Marmoset Katai yang Nasibnya Sungguh Malang

Tahun Monyet Api dirayakan gegap gempita di Tiongkok, dan bersama itu pula, trend baru muncul, yakni memelihara hewan peliharaaan. Yang terbaru, satwa mungil marmoset katai (Cebuella pygmaea), atau sering disebut monyet ibu jari, menjadi satwa yang diperdagangkan di kalangan masyarakat kelas atas di negeri tirai bambu ini. Seeokor bayi marmoset dibandrol seharga $4.500 atau sekitar Rp50 juta.

Gara-gara beredarnya foto-foto marmoset mungil yang membuat heboh jagad maya itu, kalangan konservasionis dan ahli primata gerah dan mengecam hobi ini.

Marmoset katai yang merupakan monyet terkecil di dunia. Sumber foto: Mike Peel/Wikimedia Commons (CC 4.0).

Satwa yang beratnya hanya 100 gram ini merupakan monyet terkecil di dunia. Mereka adalah satwa dari hutan hujan di Amerika Selatan, tepatnya di kawasan barat cekungan Amazon. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil yag terdiri dari 10-12 individu.

Status mereka memang belum terancam punah, namun menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), jumlahnya makin hari makin berkurang. Dalam sebuah studi yang diterbitkan tahun lalu di  The American Journal of Primatology, para peneliti memperkirakan bahwa ratusan ribu primata diperdagangkan tiap tahun yang hanya di Peru. Marmoset katai ini adalah primata yang menempati peringkat ke-2 sebagai satwa yang  paling banyak diperdagangkan, sementara monyet tupai menempati peringkat pertama.

marmoset katai yang merupakan monyet terkecil di dunia. Sumber foto: Specklet/Flickr (CC 2.0)

Meski tak semua monyet ibu jari yang diperdagangkan di Tiongkok tersebut hasil impor, diperkirakan banyak juga yang dibiakkan di negara tersebut, yang jelas, monyet-monyet ini tak akan mampu bertahan hidup lama. Karena, seringkali pembelinya tak memiliki pengetahuan yang memadai tentang pemeliharaan satwa ini.

Perdagangan satwa liar bukanlah hal baru di Tiongkok. Monyet ibu jari bukanlah satu-satunya hewan peliharaan yang populer di negeri ini. Kukang bahkan diperdagangkan sebagai hewan peliharaan bagi anak anak, setelah gigi mereka yang beracun dicabut. Bahkan, mainan anak-anak berbentuk bantal dari plastik bisa berisi kura-kura hidup, ikan, dan amfibi.

Referensi:

  • Shanee, N., Mendoza, A. P., & Shanee, S. (2015). Diagnostic overview of the illegal trade in primates and law enforcement in Peru. American journal of primatology.

Artikel asli:

The dangers of China’s thumb monkey’ trend

Kredit

Editor

Topik

Ikan Endemik: Krisis Habitat di Perairan Nusantara

Ekosistem perairan tawar dan pesisir Indonesia sedang berada di titik kritis akibat himpitan limbah industri, sampah domestik, dan invasi spesies asing yang mengancam keberadaan ikan endemik di habitat aslinya. Dari Sungai Mahakam hingga Danau Sentani, terungkap realitas pahit mengenai penyusutan populasi spesies unik seperti ikan bilih, lempuk, hingga banggai cardinal yang kian terdesak ke ambang […]

Artikel terbaru

Semua artikel