- Sebagai turis, apa yang pertimbangan yang harus dipahami saat berwisata ke tempat edukasi satwa liar?
- Satu kompleks wisata eksebisi penyu di Tanjung Benoa kembali jadi sorotan karena dinilai tak mengindahkan prisip konservasi
- Komitmen baru ditandatangani dengan jadwal pelaksanaannya
- Bali masih menjadi lokasi perdagangan penyu, dalam kondisi hidup atau potongan daging.
Lokasi pameran penyu untuk turis di Pulau Pudut, Tanjung Benoa, Bali kembali diprotes. Seorang fotografer membagi lebih dari 20 foto-foto aktivitas turis dengan satwa liar terutama penyu dan ular yang dinilai eksploitatif.
Seperti biasa, foto-foto dengan keterangan cukup lengkap yang diunggah akun page Facebook Aaron Gekoski, Environmental Photografer pada 13 Juni ini tersebar, dan sampai 4 Juli dibagi (share) hampir 8000 kali. Dikomentari hampir 2000 kali dan sebagian minta lokasi harus ditutup karena menyakiti binatang.
Sebuah foto ular yang dipegang turis terlihat dalam kondisi mengenaskan, mulutnya mengalami deformasi karena diikat dengan isolasi ketat. Sebelumnya, sejumlah pihak pernah memprotes, bahkan BKSDA Bali pernah menyita satwa dari jasa wisata padat turis ini. Mongabay pernah menulis hal ini pada 2017 lalu.
Postingan ini juga dikutip media online. Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar pun mendatangi lokasi pada 19 Juni. Lahirlah sebuah surat pernyataan dari tiga pengelola usaha wisata penyu.
Isi surat tersebut menyatakan bahwa benar peristiwa dalam foto itu di kelompok Moncot Sari, Tanjung Benoa, Badung, Bali. “Dengan ini kami kelompok Moncot Sari, Deluang Sari, New Bulih Bali akan dan memperbaiki etika konservasi penyu dan kesejahteraan hewan mulai saat ini dan mematuhi peraturan yang ada,” demikian kutipan surat itu.
Pernyataan per 19 Juni ini ditandatangani I Ketut Roka (Moncot Sari), I Ketut Gerhantara (Deluang Sari), dan I Komang Suwanjaya (New Bulih Bali). Mengetahui Ketua Koperasi Jasa Bumi Pudut Sejahtera I Made Berata.
baca : Begini Bisnis Memamerkan Satwa Liar di Tanjung Benoa Bali

Suko Wardono, Kepala BPSPL Denpasar mengatakan pengusaha wisata penyu tak memperhatikan sepenuhnya aspek kesejahteraan penyu. Kemudian pada 22 Juni, pemerinta kembali monitoring dan menghitung jumlah penyu. “Sebagian besar belum menerapkan etika satwa yang dilindungi,” lanjutnya. Pihaknya kembali membuat surat memperhatikan hasil monitoring pada 22 Juni, dan kondisinya sebagian besar penyu masih dalam kepadatan tinggi, papan informasi belum ada, memberikan penyadaran guide, dan lainnya.
“Penyu itu dilindungi, bapak gimana sih? Kerjasama perijinannya harus diluruskan, buat komitmen,” ulang Suko menyatakan kekecewaannya pada pengusaha wisata. Selanjutnya BPSPL Denpasar membuat diskusi terfokus dan mengundang seluruh pengusaha yang bertahun-tahun menjalankan usaha mempertontonkan penyu dan satwa liar lainnya.
FGD tentang pelestarian penyu pada 1 Juli di kantor BPSPL Denpasar menghasilkan komitmen baru. Isi komitmen ini di antaranya seluruh jenis penyu adalah satwa dilindungi dan pemanfaatannya harus patuh pada aturan dan SOP dari BPSPL dan BKSDA Bali.
Semua penyu di Pulau Pudut milik negara dan pemanfaatannya atas perjanjian kerjasama (PKS) antara Bali Lecceria, Tambak Sari, dan Bali Fantasi dengan BKSDA Bali. Sementara perjanjian kerjasama dengan pengusaha lain sedang diproses dengan 3 kelompok lain yakni menunggu izin lokasi dari UPTD Tahura Ngurah Rai.
Penyu produktif tak boleh dipelihara dan harus segera dilepas ke alam. Ekowisata saat ini sumber pendapatan bagi masyarakat. Karena itu mereka sepakat enam kelompok akan digabungkan menjadi satu tata kelola di bawah Koperasi Jasa Bumi Pudut Sejahtera. Kemudian mereka sepakat melengkapi persyaratan izin lokasi, PKS, dan ijin lain terkait aktivitas ekowisata. Hal penting lainnya, bersedia melepaskan penyu usia produktif.
baca juga : Senangnya Ratusan Turis Lepaskan Tukik dan Penyu Hijau Sitaan di Pantai Kuta

