- Hidup petani dan buruh di negeri ini penuh tantangan. Banyak petani gurem atau lahan sempit bahkan tak punya tanah, ada juga yang masuk dalam klaim pihak lain. Buruh pun banyak alami ketidakadilan. Kondisi ini tak membuat mereka patah arang. Mereka berorganisasi dan berkolaborasi berupaya memperkuat kedaulatan pangan , salah satu lewat terbentuknya, Lumbung Agraria Nusantara (Lanusa).
- Lanusa hadir sebagai model ekonomi pedesaan berbasis reforma agraria, menghubungkan petani dan buruh dalam satu sistem usaha yang menempatkan mereka sebagai pengendali penuh rantai produksi dan distribusi pangan.
- Skema Lanusa memangkas rantai distribusi panjang pangan, dari delapan mata rantai menjadi tiga, hingga harga beras lebih stabil di pasar dan nilai jual petani meningkat.
- Solidaritas petani dan buruh menjadi fondasi kedaulatan pangan baru, memperkuat kelembagaan koperasi serta membangun ekonomi gotong royong yang berakar di desa namun menyambung kebutuhan pangan di kota.
Hidup petani dan buruh di negeri ini penuh tantangan. Banyak petani gurem atau lahan sempit bahkan tak punya tanah, ada juga yang masuk dalam klaim pihak lain. Buruh pun banyak alami ketidakadilan. Kondisi ini tak membuat mereka patah arang. Mereka berkolaborasi berupaya memperkuat kedaulatan pangan , salah satu lewat terbentuknya, Lumbung Agraria Nusantara (Lanusa).
Ali Topan warga Desa Sahbandar, Kecamatan Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, rasakan kondisi lebih menjanjikan setelah ada Lanusa.
Dia bilang, bertahun-tahun sudah petani tadah hujan di desa itu bersengketa dengan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Majalengka. Padahal, kata Ali, lahan itu sudah orang tuanya kelola lebih 20 tahun.
“Kadang jenuh juga berhadapan dengan kesewenang-wenangan,” katanya, pertengahan Oktober lalu saat mengantarkan gabah ke unit penggilingan padi Lanusa di Desa Sukaslamet, Kecamatan Kroya, Indramayu.
Panen kali ini, Ali bahagia. Hasil panen delapan kuintal gabah kering giling (GKG) Rp8.300 per kilogram oleh Lanusa. Unit penggilingan beras ini inisiasi dari Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA).
“Untuk pertama kalinya seumur hidup jadi petani, baru kali ini hasil dari tani diberi harga tinggi,” katanya.
Harga itu, lebih tinggi dari rata-rata pasaran. Saat ini, tengkulak hanya menghargai GKG sekitar Rp7.800-8.000 per kg.
Meski begitu, ada waktu satu tahun bagi Ali untuk benar-benar siap. Dia mulai menanam benih sesuai kualifikasi Lanusa, dengan varietas IR32 atau Ciherang, sambil menerapkan skema pertanian yang dapat meningkatkan nilai jual hasil panen.
Dulu, dia masih sembarangan menyiapkan benih. Kini, lebih selektif dengan menggunakan varietas IR bersertifikat untuk memenuhi standar Lanusa terutama soal kadar air gabah.
Aturannya, gabah kering panen 25% dan gabah kering giling 14%.
Selanjutnya, saat panen Ali melangkah mantap. Karena dari luas 1.500 meter persegi, menghasilkan lima ton padi setiap tahun.
Dengan harga jual yang berlaku sekarang, hasilnya setara pendapatan sekitar Rp41 juta dari modal Rp7 juta.Rata-rata penghasilan Rp3,5 juta per bulan. Setara penghasilan pegawai negeri golongan III-A, atau karyawan baru lulusan diploma.
Beras untuk makan sehari-hari adalah hasil panen. Sebagian, bisa putar lagi untuk menanam palawija agar sawah tetap produktif dan penghasilan tidak berhenti di panen padi.
“Kalau tanam palawija, tiga bulan sudah bisa panen lagi, lumayan buat nambah penghasilan,” kata Ali tersenyum.
