Saat air surut, para perempuan Kampung Atuka, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, bergerak menuju hutan mangrove untuk mencari karaka atau kepiting bakau. Mama Paulina, Balbina, Oda, dan Karolina berangkat bersama menggunakan perahu, membawa noken berisi peralatan. Setelah tiba, mereka menyebar untuk mencari lubang karaka di antara akar mangrove. Bekas kaki menjadi petunjuk keberadaan kepiting, lalu besi panjang bergagang kayu digunakan untuk mengeluarkannya. “Jadi kita tidak bisa kasi masuk tangan langsung. Itu bahaya,” kata Paulina. Karaka ditangkap dengan hati-hati karena capit patah atau tubuh terluka dapat mengurangi nilai jualnya.
Bagi mama-mama Atuka, hasil hutan mangrove memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menjadi sumber penghasilan. Selain karaka, mereka mengumpulkan kerang, siput, dan tambelo untuk keluarga. Balbina mengatakan hasil tangkapan bergantung pada kondisi air dan keberuntungan: terkadang hanya empat hingga enam karaka, tetapi saat surut bisa mencapai 20. Dia pernah memperoleh hingga Rp500.000 dari penjualan. Uang tersebut digunakan membeli kebutuhan rumah dan sebagian disimpan. “Tiap hari. Ingat anak-anak ini untuk mereka punya uang jajan, uang sekolah. Jadi tiap hari,” ujarnya tentang alasan terus mencari karaka.
Namun, perempuan pencari karaka belum banyak mengetahui perkembangan harga dan mengandalkan informasi pengepul. Sebagian nelayan juga terikat kesepakatan penyediaan bahan bakar: seluruh karaka harus dijual kepada pengepul yang membiayai perjalanan. Ketergantungan pada perahu motor menambah kebutuhan bahan bakar, sementara aksesnya tidak selalu mudah. Ketika perahu sulit digunakan, para perempuan tetap mencari karaka dengan berjalan kaki menyusuri pantai. Di tingkat perdagangan, karaka menjadi komoditas ekspor terbesar Papua Tengah. Data Balai Karantina mencatat volume ekspor Januari–Juni 2026 mencapai sekitar 661,8 ton, dengan jalur distribusi melalui Makassar dan Jakarta.
Penghidupan tersebut bertumpu pada hutan mangrove. Pemetaan masyarakat bersama Blue Forest mencatat luas mangrove Atuka mencapai 7.281,72 hektar, dengan 28 jenis mangrove sejati. Dua jenis kepiting bakau yang ditemukan ialah Scylla olivacea dan Scylla serrata. Karaka juga membantu ekosistem melalui aktivitas menggali lubang yang memungkinkan oksigen masuk ke tanah mangrove. Rofin Daton, Koordinator Blue Forest wilayah Mimika-Asmat, menegaskan peran masyarakat dalam mempertahankan hutan: “Mangrove bagus ini dari dulu sampai sekarang siapa yang jaga? Masyarakat.”
Amatus Tamaweyau, tokoh Masyarakat Kampung Atuka, mengatakan pengetahuan merawat hutan diwariskan turun-temurun, termasuk aturan tidak menebang mangrove sembarangan. Perlindungan juga dilakukan melalui penanaman di pulau-pulau yang terbentuk akibat sedimentasi. Penanaman ribuan pohon yang dipimpinnya pada 2014 telah menghasilkan hutan mangrove baru dan sumber pangan. Dia berharap wilayah kosong lainnya segera ditanami. Anton Panji Mahendra, Kepala Balai Karantina Papua Tengah, mengingatkan bahwa menjaga mangrove perlu berjalan bersama penghargaan terhadap kearifan lokal dan kesejahteraan masyarakat. “Makanya mereka yang harus menikmati,” katanya.
Foto utama: Kepiting bakau atau karaka dari Kampung Atuka. Nelayan perempuan jadi motor utama Atuka sebagai salah satu daerah penghasil kepiting bakau di Papua Tengah. Foto: Asrida Elisabeth/Mongabay Indonesia.