- Selama ratusan tahun, warga Negeri Administrasi Pulau Ay, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, hanya bertahan hidup dengan air hujan, lantaran mengalami krisis air.
- Meski pun tak memiliki sumber mata air, tumbuhan dan tanaman warga tetap saja subur, bahkan menjadi distributor pangan lokal terbesar se-Kecamatan Banda, Maluku Tengah, Maluku.
- Rafael Osok, Guru Besar Konservasi Tanah dan Air Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon menyatakan, kebanyakan pulau-pulau kecil, khusunya pulau-pulau karang seperti Banda Maluku Tengah, Kepulauan Key, Tanimbar dan Maluku Barat Daya (MBD), ketersedian airnya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor geologi.
- Cara satu-satunya adalah dengan teknologi pemanenan air hujan. Cara ini penting dilakukan oleh warga di Pulau Ay, karena tekstur pulau berkarang dan sangat sulit untuk mendapatkan sumber mata air.
Negeri Administrasi Pulau Ay, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Maluku, hingga kini belum juga keluar dari penderitaan krisis air bersih. Sejak beratus-ratus tahun, masyarakat di desa ini hanya bertahan hidup dengan air hujan, karena tak memiliki sumber mata air seperti masyarakat Indonesia pada umumnya.
Warga Pulau Ay bertahan hidup dengan cara menampung air hujan. Setiap rumah di Pulau Ay diharuskan membangun bak penampung hujan dengan tinggi bervariasi, mulai dari 3 hingga 5 meter. Upaya ini agar di musim penghujan, warga dapat menampung air sebanyak mungkin untuk keperluan sehari-hari.
Afri Sudin, warga Pulau Ay saat ditemui Mongabay Indonesia, Kamis (25/07/2024) mengemukakan, inisiatif membangun bak penampung itu guna mengantisipasi berkurangnya stok air hujan di embung besar, yang dibangun pemerintah melalui Kementerian PUPR pada tahun 2016 lalu.
Selain itu, bak penampungan air juga diinisiasi untuk menjaga kemungkinan adanya kemarau berkepanjangan.
“Embung yang dibangun PUPR itu berukuran 6 meter dan luas lingkaran sekitar 50 meter,” rinci Afri.
Masyarakat di Pulau Ay, ujarnya, sangat merindukan air layak pakai, karena selain embung, tidak ada lagi solusi lain yang bisa menjadi alternatif. Dia mengaku, embung yang dibangun pemerintah memang cukup membantu masyarakat dalam aktivitas sehari-hari, namun tak lantas menjadi solusi lantaran tercemari kotoran hewan maupun rerumputan yang terbawa hujan dari lereng gunung.
Kondisi ini, katanya, tidak menutup kemungkinan akan berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat, karena sistem sanitasinya tidak berjalan baik.
“Embung tersebut tak lantas menjadi jalan keluar. Kadang kami gunakan, kadang juga tidak. Ada banyak kotoran di sana, seperti kotoran hewan, daun-daunan, rumput dan sampah plastik,” kata Afri.
Kotoran-kotoran itu ikut mempengaruhi kadar air hujan juga perubahan warna, di mana air hujan yang tadinya jernih kini berubah warnah kehitam-hitaman.
Dia mengungkapkan, pernah terjadi peristiwa naas di lokasi embung. Di mana ada dua warga yang beraktivitas menimbah air kemudian tenggelam dan ditemukan tewas oleh warga lain. Tentu sistem keamanan di lokasi embung tidak steril, karena itu harus menjadi perhatian pihak-pihak terkait juga.
Baca : ‘Ambon Keringe’ Krisis Air di Kota Ambon dan Hilangnya Wilayah Resapan

Krisis Air Sejak Dulu
Krisis air di Pulau Ay, sebenarnya sudah menjadi perhatian berbagai pihak, seperti LSM, pemerhati lingkungan, aktivis lingkungan hingga elemen penting lainnya. Bahkan pernah beberapa unit mahasiswa, salah satunya dari Universitas Darussalam (Unidar) Ambon, datang untuk keperluan riset serta uji coba menyuling air laut menjadi air layak konsumsi.
