- Pangan biru bukan hanya menjadi masa depan Indonesia untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Lebih dari itu, pangan biru juga menjadi benteng utama kekuatan Indonesia untuk memerangi stunting yang mengintai generasi muda
- Potensi besar dari pangan biru, akan terus dikembangkan untuk kepentingan bersama. Namun, perlu dilakukan pemetaan lebih teliti dan rinci melalui riset terapan yang dilakukan oleh perguruan tinggi, salah satunya satuan pendidikan kelautan dan perikanan
- Meski tinggi nutrisi dan menjadi sumber protein, pangan biru tetap harus dilakukan peningkatan integrasi industri pangan hulu dan hilir, serta efisiensi daya saing sistem produksi perikanan tangkap dan budidaya
- Selain itu, tak kalah penting adalah mengakui peran dari nelayan kecil dan tradisional sebagai garda terdepan pangan biru. Pengakuan itu, salah satunya dengan kebijakan mendorong mereka untuk bisa sejahtera secara ekonomi
Ketika sejumlah pihak menyatakan, masa keemasan perikanan tangkap sudah lewat tetapi pangan biru lewat perikanan budidaya bakal terus berkembang karena keperluan akan terus meningkat. Meskipun begitu, pegiat lingkungan mengingatkan, dalam pelaksanaan budidaya perlu memikirkan serius proses yang berkelanjutan hingga pangan biru ini benar-benar jadi produk perikanan ramah alam dan berkeadilan.
Alan Frendy Koropitan, Kepala Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Pusdik KP KKP) meyakini perikanan budidaya akan terus tumbuh dan berkontribusi besar dalam mendukung ketahanan pangan.
“Tapi syaratnya, perlu ada dukungan riset terapan untuk mewujudkan target ketahanan pangan nasional,” katanya.
Dukungan itu tidak hanya untuk meningkatkan volume produksi, juga kualitas.
Produksi pangan biru secara global mencakup perikanan tangkap dan budidaya. Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) pada 2024 menyebut, produksi perikanan tangkap global stagnan di kisaran 90-94 juta ton, sementara saat sama, produksi perikanan budidaya terus meningkat tiap tahun.
FAO mengatakan, ada perbedaan tren itu mengindikasikan bahwa perikanan tangkap sudah mengalami kejenuhan produksi.
Menurut laporan itu, stagnasi produksi perikanan tangkap itu sudah mulai terjadi sejak periode 1990-an. Di mana, pada 1998-2000-an produksi berkisar di angka 70-80 juta ton, kemudian mendekati 90-an juta ton dalam lima tahun terakhir ini.
Situasi berbeda terjadi pada perikanan budidaya. Menurut Alan, tren produksi perikanan budidaya terus bergerak naik sejak periode 2000-an yang jumlahnya di kisaran 25 juta ton, menjadi hampir 90 juta ton untuk menyamai produksi perikanan tangkap.
“Budidaya atau akuakultur itu melesat tajam dari tahun 2000-an sampai sekarang. Dulu masih 25-an juta ton, sekarang sudah menyamai produksi perikanan tangkap 90-an juta ton. Cepat sekali akuakultur.”
Pesatnya perkembangan akuakultur tidak hanya terjadi pada komoditas rumput laut saja. Namun , komoditas lain bernilai ekonomi tinggi. Karena itu, dia pun yakin bila potensi besar pangan biru dari Indonesia bisa menjadi solusi dari ancaman krisis pangan yang kian menghantui.
FAO memproyeksikan pada 2030, konsumsi ikan akan melonjak seiring bertambahnya jumlah penduduk dengan Asia tercatat sebagai wilayah dengan permintaan tertinggi. “Jadi kita melihat kebutuhan blue food ini semakin meningkat, dan secara bisnis semakin bergairah.”
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.

