- Pesisir selatan Jawa Tengah (Jateng) kerap menjadi tempat terdamparnya hiu tutul (Rhincodon typus). Terbaru, seekor individu hiu tutul terdampar di Pantai Pasir Puncu, Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jateng pada Senin (9/12) dan menjadikannya kasus kedua setelah insiden serupa di Pantai Bunton, Kabupaten Cilacap pada Kamis (13/11).
- Dua kasus menambah daftar panjang terdamparnya hiu paus di perairan selatan Jateng. Berdasarkan data Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (LPSPL) Serang Wilayah Kerja (Wilker) Yogyakarta, selama kurun 2022-2025, tercatat 24 insiden hiu paus terdampar.
- Hiu paus merupakan ikan terbesar di dunia. Sejak tahun 2013, Pemerintah Indonesia memberi status perlindungan penuh pada ikan dengan ciri khas totol putih pada kulit punggungnya itu melalui Keputusan Menteri KP Nomor 18/Kepmen-KP/2013, mengingat tren populasinya yang kian menurun.
- Dwi Suprapti, dokter hewan dari Sealife Indonesia datang ke lokasi untuk membedah perut hiu paus yang terdampar di Purworejo. Dia mengambil bagian organ dalam seperti jantung, hati, ginjal, limpa, usus, lambung, isi lambung, jaringan kulit dan otot, sebagai sampel untuk pengujian laboratorium. Dugaan sementara hiu paus tersebut mati karena keracunan.
Pesisir selatan Jawa Tengah (Jateng) kerap menjadi tempat terdamparnya hiu tutul (Rhincodon typus). Terbaru, satu hiu tutul terdampar di Pantai Pasir Puncu, Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jateng Senin (9/12/25). Ia menjadikannya kasus kedua setelah insiden serupa di Pantai Bunton, Kabupaten Cilacap pada Kamis (13/11/25).
Dua kasus menambah daftar terdamparnya hiu paus di perairan selatan Jateng. Berdasarkan data Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (LPSPL) Serang Wilayah Kerja (Wilker) Yogyakarta, selama kurun 2022-2025, tercatat 24 insiden hiu paus terdampar.
Perairan selatan Jateng menjadi lokasi terbanyak. Ia meliputi Cilacap dengan jumlah tujuh kasus, Kebumen (4), Purworejo (3). Sedangkan Pandeglang dan Lebak, Banten, masing-masing mencatatkan dua dan satu kasus. Lalu, di wilayah Yogyakarta terjadi empat kali di Kulonprogo dan sekali di Bantul.
Jumawan, pegiat konservasi laut asal Cilacap, mengatakan, insiden terdamparnya hiu paus kerapkali terjadi.
“Sudah terjadi berkali-kali dan nasibnya sama, hiu tutul mati kemudian dikubur. Sebelumnya, kejadian yang sama berada di Pantai Wlahar Wetan kemudian di Bunton. Panjangnya hampir sama sekitar empat meter dengan bobot kisaran dua ton,” katanya saat Mongabay, Jumat (13/12/25).
Dia bilang, hiu paus yang terdampar sudah dalam kondisi mati. Proses evakuasi berlangsung sulit lantaran bobot berat hingga terpaksa terkubur di sekitar pantai.
“Saya tidak tahu persis, bagaimana hiu tutul bisa terdampar. Tetapi kemungkinan ikan raksasa tersebut terlalu ke pinggir saat mencari makan, kemudian terseret ombak. Sehingga sampai ke pantai dan terdampar,” katanya.
Di Purworejo, lokasi hiu terdampar berada di Pantai Pasir Puncu, Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol. Jika ditarik, jaraknya sekitar 100 km dari Pantai Bunton, Cilacap. Bangkai ikan raksasa jantan tersebut panjangnya 5,2 meter dengan bobot sekitar satu ton.
Dua hari sebelumnya, hiu paus terdeteksi terdampar di Pantai Cemoro Sewu. Saat itu, Tim Gabungan dari Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah Operasi III, Polairud Polda DIY, dan warga, berhasil mengevakuasi dan mendorong ke laut. Sepertinya, kondisi hiu paus lemah, hingga terdampar kembali di Pantai Puncu dan mati.
