- Bulu babi (Echinoidea) adalah hewan laut yang bisa ditemukan di semua jenis perairan di dunia, termasuk Indonesia yang tergolong perairan tropis. Perannya sangat penting menjaga ekologi laut tetap seimbang.
- Bulu babi memiliki peran krusial di laut, kehadirannya menjaga terumbu karang. Di mana ada terumbu karang, hampir pasti ada bulu babi.
- Perairan keruh yang menjadi habitat terbaik bulu babi di Indonesia, adalah perairan yang memiliki lumpur dan tidak dalam kondisi tercemar. Sebaliknya, jika tidak ditemukan lumpur, dan atau bahkan sudah tercemar perairannya, bulu babi sulit hidup dan berkembang.
- Indonesia memiliki sekitar 84 jenis bulu babi dari 31 suku dan 48 marga. Sementara, di seluruh dunia terdapat 800 jenis bulu babi dari kelas Echinodea, yang terbagi dua subkelas, yaitu Perischoechinoidea dan Echinoidea.
Bulu babi (Echinoidea) adalah hewan laut yang bisa ditemukan di semua jenis perairan di dunia, termasuk Indonesia yang tergolong perairan tropis. Perannya sangat penting menjaga ekologi laut tetap seimbang dan berfungsi sebagai bioindikator ekosistem perairan.
Invertebrata anggota Filum Echinodermata ini, memiliki rupa khas dengan duri hitam sepanjang 30 sentimeter. Pakan utamanya ganggang, dengan sesekali makan ikan, bintang laut, dan kepiting.
Syamsul Bahri Agus, Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, menyebut bulu babi memiliki peran krusial di laut, kehadirannya menjaga terumbu karang. Di mana ada terumbu karang, hampir pasti ada bulu babi.
Bulu babi menjaga terumbu karang dengan cara mencegah karang tertutupi dan mati kelebihan makro alga yang tumbuh di atas karang. Semua kelebihan makroalga itu dimakan bulu babi. Namun, populasi bulu babi harus seimbang dengan terumbu karang atau lamun, jika tidak akan berdampak negatif.
“Biasanya, bulu babi tumbuh di perairan dangkal sekitar lima sampai 10 meter,” jelasnya, Kamis (29/1/2026).

Bulu babi juga berperan sebagai herbivora utama. Saat melakukan aktivitas grazing atau merumput di atas padang lamun, fungsinya sangat penting menjaga keseimbangan ekosistem.
Secara spesifik bulu babi sangat menyukai perairan yang cenderung keruh.
“Perairan keruh bukan berarti ekosistemnya rusak. Justru, keberadaan bulu babi menandakan ekosistem sehat. Semakin banyak jumlahnya, kesehatan ekosistem semakin bagus.”
Perairan keruh yang menjadi habitat terbaik bulu babi di Indonesia, adalah perairan yang memiliki lumpur dan tidak dalam kondisi tercemar. Sebaliknya, jika tidak ditemukan lumpur, dan atau bahkan sudah tercemar perairannya, bulu babi sulit hidup dan berkembang.
Syamsul menjelaskan, perairan keruh sangat disukai bulu babi, karena kandungan nutriennya sangat tinggi. Itu memudahkannya tumbuh dan berkembang, walaupun arus air termasuk deras.

Ancaman kehidupan
Sampai sekarang, Syamsul tidak melihat kendala pada keberlangsungan hidup bulu babi di Indonesia. Meskipun, pencemaran semakin sulit dihentikan, perubahan iklim dan pemanasan global semakin parah, serta praktik perikanan tidak berkelanjutan terus berjalan.
Jika sampai ada kematian massal seperti yang terjadi di Kepulauan Canary, Spanyol, menurut dia karena perairannya bisa jadi tercemar, sehingga karbondioksoda nol. Atau, ada patogen yang memicu penyakit seperti virus, bakteri, jamur, maupun parasit.
Masyarakat Indonesia juga tak terbiasa menjadikan bulu babi sebagai sumber makanan, seperti yang dilakukan di Jepang atau beberapa negara Asia Timur lainnya. Pemanfaatan bulu babi sebagai komoditas ekonomi juga belum terjadi.
“Walaupun pernah ada pelaku usaha yang memanfaatkannya untuk perikanan budidaya. Namun itu berhenti, mungkin karena tidak berhasil, atau pasarnya terbatas.”
Indonesia memiliki sekitar 84 jenis bulu babi dari 31 suku dan 48 marga. Sementara, di seluruh dunia terdapat 800 jenis bulu babi dari kelas Echinodea, yang terbagi dua subkelas, yaitu Perischoechinoidea dan Echinoidea.
Penelitian yang dilakukan di Ambon, Maluku, oleh Abdul Wahab Radjab dan kolega, coba melihat keseimbangan ekologis daerah pantai yang diukur dari koloni bulu babi.
“Perairan dengan jenis substrat berbatu dan berpasir cocok untuk bulu babi hidup dan berkembang biak, meski tidak semua jenis ditemukan.”