Panen palawija dia simpan untuk modal mengolah sawah di musim berikutnya.
Asalkan semua berjalan normal, tak ada gangguan, misal, salah satu dari mereka ada yang sakit. Sepanjang semua sehat, hidup mereka dapat berada di atas garis kemiskinan.

Lanusa, inisiatif bersama
Menurut Benni Wijaya, Kepala Departemen Kampanye Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Lanusa adalah upaya perbaikan struktur ekonomi di pedesaan.
Ia lahir dari perjalanan panjang yang melibatkan KPA, Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), dan Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI).
Usaha ini berangkat dari kesadaran bahwa persoalan agraria tidak bisa terpisahkan dari taraf hidup petani.
Apalagi, petani yang selama ini menjadi tulang punggung kedaulatan pangan masih berada di posisi paling marjinal dalam perekonomian.
Kondisi itu, katanya, mendorong Lanusa memperkuat reforma agraria melalui model usaha yang memberi ruang bagi petani dan buruh untuk menguasai kembali rantai produksi serta distribusi.
“Melalui Lanusa, kami ingin menunjukkan bahwa reforma agraria berperan penting memperkuat fondasi swasembada pangan,” kata Benni.
Reforma sejati baru bisa terwujud jika petani juga memiliki kendali atas seluruh mata rantai produksi mulai dari pengolahan hingga pemasaran hasil panen.
Masalahnya, dalam skala ekonomi hampir semua petani tidak berdaulat atas harga jual. Alhasil, mereka yang menyerah meninggalkan pertanian dan pindah ke sektor informal di kota, yang bertahan tak punya pilihan kecuali mati-matian hidup di sektor pertanian.
Akibatnya, harga komoditas diserahkan kepada mekanisme pasar termasuk beras menjadikan petani sulit dan terjepit. Banyak petani terjerat rentenir, terperangkap pengijon, dan tak berdaya menghadapi tengkulak saat panen raya.
Tragisnya, banyak petani menjual sawah dan berganti pekerjaan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.
Benni bilang, gap itu menjadi “lingkaran setan” bagi petani. Padahal, pertanian menjadi sektor penyerap tenaga kerja terbesar setelah manufaktur dan perdagangan.
Namun, nilai tukar petani (NTP) sebagai indikator kesejahteraan petani selama 10 tahun terakhir cenderung dibawah angka minimum.
NTP merupakan perbandingan antara indeks harga petani dan indeks harga yang petani bayar. Indeks harga yang petani bayar mencakup semua aspek pengeluaran rumah tangga tani. NTP di bawah 100 berarti petani tekor.
Baru 2025, sektor pertanian tumbuh pesat hingga 13,53%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. NTP pun melonjak ke kisaran 123–124, level tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Sekilas, capaian itu tampak menjanjikan tetapi realita belum berdampak bagi kesejahteraan petani.
Salah satu penyebabnya, minim dukungan politk. Setiap kali pertanian membaik, kebijakan justru tidak berpihak kepada petani seperti keputusan pemerintah mengimpor beras sebanyak 168.000 ton tahun ini.
Kondisi itu, seringkali membuat harga gabah anjlok saat panen raya. Ketika impor beras, harga di tingkat petani justru makin tertekan.
Untuk itu, muncul inisiatif model baru yang berpihak pada petani. Dia bilang, Lanusa, menjadi badan usaha ekonomi pertama yang mereka kelola.
Kehadiran Lanusa menjadi wujud ikhtiar KPA dan kelompok buruh memajukan pembangunan pangan. Mereka mulai membangun sirkular ekonomi yang lebih gotong royong, lebih berpihak, dan berakar di desa.
“Kami himpun anggota KPA di Indramayu, Majalengka dan Sumedang. Gabah kami kumpulkan dari sawah-sawah kecil produktif petani yang sebelumnya selalu menjadi korban konflik dan berada dalam ketidakpastian usaha taninya,” katanya.
Kedepan, kata Benni, Lanusa akan melakukan ‘hilirisasi’ pangan melalui usaha pengolahan gabah, dan distribusi beras yang bertujuan menyambungkan peran petani sebagai produsen dan buruh sebagai konsumennya.

