- Penguin afrika (Spheniscus demersus) yang hidup di lepas pantai Afrika Selatan, harus mengalami momen menyedihkan sepanjang 2004 hingga 2011. Sekitar 62 ribu individu dewasa mati dalam kurun waktu tersebut.
- Selain kelaparan, kematian juga dipicu perubahan lingkungan akibat dampak iklim. Tak hanya di lepas pantai Afrika Selatan, penurunan populasi juga terjadi di seluruh dunia selama 30 tahun terakhir, hingga 80 persen.
- Saat penguin afrika kesulitan mendapatkan sarden di alam karena diambil kapal penangkap ikan, sebenarnya jumlah sarden juga sedang mengalami penurunan di alam. Puncaknya, pada 2006 eksploitasi berlangsung sangat tinggi hingga mencapai 80 persen. Pada 2024, jumlah tersisa penguin diperkirakan kurang dari 10 ribu individu.
- Kondisi penguin afrika ada kesamaan dengan Indonesia. Saat ini, Indonesia menghadapi situasi serupa, ada ancaman terhadap jalur migrasi burung laut yang terjadi saat musim dingin di negara asal. Negara dengan iklim tropis atau hangat akan menjadi tujuan migrasi burung laut. Saat itu, burung laut akan mencari makan ikan di sepanjang jalur migrasi di atas laut.
Penguin afrika (Spheniscus demersus) yang hidup di lepas pantai Afrika Selatan, harus mengalami momen menyedihkan sepanjang 2004 hingga 2011. Mereka terpaksa bertahan hidup tanpa ketersediaan makanan dan bersaing dengan kapal penangkap ikan ukuran besar di lokasi yang sama. Sekitar 62 ribu individu dewasa mati dalam kurun waktu tersebut.
Satwa ini menderita kepalaran akut, akibat sarden yang merupakan pakannya, menurun hingga 25 persen karena ditangkap untuk dikonsumsi manusia.
Padahal, asupan makanan sangat penting bagi penguin afrika, karena akan menjalani puasa saat berada di darat untuk mengganti bulunya. Penambahan berat badan sebelum puasa menjadi wajib dilakukan, karena mereka tidak bisa berburu seperti di laut. Berat badan yang bertambah menjadi bagian dari evolusi untuk menyimpan cadangan makanan dengan cepat.
Selain kelaparan, kematian juga dipicu perubahan lingkungan akibat dampak iklim. Tak hanya di lepas pantai Afrika Selatan, penurunan populasi juga terjadi di seluruh dunia selama 30 tahun terakhir, hingga 80 persen.
Richard Sherley, ahli biologi konservasi dari Univesitas Exeter, Inggris, bersama kolega menuliskan penelitian tersebut di jurnal Ostrich 2025.
“Kelangsungan hidup dewasa, terutama melalui pergantian bulu tahunan yang krusial, sangat terkait ketersediaan mangsa,” jelasnya.
Saat penguin afrika kesulitan mendapatkan sarden di alam karena diambil kapal penangkap ikan, sebenarnya jumlah sarden juga sedang mengalami penurunan di alam. Puncaknya, pada 2006 eksploitasi berlangsung sangat tinggi hingga mencapai 80 persen. Pada 2024, jumlah tersisa penguin diperkirakan kurang dari 10 ribu individu.
Menurut Sherley, agar ancaman berkurang, perlu pengurangan eksploitasi pada sarden. Terutama, saat biomassa sarden berada di bawah 25 persen dari kapasitas maksimum.
“Bila bisa dilakukan, sarden dewasa akan melakukan tugasnya untuk reproduksi.”

