bunga yang berlangsung Juli-Februari, dengan puncak pada September-November.
Pada periode ini, produksi madu relatif tinggi. Februari 2018 lalu, misalnya, lebah menghasilkan sekitar 29,4 liter madu dari 11 sisir sarang.
Sebaliknya, Maret-Juni merupakan masa paceklik bunga yang berdampak pada penurunan produksi madu. Pada Mei 2018, produksi madu hanya sekitar 3 liter dari lima sisir sarang, sedangkan pada Agustus 2018 tercatat 3,6 liter dari satu sisir sarang.
“Dari situ kita bisa tahu ternyata memuai madu itu tidak mutlak pada bulan apa, kebetulan tahun itu bisa tiga kali panen.”
Dari sisi mutu, madu hutan yang lebah hasilkan umumnya memenuhi standar nasional. Dari 15 parameter uji berdasarkan SNI 3545:2013, hanya 3 yang tidak memenuhi standar, yakni kadar air, keasaman, dan kapang.
Warna madu juga bervariasi tergantung waktu panen, mulai dari extra light pada Februari 2018 hingga extra white pada Mei dan Agustus 2018.
Madu yang panen Agustus 2018 memiliki kemampuan antioksidan dan antiinflamasi tertinggi, serta madu produksi Mei dan Februari.
“Puncaknya (produksi madu) kemarin sekitar Februari, saat musim bunga berlimpah maka banyak juga musim madu,” ungkapnya.
Dia bilang, jika kondisi iklim setiap tahun relatif normal, maka produktivitas madu pun teratur di bulan yang sama. Namun, saat ini, produktivitas madu di dalam sarang kini sulit diprediksi.
“Lebah tanpa disadari sebenarnya adalah mitigasi perubahan iklim.”

Kata BMKG
Fenomena curah hujan di Kalsel dalam 2 dekade terakhir menunjukkan pola yang tidak seragam antar wilayah.
Di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, misalnya, curah hujan tahunan selama periode 2005–2025 berfluktuasi cukup tajam dari tahun ke tahun. Namun memperlihatkan kecenderungan meningkat lemah dengan rata-rata kenaikan sekitar 44 milimeter per tahun.
Di Kelumpang Barat, Kabupaten Kotabaru, variabilitas curah hujan juga tinggi. Tetapi secara jangka panjang relatif stabil tanpa tren berarti, dengan kenaikan rata-rata sekitar 2,5 milimeter per tahun.
Perbedaan karakter tersebut sejalan dengan pembagian Zona Musim (ZOM), yakni wilayah yang memiliki batas jelas antara periode musim hujan dan kemarau berdasarkan pola curah hujan rata-rata.
Pemetaan ZOM di Kalimantan Selatan memperlihatkan waktu awal musim hujan yang tidak selalu sama setiap tahun. Pada beberapa zona, musim hujan dapat datang lebih cepat dari kondisi normal, sementara di wilayah lain justru terlambat atau bahkan berlangsung hampir sepanjang tahun.
Wiji Cahyadi, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya sekaligus Ketua Kelompok Kerja Pengelolaan Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Kelas I Kalsel, menjelaskan variasi iklim di daerah tidak lepas dari pengaruh faktor global.
Di antaranya, ENSO (El Niño–Southern Oscillation) di Samudra Pasifik yang memunculkan fenomena El Niño dan La Niña, serta IOD (Indian Ocean Dipole) di Samudera Hindia yang turut membentuk pola cuaca Indonesia, termasuk Kalsel.
Dia mencatat, periode 2020-2022 ditandai curah hujan yang tergolong tinggi dengan puncaknya pada 2021, beriringan dengan banjir di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut berdampak pada berbagai sektor, termasuk tanaman buah yang produksinya menurun drastis karena tanaman lebih banyak tumbuh daun dibanding berbunga.
“Pada 2021 itu puncak musim hujan. Termasuk banjir dari 2020 sampai 2022, curah hujan di Kalimantan Selatan cukup tinggi. Pada periode itu, tanaman buah bisa dibilang sangat minim. Jika dihubungkan dengan faktor iklim, kondisi tersebut memang berkaitan,” ujarnya.
Selain faktor global, kondisi geografis juga berperan besar. Pegunungan Meratus yang memanjang menyerupai benteng alami membentuk perbedaan pola iklim antara wilayah barat dan timur.
Dampaknya, musim hujan di bagian barat seperti Banjarbaru hingga kawasan Hulu Sungai umumnya mulai pada Desember hingga Januari.
Sebaliknya, wilayah timur yang menghadap laut, seperti Sungai Danau dan Kintap, justru mengalami puncak musim hujan sekitar Mei, dengan selisih waktu dapat mencapai dua bulan.
Di sisi timur, musim hujan bahkan dapat berlangsung lebih lama hingga sekitar 9 bulan. Sebagian terjadi di sebagian wilayah pemuaian madu di bagian dataran atas, Kotabaru dan Loksado.
Klaus Johannes Apoh Damanik, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, mendorong penelitian dan pengkajian yang kolaboratif ihwal dampak perubahan iklim terhadap populasi lebah madu hutan, baik melibatkan lintas sektor, seperti instansi kehutanan, perkebunan, hingga kalangan media serta peneliti.
Dampak yang terjadi pada lebah madu hutan di Meratus dapat menjadi indikator sekaligus contoh sederhana dari perubahan iklim yang lebih mudah dipahami masyarakat luas.
“Karena isu perubahan iklim kerap sulit dirasakan dan dimengerti secara langsung oleh banyak orang.”

