- Lima belas Musisi meluncurkan 15 lagu bertema iklim dalam album sonic/panic Vol.3. Album ini adalah buah dari lokakarya The Indonesian Climate Communications, Arts & Music Lab (IKLIM) di Bali, Juni lalu. Selama 5 hari mereka membahas akar penyebab krisis iklim, peran seni dan budaya, hingga rumuskan langkah kolaboratif untuk mendorong perubahan.
- Kunto Aji menceritakan, pesan-pesan yang dia peroleh dari lokakarya itu gambarkan manusia sebagai aktor yang mengancam keberlanjutan bumi. Meski demikian, masih ada kemungkinan hidup yang lebih baik di masa depan, jika generasi hari ini bergerak bersama. Gagasan itu kemudian dia tuangkan dalam lagu berujudul Manusia Terakhir di Bumi.
- Gede Robi, vokalis Navicula sekaligus inisiator Music Declares Emergency Indonesia mengatakan, gerakan itu terbentuk dari gagasan untuk gabungkan musik dan aktivisme. Musik sebagai bagian dari seni, katanya, adalah ruang untuk merekam banyak hal yang terjadi, mulai dari isu kebudayaan, sosial, kesehatan mental politik, hingga isu sentral seperti krisis iklim.
- Tahun ini, IKLIM Fest yang berkolaborasi dengan Rock in Celebes 2025 akan berlangsung sepanjang 1-2 November 2025 di Makassar. Tak hanya konser musik, pagelaran ini akan merilis film dokumenter, juga buku panduan festival musik ramah lingkungan.
Sonic/panic Vol.3, album musik bertema iklim meluncur ke publik. Karya ini buah lokakarya The Indonesian Climate Communications, Arts & Music Lab (IKLIM) di Bali, Juni lalu. Kala itu, selama lima hari, mereka bahas akar penyebab krisis iklim, peran seni dan budaya, hingga rumuskan langkah kolaboratif untuk mendorong perubahan.
Mereka yang terlibat dalam penggarapan album ini di antaranya Ave the Artist, Bunyi Waktu Luang, Chicco Jerikho, Egi Virgiawan, Kunto Aji, dan Majelis Lidah Berduri. Kemudian, Manja, Peach, Reality Club, Scaller, Sukatani, Teddy Adhitya, The Brandals,The Melting Minds, dan Usman and The Blackstones.
Kunto Aji, salah satu partisipan, menceritakan, lokakarya IKLIM sajikan fakta dan data krisis iklim. Pesan-pesan yang dia peroleh dari lokakarya itu gambarkan manusia sebagai aktor yang mengancam keberlanjutan bumi.
Praktik-praktik eksploitatif, katanya, tidak hanya mengancam berbagai spesies, juga hak hidup generasi mendatang. Bahkan, kehancuran benar-benar tidak terhindarkan jika manusia gagal menjaga suhu bumi di bawah 2 derajat celsius.
Meski demikian, dia percaya masih ada kemungkinan hidup yang lebih baik di masa depan, jika generasi hari ini bergerak bersama. Gagasan itu dia tuangkan dalam lagu berujudul Manusia Terakhir di Bumi.
“Saya hanya bisa bilang, kita masih ada di alternate universe, kita bisa kemanapun. Saya berharap kalian bisa tempatkan posisi di situ. Bayangkan kemungkinan di depan, apa yang sudah dilakukan di belakang, dan sekarang apa yang bisa kita perbuat?” katanya di Jakarta, awal Oktober lalu.

Fathia Izzati atau Chia, vokalis Reality Club, menyebut, bandnya membuat lagu berjudul I Don’t Wanna Hate the World untuk album Sonic/Panic Vol.3.
Pesan di dalamnya beranjak dari kesadaran berbagai masalah yang terjadi di atas bumi tidak seharusnya membuat pesimis. Justru, gerakan lebih besar timbul untuk selamatkan ekosistem.
“Jadi lagu ini, karena begitu generalnya, semoga bisa ningkatin pengetahuan orang bahwa kita punya masalah yang riil. Tapi akhirnya kami tambahkan beberapa data tentang kebakaran hutan, krisis iklim, perubahan suhu dan segala macam,” katanya.
Dia bilang, dapat pengetahuan itu dari lokakarya IKLIM yang paparkan kondisi bumi secara gamblang, tanpa ada penghalusan makna.
Sehingga, musisi, yang awalnya jauh dari topik krisis iklim, langsung tertampar kenyataan tentang kondisi bumi yang semakin mengkhawatirkan.
“Ternyata yang bikin aku terpukul sekali, krisis iklim ini benar-benar berpengaruh ke semua aspek kehidupan, ketenagakerjaan, korupsi dan banyak lagi.”
Sementara, Band Usman and the Blackstone membuat lagu bertema hujan yang berkepanjangan.
Usman Hamid, aktivis sekaligus vokalis band itu bilang, keserakahan manusia menambang nikel, batubara hingga babat hutan untuk perkebunan sawit, jadi penyebab anomali itu.
Menurut dia, aktivitas manusia yang merusak bumi juga berdampak kerusakan ekosistem serta kepunahan spesies.
“Jadi, kami pilih judul, rain but is no longer rain. Itu bukan hujan biasa, tapi mau bilang kalian manusia berhentilah merusak bumi, menambang dengan berlebihan.”
Persoalan-persoalan itu, semakin mendapat kedalaman makna dalam lokakarya IKLIM. Dia bilang musisi yang terlibat pengerjaan album sonic/panic Vol.3, berkesempatan mengetahui data, angka, statistik, berita kisah. Jadi, contoh-contoh kasus untuk melawan post truth atau kecenderungan menganggap krisis iklim sebagai propaganda dan tindakan menakut-nakuti.
“Cara-cara seperti itu (post truth) harus kita lawan dengan tingkat kedalaman ruang dan waktu. Yang kita butuhkan bukan optimis atau pesimis, tapi berikan pengertian tentang dunia. Apa yang sebenarnya terjadi. Sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita inginkan.”
Baginya, musik bisa jadi pilihan baru untuk lengkapi advokasi maupun gerakkan konvensional aksi iklim. Harapannya, kandungan persuasi dan emosi dalam lirik dan lagu akan gerakkan lebih banyak orang.
“Workshop IKLIM ini membuat saya temukan titik terang, cahaya untuk yakinkan saya, bahwa musik akan lengkapi aktivisme tradisional yang saat ini alami kebuntuan.”

