- Dusun Muara Kate, merupakan penghasil padi lokal di Kecamatan Muara Komam, Paser, Kalimantan Timur. Hampir tiap rumah warga itu punya pasokan gabah kering padi lokal untuk konsumsi mereka. Dusun ini punya padi lokal dengan berbagai varietas.
- Buliran-buliran gabah padi ladang dan masyarakat Muara Kate bukan tanpa persoalan. Pada 2025 ini, panen padi mereka mengalami penurunan dari 2024. Perubahan iklim dan berkurangnya tingkat kesuburan tanah jadi tantangan.
- Rusdiansyah, peneliti dan akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman, Samarinda, punya saran untuk menyiasati ketersedian dan penurunan kesuburan lahan padi ladang.
- Sayangnya, pemerintah daerah minim perhatian terhadap padi gunung atau varietas lokal. Padahal, varietas ini merupakan kelas plasma nutfah eksotik, dengan nilai ekonomi tinggi.
Kursani berhasil menyimpan belasan karung berisi gabah kering hasil panen padi lokal di dalam rumah kayunya, di antara pepohonan rimbun di Dusun Muara Kate, Desa Muara Langon, Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
Sehari menjelang kedatangan Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka ke kampungnya, 14 Juni lalu, dia tak sibuk seperti masyarakat lain, mempersiapkan kunjungan orang nomor dua di Indonesia itu. Dia memilih mengangkat satu per satu karung berisi gabah, lalu menghamparkan hingga terjemur di halaman rumah.
Sebagian besar hidup lelaki 70 tahunan ini nyaris menyusuri hutan, mendaki bukit, berdiam dalam rimba, lalu berladang di sekitar Lembah Gunung Halat. Ini pegunungan di selatan Kalimantan Timur, berbatasan dengan Kalimantan Selatan.
Pada 13 Juni lalu, musim panen padi baru usai. Sebagian orang Muara Kate, termasuk Kursani, sibuk menjemur gabah padi. Pemandangan lumrah kala itu, ketika buliran-buliran gabah terpapar cahaya surya di halaman rumah mereka.
“Itu (gabahnya) untuk dimakan, tidak pernah dijual kita, sayang, cuman kita kadang-kadang ada acara itu dipakai (gabahnya),” katanya.
Dia tanam terutama ketan hitam. Kursani bilang, ketan hitam banyak masyarakat pakai untuk acara adat Dayak Deah, suku sebagian besar bermukim di Muara Kate.
Di rumahnya, gabah padi beragam. Ada sabai atau padi gogo, mayas dan ketan hitam. Ketiga jenis padi itu nyaris tak pernah lewat dari tumpukan karung di rumahnya. Keseluruhan ada 12 karung, masing-masing berisi sekitar 12 kilogram.

Dengan belasan karung gabah itu, Kursani tak pernah membeli beras. Persediaan gabah mampu mencukupi kebutuhan pangan keluarga, istri dan satu anaknya.
Dalam setahun dia hanya perlu 15 karung gabah kering.
Gabah itu Kursani dapat dari lahan kering dan perbukitan, dengan tanam padi ladang.
Dari satu setengah kaleng benih yang dia tabur, dia mendapatkan sekitar tujuh karung gabah kering.
Tak jauh berbeda dengan Kursani, Warta Linus, pria yang berladang di Muara Kate ini juga punya gabah kering padi 14 karung. Hasil itu dia dapatkan dari panen ¾ hektar di Muara Kate. Jenis gabah pun beragam.
Di gubuk ladang Warta masih tersimpan gabah padi merah, ketan dan geragai. Padi geragai itu, katanya, warna kulit padi putih dengan tangkai besar. Setidaknya, Warta punya 20-an karung gabah.
Selain jenis padi itu, dia pernah memiliki beragam varietas padi lain yang tersimpan di rumah. Antara lain, gabah padi sabai. Sabai itu, katanya, kulit gabah warna merah. Bentuk pendek dan kecil. Ukuran sabai lebih kecil, tetapi isi lebih padat dari mayas.
