- Pesut mahakam adalah mamalia air tawar yang memiliki karakter biologis dan evolusioner unik, bereproduksi sangat lambat, dan kini berstatus sangat terancam punah akibat tekanan aktivitas manusia.
- Populasi pesut mahakam memiliki sebaran yang sangat terbatas dan saat ini terkonsentrasi di bagian tengah Sungai Mahakam, dengan jumlah individu yang fluktuatif, -hanya 60-80 individu saja, dan cenderung menurun.
- Ancaman utama pesut berasal dari jeratan jaring insang, trafik kapal, polusi suara, pencemaran kimia dan logam berat, degradasi habitat, serta akumulasi mikroplastik.
- Upaya perlindungan dilakukan melalui penetapan kawasan konservasi berzonasi, revisi regulasi perikanan, pemantauan populasi, serta keterlibatan masyarakat seperti penggunaan banana pinger dan restorasi area sempadan sungai.
Pesut mahakam (Orcaella brevirostris) bukan sekadar satwa air tawar yang menjadi ikon langka, tetapi juga penanda dan indikator kesehatan Sungai Mahakam yang menjadi nadi kehidupan bagi jutaan orang di Kalimantan Timur.
Mamalia air ini telah hidup berdampingan dengan masyarakat sungai selama ratusan tahun, menjadi bagian dari ingatan kolektif, mitologi, dan pengetahuan lokal. Namun di balik simbolisme tersebut, pesut mahakam kini berada di ambang kepunahan, terdesak oleh perubahan lanskap sungai yang semakin padat aktivitas manusia.
Dalam dua dekade terakhir, ruang hidup pesut mahakam menyusut drastis akibat jeratan jaring insang, lalu lintas kapal yang intensif, serta pencemaran dari darat dan perairan. Reproduksi yang sangat lambat dan populasinya yang kecil membuat setiap kematian menjadi ancaman serius bagi kelangsungan spesies ini.
Program Bincang Alam mendalaminya melalui diskusi bertajuk ‘Pesut Mahakam: Mamalia Air Tawar Si Ikon Sungai’ yang diadakan pada 4 Desember 2025 dengan mengundang Danielle Kreb, seorang peneliti dari Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), yang telah lebih dari 25 tahun menjalankan upaya konservasi pesut mahakam.
Berikut adalah rangkuman diskusi, yang tata bahasanya telah disesuaikan guna penulisan artikel ini.
Mongabay: Mohon jelaskan apa itu Yayasan Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), dan apa yang menjadi fokus pogramnya?
Danielle Kreb: Pada tahap awal pendiriannya, fokus utama Yayasan RASI memang diarahkan pada pesut mahakam. Hal ini karena pesut mahakam merupakan simbol Kalimantan Timur dan memiliki nilai penting secara ekologis maupun kultural.
Nama “RASI” sendiri diambil dari konsep ‘Rasi’, yang dalam mitologi lokal dikenal sebagai salah satu dari tiga pelindung Sungai Mahakam, bersama dengan gabus dan mahluk mitologi lembuswana.
Dengan semangat tersebut, yayasan ini didirikan bersama Pak Budiono, bertujuan untuk menghidupkan kembali makna ‘Rasi’ sebagai penjaga Sungai Mahakam, yang kemudian dimaknai secara modern sebagai Rare Aquatic Species of Indonesia.
Dalam praktiknya, cakupan konservasi RASI tidak terbatas pada spesies yang hidup di perairan semata, melainkan juga mencakup perlindungan habitat pesut secara menyeluruh. Hal ini termasuk keanekaragaman hayati di kawasan sempadan sungai, –yang merupakan habitat berbagai satwa endemik seperti bekantan, lutung, tupai raksasa, berang-berang, serta spesies lain yang bergantung pada ekosistem hutan.
Di perairan Sungai Mahakam sendiri, upaya konservasi juga mencakup berbagai spesies akuatik, termasuk pari sungai raksasa dan beragam jenis ikan dengan tingkat keanekaragaman yang tinggi.
Seiring waktu, fokus kegiatan yayasan berkembang tidak hanya di wilayah Sungai Mahakam, tetapi juga meluas ke ekosistem laut. Berbagai survei dan kegiatan konservasi dilakukan di sejumlah wilayah pesisir dan laut di Kalimantan Timur, antara lain di Berau dan Balikpapan.
Selain itu, kegiatan konservasi kami juga mencakup wilayah lain di Indonesia, termasuk partisipasi dalam penanaman mangrove di berbagai daerah, dari Sabang sampai Merauke.

