- ReShark adalah program pengembalian hiu ke alam liar pertama di dunia, yang bertujuan memulihkan hiu macan tutul Indo-Pasifik ke terumbu karang tempat mereka menghilang, dimulai di Raja Ampat, Indonesia.
- Inisiatif ini memanfaatkan telur berlebih dari akuarium, mengangkutnya menyeberangi lautan dan membesarkannya di tempat penetasan yang dikelola secara lokal sebelum melepaskannya ke alam liar.
- Komunitas konservasionis Indonesia yang terus berkembang—termasuk “pengasuh hiu” yang terlatih, mahasiswa, dan penduduk desa—merupakan inti dari keberhasilan dan keberlanjutan proyek ini.
- Dengan kolaborasi global dan ketelitian ilmiah, ReShark bertujuan untuk menghasilkan model untuk membalikkan kepunahan—yang didasarkan pada genetika, pengelolaan lokal, dan keterlibatan publik.
Di perairan dangkal Raja Ampat, Indonesia, sebuah eksperimen konservasi yang berani sedang berlangsung—sebuah eksperimen yang memadukan biologi laut, pengelolaan lokal, dan kolaborasi internasional dalam upaya menyelamatkan spesies dari ambang kepunahan.
Eksperimen ini disebut ReShark , yang merupakan upaya pertama di dunia untuk mengembalikan hiu terancam punah ke habitat alam liarnya kembali.
Bekerja sama dengan IUCN Shark Specialist Group, Conservation International, Association of Zoos and Aquariums, dan 105 lembaga mitra di 20 negara, inisiatif yang dipimpin oleh Re:wild bertujuan untuk memulihkan populasi hiu macan tutul Indo-Pasifik— atau yang juga dikenal sebagai hiu zebra (Stegostoma tigrinum )—ke terumbu karang tempat spesies tersebut hampir punah.

“Ini adalah sesuatu yang telah dilakukan selama beberapa dekade di habitat darat—seperti menghubungkan habitat burung kondor di California atau serigala di Yellowstone,” kata Mark Erdmann, Direktur Eksekutif ReShark dan Direktur Konservasi Hiu di Re:wild , mantan Wakil Presiden program kelautan Asia-Pasifik di Conservation International, dan salah satu arsitek proyek ini.
“Namun di laut, terutama dengan hiu, ini adalah yang pertama.”
Erin Meyer, wakil ketua Komite Pengarah StAR dan anggota pendiri ReShark, mengatakan gagasan itu awalnya tidak masuk akal bagi sebagian orang: yaitu mengembangbiakkan hiu di penangkaran, mengangkut telurnya, mengirimkannya ke luar negeri, membesarkannya di tempat pembibitan yang dibangun khusus, dan akhirnya melepaskannya ke alam liar.
“Berkat semangat dan dedikasi tim, kami berhasil melakukan pelepasan hiu pertama dalam waktu kurang dari tiga tahun,” ujarnya.

Dari Kemunduran Menuju Kemungkinan
Hiu macan tutul, yang merupakan spesies asli perairan Indo-Pasifik dari Laut Merah hingga Kepulauan Marshall, dulunya berkembang pesat di ekosistem terumbu karang dangkal. Namun, permintaan akan ekor panjang mereka yang khas dalam perdagangan sirip hiu telah menghancurkan populasi mereka di sebagian besar wilayah jelajahnya.
Ketika Kabupaten Raja Ampat di Provinsi Papua Barat Daya mendeklarasikan diri sebagai suaka hiu dan pari pada tahun 2012, spesies ini dinyatakan telah punah dari terumbu karang setempat.
Meyer membantu memimpin pengembangan kerangka kerja awal ReShark —mulai dari desain pembibitan dan perizinan hingga prosedur operasi standar. Ia juga memimpin rapat awal ReShark pertama yang menetapkan arah strategis dan tata kelola untuk pertumbuhan inisiatif di masa mendatang.
Gagasan ini lalu digodok. Di wilayah terumbu karang The Great Barrier Reef bagian selatan yang ada di Australia timur, ratusan hiu macan tutul masih dapat ditemukan.
Hasil penelitian genetik kemudian mengonfirmasi apa yang disebut Erdmann sebagai “asimetri konservasi”: hiu Raja Ampat merupakan bagian dari populasi genetik Indo-Pasifik timur yang sama dengan hiu di Australia dan Kaledonia Baru—sehingga reintroduksi layak secara ilmiah.

