- Melalui kolaborasi lintas negara, sekelompok ilmuwan berhasil mengidentifikasi lima spesies baru cacing gelang nematoda dari genus Caenorhabditis dari Indonesia.
- Kelima spesies cacing tersebut diberi nama latin yang unik, masing-masing memiliki cerita di baliknya, misalkan jenis Caenorhabditis brawijaya, nama ini didedikasikan untuk Universitas Brawijaya, almamater para peneliti Indonesia yang terlibat.
- Penemuan ini tidak hanya memperkaya khazanah biodiversitas cacing nematoda di Indonesia, tetapi juga membuka peluang besar untuk penelitian lanjutan di bidang evolusi, genetika, dan aplikasi bioteknologi microorganism.
- Pemanfaatan cacing nematoda adalah salah satu komponen terpenting dari biodiversitas di ekosistem tanah. Cacing ini telah dipakai sebagai agen pengendalian hayati gulma. Cacing nematoda secara umum memainkan peran vital dalam ekosistem dan lingkungan. Mereka adalah dekomposer yang efisien, membantu mengurai materi tumbuhan yang membusuk dan mengembalikan nutrisi ke dalam tanah.
Penemuan terbaru mikroskopis dari Indonesia menyita perhatian dunia sains. Melalui kolaborasi lintas negara, sekelompok ilmuwan berhasil mengidentifikasi lima spesies baru cacing gelang nematoda dari Genus Caenorhabditis.
Temuan penting ini dipublikasikan pada Agustus 2025 di jurnal bergengsi G3: Genes, Genomes, Genetics, yang diterbitkan Oxford University Press. Ini menandai kontribusi signifikan Indonesia dalam penelitian biodiversitas mikroskopis global.
Tim riset yang terdiri dari para ahli dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur; Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) Prancis; Academia Sinica Taiwan, dan New York University; melakukan survei intensif di Jawa, Bali, Lombok, dan Sulawesi.
Temuan lima spesies baru ini menjadi pengingat bahwa kekayaan alam Indonesia masih menyimpan banyak misteri yang menunggu untuk dieksplorasi, sekaligus juga menunjukkan peran penting para ilmuwan Indonesia dalam memperkaya dunia sains global.

Para peneliti mengumpulkan ratusan sampel dari materi organik yang membusuk, seperti bunga dan buah dari habitat alami hutan, kebun, dan kawasan pegunungan. Dari ratusan sampel yang dikumpulkan, tim peneliti berhasil mengisolasi lebih dari 60 strain Caenorhabditis yang berasal dari 10 spesies berbeda; lima di antaranya adalah spesies yang benar-benar baru bagi sains.
Kelima spesies tersebut diberi nama latin unik, masing-masing memiliki cerita di baliknya. Pertama, adalah temuan Caenorhabditis indonesiana, yang diberi nama Indonesia untuk menghormati negara tempat penemuannya. Cacing ini ditemukan di bunga pisang yang membusuk di dekat Batu, Jawa Timur, dan juga di beberapa lokasi lain di Lombok dan Sulawesi Selatan.
Kedua, adalah Caenorhabditis malinoi, nama ini diambil dari Desa Malino di Sulawesi Selatan, salah satu lokasi tempat sampel diambil. Ketiga, adalah Caenorhabditis ceno, nama ini berasal dari Bahasa Latin “ceno“, yang berarti lumpur atau tanah, merujuk pada habitatnya.
Keempat, adalah Caenorhabditis brawijaya, yang didedikasikan untuk Universitas Brawijaya, almamater para peneliti Indonesia yang terlibat. Cacing ini ditemukan di batang semu pohon pisang membusuk. Kelima, adalah Caenorhabditis ubi, yakni singkatan dari Universitas Brawijaya (UB), yang spesies ini ditemukan di bunga Brugmansia membusuk.

Penelitian ini juga mengungkapkan temuan genetik tidak biasa. Ketika peneliti menyilangkan spesies-spesies yang berkerabat dekat, mereka menemukan fenomena yang menjadi “contoh tandingan” bagi aturan Haldane (Haldene’s rule).
Ini sebuah prinsip dalam genetika, yang menyatakan bahwa pada hibrida antarspesies, jika salah satu jenis kelamin steril, maka itu adalah jenis kelamin heterogametik (pada mamalia dan serangga, ini adalah jantan). Namun, para peneliti menemukan beberapa pasangan spesies yang persilangannya hanya menghasilkan hibrida jantan steril.

