- Fosil gajah purba (Stegodon trigonocephalus) ditemukan berada di tengah hutan jati Perum Perhutani Kawasan Pemangku Hutah (KPH) Nganjuk, Jawa Timur. Lokasinya berada sekitar 2,5 kilometer dari permukiman penduduk.
- Temuan fosil gajah purba 70% dari satu individu. Terdiri atas rahang, tulang belikat, sepasang tulang lengan, tulang pinggul, tulang kaki, tulang ekor, tulang rusuk ditemukan banyak, tulang leher, dan tulang. Panjang gading mencapai 2,5 meter hingga butuh 10 orang untuk mengangkatnya.
- Ekskavasi dilakukan di lahan sepanjang lima meter dengan lebar empat meter. Kedalaman sekitar 120 centimeter. Dalam stratigrafi atau studi endapan sedimen dan pelapisan, umur lapisan bebatuan secara umum sekitar 800 ribu tahun lalu.
- Lokasi temuan situs akan ditetapkan sebagai geosite atau situs warisan geologi. Yakni area bentang alam yang memiliki jejak penting bagi sejarah bumi dan menyimpan informasi mengenai evolusi geologi, alam, makhluk hidup, dan budaya suatu daerah.
Delapan orang mengangkat fosil gading gajah purba (Stegodon trigonocephalus) di Lereng Gunung Pandan, Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, Nganjuk, Jawa Timur (Jatim), Rabu (29/10/25) sore. Karena terlalu berat, mereka pun menyerah.
Fosil sepanjang 2,5 meter itu baru bisa terangkat setelah dua orang tambahan ikut membantu menggotongnya.
“Butuh 10 orang untuk mengangkat fosil gading gajah purba ini. Berat,” kata Aries Trio Effendy, pegiat Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kota Sejuk) saat Mongabay hubungi.
Untuk menjaga fosil gading tetap utuh dan tidak rusak, mereka melapisi dengan kertas dan kardus bekas. Setelah itu, mereka membawa benda bersejarah itu ke Museum Anjuk Ladang, Nganjuk.
Bersama 14 anggota komunitasnya, Aries yang turut membantu 15 tim peneliti untuk eskavasi. Para peneliti ini berasal dari Museum Geologi, Badan Geologi, hingga Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM).
‘Temuan ini istimewa dan kondisi fosil gading masih utuh,” ujar Aries.

Lokasi situs berada di tengah hutan jati Perum Perhutani Kawasan Pemangku Hutah (KPH) Nganjuk, sekitar 2,5 kilometer dari permukiman penduduk. Karena medan terjal, perlu kendaraan khusus untuk sampai ke lokasi penemuan. Apalagi, saat musim penghujan menyebabkan jalan menuju lokasi licin.
“Benar-benar butuh perjuangan, ke lapangan cukup berat. Jalanan harus memakai kendaraan modifikasi seperti off road,” katanya.
Selain itu, di tengah hutan masih banyak satwa yang membahayakan seperti macan tutul, ular dan satwa lainnya. Untung saja, warga sekitar turut membantu menjaga keamanan lokasi temuan selama 24 jam.
Komunitas Kota Sejuk, kata Aries, memiliki misi menjaga, melestarikan peninggalan peradaban masa lalu untuk masa depan. Ia terdiri atas unsur masyarakat, pemuda, sejarawan, budayawan, dan seniman.
Mereka kerap menanam di hutan kritis sekaligus melakukan observasi di sejumlah situs sejarah. Juga menyelamatkan benda-benda cagar budaya di lapangan. Salah satunya, dari Gunung Pandan yang jutaan tahun sebelumnya masih berupa lautan ini.
Menurut Aries, sebelumnya banyak temuan fosil bersejarah dari tempat itu.
“Ada gajah, banteng, kerbau, sapi, babi hutan, rusa, dan kerang,” katanya.
Hanya, warga jarang melaporkan temuan-temuan itu.
Kota Sejuk yang mendapat informasi itu kemudian melakukan penelusuran. Hasilnya, mereka temukan fosil yang kuat dugaan berasal dari masa pra sejarah.
“Nah, di situ kami temukan beberapa fosil yang sudah di atas tanah. Kami data, tentukan titik koordinat, mendokumentasikan, dan melaporkannya ke Disporbudpar Nganjuk.”
Akhir 2021, tim Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Jawa Tengah (Jateng) mengangkat fosil binatang purba di lokasi yang sama. Benda itu berupa kepala banteng (Epilebtrobus), tanduk banteng, badak, kuda nil, buaya, harimau dan gajah.

Temuan penting
Unggul Prasetyo Wibowo, Ketua Tim Kerja Penyelidikan dan Konservasi Museum Geologi, yang memimpin ekskavasi menyebut, temuan fosil gading gajah purba ini menjadi sumbangan besar bagi ilmu pengetahuan.
Lantaran temuan fosil 70% dari satu gajah purba. Terdiri atas rahang, tulang belikat, sepasang tulang lengan, tulang pinggul, tulang kaki, tulang ekor, tulang rusuk ditemukan banyak, tulang leher, dan tulang.
“Temuan satu individu. Kita beruntung ketemu bagian penting sebagai kunci identifikasi seperti rahang bawah dengan gigi utuh,” katanya.
Satu gading sepanjang 2,55 meter dengan bentuk melengkung. Diameter sekitar 25 sentimeter. Kini, tim masih mencari gading yang tersisa.
“Dari gigi itu kita bisa identifikasi ini jenis gajah yang sudah punah itu, Stegodon trigonocephalus. Bentuk gadingnya, nggak terlalu melengkung agak lurus. Ini biasanya karakter Stegodon trigonocephalus.”
Ekskavasi berlangsung di lahan berukuran 5×4 meter dengan kedalaman 1,2 meter. Secara stratigrafi atau studi endapan sedimen dan pelapisan, perkiraan umur lapisan sekitar 800.000 tahun lalu.
Untuk menganalisis umur fosil gading, mereka harus menggunakan alat dating radiometrik guna menghasilkan data yang akurat.
Fosil yang berada di permukaan, rawan terpapar, apalagi saat hujan. Selain itu, banyak akar-akar hingga harus cepat menyelamatkannya dengan mengangkat dan menyimpan di museum.
“Kita kejar-kejaran dengan cuaca dan waktu. Selanjutnya akan konservasi dengan treatment khusus di workshop Musium Geologi Bandung.”