Tinggi nutrisi
Mohammad Rahmat Mulianda, Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengatakan, pangan biru sebagai masa depan Indonesia. Selain karena tinggi nutrisi, sektor ini juga menjadi penggerak ekonomi melalui serapan tenaga kerja.
Selain itu, sumber pangan ini juga dia nilai lebih ramah lingkungan, mengedepankan keberlanjutan dan tahan iklim. Bapenas pun mendorong ada integrasi hulu-hilir dan daya saing untuk mengembangkannya.
Dia juga menyarankan kemitraan multipihak lebih kuat dan inklusif, serta memfasilitasi pemerintah daerah untuk membangun sistem pangan lokal. Termasuk juga meningkatkan kerjasama dan kolaborasi.
Kendati pun berpeluang untuk terus berkembang, akuakultur masih menyimpan berbagai persoalan, terutama berkaitan dengan kesejahteraan nelayan. Selama lima tahun ini, nilai tukar nelayan (NTN) terus menurun.
Dani Setiawan, Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) mengatakan, peningkatan kesejahteraan nelayan harus menjadi prioritas dalam pembangunan sektor perikanan. Sebab, itu akan berdampak pada banyak hal positif. Saat kesejahteraan tercapai, nelayan akan fokus untuk meningkatkan produksinya.
Merujuk pada data yang diterbitkan KKP, NTN cenderung terus menurun sejak 2023, dan mengalami sedikit peningkatan pada September 2025. Namun, secara umum tren menunjukkan penurunan dalam lima tahun ini. “Artinya, tingkat kesejahteraan nelayan cenderung menurun, bahkan lebih rendah dibanding saat pandemi.”
Dani katakan, pelemahan NTN yang jadi indikator turunnya kesejahteraan nelayan harus menjadi perhatian pemerintah. Para nelayan, katanya, bekerja keras untuk menyediakan sumber protein hewani, baik dalam maupun luar negeri hingga Indonesia sebagai salah produsen penting dunia, meskipun belum bisa bersaing dengan produk perikanan negara lain.
Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2022 mencatat, sekitar 17,74 juta jiwa penduduk miskin berada di daerah pesisir. Bahkan, 3,9 juta jiwa masuk kategori miskin ekstrem. Angka ini menjelaskan, peran besar nelayan tak berbanding lurus dengan kesejahteraan mereka.
Tingginya biaya produksi untuk melaut antara lain karena kenaikan harga BBM, fluktuasi harga ikan serta dampak perubahan iklim turut memperparah situasi itu. Akibatnya, banyak nelayan yang pada akhirnya terjebak utang.
Dani menilai, krisis kesejahteraan nelayan akan berdampak langsung pada stabilitas pasokan pangan biru. Bahkan, bukan tidak mungkin mengancam ambisi pemerintah untuk wujudkan swasembada pangan.
Merujuk data KKP pada 2023, potensi perikanan tangkap lestari adalah 12,01 juta ton per tahun, sedangkan potensi budidaya laut lebih dari 50 juta ton. Potensi besar itu masih belum termanfaatkan secara optimal.

Ramah lingkungan
Aris Ismanto, Ketua Pusat Studi Pengelolaan Zona Pesisir Terpadu Universitas Diponegoro mengatakan, saat tambak beroperasi, akan ada ancaman limbah yang berpotensi mencemari perairan, memicu ledakan alga, dan menurunkan kadar oksigen laut. Karena itu, kajian persiapan untuk pastikan tidak ada dampak ekologis menjadi sangat penting.
Dia khawatir, ketika pemerintah mencanangkan program revitalisasi tambak mangkrak di pesisir Pantura Jawa. Pangan biru, katanya, merujuk pada praktik pangan dari sebuah proses ramah lingkungan. Karena itu, hal penting yang harus jadi perhatian dari revitalisasi tambak ini adalah tidak menjadikan pesisir makin terdegradasi.
“Syaratnya, tidak ada pembukaan lahan baru, melakukan pengelolaan pesisir terintegrasi, pengawasan dan penegakan hukum, serta melibatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama,” katanya.
Pemerintah, katanya, harus memastikan rencana ini berjalan baik, tanpa pelanggaran, pencemaran dan perusakan lingkungan

Nelayan tradisional
Mengutip Marine Stewardship Council (MSC), Manuel Barange, ahli biologi juga Asisten Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengatakan, pangan biru menjadi bagian dari transformasi biru untuk mendukung ketahanan pangan global.
“Makanya, sangat penting pula melindungi nelayan kecil tradisional, karena mereka berkontribusi 70-80% produksi perikanan tangkap,” kata Dani.
Dia meyakini, kebutuhan pangan biru akan meningkat hingga berkali-kali lipat, karena populasi dunia mencapai 10 miliar pada 2050.
“Inisiatif transformasi biru adalah upaya untuk untuk memastikan kita bergerak menuju penghapusan kelaparan dan kemiskinan, dari perspektif perikanan dan budidaya laut.”
Dalam laporan MSC produksi pangan biru sudah mencakup sekitar 2.200 spesies liar dan 600 spesies air dari hasil budidaya. Produksi itu melibatkan 800 juta orang di dunia yang sudah menjadikannya sebagai mata pencaharian.
Sebanyak 3,2 miliar penduduk dunia mendapatkan asupan protein hewani dari ikan dan perkiraan terus meningkat. Di beberapa negara, ikan pelagis kecil seperti sarden menjadi sumber protein paling terjangkau. Selain itu, mengonsumsi pangan biru, juga menjadi cara paling baik untuk mengatasi persoalan malnutrisi.
Selain berkontribusi untuk meningkatkan gizi penduduk dunia, pangan biru juga terbukti bisa menjaga lingkungan lebih baik dibandingkan dengan produksi di darat. Produksi perikanan juga menghasilkan emisi CO2 yang jauh lebih rendah dibandingkan produksi daging.

*****