- Warga Kepulauan Banda memotret lingkungan untuk menyampaikan kegelisahan mereka tentang laut, pesisir, dan masa depan pulau kecil.
- Melalui pendekatan photovoices, masyarakat Kepulauan Pulau Banda tidak hanya diajak mengabadikan gambar, namun juga memahami apa yang mereka rekam. Kamera jadi alat refleksi, bukan sekadar dokumentasi.
- Kepulauan Banda tak hanya gugusan pulau kaya sejarah. Banda adalah laboratorium kehidupan, tempat laut, budaya, dan manusia saling berkaitan.
- Secara ekologis, Laut Banda mempunyai posisi sangat penting. Sejumlah kajian ilmiah tunjukkan, kawasan ini merupakan area pemijahan utama tuna di dunia.
Kasim Taher (42) menyampaikan kegelisahannya. Di hadapan audiens, termasuk pejabat Pemerintah Daerah Kota Masohi, Maluku Tengah, suaranya beberapa kali bergetar.
Dia membawa cerita berbalut visual, yang selama ini hanya berputar di bibir ombak Pulau Run, Kepulauan Banda, Maluku, tempat ia lahir dan besar. Sebagai nelayan, hidup Kasim ditentukan arah angin dan warna laut setiap pagi.
Dalam satu foto, tampak sebuah kapal berkapasitas delapan ton dengan mata jaring 1,4 inci, dipenuhi 20 nelayan duduk berimpitan, menyisir Pulau Run.
“Kalau cuaca baik, kami bisa melaut hingga 30 kali sebulan,” jelasnya, Kamis (11/12/2025).
Pulau Run, yang terlihat tenang dan terpencil, mempunyai denyut ekonomi yang bergantung pada laut dalam. Ada 18 jaring bobo beroperasi di wilayah ini. Setiap armada, memuat 20 hingga 25 orang. Artinya, 200 sampai 400 warga menggantungkan mata pencaharian langsung dari laut, belum termasuk yang hidup dari hasil turunan tangkapan ikan.
Namun, lima tahun terakhir, tangkapan nelayan merosot. Dulu, sekali melaut, mereka bisa membawa pulang tiga hingga delapan ton ikan.
Ikan layang, cakalang, dan baby tuna melimpah hingga pengepul kerap menolak. Tak jarang, ikan tersebut dibuang kembali ke laut.
“Sekarang, dapat 200 kilo saja, kami sudah bersyukur.”
Penurunan hasil tangkapan, menurut Kasim, tak lepas semakin padatnya armada tanpa pengaturan jelas. Ukuran mata jaring yang terlalu kecil membuat ikan-ikan yang belum layak tangkap ikut terambil.
“Kalau terus terjadi, ada 400 kepala keluarga di Pulau Run akan bermasalah secara ekonomi.”
Di darat, perempuan pembuat ikan asin turut merasakan imbasnya. Mereka bergantung penuh pada pasokan ikan dari nelayan. Berkurangnya tangkapan berdampak juga pada biaya pendidikan.
“Harapan kami, pihak berwenang mengatur pengelolaan laut dalam Banda. Mulai dari pembatasan armada, pengaturan ukuran mata jaring yang ramah keberlanjutan, hingga penyediaan pelabuhan perikanan yang layak.”

Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Lingkungan dalam bayang bencana
Kegelisahan serupa datang dari pulau lain di gugusan Banda. Dari Negeri Pulau Selamon, Rajib Hayoto (33), nelayan yang juga berladang untuk mencukupi kebutuhan keluarga, menyampaikan kesaksian tak kalah getir.
Ayah satu anak ini hidup dengan ancaman berbeda, namun dengan akar pada persoalan sama. Perihal perubahan alam yang kian ekstrem dan minimnya perlindungan warga pulau kecil.
“Sudah 20 tahun sampai sekarang, ancaman rob membayangi kami.”
Dalam foto yang ia paparkan, tampak rumah warga berdiri rapuh di tepi pantai, sebagian dindingnya terkelupas diterjang ombak. Bahkan, rumahnya juga terdampak.
Rob bukan lagi peristiwa langka, melainkan bagian keseharian. Ketika bencana datang, tidak ada skema penanganan jangka panjang, apalagi perlindungan struktural memadai.
“Kalau ada rumah yang dindingnya hancur karena ombak, masyarakat gotong royong saja.”
Warga telah menanam pohon di sepanjang pesisir, sebagai benteng alami agar gelombang tidak langsung menghantam permukiman. Angin musim barat yang saat ini berlangsung, jadi periode paling menakutkan warga.
“Ombak tinggi, hujan lebat, dan tanah yang jenuh air membuat wilayah ini rawan longsor.”
Farista Nussy, pemudi kelahiran 2002 asal Negeri Pulau Ay, menunjukkan foto-foto wajah Banda dari sudut berbeda. Tentang keindahan alam yang perlahan ternodai.
Laut Pulau Ay terlihat jernih, terumbu karang warna-warni, dan ikan-ikan kecil terlihat di perairan dangkal. Potensi bawah laut Banda adalah harta tak ternilai. Pulau Ay indah di darat dan laut.
“Namun, keindahan itu, mulai kehilangan kilau. Sampah mulai mengotori perairan pulau sekaligus wilayah desa,” jelasnya.

