Jauh sebelum dinosaurus pertama menginjakkan kaki di Bumi atau bahkan pepohonan sejati berevolusi, daratan adalah tempat yang asing dan sunyi. Sekitar 400 juta tahun lalu, pada periode Devon awal, lanskap dunia tidak dihuni oleh hutan lebat melainkan oleh hamparan tanaman kerdil yang tingginya hanya beberapa sentimeter. Di tengah vegetasi rendah tersebut, menjulang struktur raksasa berbentuk pilar yang mencapai ketinggian hampir sembilan meter. Makhluk ini dikenal sebagai Prototaxites. Sebagai perbandingan, dinosaurus pertama baru muncul sekitar 230 juta tahun lalu pada periode Trias. Artinya, Prototaxites sudah merajai daratan sekitar 170 juta tahun sebelum era dinosaurus dimulai.
Selama lebih dari satu abad, para ilmuwan terjebak dalam perdebatan sengit mengenai identitas aslinya. Apakah ia merupakan jenis konifer purba yang aneh, tumpukan lumut yang menggulung, atau sesuatu yang jauh lebih asing. Kini riset terbaru dari Universitas Edinburgh yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances memberikan sudut pandang yang mengejutkan. Berdasarkan analisis biomarker pada fosil yang ditemukan di situs Rhynie chert, Skotlandia, organisme ini ternyata secara kimiawi berbeda dari fosil jamur yang ditemukan di lokasi yang sama. Temuan ini menunjukkan bahwa Prototaxites mungkin adalah bentuk kehidupan multiseluler yang benar-benar asing dan belum diketahui dalam kategori modern mana pun.
Teka-teki Identitas Sang Raksasa Tanpa Daun
Penemuan fosil Prototaxites pertama kali tercatat pada tahun 1859 oleh ahli paleontologi John William Dawson. Saat itu ia menemukan batang-batang besar yang telah membatu dan memiliki struktur internal yang kompleks. Karena ukurannya yang masif, Dawson berasumsi bahwa itu adalah kayu dari pohon kuno yang membusuk. Asumsi ini bertahan cukup lama karena sulit membayangkan organisme bisa tumbuh setinggi bangunan dua lantai tanpa jaringan kayu. Namun mikroskop mengungkap fakta berbeda. Alih-alih memiliki sel kayu berbentuk kotak layaknya tumbuhan, struktur Prototaxites terdiri dari jalinan tabung mikroskopis yang sangat rumit.

Karakteristik unik dari organisme ini terletak pada cara hidupnya yang tidak bergantung pada sinar matahari. Pada periode Silur dan Devon awal, tumbuhan mulai mengembangkan sistem vaskular untuk mengangkut air agar bisa tumbuh lebih tinggi. Namun Prototaxites sudah lebih dulu mencapai ukuran raksasa dengan strategi yang berbeda. Analisis menunjukkan bahwa makhluk ini tidak melakukan fotosintesis. Ia kemungkinan besar mengonsumsi sumber karbon di lingkungan sekitar atau hidup dari materi organik yang membusuk. Hal ini menempatkan Prototaxites sebagai elemen kunci dalam siklus nutrisi awal di daratan yang masih gersang.

Salah satu fokus penelitian terbaru adalah fosil yang digali dari ekosistem prasejarah yang dulunya merupakan mata air panas purba di Skotlandia. Karena terawetkan dengan sangat baik dalam kondisi silisifikasi, para ahli dapat melihat komposisi kimiawi asli fosil tersebut tanpa banyak kerusakan akibat proses geologi. Perbedaan penanda biologis atau biomarker ini membuat para ilmuwan seperti Corentin Loron menyimpulkan bahwa Prototaxites tidak mengikuti tren kimiawi yang sama dengan jamur di sekitarnya. Struktur tabungnya yang unik tidak memiliki kembaran dalam kelompok organisme yang masih hidup maupun yang sudah punah saat ini.

Punahnya raksasa ini menjadi catatan penting dalam sejarah Bumi. Seiring berjalannya waktu, tumbuhan mulai berevolusi menjadi lebih besar dan memiliki sistem perakaran yang lebih kuat untuk menyerap nutrisi secara langsung. Persaingan ruang dan sumber daya menjadi semakin ketat. Selain itu kehadiran hewan-hewan darat awal yang mulai memakan struktur organik tersebut kemungkinan besar mempercepat proses kepunahannya. Pada akhir periode Devon, Prototaxites menghilang dari catatan fosil. Ia meninggalkan jejak berupa struktur misterius yang terkubur dalam sedimen batuan selama ratusan juta tahun sebagai monolit prasejarah yang pernah merajai daratan.