Jalur migrasi burung laut
Adriani Sunuddin, Ahli Ekologi Laut IPB University, menilai persoalan penguin afrika harus bisa menjadi perhatian dunia, tak hanya wilayah yang menjadi habitatnya saja. Paling penting, kegiatan penangkapan ikan bisa lebih baik dan teratur.
Jika memungkinkan, negara yang menjadi habitat penguin afrika bisa membentuk Regional Fisheries Management Organization (RFMO). Tujuannya, agar pemanfaatan sumber daya ikan (SDI), khususnya sarden bisa diatur lebih tegas dan ketat.
“Memang kalau tak ada makanan, maka ancamannya adalah punah,” ungkapnya, Kamis (22/1/2026).
Walau terjadi di Afrika, Adriani menilai, kondisi tersebut ada kesamaan dengan Indonesia. Saat ini, Indonesia menghadapi situasi serupa, ada ancaman terhadap jalur migrasi burung laut yang terjadi saat musim dingin di negara asal.
Negara dengan iklim tropis atau hangat akan menjadi tujuan migrasi burung laut. Saat itu terjadi, burung laut akan mencari makan ikan di sepanjang jalur migrasi di atas laut.
“Walau sudah ada pengaturan, sumber makanan tetap terancam karena jalurnya dipakai manusia untuk menangkap ikan.”
Menurut dia, banyak cara bisa dilakukan untuk mengawal burung laut agar tetap aman dan nyaman selama migrasi. Peran dari Pemerintah Indonesia, akan sangat berguna karena diperlukan kebijakan yang tepat.

Tidak ada penguin di Indonesia
Adriani menyebut, secara alami penguin tidak ditemukan di Indonesia. Hal itu karena distribusi alaminya terbatas di sirkumpolar Antarktika. Sejarah isolasi yang panjang sejak 60 juta tahun lalu, mengakibatkan populasi penguin tidak ditemukan di Asia (termasuk Indonesia), Amerika Utara, maupun Eropa.
“Evolusi biologinya mengikuti evolusi geologi pergeseran lempeng benua dan sirkulasi arus dingin.”
Sebaran penguin “paling Utara” ada di Galapagos yang termasuk wilayah tropis/ekuator dan tidak mungkin ditemukan di Indonesia, karena suhu laut terlalu hangat untuk jadi habitat penguin. Di sana, spesies penguin beda dengan yang ada di Afrika.
Sebaliknya, sirkulasi laut di Galapagos mendukung populasi penguin, karena ada asupan massa air laut dingin dari Kutub Selatan yang dibawa Arus Bawah Peru-Chili (Peru-Chile Undercurrent), cabang dari Southern Subsurface Counter Current.
“Sehingga, perairan lautnya lebih kaya nutrien dan sedikit lebih dingin dibandingkan laut tropis di Indonesia.”
Alasan lainnya, penguin termasuk predator jarak pendek. Mereka sulit beruaya jauh dari daratan seperti halnya jenis burung laut yang umumnya bisa terbang dan menyelam.
Arus laut di perairan Galapagos juga mendukung kelimpahan mangsa utama penguin, berupa ikan pelagis kecil. Selain itu, habitat mangsanya dekat daratan pulau-pulau Galapagos.

Ali Suman, Peneliti Pusat Riset Perikanan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa pengelolaan perikanan merupakan masalah utama yang harus diselesaikan di wilayah Afrika. Diperlukan pemantauan rutin yang ketat, agar penangkapan ikan tidak bentrok dengan penguin afrika.
“Ini sangat bergantung pada kemauan dan keberpihakan pengelola wilayah perikanan lokal,” terangnya, Kamis (22/1/2026).
Makanan yang tepat, menjadi kunci setiap individu penguin untuk bertahan hidup. Itu juga berlaku bagi penguin yang ada di Indonesia untuk keperluan pariwisata. Pihak pengelola harus memantau ketat kebutuhan makanannya.
“Jika dipelihara, harus mengerti detil siklus hidup dan adaptasi lingkungan sekitar.”
International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan African Penguin berstatus Kritis (Critically Endangered) atau satu langkah menuju kepunahan di alam liar. Spesies ini memakan cumi-cumi, sarden pasifik (Sardinops sagax), sarden afrika selatan (S. ocellatus), makarel kuda (Trachurus trachurus), dan anchovies (Engraulis).
Jenis burung tidak bisa terbang ini mendiami sepanjang pantai Namibia dan Afrika Selatan. Mereka berkembang biak sepanjang tahun di 25 pulau berbatu dan beberapa wilayah daratan yang ada di kedua negara tersebut.
Referensi:
Crawford, R. J., Sherley, R. B., Shannon, L. J., McInnes, A. M., Carpenter-Kling, T., & Makhado, A. B. (2025). High adult mortality of African Penguins Spheniscus demersus in South Africa after 2004 was likely caused by starvation. Ostrich, 96(4), 216-224. https://www.tandfonline.com/doi/epdf/10.2989/00306525.2025.2568382?needAccess=true
*****