- Kepergian Tari, anak gajah Sumatera di Tesso Nilo menambah panjang daftar kematian satwa berbadan tambun ini dengan sebab terkena virus. Hal ini sekaligus ancaman konservasi satwa langka dilindungi ini.
- Tari adalah kematian keenam anak gajah di Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) sejak 2012 hingga 2025. Dari data, menunjukkan lima dari enam kematian anak gajah di TNTN dominan karena virus dan infeksi.
- Menurut FAO ada banyak bentuk infeksi dapat menyerang gajah, baik itu dari cacing, parasit maupun bakteri. Dampak yang muncul pun beragam mulai penurunan kondisi kesehatan gajah, dan dehidrasi. Juga, kelelahan, penurunan nafsu makan, demam, produksi lendir berlebih, pembengkakan jaringan tubuh hingga kematian yang cepat.
- Perlu ada penanganan intensif bagi kondisi kesehatan terutama bagi anak gajah. Zoonosis dan fragmentasi habitat gajah harus menjadi perhatian untuk perlindungan dan upaya konservasi gajah di masa mendatang.
Kepergian Tari, anak gajah Sumatera di Tesso Nilo menambah panjang daftar kematian anak satwa berbadan tambun ini dengan sebab terkena virus. Kondisi ini, sekaligus ancaman konservasi satwa langka dilindungi ini.
Akun media sosial Balai Taman Nasional Tesso Nilo @btn_tessonilo mengunggah video yang menampilkan dua orang mahout (pawang gajah), Tengku Asril dan Herianto Saragih berdiri di depan dua gajah, pada 1 September lalu. Lisa, sang induk gajah bersama anaknya Tari, dengan nama lengkap Kalistha Lestari.
Scene bergeser saat kedua mahout mengangkat nampan berisikan buah-buahan. Mulai dari nanas, semangka, pisang hingga makanan kesukaan gajah Tari, bongkahan gula merah.
Sehari sebelumnya, pada 31 Agustus 2025 genap dua tahun Tari. Banyak ucapan doa semoga Tari panjang umur, sehat, kuat hingga berharap dapat menjadi duta konservasi alam. Harapan lain, kehadiran Tari bisa menginspirasi banyak orang untuk peduli pada satwa dan hutan, terutama di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo.
Sembilan hari berselang dari unggahan video suka cita itu, tepat 10 September masih pada akun sama, kabar duka tentang Tari muncul.
Foto gajah Tari tengah terbaring di atas rerumputan dan puluhan ribu ucapan duka membersamainya. Kali ini doa yang dihaturkan, semoga Tari beristirahat dengan tenang dan dapat berlari dengan bebas di sana. Tari tidak berumur panjang…
Kematian Tari membuat jagat maya heboh. Publik terheran-heran karena kematian tiba-tiba. Pasalnya, aktivitas Tari kerap muncul kepada publik menunjukkan Tari dalam keadaan prima. Ia kadang berlarian kesana kemari bermain melewati pagar atau sekadar mengusili mahout-nya.

Kematian anak gajah keenam di Tesso Nilo
Tari adalah jenis gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang lahir pada 2023. Ia dirawat di Camp Elephant Flying Squad Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau. Anak gajah ini lahir dari hasil perkawinan Lisa dengan gajah liar.
Sehari-hari, Tari sangat riang, senang bermain bersama Domang, anak gajah jantan yang menjadi kakak angkat Tari. Keseharian Tari bersama kelompoknya di flying squad kerap terekam dalam konten-konten video dan banyak orang menyukainya.
Tari dan Domang juga menjadi warga kehormatan Riau pada Juli 2025. Hal ini menunjukkan pentingnya hubungan timbal balik antara manusia dengan alam. Bahkan Tari dan Domang jadi anak angkat Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan.
Saat perhatian dan dukungan publik mengalir dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya melindungi gajah Sumatera dan habitatnya, kabar duka datang dari kematian Tari. Tari juga anak gajah keenam yang mati di TNTN.
Yuliantony, Direktur Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN) mengatakan, kalau kematian Tari terindentifikasi karena infeksi atau virus, maka lima dari enam kematian anak-anak hewan perintis ini murni karena penyakit.
“Ini menjadi perhatian bagi kita semua untuk mengintensifkan pemantauan kesehatan dari anak-anak gajah di TNTN,” katanya.
Dari data YTNTN sejak 2012 hingga kini, kematian anak-anak gajah dominan karena infeksi saluran pencernaan hingga terjangkit virus elephant endotheliotropic herpesvirus (EEHV) atau virus herpes dan dominan menyerang gajah muda.
“Sayangnya, untuk virus EEHV ini masih belum ada vaksinnya, ini yang kita takutkan,” kata Tony, sapaan akrabnya.