Namun yang dilakukan hanya sebatas uji coba dan tidak ada tindak lanjut sampai ke skala besar. Yang diharapkan masyarakat dari dulu hingga sekarang, yakni solusi yang benar-benar permanen dan punya dampak berarti.
Afri berharap, ada mitigasi yang bisa dilakukan karena embung tidak bisa menjadi solusi utama bagi masyarakat Pulau Ay. Kandungan embung saat ini, tidak bisa lagi digunakan lantaran air hujan sudah tercampur dengan kotoran.
Kepala Pemerintahan Negeri Administrasi (Kapena) Pulay Ay, Hairun Sahmad mengatakan, sejak zaman dahulu mereka sudah alami krisis air bersih, dan untuk menyikapi problem tersebut masyarakat sudah melakukan berbagai cara termasuk menggali sumur. Tetapi puluhan meter tanah yang dikeruk hasilnya tetap saja payau. Karena itu warga Pulau Ay hanya menggunakan embung sebagai alternatif, kadang juga air laut.
“Kalau kita tidak dapat air hujan, masyarakat sering menggunakan air laut untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Dia mengungkapkan, pada tahun 2023 lalu, Pulau Ay mengalami kekeringan selama 9 bulan. Kondisi ini membuat mereka terpaksa menyeberang ke Pulau Banda Naira untuk membeli dan mendapatkan air.
“Jadi waktu mengalami kekeringan, warga memasok air dari kota Naira. Warga beli per liter jerigen dengan harga yang bervariasi,” katanya.
Menyikapi kondisi yang terjadi juga, dia mengatakan, pihaknya sudah menemui sejumlah instansi terkait, termasuk BPBD Kabupaten Maluku Tengah. Mereka mendiskusikan berbagai persoalan dengan topik utamanya krisis air bersih dan bencana.
“Ya kita berharap ada solusi yang nantinya bermanfaat bagi Pulau Ay dan penduduknya,” harap dia.
Meski mengalami krisis air bersih, sambung dia, tumbuhan dan produk pertanian di Pulau Ay tetap tumbuh dengan subur. Artinya, pola tanam dan kondisi pertanian sangat produktif, bahkan desa ini menjadi salah satu daerah penghasil pangan lokal terbesar se-Kecamatan Banda.
“Kita alami krisis air berkepanjangan, tetapi Pulau Ay adalah lumbung pangan untuk Pulau Banda. Tentu ini sebuah berkah yang luar biasa,” ujarnya.
Dia merincikan, dalam sebulan para petani bisa menghasilkan pangan lokal hingga berton-ton. Hasilnya kemudian didistribusi ke Banda Naira, dan itu dilakukan hampir setiap hari.
“Pangan lokal seperti ubi-ubian, pisang, dan sayur-mayur sering kita pasok ke Kota Kecamatan dengan jumlah besar,” katanya.
Baca juga : Melihat Keberhasilan Sasi Melindungi Biota Laut Pulau Ay

Tidak Ada Sumber Air
Sementara Risda Farida, Pemerhati Lingkungan Pulau Ay mengatakan, di Pulau Ay tidak memiliki sumber air tanah, sehingga berdampak krisis.
Menurutnya air menjadi kebutuhan primer bagi keberlangsungan hidup manusia. Air juga merupakan kebutuhan yang paling banyak digunakan dalam aktivitas keseharian, apalagi bagi kaum perempuan.
Jika diteliti secara mendalam, perempuan lebih banyak beraktivitas dengan air, mulai dari mencuci, memasak, memandikan anak dan lain-lain. Karena itu dia meminta agar ada perhatian serius untuk mengatasi krisis air yang tak kunjung berakhir itu.
Farida juga mengaku, tidak mau menjadikan embung sebagai ketergantungan hidup di Pulau Ay. Artinya kondisi tersebut sudah harus dicarikan alternatif dengan menghadirkan air layak konsumsi.
“Jujur katong sangat menderita dengan kondisi saat ini. Sudah lama katong terkurung dengan keadaan ini,” keluhnya.
Dia mengatakan, untuk mendapatkan air, masyarakat harus membuat bak besar di rumah masing-masing guna menampung air secara mandiri, tentu dengan debit air yang terbilang banyak.