Komitmen ini ditandatangani keenam pengelola lokasi wisata penyu, dengan saksi-saksi Ketua BPSPL Denpasar Suko Wardono, Sulistyo Widodo (BKSDA), IB Windia Adnyana (Peneliti penyu dan dosen Unud), Dwi Suprapti (WWF Indonesia), Jaya Ratha (Flying Vet), dan IB Primastana (Turtle Guard).
Jadwal atau tenggat pelaksanaan komitmen juga disepakati. Dimulai dengan studi usia penyu pada 30 Juli oleh Flying Vet dan Turtle Guard, menggabungkan tata kelola jadi satu di bawah koperasi jasa pada 1 Agustus, melepasliarkan penyu usia produktif 19 Agustus, dan melengkapi perijinan aktivitas ekowisata 31 Desember 2019.
Windia Adnyana, salah satu tokoh peneliti penyu di Indonesia ini berharap komitmen baru ini bisa mengakhiri cara buruk memanfaatkan penyu di Tanjung Benoa. Seberapa optimiskah? “Menurut saya 50:50, ini masalah kepercayaan semua pihak, terhadap kelompok di sana, pada BKSDA, BPSPL, pemerintah, dan LSM,” ujarnya. Kepada pengusaha wisata penyu ia minta mengakhiri saling kecurigaan itu, dan harus ada yang berkorban. Pemerintah menurutnya harus hadir.
“Caranya sederhana, undang Bu menteri, selesaikan masalah mereka. Bu menteri nelpon gubernur, untuk perizinan, biaya, dan harus lepas penyu produktif,” jelas Gus Win, panggilannya. Kalau tujuannya eksebisi dan edukasi tak perlu banyak, cukup 2-3 ekor. Sisanya harus dilepas. Sejauh ini ia mengatakan penyu di lokasi malah hampir 400 ekor.
Karena sebagian besar produktif, hampir semua harus dilepas. Terlebih situasi usaha wisata penyu ini menurutnya kumuh, air kolam kering, penyu berdesakan. Cukup ironis dengan citra elit lokasi Tanjung Benoa sebagai area wisata pesisir.
menarik dibaca : Apakah Pantai Kuta Tempat Ideal untuk Melepaskan Penyu?

Jika akan dikelola dalam satu usaha yakni Koperasi Jasa, harus dikelola oleh pihak yang mengerti konservasi, punya idealisme, ada dokter hewan, dan cara yang baik. Saat ini menurutnya omzet cukup besar tapi kondisinya tidak sehat.
Seperti pernah dituliskan Mongabay Indonesia, ratusan turis ke Pulau Pudut di sebelah Barat Tanjung Benoa dengan perahu. Mereka menawarkan turis yang berkunjung ke pusat water sport di Timur Tanjung Benoa sekalian ke area wisata penyu ini. Sangat mudah karena hanya memutar ke arah Barat. Di sana sudah siap pekerja lokasi-lokasi menyambut, menawarkan foto bersama penyu, memegang, mengangkat, masuk ke kolam, kemudian menuju kandang satwa liar selain penyu.
“Aturannya tak boleh dipelihara, ditangkap, diperdagangkan. Ditampung kalau sakit, untuk dilepas lagi,” ingat Suko Wardono.
Ada banyak kisah menarik penyu. Dari mitologi seperti Kurma Awatara, kisah dan mitologi penjelmaan Dewa Wisnu menjadi penyu untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran. Penyu juga dikenal sebagai satwa laut bermanfaat dan unik, misal menemukan kembali tempatnya menghirup udara pertama di alam. Ketika para penyu dewasa ini hendak bertelur, mereka mendarat di pesisir tempat ia ditetaskan walau dibesarkan di lautan bebas.
Hasil penelitian oleh Maulid Dio Suhendro tentang investigasi genetika penyu hijau (Chelonia mydas) memperlihatkan investigasi genetika penyu hijau. Dari 136 sampel yang diselundupkan ke Bali pada 2015-2016 berasal dari setidaknya 30 titik sarang peneluran penyu dunia. Ini bukti lain penyu mahluk lintas samudera walau kelihatannya lambat.