Dia cerita, pada 2012, ada Vila, anak gajah Novi dan Dono yang YTNTN rawat. Novi merupakan gajah untuk atraksi hiburan dari Tanjung Balai Asahan ke Minas. Setelah Vila lahir, karena kondisi perawatan minim, dipindahkan ke Flying Squad TNTN.

Sayangnya, saat proses adaptasi dengan lingkungan yang telah berlangsung selama sebulan, Vila mati terkena infeksi saluran pencernaan akibat cacingan. Upaya pemberian vitamin hingga obat cacing sudah dilakukan, namun tidak tertolong.
Kematian anak gajah lain pada 2015, Nella dan Tino. Kedua anak gajah ini mati dengan penyebab berbeda. Nella mati kena racun, Tino infeksi saluran pencernaan. Keduanya masih muda dengan usia belum tiga tahun.
Kematian anak gajah keempat pada 2023. Gajah Ryu, anak Lisa mati pada Februari karena serangan virus EEHV. Ryu kala itu juga masih berusia dua tahun, sebelumnya tidak menunjukkan gejala sakit.
Ryu tiba-tiba terjatuh saat hendak beraktivitas di sekitar hutan untuk mencari makan. Dari hasil pengecekan organ, ada serangan virus EEHV.
Pada tahun sama, kematian anak gajah Damar, positif karena virus EEHV. Damar adalah anak gajah yang dirawat di Unit Konservasi Gajah Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau.
Walau tidak di TNTN, katanya, kematian dua anak gajah dalam periode waktu dan penyebab sama ini menjadikan ancaman. Serangan virus EEHV, katanya, jadi pembunuh senyap (silent killer) bagi anak-anak gajah di Riau.
Kematian kelima Rimbani pada 12 November 2024 di TNTN. Rimbani juga anak dari gajah Lisa. Ia mulai mengalami masalah kesehatan awal November dan telah dirawat intensif. Tetapi tidak dapat bertahan menghadapi penyakit yang menyerang sistem pencernaan tubuhnya. Rimbani mati pada usia 8 tahun.
Lisa, sang induk pun berarti kehiangan tiga anaknya, Ryu, Rimbani, dan Tari.
Pada April 2025, juga ada kematian anak gajah liar bernama Yuni setelah mendapatkan perawatan intensif di Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga. Yuni terpisah dari induknya di kebun sawit Desa Gunung Mulya, Kecamatan Gunung Sahilan, Kampar.
Awalnya Yuni diduga mati akibat terserang virus EEHV. Setelah uji lab di Institut Pertanian Bogor penyebabnya pneumonia (pendarahan di paru-paru), gastroenteritis memicu dehidrasi dan hypovolemic shock, hingga stres berat akibat terpisah dari induknya.

Virus momok
Tony bilang, anak-anak gajah rentan berbagai ancaman. Dia mengingatkan, perlindungan gajah harus optimal lagi demi keberlangsungan spesies terancam punah ini.
“Ini menunjukkan rentannya anak-anak gajah ini terhadap risiko kematian. Mulai dari penyakit, ancaman keracunan, bahkan tertinggal dari kawanan atau ditinggal mati induknya,” kata Tony.
Heru Sutmantoro, Kepala Balai TNTN saat dihubungi menjelaskan, Tari tidak menunjukkan gejala sakit, bahkan sehari sebelumnya masih normal-normal saja.
Dari keterangan mahout, Tari masih makan seperti biasa, bermain dengan riang, dan tidak ada menunjukkan tanda lemas, lemah ataupun gejala lainnya.
“Memang intensitas menyusunya kemarin sedikit berkurang dari biasa, namun hingga sore hari, kondisinya masih prima dan stabil,” kata Heru.
Ketika pagi hari, mahout menemukan Tari terbaring dan tidak ada gerakan sama sekali. Usai dokter hewan periksa, dan hasil pemeriksaan fisik, tidak ditemukan ada luka luar maupun trauma.
“Ada indikasi infeksi sistem pencernaan ini, karena perutnya menggembung. Untuk pastinya, kita tunggu hasil uji lab saja,” kata Heru.
Dari surat hasil pemeriksaan Laboratorium Medika Satwa Laboratoris di Bogor terbit pada 15 September 2025, Tari positif terkena EEHV. Sampel organ yang BTNTN kirim berupa jantung, hepar (hati), ginjal, pulo (paru-paru) dan usus dengan nomor sampel 405/IX/25 menunjukkan hasil positif virus ini menjangkiti hepar Tari.
Merujuk dari jurnal karya Celia Lowe dan ursula Munster, EEHV termasuk dalam keluarga virus Herpesviridae yang kemungkinan berevolusi sejak 100 tahun lalu.
Virus inispesifik ini menyerang gajah, terutama yang masih kecil karena ketahanan tubuh dan antibodi masih rentan. Virus ini berbahaya karena pada tahap infeksi awal sering tidak menunjukkan gejala, bisa bertahan (tidur) dalam tubuh gajah dan aktif kapan saja.