Mongabay: Apa karakteristik utama pesut sebagai mamalia air dan apa yang membedakan pesut mahakam dari pesut lainnya?
Danielle Kreb: Pesut adalah jenis lumba-lumba yang termasuk dalam kelompok mamalia. Sebagai mamalia, pesut melahirkan dan menyusui anaknya, bukan bertelur seperti sebagian besar satwa air lainnya, dengan pengecualian platipus.
Persebaran pesut sangat terbatas, dengan populasi air tawar hanya ditemukan di Sungai Mahakam, Mekong, dan Irrawaddy, sementara pesut pesisir tersebar lebih luas di Asia, menjadikan pesut mahakam sangat rentan terhadap gangguan lingkungan.
Adapun, nama “pesut” sendiri berasal dari bunyi semburan napas yang akrab didengar oleh masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai.
Proses kelahiran pesut juga unik karena anak yang dilahirkan adalah dengan posisi ekor lebih dahulu, berbeda dengan manusia yang umumnya kepala lebih dulu. Pesut menyusui anaknya, namun letak kelenjar susu induknya berada di bagian bawah tubuh, –dekat area anus, berbeda dengan duyung yang posisinya lebih menyerupai manusia.
Saat lahir, bayi pesut memiliki rambut halus di bagian moncong, sebuah ciri mamalia yang kemudian akan menghilang seiring pertumbuhan.

Secara ilmiah, pesut termasuk dalam ordo cetacea, yang terbagi menjadi dua sub-ordo: mysticeti, yaitu paus balin yang tidak bergigi, dan odontoceti, yakni cetacea bergigi. Pesut berada dalam sub-ordo odontoceti dan famili Delphinidae, keluarga lumba-lumba dengan jumlah spesies terbanyak.
Nama ilmiah pesut adalah Orcaella brevirostris. Di Indonesia sendiri telah dilindungi 36 jenis cetacea, dengan sembilan di antaranya berstatus terancam punah.
Pesut mahakam dan pesut pesisir awalnya masih diklasifikasikan sebagai satu spesies, tetapi penelitian DNA menunjukkan bahwa keduanya telah terpisah secara evolusioner sejak sekitar 500 ribu tahun lalu. Waktu pemisahan ini belum cukup lama, untuk menjadikan keduanya sebagai spesies berbeda, namun adaptasi ekologisnya telah membuat mereka tidak lagi mampu hidup di habitat yang sama.

Pesut mahakam hanya dapat bertahan di perairan air tawar Sungai Mahakam dan tidak mampu hidup di laut karena keterbatasan fisiologis dalam mengatur kadar garam tubuh.
Dari sisi konservasi, berdasarkan Daftar Merah IUCN, pesut mahakam berstatus Critically Endangered atau sangat terancam punah, sementara pesut pesisir berstatus Endangered. Kerentanan ini diperparah oleh laju reproduksi pesut yang sangat lambat.
Masa kehamilan pesut mencapai sekitar 14 bulan, usia kawin sekitar sembilan tahun, dan interval kelahiran satu anak hanya terjadi setiap dua hingga lima tahun, dengan rata-rata sekitar tiga setengah tahun.
Pola reproduksi yang lambat ini membuat populasi pesut sangat sulit pulih ketika angka kematian meningkat, terutama akibat ancaman utama berupa jeratan jaring insang (bycatch) dan tekanan aktivitas manusia lainnya.

Mongabay: Adakah keunikan lain yang hanya dimiliki oleh pesut mahakam?
Danielle Kreb: Pesut memiliki keunikan perilaku dan kemampuan biologis yang membedakannya dengan lumba-lumba lain. Lehernya fleksibel sehingga dapat menggerakkan kepala ke berbagai arah, serta sering menyemprotkan air dari mulutnya, baik untuk berburu, bermain, maupun berinteraksi.
Pesut adalah mamalia dengan tingkat kecerdasan tinggi dan tidak pernah tidur sepenuhnya; mereka selalu berada dalam kondisi setengah sadar agar tetap bisa bernapas, sehingga sangat rentan jika mengalami benturan atau cedera.
Dalam mencari makan, pesut mengonsumsi berbagai ikan air tawar dan udang, serta menggunakan strategi berburu khas seperti menyemprotkan air untuk membingungkan mangsa.
Pesut juga mengandalkan sistem sonar yang sangat canggih, dengan suara ultrasonik berfrekuensi tinggi untuk navigasi dan berburu, serta suara berfrekuensi lebih rendah untuk komunikasi.

