- Dua persen spesies amfibi saat ini telah menghadapi suhu yang melebihi batas fisiologis mereka. Persentase ini dapat meningkat hingga 7,5% seiring berlanjutnya pemanasan iklim.
- Jenis-jenis amfibi penting di dalam rantai makanan. Penurunan populasi amfibi pun berkaitan dengan meningkatnya kasus malaria.
- Hasil studi mengungkap pola yang tak terduga, di mana spesies tropis di belahan Bumi selatan menghadapi risiko panas yang lebih besar, sementara di belahan Bumi utara, spesies yang hidup di lintang atas lebih rentan.
- Habitat memainkan peran penting dalam menentukan tingkat kerentanan, dengan spesies akuatik menghadapi risiko terendah, spesies arboreal (yang hidup di pohon) berisiko sedang, dan spesies terestrial (hidup di darat) menghadapi risiko mengalami kepanasan (overheating) tertinggi.
Menurut sebuah studi yang baru diterbitkan di Nature, sekitar 2% dari spesies amfibi di dunia saat ini sudah menghadapi suhu yang terlalu panas untuk bertahan hidup di habitat alaminya. Jika pemanasan global terus berlanjut tanpa terkendali, jumlah spesis ini diperkirakan akan meningkat menjadi 7,5% pada akhir abad ini.
“Kami menemukan bahwa saat ini sekitar 100 spesies [104 dari 5.203 yang diteliti] kemungkinan besar sedang mengalami kejadian kepanasan berlebihan (overheating), di mana suhu lingkungan melebihi batas fisiologis mereka,” kata Alex Gunderson, salah satu penulis studi sekaligus ahli ekologi dari Tulane University di Amerika Serikat, kepada Mongabay.
Lalu apa konsekuensi yang terjadi jika amfibi ini menghilang dari Bumi?
Menurut Gunderson, amfibi merupakan bagian penting dari jaringan makanan. “Di banyak ekosistem, mereka menjadi makanan bagi burung, kelelawar, mamalia, dan ikan.”
Amfibi juga memangsa organisme yang menyebarkan penyakit, seperti nyamuk, sehingga penurunan populasi mereka dapat berdampak pada kesehatan manusia. Sebagai contoh, sebuah studi pada tahun 2020 menunjukkan bahwa penurunan populasi amfibi di Amerika Tengah berkaitan dengan meningkatnya kasus malaria.

Sebuah penelitian baru-baru ini yang dipimpin para ilmuwan dari University of New South Wales di Australia ini memberikan gambaran komprehensif mengenai bagaimana perubahan iklim memengaruhi kemampuan amfibi, seperti katak dan salamander, dalam mengatur suhu tubuh mereka.
Para ilmuwan menggunakan data toleransi panas dari 524 spesies, lalu menerapkan metode statistik untuk memperkirakan kondisi lebih dari 5.000 spesies — mencakup sekitar 60% dari seluruh spesies amfibi yang diketahui di dunia.
“Hanya ada beberapa ratus spesies dimana para peneliti benar-benar mengambil hewan tersebut, memanaskannya, dan mengamati sejauh mana batas toleransi panas mereka,” ujar Gunderson. Namun, jangan khawatir. Pengujian ini tidak fatal bagi hewan.
“Kita memanaskan mereka, lalu membalikkan mereka ke punggungnya — dan mereka akan berusaha membalikkan tubuhnya kembali,” kata Gunderson. Pada titik tertentu, mereka tidak mampu lagi melakukannya, yang menunjukkan amfibi kehilangan koordinasi neuromuskular. Pada manusia, hal ini bisa disamakan dengan rasa pusing setelah terlalu lama berada di sauna atau pemandian air panas.
“Namun mereka tidak mati. Setelah didinginkan, mereka kembali normal.” lanjutnya. Dengan menggunakan data “katak kepanasan” ini, studi ini memunculkan pertanyaan: Dimana amfibi paling rentan terhadap perubahan iklim?