Memperkuat kedaulatan pangan petani dan buruh
Lanusa berdiri di atas lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi dan memberdayakan sedikitnya 200 petani. Keberadaannya menjadi simpul penting dalam rantai pasok pangan antara desa dan kota. Terlebih tiap bulan, unit penggilingan ini mampu memproduksi hingga 350 ton beras.
“Hilirnya kami sudah ada yaitu anggota KASBI dan anggota KPBI yang kebutuhan berasnya mencapai 80 ton per bulan. Hulunya adalah petani KPA yang kami bina menghasilkan panen berkualitas,” kata Galih Andrianto, Direktur Lanusa.
Sejauh ini, beras yang Lanusa produksi sebagian besar dari Majalengka dan Indramayu, serta Batang di Jawa Tengah. Para konsumennya, buruh di berbagai kantong industri yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Galih menuturkan, produk beras mereka merupakan beras premium dengan harga tetap terjangkau bagi kalangan buruh, sekitar Rp15.400–Rp16.500 per kilogram. Harga itu lebih murah dibandingkan beras premium di pasaran, bisa lebih tinggi Rp1.000–Rp2.000 per kg.
Untuk sementara, kapasitas produksi Lanusa baru sekitar 30 ton beras per bulan. Jumlah itu berasal dari penggilingan 50 ton gabah kering panen dari sekitar 12 hektar lahan sawah para petani gurem. Ke depan, kapasitas produksi akan terus meningkat seiring makin banyaknya petani yang bergabung.
“Model usaha ini lahir dari semangat yang sama,” kata Galih.
“Petani menanam, buruh menikmati hasilnya. Semuanya saling menguatkan supaya pangan tetap adil dan bisa dinikmati bersama.”

Memutus rantai panjang distribusi
Semangat itu kemudian meluas dan terus tumbuh di kalangan petani. Ilham Lahiyah, Ketua Serikat Petani Majalengka (SPM), menyebut, inisiatif Lanusa sebagai langkah nyata memperbaiki posisi petani dalam rantai produksi pangan.
Menurut dia, lewat upaya seperti ini, petani yang selama ini hanya jadi penonton dalam sistem distribusi, mulai mengambil peran sentral.
“Melalui kolaborasi ini, rantai distribusi yang sebelumnya melibatkan hingga delapan pihak berhasil dipangkas menjadi hanya tiga, petani, RMU Lanusa, dan konsumen,” ujar Ilham.
Sebelumnya, alur distribusi hasil panen beras begitu panjang, mulai dari bakul kecil, tengkulak, pengepul, penggilingan, hingga distributor.
Jalur ini bukan hanya membuat harga makin tinggi di tangan konsumen, juga petani kehilangan nilai jual yang seharusnya bisa mereka nikmati.
Dengan skema Lanusa, katanya, jalur itu terpotong habis. Biaya distribusi jadi lebih murah, harga beras lebih stabil di pasar, dan terpenting petani memperoleh nilai lebih besar dari panen sendiri.
Lanusa, katanya, tidak hanya menjadi pabrik penggilingan, juga pusat konsolidasi ketika petani panen. Data produksi dari anggota secara berkala untuk memastikan pasokan stabil, sedang hasil usaha terdistribusi kembali melalui mekanisme bagi hasil, iuran tahunan, dan tabungan wajib koperasi.
Bagi Ilham dan ratusan petani lain, Lanusa bukan sekadar tempat menggiling padi. Keberadaannya membuka cara baru petani mengatur sendiri arus hasil panen mulai dari benih hingga piring makan keluarga buruh.
Dampaknya, tidak hanya keuntungan juga kebermanfaatan bagi petani.
“Dengan kelembagaan kami pun jadi lebih kuat dengan adanya koperasi yang menjadi salah satu syarat kemitraan. Dari 800 keluarga tani yang tergabung, sedikitnya 100 kini sudah menjadi pemasok tetap gabah bagi Lanusa.”

*****