- Seekor anak kucing kuwuk ditemukan berkeliaran di Desa Kapi, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
- Kucing kuwuk dikenal sebagai satwa yang cukup adaptif dan mampu manfaatkan area-area terbuka yang masih menyediakan pakan, seperti perkebunan tebu atau jagung yang tikusnya banyak.
- Sebagai predator alami, kucing kuwuk punya peran penting menjaga keseimbangan ekosistem, terutama mengendalikan populasi hama, seperti tikus di lahan pertanian.
- Kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) mampu hidup di berbagai tipe habitat, mulai hutan sekunder, semak belukar, hingga lahan pertanian.
Mengapa satwa liar yang seharusnya hidup di alam bebas justru muncul di sekitar permukiman warga? Pertanyaan ini mengemuka setelah seekor anakan kucing kuwuk, ditemukan berkeliaran di Desa Kapi, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Laporan mengenai satwa dilindungi ini diterima melalui call center pengaduan satwa liar Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur. Pelapornya Aditya Pramudita (20), warga setempat, yang khawatir satwa tersebut mengalami ancaman dari hewan domestik maupun manusia.
“Berdasarkan penelusuran, anak kucing ini ditemukan bukan di permukiman padat, namun di sekitar perkebunan,” ujar Dafid Fathur Rohman, Kepala Resort BKSDA Wilayah Kediri, Sabtu (24/1/2026).
Menurut Dafid, kondisi ini tak sepenuhnya mengejutkan. Kucing kuwuk dikenal sebagai satwa yang cukup adaptif dan mampu manfaatkan area-area terbuka yang masih menyediakan pakan.
“Kucing kuwuk itu karnivora, makannya tikus. Jadi, di area perkebunan seperti tebu atau jagung, yang tikusnya banyak, mereka akan datang.”

Terpisah dari induk
Terpisahnya anakan kucing kuwuk dari induknya bisa terjadi akibat berbagai faktor, termasuk aktivitas manusia di sekitar habitatnya. Berdasarkan informasi warga, kata Dafid, satwa tersebut terlihat berkeliaran di sekitar kebun.
Sebelum petugas datang, warga sempat ambil langkah sendiri. Mereka mengembalikannya ke area yang dianggap jauh dari permukiman.
“Alhamdulillah, ada kesadaran warga dan mereka paham ini satwa dilindungi.”
Tetapi, upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil. Anak kucing itu kembali berkeliaran di sekitar rumah warga. Usia satwa yang masih muda sangat rentan terhadap berbagai risiko.
“Kekhawatiran kami, bisa saja ditangkap orang tak bertanggung jawab, atau bisa juga diserang kucing rumahan.”
Anak kucing kuwuk itu, jelas Dafid, dibawa ke kantor BKSDA Kediri untuk dapatkan penanganan awal. Petugas memberikan pakan guna pulihkan energinya sebelum dipindahkan ke fasilitas transit di kandang transit Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jawa Timur.
Kasus anak kucing di Desa Kapi bukan kejadian tunggal. Di Kediri, laporan semacam ini bisa terjadi dua hingga tiga kali dalam satu musim.
“Saat musim panen tebu atau jagung, aduan masyarakat meningkat.”

Tekanan habitat
Sebagai predator alami, kucing kuwuk punya peran penting menjaga keseimbangan ekosistem, terutama mengendalikan populasi hama, seperti tikus di lahan pertanian.
“Keberadaan mereka justru penting. Mereka penyeimbang alami ekosistem.”
Kemunculan satwa liar di sekitar permukiman tak selalu dimaknai sebagai ancaman. BKSDA selalu menekankan pendekatan edukasi kepada masyarakat dibandingkan penindakan. Sosialisasi terus dilakukan, agar warga paham saat bertemu satwa liar.
“Kalau bertemu satwa dilindungi, tidak harus ditangkap. Kalau aman, biarkan saja di alam.”
Meidi Yanto, Manajer Konservasi in-situ Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT), menjelaskan kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) mampu hidup di berbagai tipe habitat, mulai hutan sekunder, semak belukar, hingga lahan pertanian.
Tetapi, kondisi tersebut kerap menempatkannya semakin dekat manusia.
“Terbiasa melihat, mendengar, atau bahkan bergantung pada manusia,” jelas Meidi, Selasa (27/1/2026).
Habituasi jadi persoalan serius dalam rehabilitasi satwa liar. Satwa yang terlalu akrab dengan manusia, berisiko gagal bertahan hidup ketika dilepasliarkan lagi ke alam.
Selain habituasi, menurut Meidi, anak kucing ini juga kerap alami stress tinggi akibat perubahan lingkungan yang cepat. Kehilangan tutupan vegetasi, lalu lintas manusia, hingga kebisingan membuat tekanan psikologisnya semakin besar.
Hasil penelitian di Jurnal Ilmu Kehutanan, Fakultas Kehutanan UGM menunjukkan, sebagian besar habitat potensial kucing kuwuk justru berada di kawasan non-lindung. Melalui pemodelan distribusi habitat, peneliti menemukan bahwa lahan pertanian, semak belukar, dan fragmen vegetasi di luar kawasan konservasi formal punya peran penting sebagai habitat fungsional.
Luas habitat potensial di luar kawasan lindung bahkan lebih besar dibanding kawasan hutan lindung negara. Walau adaptif, fragmentasi habitat tetap berisiko. Patch vegetasi yang semakin terisolasi bisa menghambat pergerakan satwa dan menurunkan keragaman genetik jangka panjang.
Referensi:
Irawan, N., Pudyatmoko, S., Yuwono, P. S. H., Tafrichan, M., Giordano, A. J., & Imron, M. A. (2020). The importance of unprotected areas as habitat for the leopard cat (Prionailurus bengalensis javanensis Desmarest, 1816) on Java, Indonesia. Jurnal Ilmu Kehutanan, 14(2), 198-212. DOI:10.22146/jik.61403
*****