Dipengaruhi Lokasi Habitatnya
Tim peneliti menemukan sejumlah “titik-titik panas” di mana banyak spesies amfibi mengalami kepanasan, termasuk di bagian tenggara Amerika Serikat, Australia bagian utara, dan Hutan Hujan Amazon.
Lokasi lanskap tempat amfibi hidup juga sangat memengaruhi peluang mereka untuk bertahan hidup. Misalnya, spesies yang sebagian besar hidup di perairan memiliki risiko kepanasan paling rendah. Namun, spesies yang hidup di daratan menghadapi risiko tertinggi.
Lingkungan di dekat permukaan tanah cenderung lebih panas, sehingga spesies arboreal (spesies hidup di pohon) secara umum juga memiliki risiko lebih rendah.
Para peneliti menemukan hal yang tidak terduga, menurut Gunderson: Mereka memperkirakan bahwa spesies yang hidup lebih dekat ke khatulistiwa, di wilayah tropis, seharusnya lebih rentan terhadap pemanasan iklim dibandingkan spesies di wilayah beriklim sedang. Namun, hal ini hanya terbukti di belahan Bumi selatan.
Sebaliknya, di belahan Bumi utara, pola yang ditemukan justru bertolak belakang. Di sana, amfibi yang hidup di lintang atas, atau lebih jauh dari khatulistiwa, menunjukkan kerentanan yang lebih besar terhadap stres panas dibandingkan dengan spesies tropis. Gunderson menyatakan bahwa mereka belum memiliki penjelasan pasti untuk pola ini.

Studi ini juga menemukan titik balik yang berbahaya pada rentang pemanasan antara 2°C hingga 4°C dimana semakin banyak spesies diperkirakan akan terdampak seiring meningkatnya suhu.
“Seiring dengan semakin mendekatnya suhu rata-rata ke ambang batas, jumlah hari di mana suhu melebihi batas termal pun meningkat secara signifikan,” kata Gunderson.
Para peneliti juga menekankan bahwa proyeksi prediksi mereka cenderung konservatif, karena diasumsikan bahwa amfibi dapat selalu menemukan tempat teduh.
“Oleh karena itu, dampak pemanasan global kemungkinan akan melampaui proyeksi kami,” ujar penulis utama, Patrice Pottier, peneliti dari University of New South Wales.
Menurut laporan PBB, dunia saat ini berada di jalur menuju pemanasan sebesar 4°C pada tahun 2100 jika tidak ada pengurangan drastis dalam emisi bahan bakar fosil.

Identifikasi Spesies Terdampak
Rayna C. Bell, kurator herpetologi di California Academy of Sciences yang tidak terlibat dalam studi ini, mengatakan kepada Mongabay bahwa penelitian ini dapat membantu para ilmuwan menentukan lokasi prioritas untuk upaya konservasi.
“Penelitian semacam ini sangat bermanfaat dalam mengidentifikasi spesies mana yang kemungkinan paling berisiko, bahkan jika belum pernah diteliti secara langsung,” ujar Bell.
“Ini penting untuk menentukan wilayah prioritas dimana penelitian dan pengelolaan konservasi di masa depan dapat memberikan dampak terbesar.”
Studi ini menyimpulkan bahwa upaya konservasi harus difokuskan pada perlindungan habitat amfibi, terutama dengan menjaga keberadaan vegetasi yang rapat sebagai peneduh serta badan air.
“Kami menemukan bahwa jika amfibi memiliki cukup air dan cukup naungan peneduh, maka banyak dari mereka yang dapat bertahan dari peristiwa panas ekstrim,” ujar Pottier.
“Kita harus melindungi dan memulihkan lingkungan yang memungkinkan mereka mengatur untuk suhu tubuhnya.”
Artikel ini perdana diterbitkan di sini pada tanggal 8 Mei 2025. Tulisan ini diterjemahkan oleh Akita Verselita
Referensi:
Pottier, P., Kearney, M. R., Wu, N. C., Gunderson, A. R., Rej, J. E., Rivera-Villanueva, A. N., … Nakagawa, S. (2025). Vulnerability of amphibians to global warming. Nature, 639(8056), 954-961. doi:10.1038/s41586-025-08665-0
Springborn, M. R., Weill, J. A., Lips, K. R., Ibáñez, R., & Ghosh, A. (2020). Amphibian collapses increased malaria incidence in Central America. Environmental Research Letters, 17(10), 104012. doi:10.1088/1748-9326/ac8e1d
***
Foto:utama: Katak jantan holy cross (Notaden bennettii) dari Australia. Foto: Peter Soltys.