Hiu paus merupakan ikan terbesar di dunia. Sejak 2013, Pemerintah Indonesia memberi status perlindungan penuh pada satwa dengan ciri khas totol putih pada kulit punggungnya itu melalui Keputusan Menteri KP Nomor 18/Kepmen-KP/2013, mengingat tren populasinya yang kian menurun.

Keracunan?
Dwi Suprapti, dokter hewan dari Sealife Indonesia datang ke lokasi untuk melakukan pembedahan pada perut ikan itu. Dia mengambil bagian organ dalam seperti jantung, hati, ginjal, limpa, usus, lambung, isi lambung, jaringan kulit dan otot, sebagai sampel untuk pengujian laboratorium.
Dari pemeriksaan fisik eksternal, tidak menemukan luka signifikan pada tubuh hiu paus. Tetapi, ada bekas luka melepuh pada ekor bagian bawah.
“Saat ditemukan, kondisinya sudah kode 3. Artinya bangkai mulai membusuk (moderate decomposition).”
Dia memperkirakan, hiu paus mati lebih dari 24 jam sebelum penemuan. Dwi bilang, masih bisa melakukan nekropsi meskipun banyak jaringan yang sudah mengalami autolisis.
Selain eksternal, hasil pemeriksaan organ dalam tubuh hiu paus secara makroskopis, Dwi juga tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan.
“Tapi, begitu membuka bagian lambung, ternyata ditemukan udang rebon atau udang yang kecil-kecil dan belum tercerna.”
Dia belum bisa menyimpulkan kandungan pada isi lambung itu. Dia perlu uji toksikologi untuk pastikan kemungkinan penyebab kematian hiu tersebut karena keracunan.
“Harus dilakukan uji toksikologi. Matinya hiu paus tersebut terindikasi kearah toksikasi. Tetapi, untuk lebih jelas dan pastinya tentu masih menunggu hasil pengujian laboratorium.”
Budi Raharjo, perwakilan LPSPL Serang Wilker Yogyakarta Budi Raharjo mengatakan, merujuk data, September hingga Februari menjadi waktu paling banyak terjadi kasus hiu terdampar.
“Puncaknya terjadi pada bulan Oktober dan November, meskipun juga beberapa terjadi di bulan Juni dan Agustus,”katanya.
Dia menduga, terdamparnya megafauna ini berkaitan dengan insiden serupa sepanjang tahun ini yang telah terjadi empat kali. “Karena itulah, kami terus meningkatkan koordinasi dengan jejaring penanganan biota laut terdampar. Upaya lain yang dilakukan adalah peningkatan skill SDM supaya penanganan dapat dilakukan secara sigap dengan metode yang tepat,”katanya.
Menurut dia, perlu riset cepat untuk mengetahui secara utuh apa yang menjadi penyebab hiu-hiu itu terdampar. Dengan begitu, ada rekomendasi yang tepat dalam melestarikan dan menjaga populasi megafauna tersebut.

Perlu kajian
Wiyoto Harjono, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Purworejo, mengatakan, hingga kini sudah terjadi empat peristiwa, termasuk di Pantai Pasir Puncu ini. Penyebab pasti kematian hiu paus masih memerlukan kajian ilmiah lanjutan. Faktor lingkungan, katanya, dapat berperan besar.
“Ada beberapa hal yang mengakibatkan hiu paus bisa terdampar. Secara umum, penyebabnya perubahan suhu dan salinitas air laut secara frontal maupun fluktuatif tinggi. Kemudian bisa karena ada perubahan pada zona feeding ground atau gangguan pada saat migrasi.”
Wiyoto bilang, gangguan internal seperti masalah organ pencernaan hingga pernapasan juga dapat menjadi pemicu.
“Gangguan pada sistem tubuh hiu dapat menyebabkan adanya gangguan. Misalnya persoalan pada sistem pencernaan, pernapasan, dan sebagainya sehingga menyebabkan hiu terdampar.”