Sebagian besar pengetahuan para ilmuwan tentang spesies ini di alam liar berasal dari penelitian di Australia yang dipimpin oleh Christine Dudgeon, kepala Kelompok Spesialis Hiu IUCN untuk Oseania dan pemimpin kelompok kerja penelitian StAR.
Ia mencatat bahwa meskipun hiu macan tutul terkadang tertangkap sebagai tangkapan sampingan (by catch) di Australia, mereka umumnya dilepaskan dan mendapatkan manfaat dari peraturan seperti pelepasan wajib hiu dengan panjang di atas 1,5 meter di Queensland.
Kemampuan mereka untuk bernapas saat diam juga membuat mereka lebih tahan terhadap penangkapan dibandingkan spesies lain.
Kontrasnya dengan Indonesia, kata Dudgeon, sangat mencolok. Tekanan penangkapan ikan yang intens, degradasi habitat, dan populasi manusia yang jauh lebih padat telah berkontribusi pada kepunahan spesies ini secara lokal.

Bermula dari Akuarium
Namun, terobosan sesungguhnya datang dari sumber yang tak terduga: akuarium umum. Penangkaran hiu macan tutul begitu marak sehingga beberapa fasilitas memisahkan jantan dan betina untuk menghindari kelebihan populasi.
“Ada kelebihan telur,” kata Erdmann. “Sementara itu, lautan kami hampir kosong. Saat itulah ide itu muncul.”
Percikan awal proyek ini, –kenang Dudgeon, muncul dari percakapannya dengan Erdmann tentang hasil pengamatan penyelamannya yang mengungkapkan keselarasan yang mengejutkan: meskipun akuarium memiliki kelebihan telur, di alam liar tidak ada.

Potensi untuk kembali ke alam liar menggunakan kelebihan anakan hiu yang dibiakkan di akuarium menjadi jelas. Percakapan tersebut lalu berkembang menjadi apa yang sekarang dikenal sebagai Proyek StAR, sebuah kolaborasi global yang didukung oleh akuarium dan ilmuwan dari seluruh dunia.
Berbeda dengan kebanyakan hiu yang melahirkan anak, hiu macan tutul bertelur seukuran telapak tangan manusia—sebuah keunikan biologis penting yang memungkinkan transportasi lintas samudra.
Bekerja sama dengan 12 akuarium, tim mengembangkan protokol pengiriman yang menjaga telur tetap hidup hingga 40 jam, sehingga memungkinkan telur-telur tersebut dipindahkan dari tangki-tangki di AS ke tempat penetasan di Raja Ampat.

Di sana, dua fasilitas yang dibangun khusus—dioperasikan melalui kemitraan dengan resor ekologi lokal— digunakan untuk membesarkan embrio. Setelah menetas, anak-anak hiu dibesarkan dengan konsumsi siput dan kerang tangkapan liar, bukan pakan akuarium, yang tujuannya untuk mempersiapkan mereka lebih baik saat dilepaskan di kawasan terumbu karang.
Saat telah berukuran sekitar 50 sentimeter, hiu muda itu lalu dipindahkan ke kandang laut untuk fase “penggemukan”, yang akhirnya mencapai panjang lebih dari satu meter sebelum dilepaskan.
Hingga Agustus 2025, proyek ini telah mengirimkan 132 telur, menetaskan 99 anak hiu, dan melepaskan 43 ekor. Targetnya adalah melepaskan 50 hingga 75 ekor hiu per tahun—sebuah langkah ambisius yang menurut pemodelan IUCN, akan dapat memulihkan populasi yang layak dalam satu dekade. Pemulihan alami, di sisi lain, bisa memakan waktu 200 tahun, jika memang terjadi.

Akarnya pada Komunitas
Keterlibatan masyarakat lokal menjadi inti dari desain proyek ini. Dua belas “pengasuh hiu” Indonesia telah dilatih untuk mengelola tempat penetasan, beberapa di antaranya kini sedang menempuh pendidikan tinggi.
Anak-anak dari desa-desa sekitar membantu mengumpulkan makanan dan berpartisipasi dalam upacara pemberian makan dan pelepasan, menanamkan nilai-nilai konservasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami sedang membina generasi pecinta hiu berikutnya,” kata Erdmann.
Bagi Nesha Ichida, manajer program Indonesia dan wakil ketua Komite Pengarah StAR , inisiatif ini telah menjadi lebih dari sekadar program konservasi—melainkan batu loncatan bagi para profesional muda.

“Sekarang kami punya empat bagian: pemburu siput, pekerja magang, pengasuh hiu, dan mahasiswa pascasarjana,” ujarnya. “Ini momen yang solid dan saya akan selalu bangga menjadi bagian darinya.”
Ichida juga melihat pergeseran budaya yang sedang terjadi. “Kami beruntung jika pelepasan jenis pertama kami sangat mudah dicintai [oleh komunitas lokal] dan sangat imut,” ujarnya.
Ia mengenang momen-momen ketika seorang mantan nelayan hiu pun menunjukkan rasa hormat yang tak terduga. Salah satunya, saat si nelayan melepaskan seekor anak hiu dengan tangannya sendiri untuk menyelamatkan anakan hiu dari jaring—yang kemudian dikonfirmasi telah menempuh jarak 23 kilometer dari tempat penangkaran hiu.