Musik dan aktivisme
IKLIM merupakan program Music Declares Emergency Indonesia, sebuah kolektif yang terdiri dari seniman, profesional, individu industri musik, serta organisasi yang berkomitmen lindungi bumi. Sejak 2023, gerakan yang serukan “No Music on a Dead Planet” ini, telah merilis 3 album yang melibatkan 43 musisi dan band dari Sumatera hingga Papua.
Gede Robi, vokalis Navicula sekaligus inisiatornya, mengatakan, gerakan itu terbentuk dari gagasan untuk gabungkan musik dan aktivisme.
Sebagai bagian dari seni, musik adalah ruang untuk merekam banyak hal yang terjadi, mulai dari isu kebudayaan, sosial, kesehatan mental politik, hingga isu sentral seperti krisis iklim.
Secara historis, katanya, aktivisme seniman tampak dari protes yang Generasi Bunga (Flower Generation) usung pada invasi Amerika ke Vietnam, sepanjang dekade 1960-1970.
Kemudian, Greenpeace, salah satu organisasi lingkungan terbesar dunia juga lahir dari konser amal Joni Mitchell, penyanyi yang mengusung isu lingkungan.
“Di Indonesia ada kolaborasi lintas disiplin yakni Kantata Takwa. Itu ada seniman, akademisi, seperti yang dilakukan IKLIM,” katanya.
Selain produksi album, Music Declares Emergency Indonesia juga akan selenggarakan konser yang IKLIM Fest. Robi bilang, pertunjukkan tahunan itu adalah festival musik pertama di Indonesia yang peduli terhadap iklim.
Pada pagelaran pertama di Bali, penyelenggara IKLIM Fest 2023 berhasil mencegah 3300 kemasan makanan dan gelas sekali pakai berakhir di TPA. Di samping itu, mereka juga mengolah semua sampah organik menjadi kompos.
IKLIM Fest tahun ini akan berkolaborasi dengan Rock in Celebes 2025, berlangsung 1-2 November 2025 di Makassar. Tak hanya konser musik, pagelaran ini merilis film dokumenter, juga buku panduan festival musik ramah lingkungan.
“Tahun ini, metode yang kami lakukan untuk festival ramah lingkungan, itu kerja sama dengan Koalisi Indonesia dan akan rilis buku panduan festival musik ramah lingkungan.”
Dia berharap, kolaborasi musisi dapat jadikan isu lingkungan semakin populer, hingga mendorong perubahan kebijakan. Apalagi, krisis iklim adalah topik yang organik di Indonesia karena jadi salah satu negara penyumbang emisi karbon terbesar di dunia.

Ardy Siji, pendiri sekaligus promotor Rock in Celebes, mengatakan, festival ini, yang berdiri sejak 2010, punya keinginan bikin pertunjukan musik ramah lingkungan. Namun, belum menemukan kesamaan visi dan misi dari musisi yang terlibat tiap tahunnya.
Mimpi penyelenggaraan konser ramah lingkungan semakin mendekati kenyataan di tahun ke-16, ketika album sonic/panic Vol.3 dalam proses penggarapan dan IKLIM Fest menawarkan kolaborasi.
“Kami dari dulu mimpinya ingin jadi festival yang lebih ramah, festival yang paling tidak memberikan dampak di antara banyaknya festival yang hanya tampilkan konser. Harusnya platform ini bisa bersuara, paling tidak bisa berikan pengaruh pada penggemar atau audiens.
Dia bilang, Rock in Celebes 2025 akan menampilkan 20 musisi dari IKLIM dan 20 artis lokal Sulawesi. Ardy sendiri merasa terhormat konser itu jadi panggung pertama yang kumpulkan musisi dan seniman yang suarakan penyelamatan bumi.
“Kami dari Rock in Celebes, merasa terhormat bisa berkolaborasi. Album ini (sonic/panic) dan artisnya bisa pertama kali membawakan bersama di festival ini. Dan, kami bisa perkenalkan lebih lagi, bagaimana album ini bukan saja tentang bandnya, tapi punya pengaruh yang kuat.”

*****
Rani Jambak, Padukan Musik dan Alam untuk Suarakan Lingkungan