Dahsyatnya, ia dapat menyebar dengan cepat melalui infeksi pada sel pembuluh darah.
EEHV ketika aktif dapat memicu pendarahan pada lapisan pembuluh darah dan jantung. Hal inilah yang dapat menyebabkan kematian mendadak dan sangat cepat pada gajah hanya dalam hitungan jam kurang dari sehari.
Kerusakan pembuluh darah ditubuh gajah akibat EEHV ini dapat mengakibatkan pembengkakan dan pendarahan hebat.
Untuk kasus di Eropa dan Amerika Utara, EEHV menjadi 25% penyebab kematian anak gajah di penangkaran dan hanya delapan kasus yang diketahui dapat bertahan hidup pasca upaya perawatan intensif per 2016.
Walaupun penyebab pasti gajah dapat terjangkit EEHV masih sulit teridentifikasi, faktor lingkungan dan stress akibat fragmentasi habitat, konflik manusia dan gajah hingga psikologis dan trauma kemungkinan berkontribusi besar memicu serangan ataupun aktivasi virus EEHV ini.
Selain serangan dari EEHV, infeksi saluran pencernaan yang sering menyerang anak-anak gajah di TNTN juga patut menjadi perhatian.

Menurut FAO ada banyak bentuk infeksi dapat menyerang gajah, baik itu dari cacing, parasit maupun bakteri. Dampak yang muncul pun beragam mulai penurunan kondisi kesehatan gajah, dan dehidrasi. Juga, kelelahan, penurunan nafsu makan, demam, produksi lendir berlebih, pembengkakan jaringan tubuh hingga kematian yang cepat.
Sanitasi yang baik, sebut WHO penting termasuk pemeriksaan rutin, upaya pemberian vitamin dan obat-obatan yang tepat serta isolasi cepat ketika ada potensi infeksi terjadi.
Tony mengingatkan, perlu ada perbaikan dalam proses perawatan hingga interaksi antara gajah dengan manusia. Dia menyoroti bagaimana perhatian publik terhadap gajah-gajah saat ini makin meningkat.
“Di satu sisi publikasi sangat baik, karena ini untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap gajah dan upaya konservasinya. Tapi juga patut diingat, gajah, terutama anak gajah, adalah hewan yang sangat rentan,” katanya.
Dia juga mengingatkan potensi zoonosis tidak menutup kemungkinan bisa terjadi.
“Sebaiknya diatur lagi terkait jarak interaksi dan sebisa mungkin cukup mahout saja yang dapat menyentuh gajah-gajah ini.”
Saat ini, katanya, untuk menghindari penyebaran virus ataupun dampak stres terhadap gajah-gajah di flying squad terutama pasca kematian Tari, tim BTNTN akan melakukan pengawasan intensif serta memperhatikan kondisi gajah-gajah kecilnya.
Habitat terfragmentasi
Gajah Sumatera merupakan ‘tukang kebun raksasa’ di hutan. Perannya yang krusial terutama menyebar benih, membuka jalur hewan lain bahkan berkontribusi terhadap ekosistem hutan. Kehilangan gajah akan membuat keseimbangan alam sangat terganggu.
Data YTNTN, populasi gajah Sumatera di Tesso Nilo sekitar 146 yang tersebar di dua kantong, yaitu , 33 kantong utara dan 114 di kantong tenggara.
Dengan sebaran populasi ini, BBKSDA mencatat, dalam 11 tahun terakhir dari 2015-Juni 2025, tercatat ada 23 kematian gajah terjadi di lansekap Tesso Nilo.
Catatan BBKSDA, kematian terbanyak pada 2015 mencapai delapan gajah kebanyakan karena kena racun atau jerat.
Dari 23 kematian gajah ini, data YTNTN, hanya 26% sebagai kematian alamiah dan 22% tidak diketahui. Sedangkan 52% kematian karena perbuatan ilegal, mulai dari kena racun, jerat bahkan perburuan gading gajah.
“Sejak 2016 hingga kini kematian gajah mulai menurun, tapi tetap saja menjadi hal yang sangat disayangkan. Apalagi, sekarang gajah-gajah kecil yang diharapkan menjadi penerus demi menekan kepunahannya justru banyak mati,” sesal Tony.
Habitat gajah terus menyusut jadi salah satu penyebab. Data dari Walhi Riau, semula Tesso Nilo seluas 81.793 hektar ini dengan tutupan hutan alam 78.000 hektar, kini tersisa 15%.
Fragmentasi habitat gajah Sumatera di TNTN mengakibatkan penyusutan ruang gerak gajah, sumber pakan hilang serta konflik antara manusia dengan gajah meningkat.
“Memang diharapkan pengertian dari kita, manusia, untuk dapat memahami pentingnya melindungi TNTN demi eksistensi habitat satwa perintis ini. Jika bukan kita, siapa lagi yang bisa melindungi mereka?” kata Tony.
****