- Christ J Belseran, jurnalis Mongabay Indonesia, menerima Penghargaan Oktovianus Pogau 2026 dari Yayasan Pantau, pada akhir Januari. Belseran kerap meliput isu masyarakat adat yang terampas haknya, pelbagai praktik kotor korporasi, perampasan tanah, perusakan hutan, pencemaran laut, hingga korupsi sumber daya alam.
- Yayasan Pantau menghargai karya Belseran yang konsisten menyuarakan nasib masyarakat adat terancam industri ekstraktif, seperti O’Hongana Manyawa di Halmahera, Maluku Utara;, maupun Masyarakat Adat Kepulauan Aru, atau Masyarakat Adat Negeri Sabuai di Pulau Seram, Maluku.
- Novenia Ambeua, perempuan adat Desa Minamin, Halmahera, berharap, Belseran tetap independen dan terus menyuarakan hak-hak masyarakat adat yang sering tidak diliput media lokal maupun nasional. Selama ini, Belseran dan Mongabay membuat suara masyarakat adat di Halmahera terdengar.
- Eko Cahyono, peneliti Sajogyo Institute, mengenal Belseran sejak 2020 dan sering bersama dalam penelitian. Dia melihat Belseran bukan saja sebagai jurnalis, tetapi sosok pembela kelompok tertindas dan termarjinalkan. Hampir semua jaringan gerakan sosial di Maluku dan Maluku Utara pasti mengenal Belseran.
Tidur di hutan hanya beralaskan ranting-ranting kayu, makan dengan tangkap ikan di sungai, atau makan yang tersedia di alam, bukan hal asing bagi Christ Jacob Belseran.
Dia bisa berminggu-minggu berada dalam hutan untuk meliput kondisi masyarakat adat yang haknya terabaikan maupun yang terancam tergerus oleh investasi skala besar dari tambang sampai proyek-proyek infrastruktur dan lain-lain.
Karena keberanian, ketekunan dan komitmennya dalam kerja-kerja jurnalisme itu itulah, Christ Belseran, jurnalis Mongabay Indonesia, menerima Penghargaan Oktovianus Pogau dari Yayasan Pantau, pada akhir Januari.
Belseran kerap meliput isu masyarakat adat yang terampas haknya, pelbagai praktik kotor korporasi, perampasan tanah, perusakan hutan, pencemaran laut, hingga korupsi sumber daya alam.
Yayasan Pantau menghargai karya Belseran yang konsisten menyuarakan nasib masyarakat adat terancam industri ekstraktif, seperti O’Hongana Manyawa di Halmahera, Maluku Utara;, maupun Masyarakat Adat Kepulauan Aru, atau Masyarakat Adat Negeri Sabuai di Pulau Seram, Maluku.
“Dorang bongkar pertambangan nikel di Maluku Utara, dari slogan hilirisasi sampai pertumbuhan ekonomi, semua bikin rusak alam,” kata Yuliana Lantipo, salah satu juri penghargaan dalam keterangan persnya, 31 Januari 2026.
Selain Yuliana dari Jayapura, juri Pogau Award juga ada Andreas Harsono (Jakarta), Alexander Mering (Pontianak), Coen Husain Pontoh (New York), dan Made Ali (Pekanbaru).

Belseran lahir 1985 di Piru, kota kecil di Pulau Seram. Dia menyelesaikan pendidikan Ilmu Kelautan di Universitas Pattimura, Ambon, dan magister Ilmu Komunikasi di Universitas Sahid, Jakarta. Belseran anggota Aliansi Jurnalis Independen.
Dia memulai karier jurnalis pada 2011 di televisi lokal Ambon, lantas sebagai kontributor media Jakarta seperti RTV, TV One, dan The Jakarta Post. Belseran menulis untuk Mongabay pada 2019. Sejak itu, dia fokus meliput lingkungan hidup, masyarakat adat, perubahan iklim, hingga industri ekstraktif.
Belseran juga editor sekaligus salah satu pendiri media lokal independen di Maluku, Titastory.
Pada 2020, Belseran menjadi jurnalis pertama yang meliput langsung pembalakan liar hutan adat Negeri Sabuai di Kecamatan Siwalalat, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Dia berjalan kaki sembilan jam, menyusuri sungai deras, hingga mendaki gunung untuk sampai ke lokasi liputan.
Belseran harus mempertaruhkan nyawa kala meliput dengan perbekalan seadanya. “Kami lapar. Kami harus memakan tebu yang ada di hutan untuk mengganjal perut. Saya salut dengan semangat Christ untuk tetap mengawal perjuangan masyarakat adat Negeri Sabuai,” kata Kaleb Yamarua, pemuda adat Negeri Sabuai kepada Mongabay.
Berkat liputannya itu, komisaris CV Sumber Berkat Makmur–perusahaan pembalak hutan–jadi tersangka dan divonis 2 tahun penjara.
Belseran juga konsisten mengawal kasus kriminalisasi terhadap Kaleb Yamarua dan Stevanus Ahlawam, yang protes hutan mereka kena perusahaan.
Liputan Belseran kerap masuk hutan berhari-hari bahkan berminggu-minggu, seperti tahun 2022. Dia meliput ritual Masyarakat Adat Minamin dan Saolat, Kecamatan Wasile Selatan, Halmahera Timur yang menolak hutan mereka jadi tambang nikel.

