Tim penyelamat orangutan dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bertahun-tahun lalu, hampir setiap minggu turun tangan menyelamatkan orangutan dari berbagai ancaman.
Setiap pekan ada saja laporan masuk, seperti, orangutan masuk ke kebun warga, temuan bayi orangutan di kandang kayu sempit, atau orangutan terjebak di lahan terbakar yang dulunya hutan rimba dan lain-lain.
Para petugas penyelamat harus bergerak cepat, berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan mereka dari kelaparan, luka, atau bahkan kematian. Penyelamatan demi penyelamatan menjadi rutinitas yang melelahkan namun mendesak.
Pada 2015 saja, tercatat 44 orangutan berhasil diselamatkan—angka tertinggi dalam sejarah penyelamatan orangutan oleh lembaga konservasi ini.
Tingginya angka penyelamatan pada 2015 bukan tanpa sebab. Tahun itu, Indonesia kena landa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) besar-besaran pada sebagian besar wilayah Kalimantan dan Sumatera.
Ribuan hektar hutan habis terlalap api, termasuk kawasan yang menjadi habitat orangutan. Satwa yang selamat dari kobaran api terpaksa berpindah, masuk ke wilayah manusia, atau terjebak di sisa-sisa hutan yang tak lagi layak huni.
Kondisi darurat itulah yang memaksa tim penyelamat bekerja siang dan malam mengevakuasi individu-individu yang terdampak.
Belum lagi, di masa itu, masih ada warga di Kalimantan Barat, misal, berburu orangutan untuk memenuhi kebutuhan protein mereka. Menyisakan bayi orangutan malang yang dipelihara ilegal dan tidak layak.
Satu dekade berlalu, situasi berubah drastis. Selama lebih 15 tahun terakhir, YIARI menyelamatkan total 266 individu orangutan dari berbagai situasi darurat.
Grafik penyelamatan menunjukkan tren menurun yang sangat signifikan, terutama dalam lima tahun terakhir. Pada 2023, hanya ada tiga kasus penyelamatan. Tahun berikutnya naik sedikit menjadi lima hingga pertengahan 2025, hanya satu upaya evakuasi orangutan.

Dari luar, ini bisa terlihat seperti penurunan aktivitas. Namun dari dalam, inilah bukti sesuatu yang besar telah berubah.
“Dulu hampir tiap minggu kami bergerak menyelamatkan orangutan, sekarang laporan seperti itu makin jarang,” kata Argitoe Ranting, Direktur Operasional Program juga pendiri YIARI yang terlibat dalam penyelamatan orangutan selama lebih 15 tahun.
“Kami senang, karena artinya kondisi lapangan mulai membaik. Berbagai upaya pencegahan yang kami lakukan berhasil menurunkan jumlah orangutan yang perlu diselamatkan.”
Di balik tren positif ini, ada perubahan yang bertahun-tahun dibangun perlahan. YIARI tidak hanya menyelamatkan orangutan yang terancam, juga aktif mencegah ancaman itu terjadi sejak awal.
Melalui program penyadartahuan di sekolah dan desa, patroli rutin, kampanye publik, serta pelibatan aktif masyarakat sekitar hutan, YIARI mendorong perubahan cara pandang dan cara hidup masyarakat dalam berinteraksi dengan satwa liar.
Kalau dulu memelihara bayi orangutan hal lucu atau eksotik, kini warga justru menjadi pelapor pertama saat menemukan satwa liar terlantar.
“Dulu, kami pikir memelihara bayi orangutan itu biasa saja. Setelah banyak sosialisasi, kami sadar itu salah. Sekarang, kalau ada orangutan masuk kebun, warga langsung lapor, bukan ditangkap,” kata Mardiana, warga Desa Sungai Putri, Ketapang.
Riskan, warga Desa Tempurukan mengatakan hal senada, “Sekarang kami tahu, kalau lihat orangutan di kebun, bukan untuk ditangkap atau disakiti. Kami hubungi BKSDA atau YIARI. Kami jaga sampai mereka datang. Dulu, kalau orangutan masuk kebun, langsung kita buru, sekarang kami sudah tahu orangutan bukan hama. Mereka juga butuh tempat hidup.”
Upaya konsisten membentuk norma sosial baru, orangutan adalah satwa liar yang selayaknya berada di hutan, bukan di rumah. Tim patroli dan mitigasi konflik di lapangan kini lebih siaga dan terlatih. Dengan melibatkan masyarakat lokal, mereka tidak hanya mengevakuasi, juga mencegah.

