- Desa Sepahat, Bengkalis, Riau, memiliki pejuang mangrove bernama Seplia Pikar. Meski tunadaksa, bapak 6 anak ini justru menginspirasi.
- Asep, panggilannya, padahal dulu adalah seorang penebang liar. Pertobatan membawanya pada dedikasi memulihkan mangrove.
- Kini, dia punya rumah bibit mangrove yang diproyeksikan untuk menghutankan kembali salah satu bagian Desa Sepahat. Diantaranya Avicennia alba (api-api) dan Sonneratia alba (perepat). Ketersediaannya sekitar 23.000 dalam media tanam gelas plastik bekas sekali pakai.
- Usahanya memulihkan mangrove Sepahat memang belum menampakkan hasil banyak. Namun kelak mangrove tumbuh baik, dia ingin ada nilai ekonomi, terutama bagi anggota kelompok yang menjaga dan memelihara hutan pesisir tersebut.
Seplia Pikar mondar-mandir menunjuk arah titik tanam yang bertandakan sebatang kayu dalam aksi penanaman mangrove di Desa Sepahat, Bengkalis, Riau, Juli lalu. Meski bertongkat dan kaki palsu, dia begitu bersemangat.
“Sebenarnya saya tak ada kaki (sebelah). Tapi hari ini, rasanya saya tengok ada kaki. Tanpa sokongan kuat dari keluarga, sebenarnya tidak mampu. Insya Allah yang ditanam hari ini dan seterusnya, dengan segala kemampuan akan dirawat,” kata pria 54 tahun itu.
Empat tahun belakangan, dia mengabdi sepenuhnya pada alam. Bahkan, lebih dulu berkubang memulihkan gambut. Dua kawasan ekosistem esensial yang membentang di desanya.
“Awalnya bergelut dengan gambut. Di kampung saya, bentang alam hutan gambut dieksploitasi, ditanami komoditas monokultur,” kata Asep, panggilan akrabnya.
Membibit mangrove bukan hal baru baginya. Puluhan tahun lalu, pria yang sepanjang hidupnya tinggal di pesisir ini pernah membibit puluhan ribu Rizophora (bakau). Waktu itu, muara-muara sungai di kampungnya masih padat tutupan mangrove.
Kini, dia punya rumah bibit mangrove untuk menghutankan kembali salah satu bagian Desa Sepahat. Jenisnya, antara lain Avicennia alba (api-api) dan Sonneratia alba (perepat). Ketersediaannya sekitar 23.000 dalam media tanam gelas plastik bekas sekali pakai.
Risky Afriandy, Camat Bandar Laksamana, yang hadir dalam kesempatan itu jadi tahu langsung masalah lingkungan di wilayah kerjanya. Dia sadar pemerintah kecamatan belum kontribusi banyak ihwal penanganan abrasi.
Berkat kehadiran dan keikutsertaannya menanam mangrove saat itu, dia akan membawa isu lingkungan tersebut ke pihak atau dinas terkait.
“Saya yakin dan percaya, setelah kegiatan (penanaman mangrove) ini muncul Asep berikutnya menjaga lingkungan dari ancaman abrasi,” katanya.

Masa berat
Asep sekolah sampai Tsanawiyah, setara sekolah menengah pertama. Itu pun tidak selesai.
Mimpinya menyelesaikan pendidikan Pesantren Musthafawiyah, Desa Purba, Mandailing Natal, Sumatera Utara itu harus terkubur tahun 1988. Orangtuanya meminta anak laki-laki tertua itu pulang. Kala itu, ekonomi keluarga membutuhkan tambahan tenaga.
Pengasuh pesantren sempat menahan Asep. Apalagi, selain santri, dia sebetulnya tukang bersih pekarangan sekolah yang membuatnya bebas biaya pendidikan. Pihak pesantren tak kuasa setelah membaca surat dari kakaknya.
Pesantren memulangkannya dengan membayar ongkos sampai ke kampung halaman melewati rute Bukittinggi-Pekanbaru-Bengkalis. Juga, membekali dengan kitab satu kardus.
