L’Oreal Komitmen Tak Gunakan Bahan dari Rusak Hutan

Harimau Sumatera, salah satu satwa yang terancam karena hutan tempat hidup mereka makin hari makin terkikis, salah satu menjadi kebun sawit. Foto: Greenpeace
Harimau Sumatera, salah satu satwa yang terancam karena hutan tempat hidup mereka makin hari makin terkikis, salah satu menjadi kebun sawit. Foto: Greenpeace

“Within the scope of its Sharing Beauty with all sustainability commitment, L’oreal commits to source 100% renewable raw materials from sustainable sources by 2020 and confirms its ambition to “Zero Deforestation…” 

Begitu pengumuman yang tertera di laman resmi L’Oreal, perusahaan kosmetik dan kecantikan terbesar di dunia. Perusahaan ini berkomitmen menghapus hubungan antara deforestasi dari produk-produk mereka pada 2020.

Greenpeace telah memampang brand ini ke dalam kampanye Protect Paradise, Tiger Challenge. Ia berisi brand-brand yang menjadi konsumen minyak sawit dunia. Ada P&G, Mondelez International, Nice Group dan lain-lain.

Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Indonesia Greenpeace Internasional mengharapkan, perusahaan lain dapat mengikuti dengan tenggat waktu lebih ambisius.

“Ribuan orang di Indonesia dan seluruh dunia menuntut produk ramah hutan. Mereka akan menuntut perusahaan seperti P&G, Colgate Palmolive, dan merek lain agar menjamin tak menggunakan minyak sawit kotor dari perusakan hutan,” kata Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Indonesia Greenpeace Internasional, dalam rilis kepada media akhir Januari 2014.

L’ Oreal kini bergabung dengan Nestle, Unilever dan Ferrero, yang telah berkomitmen kebijakan nol deforestasi. Meskipun begitu pemasok mereka masih memungkinkan menebang hutan sampai enam tahun ke depan. “Kami mendesak perusahaan-perusahaan menjamin konsumen bahwa produk mereka bebas kerusakan hutan sebelum tahun 2020,” kata Bustar.

Komitmen, katanya, hanya langkah awal menjamin agar konsumen tak menjadi bagian kerusakan hutan melalui produk yang mereka konsumsi sehari-hari. “Greenpeace akan terus mendorong L’ Oreal dan perusahaan lain dalam Tiger Challenge agar kebijakan-kebijakan mereka sungguh-sungguh diterapkan di lapangan.”

Greenpeace juga mengajak masyarakat peduli dengan produk yang mereka konsumsi bebas merusak hutan lewat Tiger Manifesto. Ini sebuah panggilan aksi massif bagi masyarakat Indonesia dan dunia. Tiger Maniefsto adalah komitmen membuat perubahan menghentikan penghancuran, dan melindungi warisan hutan Indonesia (#ProtectParadise).

Band Navicula, kala menandatangani petisi Tiger Manifesto di Jakarta, Jumat (8/11/13). Foto: Andre Wiredja/Greenpeace

Kredit

Topik

Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa

Gunung Muria berdiri sebagai benteng alam terakhir di pesisir utara Jawa yang menyimpan kekayaan luar biasa. Kawasan ini merupakan ruang hidup bagi predator puncak seperti macan tutul Jawa hingga spesies unik yang baru ditemukan seperti cecak batu. Namun posisi strategisnya sebagai jantung ekologi kini menghadapi tantangan besar akibat alih fungsi lahan dan dampak nyata perubahan […]

Artikel terbaru

Semua artikel