Karena penggunaan air per hari ditaksir bisa mencapai ratusan liter. Hal ini tentu cukup besar dan berbanding terbalik dengan kondisi yang dialami warga Pulau Ay. Menurutnya, curah hujan di perkampung mereka saat ini mulai berkurang dengan frekuensinya yang semakin rendah.
“Saat ini sudah mulai masuk musim panas. Biasanya hujan di bulan Juni hingga Agustus, tetapi itu tidak menentu juga. Yang pasti kami kurang memahami perubahan musim,” kata Farida.
Selaku pemerhati lingkungan di Pulau Ay, Farida mengaku, pernah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengatasi krisis yang dialami, seperti dengan mahasiswa dari Unidar Ambon, dan terbaru adalah berafiliasi dengan NGO Muda Mendunia.
Baca juga : Mencari Cara Atasi Krisis Air Bersih Pulau-pulau Kecil di Lombok

NGO Muda Mendunia adalah sebuah lembaga yang berjalan dalam program pemberdayaan masyarakat jangka pendek dan riset studi sosial. LSM ini konsen pada isu-isu sosial kemanusiaan dan pengabdian masyarakat. Terdapat tiga divisi yang ditekuni yakni, pendidikan, kesehatan dan ekonomi kreatif.
“Kemarin beta ikut gabung dengan LSM Muda Mendunia, katong sama-sama bikin filtrasi air embung jadi air layak pakai, tetapi itu dilakukan secara sederhana dengan alat seadanya,” ujarnya.
Air Hujan Bisa Berdampak Buruk
Charles Dasiva, Project Leader Muda Mendunia menjelaskan, aktivitas manusia memang tidak terlepas dari air. Di mana air menjadi kebutuhan tersendiri, apalagi bagi warga di Kawasan Timur Indonesia, yang juga terkenal akan sulitnya air, termasuk Pulau Ay yang secara geografis sangat terpencil karena dikelilingi oleh lautan luas.
Dia mengatakan, warga Pulau Ay saat ini punya ketergantungan dengan air hujan sebagai komponen utama untuk mencuci pakaian, mandi makan dan lain-lain.
“Setelah kami riset di masyarakat, yang ditemukan adalah ketergantungan pada air hujan. Bagi kami air hujan bisa berdampak buruk untuk kesehatan masyarakat,” katanya.
Menurut Charles, kandungan air hujan tak sebagus air yang berada dalam tanah, apalagi masyarakat menggunakan atap seng bergelombang dan genteng. Ini bisa memicu datangnya penyakit karena atap seng juga muda menampung kotoran.
Memang belum timbul dampak selama menggunakan embung di masing-masing rumah dan embung besar, lantaran diimbangi dengan gizi baik dari ikan. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk waktu yang lebih panjang.
Sebetulnya terkait krisis air di Pulau Ay ini yang bisa dilakukan oleh seluruh peneliti dan aktivis lingkungan, adalah bagaimana keadaan geografis ataupun alam di sana bisa mendapatkan air bersih. Tetapi ada asumsi bahwa Pulau Ay sulit mendapatkan air bersih.
Faktor utama Pulau Ay kesulitan air karena bentuk pulaunya kecil dan kandungannya adalah karang, sehingga sulit untuk mineral bisa beradaptasi dan berkumpul di tanah untuk menghasilkan sumber mata air.
“Namun yang paling menarik adalah ketika terjadi kekeringan selama sembilan bulan, yang seharusnya berdampak kepada tumbuhan, namun tidak berdampak serius, bahkan mereka menjadi pendistributor untuk pangan lokal di Kecamatan Banda,” katanya mengutip pernyataan warga.
Tentu kondisi semacam ini, menimbulkan sebuah hipotesis bahwa ada mata air di Pulau Ay, atau masih tersebar antara pertemuan mineral di bawah tanah, salah satunya karena faktor tumbuhan dan kebun warga yang tumbuh subur.
Biasanya mata air itu bisa terbentuk dari air hujan dan tumbuhan. Mata air terbentuk ketika air dari hujan atau tumbuhan itu mengendap ke tanah, kemudian akan menyerap dan menjadi mineral di bawah. Artinya ketika terjadi pertemuan dengan mineral lain yang ada dalam tanah akan menjadi mata air.