Mongabay: Saat ini seperti apa persebaran populasinya di Sungai Mahakam?
Danielle Kreb: Dahulu pesut masih dapat ditemukan hingga wilayah hilir Sungai Mahakam, termasuk sekitar Samarinda. Namun sejak dekade 1990-an, keberadaan pesut di wilayah hilir semakin jarang akibat kepadatan aktivitas manusia dan menurunnya sumber ikan karena berbagai kegiatan industri.
Saat ini, habitat utama pesut terkonsentrasi di bagian tengah sungai, terutama di kawasan Muara Kaman hingga Muara Pahu, sekitar 180–350 kilometer dari laut. Meski demikian, sejak 2010 kawasan Muara Pahu mulai ditinggalkan pesut karena pembukaan perkebunan sawit di sepanjang Sungai Kedang Pahu yang berdampak pada penurunan stok ikan.
Akibatnya, sekitar 90 persen populasi pesut mahakam kini terkonsentrasi di Kabupaten Kutai Kartanegara. Dari sisi populasi, jumlah pesut sempat meningkat hingga sekitar 80 individu pada 2012, namun kemudian kembali menurun menjadi sekitar 60 individu.
Setiap tahun diperkirakan lahir sekitar lima anak pesut, sementara angka kematian rata-rata sekitar empat individu, dengan fluktuasi yang dapat meningkat pada tahun-tahun tertentu.

Mongabay: Apa jasa ekologis pesut bagi Sungai Mahakam?
Danielle Kreb: Pesut berperan penting dalam menjaga kesuburan perairan. Gerakan vertikal mereka membantu mengangkat nutrisi dari dasar sungai ke permukaan, dan memicu fotosintesis plankton yang menjadi dasar rantai makanan. Karena itu, pesut sering menjadi indikator lokasi ikan melimpah.
Hilangnya pesut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan berdampak langsung pada perikanan masyarakat.
Mongabay: Apa yang menjadi ancaman utama kelangsungan hidup pesut mahakam?
Danielle Kreb: Ancaman utama terhadap pesut mahakam berasal dari aktivitas manusia, dengan sekitar 70 persen kematian disebabkan oleh jeratan jaring insang. Ancaman lain meliputi penggunaan alat tangkap tidak lestari seperti setrum, racun, alat monopolistik, serta risko tabrakan dengan kapal, dan polusi suara lalu lintas sungai.
Degradasi habitat juga terjadi akibat sedimentasi dari pembukaan hutan di sempadan sungai, pencemaran bahan kimia dari pupuk, herbisida, pestisida, dan aktivitas pertambangan batu bara, termasuk debu dan limpasan dari konveyor maupun kegiatan ship-to-ship.
Sampah plastik rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik turut memperparah kondisi, terutama di desa-desa yang minim fasilitas pengelolaan limbah.
Hasil pemantauan kualitas air sepanjang 2023 hingga April 2025 menunjukkan tingginya kekeruhan (TSS), COD yang melampaui baku mutu, serta kandungan amonium nitrat dan logam berat seperti kadmium dan tembaga.
Setelah peningkatan lalu lintas kapal, pencemaran tembaga terdeteksi di seluruh stasiun pemantauan di Sungai Mahakam, yang diduga berasal dari aktivitas perkebunan sawit, pertambangan batu bara, maupun cat anti-teritip kapal.
Nekropsi pada pesut yang mati juga menunjukkan akumulasi logam berat dan mikroplastik dalam tubuh, yang mengganggu sistem pencernaan dan kesehatan jangka panjang.
Tekanan lalu lintas kapal besar di anak sungai menyebabkan perubahan arus, meningkatkan risiko tabrakan, terutama pada anak pesut, serta memicu stres metabolik dan disorientasi. Dampak kumulatif ini terlihat dari penurunan kondisi tubuh pesut, yang pada pertengahan 2025 tampak lebih kurus dibandingkan kondisi normal.