Fenomena global
Dampak perubahan iklim pada lebah secara global terlihat dari temuan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) yang menunjukkan sekitar 1,7 juta koloni lebah mati antara musim panas 2024 hingga musim semi 2025.
Jumlah tersebut setara dengan kehilangan lebih dari 60% koloni peternak lebah komersial di Amerika Serikat. Para peneliti dan pelaku industri menilai peristiwa ini salah satu kematian serangga penyerbuk terparah dalam sejarah modern.
Krisis mulai terdeteksi pada Januari 2025, ketika peternak lebah menemukan koloni dalam kondisi sekarat, saat menyiapkan sarang untuk penyerbukan tanaman almond di California.
Temuan USDA tersebut sejalan dengan survei nasional Project Apis M, lembaga riset lebah nirlaba, yang mencatat peternak lebah komersial kehilangan rata-rata 62% koloni mereka periode Juni 2024-Maret 2025.
USDA memperkirakan kerugian ini setara dengan US$600 juta, dari pendapatan yang hilang. Termasuk jasa penyerbukan, penurunan produksi madu, serta biaya penggantian koloni yang mati.
Sebelum munculnya fenomena Colony Collapse Disorder (CCD) pada 2006–ketika lebah pekerja tiba-tiba menghilang dari koloni–,peternak lebah umumnya hanya kehilangan 10–15% koloni setiap musim dingin.
Saat itu, kematian lebah terutama karena suhu rendah, keterbatasan pakan, dan parasit. Namun dalam beberapa tahun terakhir, tingkat kematian tinggi juga terjadi pada musim panas.
Laporan yang Food Tank rilis, menyebut, Project Apis M bahkan mencatat kerugian koloni lebah mencapai 70–100% dalam setahun terakhir.
Padahal, lebah madu berperan penting dalam sistem pangan. Penelitian dalam jurnal Environmental Science & Technology menyebut lebah madu menyerbuki tanaman pertanian di Amerika Serikat senilai sekitar USD30 miliar per tahun.
Terry Ryan Kane, dokter hewan lebah dan petugas Honey Bee Veterinary Consortium, menegaskan, pengelolaan penyerbuk yang sehat menjadi kunci keberlanjutan sistem pangan global.
Secara global, terdapat lebih dari 20.000 spesies penyerbuk hewan yang berkontribusi terhadap sekitar 75% tanaman pangan untuk manusia dan hewan.
Populasi serangga penyerbuk terus mengalami penurunan akibat perubahan iklim, penggunaan pestisida, dan hilangnya habitat. Sementara jumlah dokter hewan dengan keahlian khusus di bidang kesehatan lebah masih sangat terbatas.
“Penulisan ini didukung oleh Fellowship LaporIklim x PIKUL.”

*****