- Gurita punya sekitar 500 juta neuron dan mampu memecahkan teka-teki, membuka toples, hingga menggunakan benda sebagai alat sederhana. Dibanding lumba-lumba atau simpanse, kecerdasan mereka lebih fokus pada improvisasi individu, bukan kerja sama sosial.
- Hidup soliter, usia pendek, tubuh lunak, dan lingkungan laut membuat gurita tidak bisa membangun budaya atau teknologi. Pengetahuan mereka tidak diwariskan lintas generasi, berbeda dengan manusia dan primata sosial.
- Meski cerdas, umur panjang saja tak cukup membuat gurita menciptakan peradaban seperti manusia. Justru mereka mengingatkan kita bahwa kecerdasan bisa hadir tanpa teknologi, sementara manusia harus bijak menggunakannya agar tidak merusak planet.
Gurita punya sekitar 500 juta neuron dan mampu memecahkan teka-teki, membuka toples, hingga menggunakan benda sebagai alat sederhana. Dibanding lumba-lumba atau simpanse, kecerdasan mereka lebih fokus pada improvisasi individu, bukan kerja sama sosial. Hidup soliter, usia pendek, tubuh lunak, dan lingkungan laut membuat gurita tidak bisa membangun budaya atau teknologi. Pengetahuan mereka tidak diwariskan lintas generasi, berbeda dengan manusia dan primata sosial.
Meski cerdas, umur panjang saja tak cukup membuat gurita menciptakan peradaban seperti manusia. Justru mereka mengingatkan kita bahwa kecerdasan bisa hadir tanpa teknologi, sementara manusia harus bijak menggunakannya agar tidak merusak planet.
Kisah Inky si Gurita Kabur
Pada 2016, publik dibuat heboh oleh seekor gurita bernama Inky di National Aquarium of New Zealand. Hewan ini berhasil melarikan diri melalui pipa pembuangan yang panjangnya sekitar 50 meter, hanya untuk kembali ke laut lepas. Video dan laporan media menunjukkan bahwa Inky membuka penutup akuarium, merayap di lantai saat malam hari, lalu menyusuri pipa hingga mencapai Samudra Pasifik. Kisah ini menjadi berita internasional dan memicu perdebatan: apakah pelarian itu hanya kebetulan, atau bukti kecerdasan luar biasa seekor gurita?

Bagi banyak peneliti, tindakan Inky tidak sekadar insting. Gurita itu harus memahami situasi sekitarnya, mengenali peluang melalui celah kecil di akuarium, lalu “merencanakan” langkah kaburnya hingga menuju laut. Aksi ini mirip dengan apa yang disebut ilmuwan sebagai problem-solving, kemampuan memecahkan masalah baru dengan strategi yang tidak sepenuhnya bergantung pada naluri. Kasus Inky pun menambah daftar panjang cerita gurita lain yang mampu membuka toples, mematikan lampu, hingga menyabotase peralatan di akuarium.
Fenomena semacam ini penting karena memberi gambaran nyata kepada publik tentang kemampuan kognitif gurita. Tidak heran, para ilmuwan semakin serius meneliti kecerdasan hewan invertebrata ini melalui eksperimen terkontrol. Kisah Inky hanyalah “pintu masuk” menuju pertanyaan yang lebih besar: seberapa jauh sebenarnya gurita bisa berpikir, belajar, dan beradaptasi? Pertanyaan inilah yang kemudian dijawab lewat berbagai studi ilmiah.
Bukti Ilmiah Kecerdasan Gurita
Kemampuan gurita dalam memecahkan masalah sudah lama menjadi perhatian ilmuwan. Studi di PLOS ONE mengungkap bahwa gurita dapat belajar menyelesaikan puzzle berjenjang dan mengingat solusinya. Mereka bisa membuka toples dengan teknik tertentu, meniru perilaku gurita lain, bahkan menggunakan batok kelapa sebagai “rumah portabel” untuk perlindungan diri. Semua ini memperlihatkan bahwa gurita memiliki kreativitas dan fleksibilitas perilaku yang jarang ditemukan pada hewan tanpa tulang belakang.
Namun, di tengah bukti kemampuan berpikir tingkat tinggi ini, ada satu pertanyaan yang sering muncul: mengapa gurita tidak pernah menciptakan teknologi? Tidak ada catatan gurita membangun alat, membuat struktur permanen, atau mengembangkan peralatan seperti yang dilakukan manusia atau bahkan beberapa primata. Pertanyaan ini membawa kita pada diskusi lebih dalam tentang keterbatasan sosial, biologis, dan lingkungan yang membentuk jalur evolusi gurita.