“Pesannya suruh baca dan pelajari. Sebetulnya, selesai dari pesantren, keinginan waktu itu mau ke Timur Tengah,” kenangnya.
Di kampung, Asep remaja, kerja jadi tukang angkut kayu. Masa awal itu berat baginya. Tak jarang, dia oleng saat kerja.
Namun, tanggungjawab membuatnya menjalani itu semua. Waktu itu, menebang kayu adalah yang utama dan banyak orang di kampung kerjakan.
Terdidik mandiri dari kecil, dia puas dengan hasil jerih payahnya. Dia bisa bangun rumah orangtua, punya kebun dan saudara yang lain pun menikmatinya.
Namun, dia sadar tak selamanya penebangan liar itu berlaku. Asep pun gonta-ganti pekerjaan. Mulai sopir angkutan bahan pokok sampai mengurusi proyek jaringan listrik tegangan tinggi, area Dumai-Bagansiapiapi.
Saat itulah, dia mengalami kecelakaan tabrak lari hingga mengorbankan kaki kanannya. Peristiwa nahas isekitar sepuluh tahun lalu itu jadi titik balik dirinya kembali ke alam.
“Pilihan memulihkan mangrove, juga rasa berdosa pada alam, karena tukang chainsaw (penebang) pohon di hutan gambut Bengkalis.”
Dulu, dia banyak merusak mangrove. Menebang teruntum (Lumnitzera) untuk jadi gading kapal. Tak terhitung berapa banyak pohon mangrove dia gergaji sebelum kirim ke Bagansiapiapi, salah satu pusat galangan kapal di Rokan Hilir.
“Rasa berdosa itu jelas ada. Kita perusaknya. Sekarang, semuanya berserah ke alam. Asal diberi kesehatan, terus bekerja apa pun yang bisa dilakukan.”

Motivasi generasi muda
Selain karena pengalaman hidup, bapak enam anak itu mengabdi ke alam karena ingin memotivasi generasi muda sebagai penerus. Terkhusus buat anaknya paling kecil. Baginya, tanpa regenerasi, pemulihan mangrove sama dengan bohong.
Karena itu, dia minta pemerintah kecamatan memuat kurikulum tambahan terkait mangrove di pendidikan sekolah dasar hingga menengah atas. Rumah bibitnya siap menampung anak-anak didik hingga melahirkan generasi peduli lingkungan.
Baginya, mengabdi kepada alam bukan sekadar ucapan, melainkan panggilan hati. Keyakinan itulah yang membuatnya tetap konsisten, jujur, dan tekun menjalankan upaya pelestarian lingkungan.
Asep memandang aksinya bagian dari pengamalan iman. Selain memberi manfaat bagi alam, juga ketenangan dan makna dalam hidupnya.
Dia merasa menyatu dengan alam. Asep ingin memahami dan mendengar “keluhan” alam atas berbagai kerusakan oleh ulah manusia. Menurutnya, alam telah memberikan jasa yang tak terhitung bagi kehidupan manusia, mulai dari udara, air, hingga sumber pangan.
“Namun, manusia sering kali menikmati semua itu tanpa pernah menunjukkan rasa syukur atau berusaha membalasnya dengan menjaga kelestarian alam.”
Karena itu, kakek satu cucu itu tidak berniat mengubah pilihan hidup maupun sikapnya untuk terus merawat lingkungan. Dia hanya akan berhenti jika pemilik lahan tempatnya melakukan konservasi memintanya pergi.
Selama ini, Asep sadar dirinya hanya menumpang lahan tersebut. Oleh sebab itu, dia mengundang pemilik lahan melihat langsung kegiatannya.
Ada rasa syukur, karena pemilik lahan memberikan izin dengan tulus, tanpa meminta imbalan dan tanpa membatasi waktu penggunaan lahan.

Ancaman dan masa depan
Saban hari, setidaknya, mulai pukul 7.00, Asep sudah datang ke pondok kayu yang dia tumpangi, sekitar lima kilometer dari rumah. Jika tidak menanam mangrove, dia urusi bibit.