Mongabay: Bagaimana inisiatif perlindungan dan konservasi pesut mahakam yang telah dilakukan?
Danielle Kreb: Upaya konservasi pesut mahakam secara resmi mulai diperkuat sejak 2022 melalui penetapan kawasan konservasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang saat ini mencakup satu wilayah kabupaten.
Kawasan ini dikelola dengan sistem zonasi, terdiri atas zona inti yang sepenuhnya dilindungi, zona pemanfaatan terbatas, serta zona jalur lalu lintas kapal.
Dalam pengaturan ini, kapal besar seharusnya hanya melintas di jalur tengah Sungai Mahakam, meski pada praktiknya masih sering terjadi pelanggaran dengan kapal bergerak terlalu ke tepi sungai, sehingga perlu penegakan dan penataan ulang.
Seiring dengan itu, dilakukan pula proses revisi peraturan perikanan daerah karena regulasi yang ada belum mengakomodasi larangan alat tangkap monopolistik dan risiko jeratan dari jaring yang merupakan penyebab utama kematian pesut.
Upaya konservasi juga diperluas melalui penetapan zona penyangga, termasuk di daratan berstatus Area Penggunaan Lain (APL), untuk melindungi habitat perairan sungai dari tekanan aktivitas darat.
Pemantauan populasi dan habitat pesut dilakukan secara berkala dengan metode visual dan akustik, serta pengelolaan zona inti perikanan guna menjaga ketersediaan ikan sebagai sumber pakan utama pesut.

Mongabay: Bagaimana warga memandang konservasi pesut mahakam ini?
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari strategi konservasi. Hasil konsultasi dengan warga menunjukkan masyarakat memandang pesut sebagai simbol keberuntungan dan mendukung pembentukan kawasan lindung.
Nelayan juga diajak bekerjasama melalui pemasangan banana pinger pada jaring insang. Alat ini terbukti mampu menjauhkan pesut hingga radius sekitar 10 meter. Sebanyak 158 nelayan telah berpartisipasi, dan selama penggunaan alat ini, maka tidak tercatat kematian pesut akibat jeratan jaring.
Selain itu, dilakukan pelatihan penyelamatan pesut yang terjebak di rawa terisolasi saat air surut, juga patroli oleh lima tim ranger untuk melaporkan praktik penangkapan ikan ilegal, serta kegiatan restorasi vegetasi sempadan sungai.
Pendekatan konservasi juga mencakup edukasi lingkungan melalui muatan lokal di sekolah, kampanye pengelolaan sampah, dan pencarian solusi berkelanjutan bagi desa-desa yang belum memiliki sistem pengelolaan limbah.
Untuk mengurangi tekanan terhadap perikanan tangkap, dikembangkan alternatif mata pencaharian seperti perikanan keramba berkelanjutan dan ekowisata, yang di beberapa lokasi –seperti Pela, telah menunjukkan hasil positif.
Upaya lain meliputi penukaran jaring berisiko tinggi dengan alat yang lebih aman bagi pesut, yaitu hingga sekitar 2.500 meter panjang jaring, serta pengumpulan dan daur ulang ghost net menjadi produk bernilai ekonomi.
Seluruh langkah ini menjadi fondasi awal, sementara rekomendasi lanjutan masih terus dibahas untuk memperkuat perlindungan pesut mahakam ke depan.

Mongabay: Apakah penangkaran atau konservasi eks-situ menjadi opsi untuk mencegah kepunahan pesut?
Danielle Kreb: Kami tidak merekomendasikan konservasi ex-situ. Pengalaman masa lalu menunjukkan pesut sangat stres di penangkaran dan tingkat kelangsungan hidupnya rendah.
Pesut telah berevolusi khusus untuk Sungai Mahakam, maka fokus utama kita seharusnya pada restorasi habitat dan pengurangan tekanan manusia di alam.

Mongabay: Sebagai peneliti dan konservasionis yang telah lebih dari 25 tahun mendampingi pesut mahakam, apa harapan Anda yang paling realistis dan ideal untuk masa depan pesut mahakam? Lalu apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat umum untuk konservasi pesut?
Danielle Kreb: Harapan kami sederhana namun krusial: jumlah kelahiran harus lebih tinggi daripada kematian. Kita sudah berhasil menurunkan kematian akibat jeratan jaring, tetapi tantangan besar berikutnya adalah memastikan habitat yang bebas dari stres, polusi, dan gangguan lalu lintas kapal.
Jika semua pemangku kepentingan memiliki visi yang sama, pesut mahakam masih bisa diselamatkan, sekaligus menjaga Sungai Mahakam sebagai ekosistem yang sehat dan kaya keanekaragaman hayati.
Meningkatkan kesadaran publik menjadi penting. Membicarakan isu pesut di media sosial, mendukung kebijakan perlindungan sungai, mengurangi penggunaan plastik, dan mendukung riset melalui donasi atau kolaborasi adalah langkah nyata.
Kami di RASI pun terbuka untuk kerja sama penelitian, termasuk dengan mahasiswa dan peneliti lintas disipliner ilmu.
*****