- Pendakian di puncak Gunung Welirang menjadi pengalaman yang paling terkesan bagi Arya. Suasana tenang dan perjalanan yang menantang menjadi pengalaman tersendiri selama mendaki gunung-gunung di Jawa Timur.
- Suhu dingin dan minim oksigen juga menjadi tantangan tersendiri. Juga tak ada sumber air untuk memenuhi kebutuhan pendakian. Sedangkan saat menuju puncak Gunung Wulirang mereka menghadapi tantangan berupa kepulan asap belerang beracun.
- Tahun depan, direncanakan mendaki lereng Gunung Semeru, tepatnya Ranu Kumbolo (2.389 mdpl). Memperingati hari Pendidikan Nasional 2 Mei.
- Saat bencana, katanya, difabel menjadi kelompok rentan yang harus diperhatikan. Terutama dalam tahap evakuasi saat bencana alam. Sehingga, pemerintah harus mendata nama, alamat dan disabilitas.
Imanuel Arya Afdyanto, bersemangat mendaki menuju puncak Gunung Welirang, di Jawa Timur (Jatim), meski sepatunya rusak. Bahkan, pemuda 21 tahun ini terpaksa berjalan tanpa alas kaki.
“Kaki sakit sekali. Sepatu jebol, saya tinggal. Setengah perjalanan, saya menggunakan sepatu dengan sol yang nemu di jalur pendakian,” katanya.
Bersama empat anggota Divisi Pecinta Alam (Difpala) Lingkar Sosial Indonesia (Linksos), dia mendaki gugusan pegunungan Gunung Kembar 1 (3.058 mdpl), Gunung Kembar II (3.126 mdpl) dan Gunung Welirang (3.339 mdpl), 30 Oktober lalu.
Semula, kelima anggota Difpala itu berencana mendaki sampai ke puncak Gunung Arjuno (3.339 mdpl) karena cuaca dan jalur ekstrem mereka beralih tujuan.
Arya kehilangan penglihatan sejak SMP karena kecelakaan. “Tidak netra total, saya masih bisa meliat cahaya,” katanya.
Pendakian ini merupakan kali kedua, dalam program Disability Seven Summits Indonesia (DSSI). Pendakian pertama mereka lakukan di Gunung Kawi pada 5-7 Desember 2024.
Dengan mengenakan dua trekking pole atau tongkat pendakian, pendamping memandu mereka menyusuri jalur pendakian. Pendamping, katanya, menyesuaikan dengan keinginan dan kenyamanan Arya dengan berjalan pelan, menyesuaikan dengan medan pendakian.
“Pemandu memegang ujung tongkat, dan memberi arahan menjelaskan kontur jalan dan hambatan di depan jalur,” katanya.
Bagi Arya, pendakian ke puncak Gunung Welirang paling mengesankan. Suasana tenang dan perjalanan yang menantang menghadirkan pengalaman tersendiri selama mendaki gunung-gunung di Jawa Timur. Angin dan hujan yang turun turut menjadi tantangan tersendiri.
Pemuda asal Sedati, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim) ini sebelumnya sudah berlatih mendaki pegunungan sekitar Malang dan Batu, seperti Gunung Wedon (660 mdpl), dan Gunung Bokong (1.746 mdpl).
Dia melatih fisik saban hari. Sebagai atlet judo, dia kerap berolahraga untuk menjaga stamina tubuh, mulai peregangan otot dan berlari.
Tak sekadar mendaki gunung, DSSI ini memiliki misi mempromosikan Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB) Penanggulangan Bencana Penanggulangan Bencana Alam Daerah (BPBD) Kabupaten Malang. Sekaligus sebagai usaha kampanye pengurangan risiko bencana, yang memang biasa diperingati setiap Oktober.
Arya yang juga tercatat sebagai relawan ULD-PB BPBD Kabupaten Malang sudah mengikuti serangkaian pelatihan.
Dia berkomitmen terlibat dalam penanganan bencana alam, mulai sebelum bencana, saat bencana dan setelah bencana alam.
“Sudah ikut pelatihan penanggulangan bencana,” katanya.