Jejak masa lalu
Lokasi temuan fosil menjadi tanda kawasan ini berupa padang sabana yang menjadi habitat satwa purba. Dia melihat potensi fosil lain seperti banteng, rusa, dan satwa lain. “Cukup signifikan juga sebenarnya jumlahnya, walaupun itu lepas-lepas. Temuannya banyak, saat saya survei pertama ke sana.”
Museum Geologi Bandung menyimpan Stegodon stegonosaevalus koleksi kolonial Belanda. Juga fosil sepasang kaki, dan kepala. Jadi, praktis sampai saat ini belum ada satu gajah purba yang lengkap.
Sebelumnya, temuan fosil gajah di Sumedang, juga tidak lengkap. Sekitar 30-40% komponen fosil. Sehingga temuan fosil gajah purba di Nganjuk sangat penting bagi ilmu pengetahuan.
Unggul menjelaskan, proses ekskavasi berawal dari surat permintaan ekskavasi dari Disporabudpar Nganjuk. Badan Geologi yang menerima akhir 2023 lantas menurunkan tim untuk menindaklanjuti dengan melihat potensi.
Pada akhir 2024, Badan Geologi mengirim tim untuk survei detail. “Dari survei detail itu kami temukan satu titik yang potensial,” ujar Unggul.
Tim menguji dan memetakan temuan dengan bantuan Komunitas Kota Sejuk. Hasilnya, kemungkinan signifikan secara kuantitas dan kualitas. Saat survei, di permukaan tanah banyak temuan fosil juga tergeletak, lepas dari posisinya.
“Fosil Stegodon trigonocephalus ini kan khas Jawa dan sudah punah. Selama ini jarang temuannya dalam satu individu.”

Gajah purba di Nusantara
Berdasar buku karya Fachroel Aziz berjudul Atlas Fosil Vertebrata Klolesi Museum Geologi, terbitan Badan Geologi 2023 menyebut, dalam sejarah evolusi keluarga gajah (Proboscidea) mencapai Kepulauan Nusantara meliputi mastodon, stegodon, stegoloxodon dan elephas. Fosil pada endapan sedimen Plio-Plistosen di berbagai kawasan Nusantara.
Keluarga gajah yang datang paling awal di Jawa adalah mastodon (Sinomastodon bumiajuensis). Mereka tiba sekitar 1,5 juta tahun lalu, bahkan mungkin lebih awal lagi, bersama kelompok fauna satir yang terdiri atas berbagai jenis rusa antara lain Cervus lydekkeri, Cervus javanicus, banteng (Bos palaesondaicus) serta, kerbau (Bubalus palaeokerabau). Juga kuda nil purba (Hexaprotodon simplex) dan kura-kura raksasa, Geochelone atlas.
“Gajah merupakan pengembara tangguh dan perenang yang baik. Selain Jawa, juga berhasil menyeberangi garis Wallace (Wallace’s line),” tulis Fachroel.
Menurut Jonhson (1980) gajah merupakan perenang yang baik. Dengan menggunakan belalai sebagai cerobong pernapasan (snorkel). Gajah dapat berenang dengan kecepatan 2,7 kilometer per jam.
Amin Fuadi, Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Nganjuk, menjelaskan, ekskavasi memasuki tahap kedua. Proses pengangkatan fosil dari masing-masing situs, dan disimpan sementara di museum Anjuk Ladang, Nganjuk.
“Kemudian dibawa ke Museum Geologi Bandung untuk proses konservasi. Selanjutnya, akan dibuatkan replika fosil. Memajangnya di Museum Pra Sejarah Klitik dan lokasi situs,” kata Amin.
Museum Klitik merupakan museum pra sejarah yang Pemerintah Desa Klitik kelola. Prosesnya melibatkan Disporabudpar dan komunitas.
Sedangkan, lokasi temuan situs akan pemerintah tetapkan sebagai geosite atau situs warisan geologi. Ini berada di bentang alam yang memiliki jejak penting bagi sejarah bumi dan menyimpan informasi mengenai evolusi geologi, alam, makhluk hidup, dan budaya suatu daerah.
“Nanti ada juru pelihara yang diatur oleh Badan Geologi. Dikembangkan sebagai objek wisata dan edukasi.”
Untuk luas area geosite akan menyesuaikan dengan sebaran temuan fosil.
Lokasi temuan situs berada di atas hutan produksi Perhutani, Kawasan Pemangku Hutan (KPH) Nganjuk. Jadi, untuk pengembangan selanjutnya Pemkab Nganjuk bekerja sama dengan Perum Perhutani.
“Manfaatnya banyak, terutama untuk kajian dan penelitian ilmu pengetahuan. Menjadi sumber pengetahuan perjalanan masa pra sejarah di Nganjuk.”
*****
Semut Neraka Berjepit Sabit: Fosil Semut Tertua yang Pernah Ditemukan