Untuk padi ketan pun, katanya, jenis bermacam-macam, seperti, ketan hitam dengan nama lokal Dayak Deah, dite arokng, ada juga ketan merah atau dite apui.
“Juga jenis padi ketan lain yang ditanam warga sesuai selera keluarga,” ujar Warta.
Dari berbagai jenis padi itu, sebuyung jadi favorit. Gabah sebuyung warna kulit berkelir kuning keemasan, aroma harum dan khas seperti daun pandan. Menurut dia, jenis beras pulen hingga masyarakat suka.
“Banyak warga menanam jenis padi ini,” katanya.
Sebagian besar masyarakat sekitar, katanya, memiliki persediaan gabah kering. Kondisi itu, lumrah dan sudah turun temurun.
Dengan cara itu, katanya, masyarakat tak pernah membeli beras untuk konsumsi dalam setahun atau lebih.
“Khususnya yang berladang, ada juga yang tidak berladang punya banyak gabah, karena kerja di ladang orang dengan sistem bagi hasil,” katanya, seraya bilang, pantang menjual padi, kecuali dalam kondisi terdesak.

Bersiasat dengan alam
Buliran-buliran gabah padi ladang Kursani, Warta, dan masyarakat Muara Kate yang lain bukan tanpa persoalan. Pada 2025 ini, panen padi mereka mengalami penurunan dari 2024. Perubahan iklim dan berkurangnya tingkat kesuburan tanah jadi tantangan.
“Kalau tahun lalu hampir 20 karung dapatnya,” kata Kursani.
Total panen itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2025 ini, hanya tujuh karung.
Panen padi tahun ini dia dapatkan dari lahan yang sudah pernah tergarap tahun sebelumnya.
Kondisi cuaca, katanya, juga tak menentu membuat tantangan tersendiri dalam menentukan musim tanam. Kadang kemarau, kadang tiba-tiba hujan. Walhasil, musim tanam pun tak menentu dan mundur dari sebelumnya, biasa, Juni, kini November dan Desember.
Warta pun senada. Dia mengatakan, cuaca sudah berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Kini, sudah susah menebak cuaca.
Dia pun tak punya alat khusus untuk memperkirakan cuaca. Akhirnya, masyarakat masih berpedoman dengan tradisi lama dalam melihat cuaca.
“Misalnya, bulan ini [Juni}, kalau ada bunyi di sungai ketika malam, itu musim merintis,” katanya.
“Tetap kita masih berpedoman ke situ, walaupun sering salah juga, beda sudah, beda musim dengan dulu.”
Dia mengatakan, perubahan cuaca juga berdampak pada proses pembakaran lahan yang tak sempurna. Tujuan pembakaran itu, kata Warta, agar kayu-kayu menjadi debu, arang dan pupuk.
Proses pembakaran sempurna dapat membuat tanah subur. “Itu sudah dari nenek kami begitu, kami tidak pernah pakai pupuk kimia.”
Pada 2025 ini, Warta hanya panen padi 14 karung dari luas lahan tiga per empat hektar. Jumlah panen itu mengalami penurunan, lebih dari setengah dari tahun sebelumnya sampai 30 karung gabah kering. Kala itu, dia bisa membuka lahan satu hektar.
“Pengaruh (penurunan) lahannyang sudah kurang, dan tingkat kesuburan menurun juga. Itu lahan yang sudah digunakan sebelumnya” katanya.

Masukan peneliti
Rusdiansyah, peneliti dan akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman, Samarinda, punya saran untuk menyiasati ketersedian dan penurunan kesuburan lahan padi ladang.
Puluhan tahun meneliti padi lahan kering lokal, dia melihat proses membakar itu justru dapat mengurangi tingkat kesuburan tanah, dan hanya menyisakan abu.
“Kondisi itu tidak bisa menyuburkan tanah dalam jangka panjang,” katanya.