Ketika orangutan masuk ke kebun, tim tidak selalu langsung mengevakuasi. Kadang, mereka hanya mengawal satwa itu kembali ke hutan secara alami, tanpa trauma, tanpa intervensi keras.
Pendekatan ini lebih manusiawi dan lebih baik untuk keberlangsungan hidup orangutan di alam liar. Upaya penyelamatan dan translokasi menjadi langkah terakhir ketika tidak ada lagi pilihan tersisa.
Sisi lain, upaya pemberdayaan masyarakat juga mengambil peran penting. Alternatif penghidupan seperti pertanian organik, pengolahan hasil hutan non-kayu, dan pertanian ramah satwa hingga usaha kecil berbasis komunitas turut menjaga kelestarian habitat.
Semua agar tekanan terhadap hutan dan satwa yang tinggal di dalamnya bisa berkurang secara berkelanjutan.
Ketika masyarakat menjadi bagian dari solusi, hutan menjadi lebih terlindungi. Ketika hutan terlindungi, evakuasi orangutan tidak perlu lagi.
“Dulu saya kerja kayu karena memang tidak ada pilihan mata pencaharian untuk kami yang tinggal di tepi hutan. Sekarang, kami senang karena YIARI membantu kami mempunyai usaha ikan nila sehingga kami tidak perlu repot-repot masuk jauh ke dalam hutan,” kata Aidiwan, warga Desa Tanjungpura.
“Pekerjaan ini jelas lebih minim risiko dan tidak merusak alam. Kami tidak lagi harus masuk ke hutan, memotong kayu secara ilegal dan memikulnya keluar.”

Keberhasilan ini tentu bukan hasil kerja satu pihak saja. Penurunan angka penyelamatan tidak lepas dari kolaborasi erat antara berbagai elemen: masyarakat lokal dan warga desa yang menjaga hutan. Juga, lembaga swadaya masyarakat yang melakukan edukasi dan advokasi, pemerintah yang mendukung penegakan hukum dan perlindungan habitat, media yang terus mengangkat pentingnya isu konservasi, serta sektor swasta yang mulai mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam operasional mereka.
“Konservasi tidak bisa dikerjakan sendirian. Semua pihak harus merasa menjadi bagian dari solusi,” ujar Silverius Oscar Unggul, Ketua Umum YIARI.
“Penurunan jumlah penyelamatan ini ini adalah cerminan dari kolaborasi nyata di lapangan, antara warga desa, NGO, BKSDA, jurnalis, perusahaan, dan banyak lagi. Ini contoh upaya bersama memang bisa membawa perubahan nyata. Ini bukan akhir dari pekerjaan kami, tapi awal dari fase baru konservasi yang lebih strategis dan berkelanjutan.”
Tantangan belum usai. Tantangan besar berupa kebakaran hutan dan lahan masih terus mengancam. Setelah kebakaran hutan dan lahan yang masif di Indonesia pada 2015 dan 2019, pada 2024 dunia mencatatkan rekor baru atas kerusakan hutan akibat kebakaran hutan dan lahan dengan kerusakan hutan tropis primer.
Mengutip The Guardian menyatakan, sepanjang 2024, ada 6,7 juta hutan tropis primer hancur dan hampir setengahnya karena kebakaran.
“YIARI berupaya melibatkan masyarakat melalui pendampingan komunitas ‘The Power of Mama,’ untuk melakukan sosialisasi, pencegahan, patroli, sampai mitigasi kebakaran. Tapi ancaman ini akan selalu ada,” kata Sulverius.
“Tambah lagi, dengan masih ada perdagangan ilegal satwa liar, alih fungsi lahan, dan kurangnya penegakan hukum yang menjadi hambatan.”

Kini, persoalannya bukan lagi hanya menyelamatkan yang tersisa, tetapi menjaga agar yang masih ada tetap aman di tempat asalnya.
Program edukasi dan penyadartahuan perlu diperluas ke wilayah baru. Perlu terus melibatkan generasi muda perlu sebagai agen perubahan.
“Dalam dunia konservasi, keberhasilan bukan diukur dari seberapa sering tim penyelamat beraksi, melainkan seberapa sedikit mereka perlu turun tangan. YIARI, bersama para mitranya, sedang membuktikan bahwa mimpi itu bisa jadi nyata.” Kata Karmele Llano Sanchez, CEO YIARI.
Kita semua, dari kota hingga desa, dari meja kerja hingga hutan hujan, punya peran yang tak kalah penting: memastikan kabar baik ini terus berlanjut.
*Penulis: Heribertus Suciadi, Manager Media dan Komunikasi YIARI Ketapang. Tulisan ini merupakan opini penulis.
*****