Seberapa Cerdas Gurita Dibandingkan Hewan Lain?
Banyak orang menganggap kecerdasan tinggi hanya dimiliki mamalia seperti lumba-lumba atau simpanse. Lumba-lumba misalnya, memiliki sekitar 3,5 miliar neuron di korteks serebralnya, sementara simpanse memiliki sekitar 6,2 miliar. Angka ini memang jauh lebih besar dibanding gurita yang “hanya” memiliki sekitar 500 juta neuron. Namun, gurita memiliki distribusi unik: sekitar dua pertiga neuron mereka berada di delapan lengannya, memungkinkan tiap lengan memproses informasi secara semi-independen—seolah punya “otak kecil” sendiri.
Dalam uji kognitif, gurita mampu memecahkan teka-teki dengan tingkat kesulitan setara dengan tes untuk burung gagak atau bahkan primata tingkat menengah. Dr. Jennifer Mather, pakar perilaku gurita dari University of Lethbridge, menjelaskan bahwa hewan ini mampu mengingat lokasi objek, memahami konsep sederhana, hingga belajar melalui asosiasi. Kemampuan tersebut membuat gurita setara dengan burung pintar seperti gagak atau beberapa spesies primata kecil.

Mather juga pernah menceritakan pengalaman langsung yang menunjukkan perilaku “unik” gurita di laboratorium. “Gurita memperlihatkan perilaku yang canggih (bahkan ada yang menyebutnya nakal) di laboratorium. Suatu hari, saat hendak memberi makan gurita-gurita percobaannya … hewan itu sudah menunggu … lalu menembakkan potongan cumi busuk dari lengannya … sambil terus menatap (atau mungkin melotot?) ke arah Boal, yang akhirnya paham maksudnya,” ungkapnya.
Ia menafsirkan perilaku ini sebagai bentuk ekspresi simbolis—seolah gurita ingin “mengirim pesan” ketidakpuasan. Kisah ini memperlihatkan bahwa gurita tidak hanya memecahkan masalah praktis, tetapi juga menunjukkan perilaku simbolis dan ekspresif yang jarang ditemukan pada hewan lain.
Kecerdasan Bukan Satu-Satunya Syarat
Selain kecerdasan, ada faktor lain yang membuat manusia bisa menciptakan teknologi: budaya kumulatif. Pengetahuan yang diwariskan, diperbaiki, dan dikembangkan lintas generasi hanya mungkin muncul jika ada interaksi sosial yang kuat. Menurut Dr. Alex Schnell dari University of Cambridge, “teknologi tidak hanya membutuhkan otak besar, tetapi juga jaringan sosial yang mendorong inovasi.” Sebaliknya, gurita hidup soliter hampir sepanjang hidupnya, sehingga tidak ada ruang bagi proses pewarisan budaya yang konsisten.

Eksperimen juga membuktikan keterbatasan ini. Dalam studi klasik, Octopus vulgaris diperlihatkan cara membuka wadah makanan oleh gurita lain. Hasilnya memang ada yang berhasil meniru, tetapi tidak konsisten dan sulit direplikasi. Hal ini berbeda jauh dengan simpanse atau burung gagak, yang bisa menyalin teknik baru secara stabil dan mewariskannya ke kelompok lain.
Penelitian modern menguatkan temuan ini. Studi pada Octopus bimaculoides yang diterbitkan di Current Biology (2018) menunjukkan bahwa dorongan sosial gurita sangat rendah; mereka lebih memilih berinteraksi dengan objek ketimbang gurita lain. Tanpa rasa ingin tahu sosial dan proses belajar lintas individu, sulit membayangkan munculnya pengetahuan kolektif yang berkelanjutan.
Waktu yang Terlalu Singkat
Selain faktor sosial, ada hambatan biologis lain: usia hidup gurita yang sangat pendek. Sebagian besar spesies hanya hidup 1–2 tahun, dengan beberapa pengecualian seperti Graneledone boreopacifica yang bisa mencapai 5 tahun. Usia singkat ini membuat mustahil membangun dan mewariskan teknologi lintas generasi.
Setelah berkembang biak, gurita betina biasanya mati tak lama kemudian, sementara jantan mati lebih cepat. Siklus hidup ini memutus kemungkinan transfer pengetahuan ke generasi berikutnya. Bandingkan dengan manusia, yang memiliki masa kanak-kanak panjang untuk belajar mendalam sebelum mandiri.
Kondisi ini menjelaskan mengapa adaptasi gurita lebih terfokus pada kelangsungan hidup instan—kamuflase, tinta, dan kelenturan tubuh—bukan investasi jangka panjang seperti teknologi.