Tidak instan
Warga Kepulauan Banda memotret lingkungan untuk menyampaikan kegelisahan mereka tentang laut, pesisir, dan masa depan pulau kecil. Melalui pendekatan photovoices, masyarakat tidak hanya diajak mengabadikan gambar, namun juga memahami apa yang mereka rekam. Kamera jadi alat refleksi, bukan sekadar dokumentasi.
Warga belajar mengenali persoalan yang hadir dalam keseharian mereka, lalu merangkai dalam cerita utuh.
“Yang kami lakukan adalah memberdayakan masyarakat yang terpinggirkan, agar mereka bisa membuat perubahan untuk memperbaiki kehidupan mereka sendiri,” ujar Tri Soekirman, Direktur Eksekutif Photovoices International (PVI).
Sejak awal, sekitar 230 warga dari tiga negeri -Run, Ay, dan Selamon- dilibatkan dalam menentukan isu prioritas yang ingin mereka suarakan. Proses ini juga melibatkan warga lain, agar cerita yang diangkat faktual dan mencerminkan pengalaman kolektif.
“Kami juga mendorong daya kritis warga, agar bisa melihat persoalan di lingkungannya sendiri dan memikirkan solusi yang mungkin dilakukan.”

Zulkarnain Awat Amir, Bupati Maluku Tengah, menyebut photovoices sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat yang unik dan menyentuh, karena berangkat langsung dari pengalaman warga.
“Kepulauan Banda tak hanya gugusan pulau kaya sejarah. Banda adalah laboratorium kehidupan, tempat laut, budaya, dan manusia saling berkaitan,” jelasnya, Kamis (11/12/2025).
Menurutnya, kawasan ini punya posisi strategis dalam kebijakan nasional. Terutama, setelah Laut Banda ditetapkan sebagai bagian kebijakan untuk kesejahteraan atau Lautra, yang dirancang sebagai model integrasi antara konservasi laut, arkeologi, dan budaya maritim.
Namun, sekuat apa pun kebijakan di atas kertas, keberlanjutan Banda tidak akan pernah terjaga tanpa keterlibatan masyarakat yang hidup di dalamnya.
“Banda tidak akan lestari tanpa peran aktif warganya sendiri.”

Bukan faktor tunggal
Yosmina Taoilatu, peneliti Pusat Riset Laut Dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan, penurunan hasil tangkapan di Laut Banda tidak bisa dijelaskan satu faktor tunggal.
“Tidak bisa hanya menyimpulkan bahwa ikan berkurang karena cuaca, atau karena nelayan terlalu banyak. Ini sistem saling terkait,” ujarnya, Jum’at (19/12/2025).
Secara ekologis, Laut Banda mempunyai posisi sangat penting. Sejumlah kajian ilmiah tunjukkan, kawasan ini merupakan area pemijahan utama tuna di dunia.
Keberadaan telur dan larva tuna yang telah terkonfirmasi selama lebih dari empat dekade, jadi bukti bahwa Banda tak hanya jalur migrasi. Tetapi juga, ruang reproduksi vital bagi stok tuna regional.
“khususnya jenis yellowfin, skipjack, dan bigeye.”

Kondisi ini dipengaruhi variabilitas oseanografi seperti upwelling, perubahan suhu permukaan laut, serta arus yang membawa nutrien ke lapisan atas perairan.
Justru karena nilai ekologisnya itu, Laut Banda pernah masuk skema kebijakan konservasi. Termasuk, penetapan zona larang tangkap (no take zone) dan moratorium penangkapan di wilayah-wilayah tertentu. Terutama, di kawasan pesisir tempat pemijahan dan pembesaran ikan.
Namun, persoalan terletak pada implementasi.
“Secara kebijakan sebenarnya sudah ada. Hanya, sejauh mana kebijakan itu dijalankan dan diawasi.”
*****
Agar Terumbu Karang Aman, Nelayan Banda Diminta Pakai Alat Tangkap Ramah Lingkungan