“Nah, yang sulit ditemukan adalah mata air itu sebenarnya ada di mana?,” ujar Charles.
Baca juga : Kisah Sukses Akses Air Bersih di Desa Tana Rara

Filtrasi Embung
Menurut Charles, embung yang dibuat pemerintah sebenarnya bisa dimaksimalkan karena lereng yang strategis di sekitaran embung. Jika dilihat dari bangunan yang dibuat oleh Kementerian PUPR, sebelum air menuju bangunan embung, ada saluran dan wadah kecil untuk menampung air dari lereng. Mungkin tujuan utamanya bukan untuk manampung air hujan yang turun dari langit saja, namun juga air hujan dari lereng gunung.
Bagi pihaknya, alternatif bangunan itu bisa menjadi solusi yang bagus karena tidak mengisi air hujan secara alami saja, namun juga ada campuran, walaupun sudah dipasang membran untuk mengurangi terjadi uap karena cepat kering.
Namun yang jadi masalah saat ini yakni embung itu tercemari kotoran. “Setelah kami lihat, ternyata kotor sekali. Jadi bercampurnya berbagai kotoran, ada dedaunan, rumput juga sampah. Semua mengendap di situ,” katanya.
Dia mengaku, kehadiran NGO Muda Mendunia ke Pulau Ay selain untuk riset, juga melakukan filtrasi air embung untuk layak pakai. Pihak-pihak yang dilibatkan dalam uji coba yakni, siswa dan guru. Ihwal itu guna mengedukasi warga Pulau Ay supaya kedepanya bisa mengatasi krisis air secara mandiri.
“Alat filtrasi diantaranya, pipa air, arang, sabuk kelapa, dan pasir pantai. Dalam filtrasi itu kami coba membandingkan dengan air mineral agar memadukan rasa dan warnah yang serasi,” katanya.
Prinsipnya, dengan filtrasi diharapkan bisa menjadi solusi bagi warga Pulau Ay. Filtrasi, katanya, sebetulnya bisa dijadikan solusi, misalnya dengan pengadaan mesin dan peralatan yang serba canggih sebagai sarana utamanya.
“Seperti yang dimiliki perusahaan-perusahaan, dengan harga ratusan hingga miliaran rupiah. Intinya alat yang lebih professional,” sarannya.
Terkait persoalan ini juga, sebenarnya bisa dihubungkan dengan pemerintah, baik pemerintah desa maupun kabupaten. Sumber pendanaan bisa juga menggunakan dana desa karena cukup besar, atau bisa ke Kementerian PUPR karena secara peraturan mereka yang membangun embung tersebut.
Kemudian harus ada Tim Advokasi Desa, dan melalui mereka embung dapat direvitalisasi. “Kalau embung direvitalisasi lagi dalam segi fungsi maka akan lebih bagus, termasuk sistem keamanan juga harus dibuat. Karena sumur bor, sumur manual lainnya tidak bisa menjadi alternatif,” katanya.
Baca juga : Krisis Air Bersih Hantui Jogja, Budayakan Panen Air Hujan

Faktor Geografis Pulau dan Cuaca
Dimas Irfan Shougi, salah satu Fungsionaris NGO Muda Mendunia menjelaskan, apa yang terjadi di Pulau Ay ini didasari pada bentuk dan morfologi yang memang disusun oleh batuan vulkanik. Maksudnya kalau dilihat secara kasat mata, terdapat batuan cadas, di mana air tidak mendapat tempat untuk mengalami proses pertumbuhan melalui akuifer atau lapisan di bawah tanah.
Ketika hujan turun, akan cepat menghilang dan turun ke laut. “Tidak ada penyerapan di bagian tanah. Dulu menurut penuturan warga sempat dilakukan penggalian, tetapi tidak mendapatkan air, dan hanya ditemukan cadas,” katanya.
Shougi mengatakan, berdasarkan penjelasan warga Pulau Ay dan cerita-cerita di seputaran Pulau Banda, sumber-sumber air pernah disumpah secara mitos oleh punghuni asli Pulau Ay yang sekarang sudah pindah ke Pulau Key, karena genosida yang terjadi sekitar ratusan tahun lalu.