Yang ada justru sebaliknya, pembakaran dapat menghilangkan bahan organik penting untuk kesuburan tanah.
Rusdiansyah menjelaskan, panas dari api dapat membunuh mikro organisme yang hidup di dalam tanah. Organisme-organisme itu, katanya, sangat penting untuk menjaga kesehatan tanah dan membantu proses dekomposisi bahan-bahan organik di tanah itu.
Sisi lain, dia menilai, panas pembakaran dapat memecah kulit-kulit biji gulma. Begitu hujan turun, katanya, biji-biji gulma itu berkecambah dan tumbuh menjadi pesaing rakus dan dapat berebut nutrisi dengan tanaman.
“Inilah salah satu alasan mengapa petani harus berpindah-pindah lahan,” katanya.
Ketika tanam tidak bisa dua, atau tiga musim, andaipun bisa kondisi akan berbeda. “Mau menanam harus pindah, karena tanahnya sudah purus atau miskin hara.”
Rusdiansyah menyadari, untuk meninggalkan proses membakar hutan ladang padi kering tidak mudah. Proses pembakaran itu, katanya, sudah menjadi tradisi untuk beberapa beberapa kelompok masyarakat di Kalimantan.
Di samping itu, berdasarkan pengalaman bersama masyarakat, dengan cara membakar itu lahan akan terlihat bersih.
“Kalau mau lahan itu dipakai berulang-ulang, jangan dibakar, puluhan tahun saya meneliti bersama masyarakat. Hasilnya, sudah pernah dicoba dan berhasil.”
Dia sarankan, kalau tidak bisa meninggalkan cara membakar, bisa coba menyisihkan sebagian lahan untuk area tidak bakar. “Nanti bisa dibandingkan hasilnya,” katanya.

Lahan ladang padi lokal menyusut
Badan Pusat Statistik (BPS) Paser mencatatkan luas lahan untuk padi ladang terus mengalami penurunan di Kecamatan Muara Komam, termasuk dari Muara Kate. Pada 2020, lahan padi ladang 590 hektar, turun jadi 380 hektar pada 2021, menyusut jadi 112 hektar pada 2022.
Kalau sawah memang tak ada di kecamatan ini. Dari data Muara Komam dalam angka 2024 dari BPS Paser yang menyatakan, nol produksi padi sawah.
Bicara ketersediaan lahan ladang, para petani pun menghadapi persoalan di Muara Kate. Rusdiansyah tak terkejut ihwal lahan ladang menyusut.
Menurut dia, ada tiga kompetitor penguasaan lahan mengancam padi-padi lokal Kalimantan itu.
Pertama, ekspansi untuk perumahan. “Kan itu tuntutan juga, karena pertambahan penduduk. Cuman ‘kan, rumah ini tumbuh justru di tanah-tanah yang subur tadi itu.”
Dia contohkan, daerah di Samarinda. Lahan-lahan pertanian berkurang, kadang ada yang kena timbun dan keruk, lalu tanah mereka jual untuk membuat perumahan. Hal itu terjadi, katanya, indikasi tingkat ekonomi masyarakat rendah.
“Sehingga kebutuhan besar, sementara kemampuan menghasilkan uang rendah, maka dijual tanahnya.”
Kedua, kompetitor padi ladang adalah perkebunan. Rusdiansyah ada temukan di Kabupaten Penajam Paser Utara. Ada suatu daerah subur dengan tanaman padi berubah menjadi perkebunan sawit. Sawit, mereka nilai lebih menguntungkan.
“Cuman itu area yang subur untuk padi, jadi lahannya diubah menjadi lahan sawit. Padahal ini salah, lahan padi itu semestinya untuk kebutuhan pangan pokok lokalnya, apa dia mau makan sawit saja?
Ketiga, pertambangan yang banyak menyebabkan lahan-lahan pertanian ladang jadi rusak dan tak produktif.
