- Riset Nature Climate Change yang terbit Agustus 2025 mengungkap keterkaitan deforestasi dengan angka kematian akibat panas. Laporan itu menyebut kenaikan suhu ekstrem telah menyebabkan lebih dari 500 ribu kematian selama 20 tahun terakhir.
- Indonesia jadi negara rentan. Global Forest Watch menyebut sekitar 259.000 hektar hutan alam hilang pada 2024. Pulau Kalimantan, Papua, dan Sumatera menjadi penyumbang terbesarnya.
- Dengan deforestasi yang terus terjadi, maka kenaikan suhu bumi pun akan terus terjadi. Tidak heran, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Kantor Meteorologi Inggris pada akhir Mei lalu mengeluarkan laporan terbaru yang memproyeksikan suhu Bumi bakal terus memanas hingga memecahkan rekor suhu tahunan lainnya dalam lima tahun ke depan.
- Riset Nature Climate Change menyebut sudah banyak riset yang menunjukkan risiko kesehatan yang timbul karena peningkatan suhu. Cuaca panas disebut akan memengaruhi kondisi mental dan semangat, pengaruh terhadap performa fisik, serta produktivitas saat bekerja.
Suhu bumi terus memanas. Sementara, hutan tropis yang jadi penyangga iklim terus menyusut. Gabungan keduanya memicu multi krisis, dari krisis iklim sampai kesehatan publik.
Hal itu sejalan dengan riset Nature Climate Change ihwal keterkaitan deforestasi dengan angka kematian akibat panas yang terbit Agustus 2025. Laporan itu menyebut kenaikan suhu ekstrem menyebabkan lebih dari 500.000 kematian selama 20 tahun terakhir.
“Kami memperkirakan pemanasan akibat deforestasi selama periode 2001-2020 terkait dengan tambahan 28.330 kematian per tahun akibat panas, dengan beban kematian tertinggi berada di Asia Tenggara, terutama di Indonesia,” kata C. L. Reddington, salah satu penulis laporan itu.
Pernyataan itu memperkuat dampak deforestasi terhadap kualitas kesehatan manusia. Sementara, angka deforestasi pun tidak pernah nihil.
Indonesia, misal, menurut Global Forest Watch, kehilangan sekitar 259.000 hektar hutan alam pada 2024. Pulau Kalimantan, Papua, dan Sumatera menjadi penyumbang terbesarnya.
Dengan deforestasi yang tidak bisa direm, maka kenaikan suhu bumi pun akan terus terjadi. Tidak heran, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Kantor Meteorologi Inggris pada akhir Mei lalu mengeluarkan laporan terbaru yang memproyeksikan suhu Bumi bakal terus memanas hingga memecahkan rekor suhu tahunan lainnya dalam lima tahun ke depan.
Prediksi itu diperkuat dari riwayat dua tahun terakhir suhu bulanan di Bumi mencapai rekor tertinggi dengan rata-rata di atas 1,5 derajat celsius lebih panas dibandingkan dengan 175 tahun lalu.
Laporan yang ditulis para ahli iklim memperkirakan suhu permukaan rata-rata global tahunan untuk setiap tahun antara 2025 dan 2029 diperkirakan antara 1,2 derajat celsius dan 1,9 derajat celsius lebih tinggi daripada suhu rata-rata selama tahun 1850-1900. Tahun ini, kenaikan suhu 2 derajat celsius di atas suhu pra industri bisa terjadi.
”Itu bukan sesuatu yang ingin dilihat siapa pun, tetapi itulah yang dikatakan sains kepada kita,” kata ilmuwan Leon Hermanson, dikutip dari PBS News.

Apa saja dampaknya?
Riset Nature Climate Change menyebut sudah banyak riset yang menunjukkan risiko kesehatan yang timbul karena peningkatan suhu. Cuaca panas akan memengaruhi kondisi mental dan semangat, pengaruh terhadap performa fisik, serta produktivitas saat bekerja.
Lebih jauh, riset menemukan paparan terhadap panas berhubungan dengan peningkatan risiko morbiditas dan mortalitas dari penyakit kardiovaskular dan faktor lainnya. Hal itu berdasarkan riset tahun 2021, yang menyebut kematian karena peningkatan cuaca panas terjadi karena krisis iklim ulah manusia.
Penelitian itu mengumpulkan data dari 732 lokasi di 43 negara. Hasilnya, sekitar 37% kematian akibat cuaca panas pada musim panas dapat berkaitan dengan perubahan iklim antropogenik dan peningkatan mortalitas itu terlihat di setiap benua.
“Karenanya, peneliti meminta langkah mitigasi dan adaptasi yang lebih ambisius dalam meminimalisasi dampak kesehatan dari krisis iklim,” tulis para peneliti.
Senada, riset dalam Health Science Reports menyebut, langkah pencegahan menjadi penting dalam mengatasi stres dengan penyebab suhu tinggi. Peneliti menyatakan, butuh strategi proaktif dalam menangani dampak fisiologis dan psikologis cuaca panas. Juga, mempertimbangkan kebutuhan khusus populasi rentan seperti anak-anak muda, orang dewasa dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan mental untuk meningkatkan daya tahan mereka ketika cuaca panas karena krisis iklim menyerang.

Sisi lain, kehilangan tutupan hutan juga berpengaruh terhadap peningkatan risiko penyakit zoonosis-infeksi yang berasal dari hewan ke manusia–yang bisa menimbulkan pandemi baru.
Kajian yang terbit dalam Science Advances, menginvestigasi lebih dalam 9 penyakit zoonosis yang bisa menimbulkan kegawatdaruratan.
Penyakit-penyakit tersebut termasuk virus Zika, Ebola, dan SARS. intinya, penulis kajian tersebut menemukan sekitar 9% wilayah bumi berada dalam kadar risiko tinggi dan sangat tinggi wabah penyakit-penyakit ini.
Penulis menyebut tingginya suhu, peningkatan hujan dan kelangkaan air merupakan faktor kunci yang bisa menyebabkan wabah tersebut.
Di Indonesia, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengakui ada pengaruh krisis iklim dengan peningkatan curah hujan dan bencana hidrometeorologi.
Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG dalam tulisan di Mongabay sebelumnya mengatakan, hujan punya siklus, hujan ekstrem biasa lima sampai 10 tahun sekali.
Belakangan siklus ini memendek. Kondisi ini, katanya, karena ada perubahan lingkungan yang menyebabkan perubahan iklim hingga keseimbangan alam terganggu.
Lalu apa yang harus dilakukan? Vikki Thompson, Climate Scientist di Royal Netherlands Meteorological Institute kepada Carbonbrief menyebut mengembalikan fungsi hutan menjadi kunci dari masalah ini.
“Kita bisa mengurangi dampak suhu ekstrem dengan menanam lebih banyak pohon dan mengurangi deforestasi di semua tempat,” ucapnya.

*****