Saat santai, dia dengarkan radio. Asep suka mendengar informasi tentang program desa dan lingkungan. Internet baru nyambung ke tempat itu 9 Juli 2026.
“Untuk mendukung rencana mendirikan sekolah alam. Supaya mudah juga publikasi kegiatan di media sosial langsung dari sini. Kalau bisa sih gratis,” katanya.
Pondoknya sekitar 20 meter dari bibir daratan bekas abrasi. Lokasi saat ini sudah pindah, karena yang lama terhempas ombak.
Di depannya, tampak bekas jembatan beton yang roboh dan patah tergeletak di atas tanah. Jika pasang naik, bekas akses nelayan menuju dermaga itu pun tenggelam.
Asep, mengutip data Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), degradasi hutan di pesisir Sepahat sekitar 100 hektar. M4CR adalah program Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Bank Dunia untuk rehabilitasi hutan mangrove dan memberdayakan masyarakat pesisir.
Dedi Syafrizal, Pj Kepala Desa Sepahat, bilang, abrasi di wilayahnya telah menggerus daratan dari perbatasan Sepahat-Desa Tenggayun, sampai Sungai Papan, Desa Tanjung Leban.
Abrasi Sepahat tergolong parah. Pantainya berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Diperkirakan sekitar dua kilometer daratan di depan pondok yang ditumpangi Asep telah lenyap.
“Mudah-mudahan Pantai Sepahat tidak abrasi lagi,” harap Dedi.
Meskipun demikian, Asep sadar akan ancaman di masa depan. Salah satunya sampah masyarakat sekitar.
Karena itu, dia dorong pemerintah desa menertibkan dan menjamin kerusakan alam tidak semakin parah. Sebab sampah yang terbuang ke saluran air seperti parit dan sungai otomatis terbawa ke laut.
“Ini mengundang hama. Salah satu penyebab tingginya kematian mangrove zona satu.”
Dia merujuk zona paling depan yang berhadapan langsung dengan laut atau garis pantai. Biasanya tumbuh api-api dan pedada.
Jika tak ada pengawasan limbah itu juga mengancam pertumbuhan bibit mangrove yang mereka tanam.
Selain itu, ancaman mangrove juga datang dari eksploitasi hutan tanaman industri dan sawit. Keduanya turut menambah kekuatan gelombang laut—terutama pada musim angin utara—yang semakin laju mengikis daratan gambut.
Limbah produksi perusahaan hutan tanaman industri berupa potongan kayu yang tercecer dari mobil dan tongkang, juga hanyut ke laut. Ia menambah daftar jenis limbah yang turut merusak mangrove, setelah terbawa gelombang.
“Sudah hutan alam rusak, laut pun mereka cemar.”
Untuk mengatasi ini, dia menanam dengan model rumpun berjarak. Memagari mangrove dengan bambu untuk mengurangi benturan limbah kayu.
Usahanya memulihkan mangrove Sepahat memang belum menampakkan hasil banyak. Namun kelak mangrove tumbuh baik, dia ingin ada nilai ekonomi, terutama bagi anggota kelompok yang menjaga dan memelihara hutan pesisir tersebut.
Menurut Asep, jika mangrove terjaga, ekosistem berjalan sendirinya. Misal, hasil tangkapan nelayan kembali pulih. Dari situ, berkembang ekonomi serta usaha kelautan untuk menambah pendapatan.
“Saya yakin dengan alam.”
Keterbatasan fisik justru menambah keyakinan Asep tindakannya memulihkan mangrove berikan energi. Terkadang dia tak habis pikir. Di rumah kakinya kerap sakit. Tapi ketika sampai di pondok, rasa itu hilang. Pada bibit mangrove pula dia bicara tentang cemoohan orang.
“Jadi bingung dan pertanyaan sendiri. Ini bukan cerita diada-adakan. Bagi saya, itu respon alam terhadap diri. Tak ada alasan untuk bermalas-malasan.”

*****