Kematian massal
Kondisi memprihatinkan terhadap bulu babi terjadi di perairan Kepulauan Canary, Spanyol. Selama 2022-2023, terjadi kematian massal pada jenis Diadema africanum yang berdampak pada ancaman kepunahan.
Temuan itu dipublikasikan di jurnal ilmu kelautan Frontiers in Marine Science akhir 2025. Saat kejadian misterius berlangsung di Canary, kematian juga terjadi pada koloni bulu babi di Karibia sampai Samudera Hindia Barat. Bahkan, kematian yang diduga karena wabah tersebut, disebutkan lebih dahsyat dibandingkan kasus serupa pada 2008-2018.
Ivan Cano, peneliti utama yang merupakan mahasiswa doktoral di Universitas La Laguna, Tenerife, Kepulauan Canary, Spanyol, mengatakan kalau kematian massal di Spanyol tersebar di Canary dan Madeira.
“Pada waktu hampir bersamaan, spesies Diadema lain dilaporkan mati massal di Karibia, Mediterania, Laut Merah, Laut Oman, dan Hindia Barat.”
Kematian massal mulai terdeteksi pada Februari 2022, dan kemudian menyebar ke sekitar perairan Canary sepanjang tahun. Kejadian tersebut kemudian terulang sepanjang 2023 yang memicu kematian bulu babi sama banyaknya.
Berdasarkan analisis, Cano yakin bila kematian massal ini berdampak pada kepunahan lokal bulu babi. Sejauh ini, belum diketahui penyebabnya. Sebelumnya, kematian bulu babi disebabkan amoeba seperti Neoparamoeba branchiphila, atau disebabkan Ciliata scuticociliate dalam genus Philaster, yaitu sejenis organisme parasit bersel tunggal.
“Tanpa identifikasi pasti, kami tidak dapat mengatakan apakah kasus tersebut datang dari Karibia melalui arus atau kapal, atau perubahan iklim menjadi penyebabnya.”
Cano mengingatkan kepada dunia bahwa kasus serupa bisa saja terjadi kapan saja, di mana saja. Meskipun, sejauh ini dia dan tim tidak melihat ada ancaman sebaran kasus ke Asia Tenggara dan Australia.
“Kami belum yakin bagaimana pandemi ini akan berkembang.”
Genus Diadema mencakup delapan spesies yang menghuni perairan subtropis dan tropis di seluruh dunia. Di antaranya adalah D. africanum, yang dulunya berkembang biak di terumbu karang berbatu di lepas pantai Afrika Barat dan Azores.
Di Kepulauan Canary, populasinya meningkat sejak pertengahan 1960-an, yang memicu munculnya upaya pengendalian antara 2005 hingga 2019. Namun sayang, upaya tersebut tidak berhasil, sehingga kelimpahan bulu babi makin tak terkendali.
Bulu babi diketahui menjadi mangsa berbagai mamalia laut, ikan, krustasea, dan bintang laut. Populasinya harus dijaga jangan sampai melimpah, karena akan memicu kerusakan habitat laut, juga akan terbentuk koloni raksasa.
Referensi:
Cano, I., Lorenzo-Morales, J., Bronstein, O., Sangil, C., & Hernández, J. C. (2025). Insights on the last sea urchin Diadema africanum mass mortality suggest a worldwide Diadematid pandemic in 2022-2023. Frontiers in Marine Science, 12, 1665504. https://www.frontiersin.org/journals/marine-science/articles/10.3389/fmars.2025.1665504/full
Radjab, A. W., Rabiyanti, I., & Muharby, F. (2023). Community structure of sea urchin as an indicator of the ecological balance of coastal areas. Journal of Environmental Science and Sustainable Development, 6(2), 315-328. https://scholarhub.ui.ac.id/jessd/vol6/iss2/7/
*****
Populasi Bulu Babi Hilang dari Pesisir Buton Timur, Faktor Alam atau Dikonsumsi?