Ketika Indonesia membangun ibu kota barunya di pegunungan Kalimantan Timur, deru gergaji mesin mulai menenggelamkan suara hutan hujan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan dan budaya Masyarakat Adat Balik.
Sebuah film dokumenter terbaru, Sound Guardians hasil kolaborasi Mongabay, Scientific American, dan Project Multatuli berupaya merekam kondisi hutan tersebut dengan melibatkan ilmuwan dan penduduk setempat.
Mantan Presiden Joko Widodo dikenal sebagai penggagas pemindahan pusat administrasi Indonesia dari Jakarta, kota yang diprediksi tenggelam paling cepat di dunia. Para ahli memperkirakan, sepertiga wilayah Jakarta akan terendam air pada 2050 akibat kenaikan permukaan laut dan eksploitasi air tanah berlebihan. Sementara itu, pihak resmi IKN menyebut Nusantara sebagai “kota hutan pintar” yang ditargetkan rampung pada 2045.
Wendy Erb, ilmuwan bioakustik dari Cornell Lab of Ornithology, Amerika Serikat, telah merekam lanskap suara hutan Kalimantan selama satu dekade terakhir, termasuk sepanjang masa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) berlangsung. Bersama timnya, dia mengumpulkan rekaman dari berbagai titik, mulai dari puncak gunung, hutan bakau, hingga gua.
Erb menyebut, kumpulan data tersebut sebagai “kapsul waktu” yang memungkinkan peneliti membandingkan perubahan lingkungan seiring laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Data ini berpotensi mengungkap titik-titik yang paling terdampak, yaitu tempat satwa liar mulai tergusur, di habitatnya.
“Mungkin di situlah lebih banyak investasi konservasi perlu diarahkan,” ujar Erb dalam film dokumenter tersebut. “Pertanyaannya adalah, bisakah kita mempertajam pendengaran kita? Bisakah kita benar-benar memperhatikan, menyadari bahwa alam sedang kita sakit?”
Bagi Abidin, anggota komunitas adat Balik sekaligus warga Pemaluan, satu desa di kawasan IKN, suara hutan bukan sekadar suara “ambience” biasa, melainkan penopang kelangsungan hidup dan tradisi leluhurnya.
Dia mencontohkan, para leluhur komunitasnya dahulu memaknai suara siamang di waktu fajar sebagai pertanda spiritual, pemahaman yang kini mulai hilang di kalangan generasi muda. Spesies seperti kuau raja (Argusianus argus), menurutnya, kini jarang terlihat, bahkan tak lagi dikenali anak-anak.
“Kata orang-orang kami, biasanya suara gergaji mesin yang paling nyaring dan bising terdengar,” kata Abidin, menggambarkan bagaimana melodi alam perlahan tergantikan bisingnya pembangunan.
Kawasan yang dulunya hutan lebat, kini dipadati gedung-gedung apartemen, hotel, hingga istana presiden. Meski begitu, masa depan proyek ini masih menyisakan tanda tanya, karena Presiden Prabowo diketahui memangkas anggaran pembangunan Ibu Kota Nusantara, kendati proses konstruksi tetap berjalan.
Abidin, Erb, dan sejumlah peneliti saat ini tengah menyusun buku tentang warisan biokultural Masyarakat Adat Balik, sekaligus mengembangkan sebuah platform yang memungkinkan komunitas tersebut dapat mengakses dan memanfaatkan rekaman suara dari hutan itu.
Abidin mengaku khawatir tak mampu beradaptasi dengan kehidupan kota. “Kalau sampai kami jadi pemulung di kampung halaman sendiri, lebih baik kami mati saja,” ujarnya. Namun, dia tetap bertekad mewariskan “bahasa hutan” kepada anak-anaknya. “Meski banyak yang berubah, saya masih merasa ini rumah saya.”
Diterjemahkan oleh: Aninditya Ardhana Riswari & Hidayaturohman.
*****