Sisi lain, katanya, persoalan di Pulau Ay juga disebabkan oleh faktor cuaca yang ada di Kawasan Banda, walaupun kawasan Pulau Ay memiliki hutan lebat tropis, tetapi tingkat penetrasi air di dalam tanah itu sangat kurang.
Sampai saat ini, memang pihaknya belum melakukan riset di seputaran kawasan embung dan tanah lapisan akuifer, tetapi yang ditemukan di kawasan tersebut, air hujan didominasi oleh alga baik makro atau mikro. Polutan-polutannya itu barasal dari daun kenari, sehingga airnya mangandung zat-zat hara, atau berupa asam nitrit.
“Kita belum ambil sampel untuk diuji di laboratorium, karena itu, kita pakai data kasar saja. Itu yang kita lihat secara kasat mata,” ujarnya.
Tetapi dari filtrasi yang dilakukan, air yang dihasilkan memiliki rasa yang cenderung basah, pahit, yang didapat dari daun, kemudian memiliki fisibilitas kehijauan buram dan tidak berbau. Sehingga punya potensi untuk dipakai atapun dikonsumsi sebagai air minum.
Melihat kondisi yang ada di sini, terutama air hujan yang ditampung di embung mempunyai kandungan-kandungan yang banyak mengalami pencemaran dari tanaman-tanaman atau organik, sehingga tumbuh bakteri dan alga-alga yang tidak terlalu pekat.
Baca juga : Zulkifli, Penggerak Panen Air Hujan dari Ternate

Solusi Teknologi Pemanenan Air
Rafael Osok, Guru Besar Konservasi Tanah dan Air Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon menyatakan, kebanyakan pulau-pulau kecil, khusunya pulau-pulau karang seperti Banda Maluku Tengah, Kepulauan Key, Tanimbar dan Maluku Barat Daya (MBD), ketersedian airnya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor geologi.
“Pulau Rhun, Hatta dan Ay teksturnya karang, sehingga kemampuan menyimpan air sangat rendah. Nah, semua ini dipengaruhi oleh faktor geologi, sedangkan tanah tak punya hubungan sama sekali dengan air,” kata Osok kepada Mongabay Indonesia, Senin (29/7/2024).
Jika di Pulau Ay tidak ada mata air sama sekali, maka solusi satu-satunya yang bisa dilakukan warga di sana adalah dengan teknologi pemanenan air hujan. Cara ini penting dilakukan oleh warga di Pulau Ay, karena tekstur pulau berkarang dan sangat sulit untuk mendapatkan sumber mata air.
“Dengan teknologi pemanenan air hujan akan membantu masyarakat di sana. Artinya masyarakat Pulau Ay harus punya ketergantungan terhadap air hujan,” ajak Osok
Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Provinsi Maluku ini juga menyatakan, air hujan yang jatuh dari langit adalah H2O murni, sehingga layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat di Pulau Ay. Namun sebelum dikonsumsi, disaring dan dimasak lebih awal. Teknologi pemanenan air hujan sudah dipakai di mana-mana, karena itu layak menjadi solusi bagi masyarakat Pulau Ay.
“Pemanenan air hujan dilakukan dengan cara membuat talang melalui tiris rumah, kemudian dimasukan ke dalam bak penampung,” sarannya.
Embung yang dibuat pemerintah juga, katanya, bisa direvitalisasi kembali. Misalnya dibuat bak penampung besar dengan kapasitas penampungan air yang ideal di samping embung, kemudian disedot naik ke atas, lalu disalurkan ke titik-titik tertentu di desa tersebut.
“Misalnya membuat bak penampung di samping embung, lalu di setiap RT juga dibangun bak penampung. Jadi aliran air akan disalurkan dari bak penampung besar ke bak penampung yang ada di masing-masing RT, sehingga masyarakat tidak repot lagi untuk ambil air di embung,” sarannya.
Namun jika di Pulau Ay masyarakat sudah membuat bak penampung untuk memanen air hujan, disarankan agar wadah penampungnya jangan terlalu besar. Dibuat seideal mungkin dengan kapasitas yang bisa diperkirakan, karena curah hujan di Pulau Banda juga cukup banyak.