Semua kompetitor lahan padi ladang itu, katanya, terjadi karena pertumbuhan manusia meningkat, sedang lahan tidak bertambah.
“Nah, dalam konteks ini peran pemerintah dibutuhkan untuk melindunginya.”
Sebenarnya, pemerintah sudah membuat aturan untuk melindungi padi ladang dan pangan. Ia tertuang dalam Undang-undang Nomor 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (UULP2B).
“Juga tidak efektif, kenapa tidak efektif, karena ada UU yang memperbolehkannya.”

Padi lokal terabaikan, minim pengakuan negara
Pemerintah daerah pun, kata Rusdiansyah, tak punya perhatian terhadap padi gunung. “Mereka tidak paham, padi gunung itu adalah kelas plasma nutfah yang eksotik, yang nilai ekonomisnya tinggi, yang tidak ada di daerah lain di provinsi ini,” keluhnya.
Plasma nutfah yang Rusdiansyah maksud adalah sumber daya genetik yang mengandung informasi genetik dari suatu organisme atau spesies, baik di tumbuhan, hewan dan mikroorganisme.
Dalam konteks ini, sifat-sifat keturunan dan dasar dari keragaman genetik padi ladang.
Sejak 1980-an meneliti padi ladang, dia memperkirakan ada ratusan jenis padi ladang di Kalimantan Timur. Dari beragam varietas itu, belum semua teridentifikasi dan negara akui.
Dia katakan, Muara Kate, di Paser itu sebagai contoh nyata keberagaman jenis padi ladang.
“Bayangkan saja, dalam satu area memiliki jenis padi yang beragam, apa tidak sebuah kekayaan itu? Dan itu berkaitan dengan proses-proses kebudayaan masyarakat seperti acara adat dan sebagainya.”
Hasil identifikasi yang pernah dia lakukan 2015-2024, ada 197 varietas jenis padi ladang di Kalimantan Timur. Rinciannya, Kabupaten Kutai Timur 27 varietas, Kabupaten Kutai Kartanegara 102, Kabupaten Kutai Barat 42 dan Mahakam Ulu dengan 35 varietas.
Dari ratusan varietas itu pun, belum semua terdaftar sebagai varietas lokal asal Kalimantan Timur.
Pada 2023, ada 12 varietas telah terdaftar sebagai padi lokal Kutai Kartanegara, empat lepas.
“Salah satunya, jenis padi mayas itu, karena Kutai Kartanegara telah mengajukan, jadi mayas dinyatakan asal Kutai Kartanegara, padahal daerah lain juga ada jenis itu,” katanya.
Kutai Barat juga mengajukan lima dan Mahakam Ulu empat varietas padi lokal.
Data identifikasi dan sertifikasi padi jenis lokal itu, katanya, belum ada dari Kabupaten Paser. “Padahal area itu salah satu sentra penghasil padi.”
Berdasarkan data BPS luas panen dan produksi padi Kalimantan Timur 2024, dari 249.643,19 ton gabah kering giling, 52.886,67 ton dari Paser, tertinggi kedua Kutai Kartanegara 106.533,73 ton.
Melihat produksi padi di Paser, Rusdiansyah memperkirakan, ada banyak potensi varietas padi unggulan belum teridentifikasi.
Dia menilai, identifikasi, pendataan dan penetapan varietas padi lokal sangat penting. Langkah itu mencegah punahnya beberapa jenis padi lokal.
“Karena kekayaan lokal kita itu, kearifan lokal kita, jangan sampai hilang.”
Rusdiansyah kagum dengan ragam jenis padi di Muara Kate. Saat orang-orang, sedang gembar-gembor tentang ‘ketahanan pangan’, Muara Kate contoh nyata kedaulatan versi lokal. Setiap rumah ada padi yang bertahan hingga setahun dan menyatu dengan budaya.
“Konsep kedaulatan pangan tradisional yang seperti itu yang bagus, warga mandiri memiliki pangannya.”
*****