Baca juga: Gurita: Kandidat Kuat Penerus Dominasi Manusia di Bumi?
Terbatasnya Lingkungan dan Fisik
Selain itu, meskipun gurita menunjukkan kemampuan menggunakan alat sederhana, hidup mereka di bawah air membuat mereka tidak mungkin mengakses api. Tanpa api, mereka tidak bisa mencapai suhu yang dibutuhkan untuk peleburan logam atau pemrosesan material lainnya, sehingga teknologi apa pun yang mungkin berkembang dari gurita hanya sebatas era pra-industri.
Tubuh gurita yang lunak juga menjadi faktor pembatas. Mereka memang memiliki lengan dengan kemampuan motorik halus yang luar biasa, tetapi tidak memiliki tulang atau kerangka keras yang memungkinkan mereka membangun atau mengangkat benda berat. Sementara beberapa spesies diketahui menggunakan batok kelapa atau cangkang sebagai perlindungan, penggunaan ini masih bersifat individual dan oportunistik, bukan hasil produksi massal atau inovasi berkelanjutan.
Di sisi lain, lingkungan laut cenderung mengikis atau menghancurkan benda-benda buatan dengan cepat. Kayu membusuk, logam berkarat, dan struktur batu tererosi oleh arus dan organisme laut. Artinya, meskipun gurita mencoba membuat sesuatu, kemungkinan besar hasilnya tidak akan bertahan lama untuk digunakan generasi berikutnya.
Evolusi yang Berbeda Arah
Evolusi tidak bekerja menuju satu tujuan tunggal. Bagi gurita, kecerdasan berkembang sebagai alat bertahan hidup, untuk menyamarkan diri, menghindari predator, dan menemukan makanan—bukan untuk membangun peradaban. Menurut Dr. Jennifer Mather, “Gurita adalah contoh bagaimana otak besar bisa berevolusi tanpa menghasilkan masyarakat atau teknologi.”
Strategi ini terbukti berhasil. Fosil menunjukkan nenek moyang gurita sudah ada sekitar 300 juta tahun lalu, jauh sebelum mamalia modern. Selama itu, mereka bertahan melewati berbagai perubahan iklim dan kepunahan massal tanpa mengubah gaya hidup secara drastis.
Dengan kata lain, gurita adalah bukti bahwa kecerdasan bisa berkembang tanpa menghasilkan penemuan teknis yang rumit. Mereka sudah “sempurna” untuk lingkungan mereka.
Apa Jadinya Jika Gurita Hidup Sepanjang Usia Manusia?
Pertanyaan yang sering muncul di kalangan peneliti dan pecinta hewan adalah: bagaimana jika gurita memiliki umur sepanjang manusia? Beberapa ilmuwan, termasuk filsuf sains Peter Godfrey-Smith, menekankan bahwa meski gurita cerdas, kecerdasan mereka tidak diarahkan pada pembangunan teknologi atau masyarakat, melainkan pada kelangsungan hidup individu setiap saat. Dalam karya terkenalnya Other Minds, dia menjelaskan bahwa struktur saraf dan cara hidup gurita sangat berbeda dari vertebrata, bahkan jika gurita berumur panjang, mereka tetap soliter, sehingga peluang munculnya budaya kumulatif seperti manusia sangat rendah.

Jika dibandingkan langsung dengan manusia, gurita jelas belum berada di level yang sama dalam hal seperti bahasa abstrak, logika simbolik, maupun organisasi sosial yang kompleks. Kecerdasan mereka lebih dominan di ranah sensorimotorik dan pemecahan masalah langsung, bahkan dalam eksperimen pembelajaran, tindakannya lebih mirip trial-and-error kreatif untuk menyesuaikan diri, bukan bernalar atau berpikir konseptual. Studi terbaru pada Octopus bimaculoides misalnya mendemonstrasikan kemampuan navigasi spasial dan pembalikan diskriminasi (spatial reversal learning), tapi tetap dalam kondisi yang praktis, bukan simbolik atau teoretis.
Jadi, meskipun memperpanjang umur gurita mungkin akan memberi mereka waktu lebih untuk belajar, hal itu saja belum cukup membentuk kultur atau peradaban, yang membutuhkan komunikasi kompleks, bahasa simbolik, dan struktur sosial yang saling mendukung. Gurita tidak memiliki fondasi sosial dan konseptual seperti itu. Ini yang membedakan mereka secara fundamental: mereka cerdas dalam bertahan hidup, tetapi bukan dalam membangun masyarakat teknologi berbasis pengetahuan bersama seperti manusia.