“Bak penampung harus sesuai dengan kapasitas air hujan yang masuk. Buat yang kecil atau sedang supaya lebih efektif. Bisa dihitung sesuai dengan keperluan setiap orang, misalnya dalam sehari 80 liter per orang untuk kebutahan makan, minum dan mandi. Tinggal dikalkulasi saja berapa kebutuhan setiap harinya,” jelasnya.

Nah, untuk mandapatkan jumlah air hujan yang maksimal, warga Pulau Ay perlu mengetahui curah hujan rata-rata tahunan di wilayah Banda. Misalnya dengan meilihat data di BMKG, baik melalui rilis resmi di laman website atau mengecek langsung ke stasiunnya.
Yang pasti kalau pulau dengan tekstur tanah berbasis karang, susah sekali menemukan mata air, sehingga tidak ada cara lain kecuali pemanenan air hujan. Menurut Osok, air hujan sudah dipakai di mana-mana, seperti di wilayah Jawa.
Dengan cara demikian itu, tentu akan menjadi solusi bagi masyarakat Pulau Ay. Cara lain yang dapat dilakukan, bisa juga dengan membuat sumur dangkal dan mendatangkan teknologi semisal geolistrik, tapi profil pulaunya harus punya daerah resapan pada bagian atas tanah.
“Solusi lain juga adalah harus melestarikan embung yang sudah ada, dengan cara dibersihkan agar berfungsi dengan baik untuk masyarakat sekitar,” ujarnya.
Dikutip dalam laman resmi Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada, edisi 24 Desember 2021 tentang ‘Menjejaki Langkah Pemanenan Air Hujan’, hasil penelitian UGM oleh Dr. Agus Maryono menyebutkan, tingkat keasaman air hujan berbagai daerah di Indonesia, seperti di Yogyakarta, Bali, Bogor dan Jakarta, telah menunjukan air hujan layak untuk dikonsumsi.
Rata-rata derajat keasaman air hujan mencapai 7,2 hingga 7,4. Dalam laman tersebut juga menjelaskan, upaya memanen hujan telah menjadi praktek masyarakat tradisional Indonesia, terutama mereka yang hidup di daerah rawa, sepanjang pinggir sungai, pegunungan dan daerah tandus. Kegiatan menampung air hujan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Beragam Cara Pemanenan Air Hujan
Dalam laman tersebut menyebutkan, potensi air hujan sangatlah besar sebagai salah satu sumber air alternatif. Di mana air hujan cenderung mengandung zat pencemar yang relatif rendah. Terutama yang mengalir dari atap bangunan, sehingga tidak memerlukan proses pengelolaan yang rumit. Air hujan sebagai sumber alternatif air di gedung-gedung, dapat digunakan baik sebagai air minum, maupun untuk kebutuhan lainnya.
Implementasi pemanenan air hujan di berbagai jenis bangunan juga telah dieksplorasi di seluruh dunia. Antara lain di bangunan perumahan (keluarga tunggal), bangunan tempat tinggal bertingkat, gedung perkantoran, sekolah, asrama, fasilitas olahraga, rumah sakit, bandara dan pompa bensin. Pemanenan air hujan bukanlah hal baru.
Sejak tahun 2009 telah ada upaya mendorong kegiatan pemanenan air hujan melalui terbitnya Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun 2009 tentang Pemanfaatan Air Hujan (Permenlh 12/2009). Selain itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (PermenPU) Nomor 11/PRT/M/2014 tentang Pengelolaan Air Hujan Pada Bangunan Gedung Dan Persilnya (PermenPU 11/2014).
Menurut Permenlh 12/2009, pemanfaatan air hujan dilakukan dengan cara membuat kolam pengumpul air hujan, sumur resapan, dan/atau lubang resapan biopori. Selain itu menurut Agus Maryono, metode lain dalam pemanenan air hujan yakni parit resapan air hujan, areal peresapan, tanggul pekarangan, pagar pekarangan, lubang galian tanah (Jogangan), modifikasi lanskap, penetapan daerah konservasi air tanah, kolam konservasi (tampungan), revitalisasi danau, telaga, dan hutan tanaman.