Selain itu, para peneliti juga menemukan satu pasangan spesies yang dapat saling kawin silang secara parsial, yaitu Caenorhabditis ubi (dari Jawa Timur) dengan Caenorhabditis. sp. 41 dari negara Kepulauan Solomon, yaitu hibrida jantan dari hasil persilangan satu arah menunjukkan kesuburan. Pasangan spesies yang berkerabat dekat ini sangat berharga sebagai model penelitian untuk mempelajari ketidakcocokan genetik yang muncul selama proses spesiasi.
“Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang biogeografi dan diversifikasi genus Caenorhabditis, menunjukkan bahwa penyebarannya terjadi di wilayah Asia-Pasifik,” tulis Mia Prastika Devi dan kolega dalam jurnal.

Manfaat cacing bagi ekosistem
Penelitian ini dipimpin Marie-Anne Felix, peneliti senior dari ENS, CNRS Prancis dan Hagus Tarno, Guru Besar di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya global untuk memahami evolusi dan keanekaragaman hayati mikroorganisme, khususnya nematoda yang memiliki peran penting dalam ekologi tanah dan penelitian biologi molekuler.
“Penemuan ini tidak hanya memperkaya khazanah biodiversitas nematoda di Indonesia, tetapi juga membuka peluang besar untuk penelitian lanjutan di bidang evolusi, genetika, dan aplikasi bioteknologi mikroorganisme,” tulis otoritas dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.
Cacing nematoda secara umum memainkan peran vital dalam ekosistem dan lingkungan. Mereka adalah dekomposer yang efisien, membantu mengurai materi tumbuhan yang membusuk dan mengembalikan nutrisi ke dalam tanah. Keberadaan mereka sangat penting untuk kesuburan tanah dan kesehatan ekosistem secara keseluruhan. Cacing-cacing ini juga dapat berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dengan menumpang pada hewan invertebrata yang lebih besar, membantu penyebaran nutrisi dan kehidupan mikroskopis di berbagai area.

Sebuah penelitian mengenai pemanfaatan Nematoda menjelaskan bahwa cacing jenis ini adalah salah satu komponen terpenting dari biodiversitas di ekosistem tanah. Signifikansi ekonomis nematoda parasit tumbuhan mulai disadari sejak 1940-an. Sejak itu, banyak temuan yang dihasilkan dapat memperkecil dampak ekonomi nematoda terhadap produksi pangan dan sandang. Nematoda parasit tumbuhan telah pula dipakai sebagai agen pengendalian hayati gulma.
Selain itu, pada awal abad ke-20 telah ditemukan spesies nematoda yang dapat dimanfaatkan sebagai agen pengendalian hayati serangga hama. Setelah sempat dorman akibat tampak potensialnya pengendalian kimiawi, mulai 1980-an penelitian mengenai nematoda entomopatogen kembali hidup.
“Sejak saat itu, pencarian spesies baru nematoda yang dapat mengendalikan hama secara efektif kembali digalakkan,” tulis Abdul Gafur dalam penelitian tersebut.
Referensi:
Devi, M. P., Haryoso, E., Rais, E. I., Karuniawan, A., Yahya, M. Q., Richaud, A., Wang, J., Rockman, M. V., Tarno, H., & Félix, M.-A. (2025). Five new Caenorhabditis species from Indonesia provide exceptions to Haldane’s rule and partial fertility of interspecific hybrids. G3: Genes | Genomes | Genetics, 15(8), jkaf134. https://doi.org/10.1093/g3journal/jkaf134
Gafur, A. (2008). Pemanfaatan Nematoda Tanah Gambut Tropis Bagi Pengembangan Biologi dan Pendidikan Biologi di Indonesia. Bioscientiae, 5(1), 45-54. https://ppjp.ulm.ac.id/journals/index.php/bioscientiae/article/viewFile/3591/2707
*****