Mochamad Iqbal Herwata Putra, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, menyebut, pesisir Jawa bagian selatan merupakan pusat dari peristiwa terdamparnya hiu paus. Hal itu terlihat dari tren terdamparnya hiu paus yang paling banyak terjadi di area ini.
Berdasarkan publikasi ‘Satu dekade hiu paus terdampar di Indonesia’, menunjukkan bahwa keterdamparan hiu paus terjadi pada periode puncaknya di kuartal empat setiap tahun.
“Karena pada waktu tersebut terjadi fenomena oseanografi berupa upwelling yang ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut dan peningkatan produktivitas perairan, sehingga menarik hiu paus untuk mencari makan,.”
Iqbal juga menyinggung ada perubahan iklim yang dapat menggeser distribusi mangsa hiu paus, memicu cuaca tidak menentu, angin kencang, dan gelombang tinggi faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan hiu paus. Dia telah mengidentifikasi terkait dengan waktu dan lokasi kejadian terdamparnya hiu paus.
“Kami berharap referensi ini dapat menjadi panduan bagi pemerintah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan merespons kejadian serupa secara lebih efektif.”
Faktor lain ancaman hiu paus adalah antropogenik seperti by-catch, tertabrak kapal, dan pencemaran perairan turut menjadi penyebab kejadian terdampar pada hiu paus. Salah satunya yang pernah terjadi di Kebumen. Hasil pemeriksaan terbukti bahwa hiu paus mengalami keracunan logam berat dan senyawa racun akibat pencemaran limbah.

Tren meningkat
R. Taufan Harisam, ahli kelautan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto mengatakan, berdasarkan data beberapa tahun terakhir, laporan keterdamparan hiu paus di pesisir nusantara menunjukkan peningkatan signifikan, terutama di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
“Hiu paus tersebut biasanya ditemukan dalam kondisi lemah, meski sebagian ditemukan dalam kondisi mati,” katanya.
Dia yang sedang menyelesaikan doktoral di Life Sciences Departement, Tunghai University, Taichung, Taiwan ini menjelaskan, data ilmiah dari pengamatan strandings menunjukkan bahwa antara tahun 2011-2023 terdapat lebih dari 100 kasus hiu tutul terdampar di Indonesia.
“Angka ini relatif tinggi dibandingkan tren global, di mana laporan keterdamparan hiu paus tercatat hanya puluhan kasus di berbagai negara selama beberapa dekade terakhir, termasuk Afrika Selatan, Meksiko, Thailand, dan Filipina,” katanya.
Dari riset-riset yang ada menyebutkan, terdamparnya hiu tutul terpicu oleh kombinasi faktor alami dan manusia. Faktor alami meliputi perubahan arus laut, fenomena upwelling, dan perairan dangkal yang kaya plankton hingga menarik hiu ke wilayah pesisir. Sedang faktor manusia seperti lalu lintas kapal, perikanan, dan polusi laut, yang menimbulkan stres, luka, atau kesulitan navigasi bagi hiu.
Pada umumnya, sebagian besar hiu yang terdampar merupakan individu muda yang belum matang secara reproduktif.
“Kondisi ini menjadi perhatian serius karena dapat mempengaruhi populasi hiu tutul di perairan Indo-Pasifik, termasuk Indonesia, yang merupakan salah satu habitat penting mereka.”
Dia memperkirakan, populasi global hiu paus terus menurun 50% dalam tiga generasi terakhir atau 75 tahun. Khusus subpopulasi Indo-Pasifik mengalami penurunan 63% dan subpopulasi Atlantik menurun lebih dari 30%.
“Penanganan cepat terhadap hiu yang terdampar, pengelolaan aktivitas manusia di laut, serta edukasi masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi frekuensi kejadian dan menjaga kelestarian spesies ini. Perlu kolaborasi antara pemerintah, ilmuwan, dan komunitas pesisir untuk melindungi populasi hiu paus di masa depan.”
*****