Potensi Curah Hujan
Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banda Maluku Tengah, Carisz Kainama menyarankan, untuk mengantisipasi kekeringan di Pulau Ay, masyarakat sudah seharusnya menyiapkan tempat penampung air hujan di sekitaran bulan Mei hingga Agustus, karena pada waktu-waktu itu curah hujannya cukup besar, sehingga bisa memenuhi stok air yang dibutuhkan.
“Curah hujan di bulan Mei itu 375 mm. Itu data yang sudah dimasukan ke BMKG Ambon. 375 mm ini tergolong besar,” katanya kepada Mongabay Indonesia, Rabu (24/7/2024).
Dalam catatan BMKG, distribusi rata-rata curah hujan bulanan, ada tiga tipikal pola hujan dengan menunjukan respon yang berbeda-beda. Diantaranya pola hujan monsunal, untuk jenis ini wilayahnya memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dan kemarau. Tipe curah hujannya yakni satu musim hujan dan satu kemarau.
Kemudian pola hujan equatorial. Nah pola hujan ini memiliki distribusi hujan bulanan bimodial atau dua puncak musim hujan, biasanya terjadi sekitar bulan Maret dan Oktober. Kemudian ketiga itu ada pola hujan lokal, di mana pola hujan tipe ini memiliki distribusi hujan bulanan berkebalikan dari pola monsunal.
“Pola lokal dicirikan oleh bentuk hujan unimodial atau satu puncak hujan, tetapi waktunya berlawanan dengan tipe hujan monsunal,” jelasnya.
Kota Ambon, Pulau Seram, dan sebagian daerahnya lainnya di Maluku masuk dalam kategori pola hujan lokal. Sementara untuk wilayah Banda masuk dalam non zona musim (ZOM), karena hujan terjadi hampir setiap tahun tergantung awan.
Terkait kasus di Pulau Ay, BMKG Stasiun Maluku Tengah belum pernah mendeteksinya lantaran tidak ada peralatan yang bisa dipakai di wilayah itu, kecuali Pulau Banda secara keseluruhan. Meski demikian, dia menganggap, Pulau Banda sudah bisa mewakili karena letak geografis kedua pulau sangat berdekatan.
“Jadi kalau warga di sana kekurangan air bersih, air hujan bisa dipakai sebagai alternatif. Tentu dengan memperhatikan perubahan cuaca, yang mana puncak musim hujan dengan intensitas besar ada di bulan Mei hingga Agustus,” katanya.
Dia juga mengungkapkan, berdasarkan analisis dari klimatologi, Pulau Banda daerah yang hujannya tergantung evaporasi. Evaporasi atau penguapan merupakan proses perubahan molekul di dalam keadaan cair dengan spontan menjadi gas. Seperti proses di mana air yang ada di laut, rawa, sungai dan lainnya menguap karena adanya pemanasan dari sinar matahari.
Karena Banda merupakan daerah kecil kemudian dilingkupi lautan luas, sehingga terkadang terjadi pemanasan, penguapan yang secara langsung menghasilkan hujan, dan bisa terjadi kapan saja. Namun kadang berpindah karena dipengaruhi oleh angin kencang.
“Pulaunya kecil dan dikelilingi lautan luas, sehingga kecepatan angin bisa dengan cepat bergeser arah. Misalnya sudah terbentuk kondensasi tapi kemudian kecepatan anginnya kencang, bisa saja hujan bergeser. Misalnya hujan akan turun di Pulau Ay, tetapi karena angin kencang, otomatis bergeser ke tempat lain,” jelasnya.
Hujan yang sering bergeser karena dampak dari awan rendah. Awan dengan tipe rendah, menurutnya, mudah dipengaruhi oleh angin kencang, berbeda dengan tipe awan menengah yang tingginya di angka 300 meter ke atas. Tipe awan menengah ini sulit dipengaruhi angin kencang, karena lebih gelap dan tebal.
“Masyarakat di Pulua Ay mungkin bisa menyiapkan alat seadanya untuk memanen hujan di bulan-bulan hujan, semisal periode Mei hingga Agustus,” pungkasnya. (***)
Artikel ini didukung oleh AJI Indonesia – Deutsche Welle bertema “Let’s Talk About Climate, Training Program for Journalists”