Ketika masuk hutan, Belseran mencari makan serta tempat tidur dari hutan. Dia memilih tidur dekat sungai agar ada air untuk minum, maupun pasang perangkap ikan.
“Christ sosok yang loyal dan independen. Dia sangat menjaga baik etika profesinya. Bagi saya, Christ bukan hanya jurnalis, tapi dia sebagai masyarakat adat juga. Dia benar-benar merasakan apa yang kami rasakan. Dia sangat tulus membantu kami di lapangan,” kata Novenia Ambeua, perempuan adat Desa Minamin, Halmahera, kepada Mongabay.
Dia bercerita, Belseran sempat menghadapi bahaya ketika meliput pertemuan masyarakat adat dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Halmahera Timur, November 2022. Beberapa polisi melarangnya merekam bahkan mengusirnya.
Melihat Belseran diperlakukan demikian, Novenia bersama mama-mama adat lain sontak membelanya. Dia protes sikap polisi yang mengintimidasi jurnalis. “Akhirnya ada sedikit ribut ibu-ibu. Gak bisa wartawan dilarang, jadi tetap, sekalipun ditekan, dia tetap harus ambil dokumentasi.”
Novenia berharap, Belseran tetap independen dan terus menyuarakan hak-hak masyarakat adat yang sering tidak diliput media lokal maupun nasional. Selama ini, Belseran dan Mongabay membuat suara masyarakat adat di Halmahera terdengar.
Pada 2022, Belseran jadi bagian dalam tim kolaborasi meliput mengenai nasib hutan dan savana di Pulau Trangan, Kepulauan Aru, Maluku, dari ancaman peternakan sapi skala besar seluas 61.567 hektar.
Dia juga terus mengawal kerusakan lingkungan di Halmahera karena hilirisasi nikel. Di Teluk Weda, Halmahera Tengah, Belseran berulang kali meliput perampasan lahan, pencemaran laut serta udara dari kawasan industri nikel terhadap Masyarakat Adat O’Hongana Manyawa maupun masyarakat adat Sawai.
Yuliana Lantipo menilai, Belseran bukan saja meliput masyarakat adat, yang bergantung hidup dari alam, juga bagian dari keterampilan hidup di alam.
Selain meliput, dia juga terlibat dalam berbagai penelitian ihwal korupsi tambang nikel, salah satunya bersama Transparency International Indonesia (TII) pada 2023. Terbaru pada 2025, Belseran ikut meneliti relasi pemuka agama terhadap pelepasan hutan adat menjadi konsesi tambang nikel yang oleh PP Muhammadiyah.
Eko Cahyono, peneliti Sajogyo Institute, mengenal Belseran sejak 2020 dan sering bersama dalam penelitian. Dia melihat Belseran bukan saja sebagai jurnalis, tetapi sosok pembela kelompok tertindas dan termarjinalkan.
Dia bilang, hampir semua jaringan gerakan sosial di Maluku dan Maluku Utara pasti mengenal Belseran.
Belseran, katanya, punya cita-cita rakyat kecil harus berdaulat di tanah airnya sendiri.
“Itu bukan hanya diucapkan dan dituliskan. Tapi dihayati dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dia rela ‘mengorbankan’ kepentingan pribadi,” katanya.
Belseran percaya jurnalisme adalah jalan etis untuk membela kepentingan publik, menjembatani masyarakat dengan negara, serta mendorong perubahan sosial yang adil dan berkelanjutan. Dia berpegang pada kode etik saat meliput.

Dia bilang, kode etik penting jurnalis pegang agar terhindar dari gugatan hukum, intimidasi, bahkan tindakan kekerasan. Dia tak pernah khawatir risiko liputan selama menerapkan kode etik dengan baik.
“Kekhawatiran risiko ada, tetapi selama saya menjaga kode etik, dan prosedur keamanan dijalankan, saya kira masih aman untuk menjalankan liputan investigasi.”
Sapariah Saturi, Managing Editor Mongabay Indonesia bangga Belseran menerima penghargaan itu.
Bekseran, katanya, merupakan sosok jurnalis yang berani, tekun, konsisten, dan fokus dalam liputan. Keterampilan hidup di hutan pun dia miliki.
Bagi Sapariah, Belseran bukan sekadar liputan untuk menyampaikan informasi, tetapi lewat tulisan itu dia ingin mendorong ada perubahan. Dia menjalani sebagai jurnalis dengan hati nurani.
“Dia menyuarakan ketidakadilan, para korban, rakyat yang terampas hak-haknya, menyuarakan orang yang tak punya kekuatan untuk bersuara. Itu memang kerja-kerja jurnalis yang seharusnya.”
Sebelum Belseran, editor Mongabay, Philip Jacobson juga mendapatkan penghargaan serupa pada 2021.
Penghargaan Pogau Award ini terinspirasi dari sosok jurnalis Papua, Oktovianus Pogau, lahir di Sugapa, pada 1992.
‘Dia meninggal dunia dalam usia 23 tahun pada 31 Januari 2016 di Jayapura. Penghargaan ini diberikan setiap tahun, sejak 2017, guna mengenang keberanian Pogau.

*****