Cuaca dan jalur ekstrem
Kertaning Tyas, Ketua Pembina Linksos mengatakan, awalnya pendakian melibatkan tujuh personel, tiga difabel, dua mengundurkan diri. Jadi, hanya lima yang ikut pendakian, termasuk dua difabel netra dan rungu.
Sebelum ekspedisi, dia dua kali survei. Tak banyak kendala selama pendakian Gunung Arjuno via Sumber Brantas, Batu itu. Terlebih, para personil yang mengikuti pendakian sudah terlatih dan berpengalaman mendaki gunung.
Awalnya, mereka berencana selama tiga hari, mendaki Gunung Kembar 1, Gunung Kembar 2, Gunung Welirang dan Gunung Arjuno.
“Cuaca dan jalur ekstrem, diputuskan cukup sampai Gunung Welirang,” kata Ken Kerta, sapaan akrabnya.
Saat perjalanan, kabut tebal menyambut hingga jarak pandang sekitar dua meter. Kondisi ini menghambat pendakian, hingga harus ekstra berhati-hati, apalagi sejumlah jalur berpasir dan banyak bebatuan.
Suhu dingin dan minim oksigen juga menjadi tantangan tersendiri. Juga tak ada sumber air untuk memenuhi kebutuhan pendakian.
Sedangkan saat menuju puncak Gunung Welirang mereka menghadapi tantangan berupa kepulan asap belerang beracun.
“Kita tidak bisa lama-lama di situ, paling lama satu jam,” ujarnya.
Di perjalanan, mereka sempat bertemu seorang pendaki yang kakinya terkilir. Dia sendirian, tertinggal dari rombongan. Hingga, Ken dan Arya membantu turun bersama-sama.
“Saat jalan turun, dia harus ngesot. Kakinya terkilir.”

Mitigasi adaptasi bencana peka difabel
Arya berharap, para penyandang disabilitas juga mendapat informasi tentang daerah rawan bencana. Seperti dirinya yang netra, perlu informasi peringatan dini bencana melalui pengeras suara. Termasuk rute dan jalur evakuasi jika terjadi bencana alam.
“Biasanya hanya papan bertulis rute evakuasi, sebaiknya diberi tambahan pengeras suara,” katanya.
Sedangkan, untuk informasi penyandang difabel netra biasa mengakses gawai dengan platform yang ramah netra. Sehingga, mereka bisa mengakses internet dan informasi secara cepat.
Mereka mendapat pelatihan rescue saat bencana alam. Tahun depan, ULD-PB BPBD Kabupaten Malang akan pelatihan di sejumlah komunitas dan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Sekolah Luar Biasa (SLB). Melatih mereka agar aman dan siap menghadapi bencana melalui pendidikan dan simulasi.
Pada bencana gempa bumi di Malang April 2021, para anggota Linkos berperan membantu pengiriman bantuan logistik ke sejumlah korban. Sedangkan saat bencana, mereka akan membantu di bagian dukungan psikologi, dan kesehatan.

Kini, Ken menyiapkan misi pendakian 2026, memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei dengan mendaki Gunung Semeru, tepatnya Ranu Kumbolo (2.389 mdpl).
Sejumlah anggota pramuka, Satuan Komunitas (Sako) Inklusif bakal terlibat dalam pendakian ini. Total dari 43 anggota Sako Inklusif, akan dipilih tujuh orang yang terlatih mendaki gunung.
“Pramukaan Inklusif dirintis sejak 2022. Baru mendapatkan izin setahun lalu,’ katanya.
Pramuka ini mewadahi sahabat difabel yang tak bisa mengakses pendidikan formal di SLB. Sehingga tidak bisa mengikuti Pramuka. Anggota Linksos disabilitas mental, seperti autis lebih tenang setelah melakukan pendakian gunung.
“Para pendamping Kami menjelaskan mereka lebih tenang setelah mendaki. Tidur lelap dan tidak emosional atau tantrum,” kata Ken.
Kikin Purnawirawan Tarigan Sibero, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas saat Mongabay hubungi mengatakan, awalnya akan mengikuti pendakian tetapi karena alasan kesiapan fisik hingga batal bergabung. Tahun lalu, dia turut mendaki sampai puncak Batu Tulis Gunung Kawi.
“Teman-teman difabel mampu dan memiliki cara sendiri dalam pendakian,” kata Kikin.
*****
Melihat Pentingnya Keterlibatan Komunitas dalam Pengelolaan Risiko Bencana