Memikirkan Kembali Peran Akuarium
Di sisi lain, Program ReShark telah berperan membalik paradigma umum yang mampu mengkatalisasikan peran kebun binatang dan akuarium dalam konservasi. Meskipun seringkali kontroversial, lembaga-lembaga ini muncul sebagai mitra strategis.
“Ini membantu akuarium beralih dari sekedar hiburan menjadi pemulihan spesies aktif,” kata Erdmann.
Close-up kepala hiu macan tutul, menonjolkan gigi dan rahangnya yang khusus untuk menghancurkan moluska dan krustasea. Foto milik Alex Kydd .
Meyer pun menyebut pihak akuarium memiliki kemampuan unik mereka, yaitu: keahlian dalam pembiakan, perawatan hewan, sistem pendukung kehidupan, dan desain habitat.
“Pekerjaan Proyek StAR dan ReShark tidak akan mungkin terlaksana tanpa dedikasi, pengalaman, keahlian, koleksi, sumber daya, dan fasilitas yang ditawarkan oleh mitra akuarium,” ujarnya.
Sebagai bentuk penghormatan atas keterlibatan publik, banyak anak hiu diberi nama mengikuti nama donatur yang “mengadopsi” mereka. Para donatur ini berpatisipasi hingga USD10.000, sebuah angka untuk membesarkan hingga melepaskan seekor hiu macan tutul ke laut.
Hiu-hiu lainnya, diberi nama untuk menghormati pejabat pemerintah atau staf bandara yang membantu mengelola logistik proyek yang rumit.


Setelah dilepasliarkan, pelacakan hiu ternyata jadi tantangan tersendiri. Pemberian label satelit tradisional terlalu besar untuk hiu muda, alternatifnya model miniatur baru yang dikembangkan oleh Wildlife Computers kini sedang diuji coba.
Data awal menunjukkan bahwa anak-anak hiu tersebut bertahan hidup dan beradaptasi dengan baik, data yang lebih detail diharapkan akan diterima para peneliti setelah label tersebut dikirimkan pada akhir Juli.
Program ini juga membuka jalan baru dalam ilmu reproduksi. Bekerja sama dengan para peneliti di Australia dan Hong Kong, tim saat ini mulai mengumpulkan sperma hiu macan tutul jantan liar untuk melakukan inseminasi buatan pada hiu betina di akuarium.
Para peneliti menyebut hal ini merupakan pendekatan non-invasif untuk meningkatkan keragaman genetik—tanpa harus memindahkan hewan dari alam liar.
“Kami telah membuktikan model ini berhasil,” kata Erdmann. “Dan sekarang kami sedang mengembangkannya.”
Menindaklanjuti keberhasilan di Raja Ampat, pelepasliaran hiu macan tutul kedua kini sedang diinisiasi di Phuket, Thailand, dengan menambahkan spesies lainnya, seperti ikan gitar mulut busur (Rhina ancylostoma), makhluk mirip pari dengan penampilan prasejarah yang terancam punah
Tidak seperti hiu macan tutul, ikan mulut busur melahirkan anak, sehingga membutuhkan biaya transportasi yang cukup besar untuk anak-anaknya.

Harapan, Bukan Hype
Meski telah menemukan keberhasilan, Erdmann menyebut program rewilding harus diletakkan dalam kerangka konservasi yang lebih luas.
“Jangan mulai dengan reintroduksi,” katanya. “Bangun fondasinya dulu, kalau tidak, semua upaya ini bisa hancur.”
Ia menekankan, kawasan perlindungan laut yang efektif dan pengelolaan perikanan yang baik merupakan pendahulu yang penting.
Dalam menghadapi percepatan hilangnya keanekaragaman hayati, ReShark yakin dapat menawarkan sesuatu hal yang langka: cetak biru berbasis komunitas sekaligus berbasis ilmiah yang harapannya dapat membatalkan kepunahan di saat yang bersamaan.
“Di tengah dunia yang dipenuhi dengan isu-isu konservasi yang menyedihkan, proyek ini menghadirkan optimisme dan harapan yang tepat bagi banyak orang dan mengingatkan mereka bahwa terkadang, alam juga membutuhkan manusia,” ujar Ichida.
Meyer pun setuju jika ReShark tidak hanya akan menyelamatkan lebih dari 400 spesies hiu dan pari yang terancam punah di dunia, tetapi sebuah langkah untuk dapat mengubah narasinya.
“Jika kita dapat beralih dari rasa takut menjadi empati terhadap hiu,” ujarnya, “mungkin kita dapat mengubah lintasan sejarah ratusan spesies.”
Tulisan ini pertama kali diterbitkan di sini. Artikel ini diterjemahkan oleh Ridzki R Sigit.
*****
Foto utama: Close-up kepala hiu macan tutul, menonjolkan gigi dan rahangnya yang khusus untuk menghancurkan moluska dan krustasea. Foto milik Alex Kydd .
Penemuan Langka: Hiu Oranye dengan Mata Putih, Fenomena Pertama di Dunia